Taegu, 20 November 1930.
Di suatu tempat di daerah jantung kota Taegu, sebuah bangunan pabrik sederhana berdiri kokoh di antara kawasan perumahan dan kompleks pertokoan yang padat. Pagar batu bata berwarna merah kusam melingkupi halamannya yang terbuka, di bagian belakang pabrik itu terdapat satu bangunan lain berbentuk persegi yang terbuat dari beton campuran. Dari sela-sela satu jendelanya yang terbuka menyeruak seberkas cahaya kekuningan, kungkungan kegelapan yang pekat membuat cahaya muram itu pun terlihat jelas dari seberang pabrik.
Tampak seorang pria yang sedang duduk merenung, lengan kanannya mempermainkan sebatang pena, di hadapannya terhampar lembaran-lembaran berisi berbagai catatan penting. Sesekali Ia menengadahkan wajah seraya menikmati segulung tebal tembakau yang mencuat dari antara bibirnya. Sesekali pula Ia mengernyitkan dahi sambil menggaruk-garuk rambutnya yang beruban saat kebingungan berhadapan dengan tumpukan berkas itu. Di wilayah itu, pria ini biasa dikenal sebagai Cheong Kwang-Sun si importir.
Tidak lama kemudian Ia pun melongok ke sekelilingnya, seolah-olah mencari pelampiasan atau sesuatu yang patut disalahkan untuk sekadar melegakan ketegangan pikirannya. Sorot ainnya pun tertuju pada daun jendela yang bergerak-gerak akibat belaian angin musim gugur.
“Pantas saja dari tadi rasanya tidak nyaman,” gumam pria itu, “Heo-Beul! Di mana kau?”
Seruan itu dijawab dengan suara seretan langkah yang tergesa-gesa dari belakang meja kerjanya. Seiring dengan semakin dekatnya suara langkah itu, dari balik jejeran lemari-lemari kayu muncul sesosok pria bertubuh pendek dengan langkah gontai; alih-alih disebut pendek, tepatnya pria itu memiliki perawakan bungkuk yang cenderung seperti cacat dengan sehelai perban lusuh melilit sebagian wajahnya. Di beberapa bagian tubuhnya tampak bekas luka bakar yang membuat kulitnya mengeriput.
“Kau lupa menutup jendela?” ucap Kwang-Sun lagi seraya mengacungkan penanya ke arah jendela, “Tolong segera kau tutup, ‘mana bisa aku berpikir kalau sambil menggigil begini!”
Tanpa menjawab, pria bernama Heo-Beul itu mengayunkan langkahnya menuju jendela yang dimaksud; gerakan tubuhnya itu terlihat konyol namun di saat bersamaan juga mengundang rasa iba. Sejenak Ia terdiam di depan jendela itu sambil sesekali menggigil akibat angin dingin merajai raganya, kemudian diraihnya kedua daun jendela dan menguncinya. Ketika Heo-Beul hendak kembali ke pekerjaan di belakang, pria tua itu lagi-lagi memanggilnya.
“Kau masih ingat bulan ini ada berapa pengiriman ke Gyeongsan?”
“Emmm... Kalau... tidak salah... enam kali pengiriman, bos,” Heo-Beul menjawab dengan suara paraunya.
“Semuanya buku?”
“Tiga buku... dan tiga... tembikar, bos.”
Mendengar jawaban tersebut, wajah pria itu menjadi semakin masam, “Di mana catatan penjualan tembikar ke Gyeongsan? Kau yakin tidak salah ingat?”
“Aku... yang mengemasnya, bos. Tiga pengiriman itu... cukup mendadak. Saat itu Bung-Gi... yang menangani... pengiriman ke Gyeongsan... berhalangan jadi digantikan... oleh Pak Tan-Seong.”
“Tan-Seong? Pengirimannya malam hari?” Kwang-Sun memandang wajah Heo-Beul dengan sebelah alisnya terangkat.
“Subuh, bos.”
Kwang-Sun menimbang-nimbang perkataan Heo-Beul dan mulai menghitung ulang angka-angka pada catatannya; seketika Ia pun terlonjak, “Dasar! Sudah berumur masih suka mabuk-mabukan! Pasti dia lupa mengambil tanda terima atau menyimpannya dalam kantong celananya yang apek itu!” serunya sambil menutup buku tebal di meja. Ia pun bangkit dan merapikan lembaran dokumen tadi, tidak lupa juga Ia mengemas sebuah surat kabar yang ada di meja.
Merasa kalau bosnya sudah selesai bertanya, Heo-Beul pun membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Tetapi baru berjalan beberapa langkah, lagi-lagi Ia dipanggil.
Pria itu tiba-tiba memberikan sebuah amplop berisi uang kepada Heo-Beul, “Jangan tersinggung, ya! ‘Kuakui kinerjamu bagus; walaupun penampilan fisikmu seperti itu, kau cukup terampil,” ucap si pria seraya menyelimuti tubuhnya dengan sehelai mantel tebal dan menutup kepalanya dengan sebuah topi bertepi lebar, “Nah, aku pulang dulu. Tolong urus gudang seperti biasa.”
“Terima kasih..., bos,” sahut Heo-Beul sambil membungkukkan tubuhnya yang bungkuk.
Sosok si bos menghilang di balik pintu gudang yang disusul dengan suara dentaman pintu yang pelan. Si bungkuk itu kembali ke belakang setelah memadamkan lampu sumbu di meja bosnya. Di sana Ia menyelesaikan sisa pekerjaannya; sambil Ia duduk di sebuah kursi kayu yang tinggi, tangan-tangan Heo-Beul dengan terampil memainkan sebatang jarum sulam dan membolak-balikkannya melalui lubang-lubang pada setumpuk kertas. Tusuk – kencangkan – ikat – jahit, berulang kali Ia melakukannya. Ketika dilihatnya bahwa seluruh segmen buku itu sudah terjilid rapi, Ia pun mulai menyatukannya dengan hati-hati lalu mengokohkannya dengan beberapa jahitan. Telapak tangannya dengan saksama meratakan punggung buku itu, kemudian Ia mengambil sebatang kuas dan mengoleskan cairan perekat.
Terpaan cahaya lampu membuat keringat di keningnya tampak berkilap-kilap. Heo-Beul menyeka peluhnya seraya bangkit dari tempat duduk, kini Ia sadar kalau Ia kehabisan lapisan penyampul. Langkahnya tertatih-tatih disertai beberapa genjotan akibat postur tubuhnya, matanya menerawang rak kayu tempat penyimpanan sampul. Tiba-tiba saja seseorang mencekik lehernya dari belakang. Ia pun berontak sekuat tenaga, namun cengkeraman orang itu begitu kuat sehingga tubuhnya mulai terangkat dari lantai. Mengetahui kalau usahanya sia-sia dan penglihatannya mulai berkunang-kunang, si bungkuk akhirnya meregangkan tubuhnya serta menarik sebuah ancang-ancang besar; dengan satu hentakan tenaga Ia mengangkat tubuhnya ke atas hingga betisnya menjepit kepala orang yang menyergapnya, dengan kedua jempol tangan Ia mencocok mata orang itu hingga cekikannya terlepas. Si penyergap pun dibuat sempoyongan sementara Heo-Beul masih mengalungkan kakinya pada leher orang itu. Kemudian Heo-Beul meremas kerah baju lawannya, tubuhnya berputar ke bawah hingga kakinya menapak kokoh di lantai; selama sepersekian detik tubuh orang itu terangkat ke udara akibat daya dorong dari gerakan Heo-Beul, sampai akhirnya tubuhnya menghempas lantai dengan suara hantaman yang menggaung. Dengan sigap Heo-Beul merogoh pinggang orang itu, Ia mendapati sebilah pisau dan menghunusnya pada leher lawannya itu.
“Ada berapa orang di sini?” tanyanya singkat. Ia tahu ada yang tidak beres sebab Ia ingat betul kalau seluruh jendela gudang sudah dikunci, kecuali jika ada yang sengaja membukanya. Di sisi lain, Heo-Beul justru mulai ketakutan sebab Ia sadar kalau penyamarannya sudah ketahuan.
Pria yang terkapar di lantai itu tidak menjawab. Tiba-tiba dari kegelapan gudang terdengar suara langkah beberapa orang mendekat. Perlahan-lahan sesosok pria muncul, cahaya lampu sumbu menerangi wajahnya yang akrab di penglihatan Heo-Beul.
“Bos?” gumamnya terpana.
Heo-Beul teringat wajah bosnya yang sejenak lalu tersenyum ramah padanya; namun kini di hadapannya Kwang-Sun berdiri dengan rona wajah garang, tangan kanannya menodongkan sepucuk pistol.
“Lepaskan dia,” perintah pria itu. Dengan perlahan Heo-Beul bangkit dari posisinya. Pria itu lalu memberi isyarat agar Heo-Beul membuang pisau dari genggamannya. Suara dentingan logam terdengar ketika pisau itu mendarat di lantai, sontak Kwang-Sun maju menerjang Heo-Beul dan memukulnya dengan punggung pistol hingga terjatuh. Perban disertai potongan kulit terlepas dari wajahnya, namun tidak terlihat bekas luka di balik balutan kain itu.
“Dasar tidak tahu diuntung!” bentaknya pada Heo-Beul.
Ia tidak berdaya ketika tubuhnya diikat di kursi. Seorang pria lagi muncul dari belakang Kwang-Sun, Ia membawa sebuah botol kaca kosong dan sepotong kecil kertas. Pada kertas itu tertulis produk pewarna tekstil. Seraya menghampiri Heo-Beul, pria itu mencelupkan telunjuknya ke dasar botol tadi lalu mencicipi isinya.
“Berminyak, kenyal, dan agak tawar, hmm...,” ucapnya sambil lidahnya berdecak-decak. Sepatunya menginjak lembaran kulit tadi, lalu dipungutnya potongan itu dan memainkannya. “Benar-benar seperti asli! Kolagen dan minyak rami, teknik klasik. Jujur saja aku tidak tahu dari mana kau mempelajari ini, tapi kemampuanmu memang mengesankan, nak. Bahkan bisa dibilang menakutkan.”
“Percuma aku kasihan dengan cuak Jepang ini!” Kwang-Sun kembali membentak, namun tatapan matanya lebih menunjukkan kekecewaan ketimbang rasa marah. Ibu jarinya sontak menarik pelatuk di punggung pistol.
“Tunggu! Jangan bunuh dulu!” seru pria tadi seraya menarik lengan Kwang-Sun, “Tidak ada salahnya kita ‘ngobrol sebentar dengannya, ‘kan?”
Kwang-Sun menurunkan lengannya tetapi Ia tidak berhenti menatap wajah rekannya itu dengan heran. Pria itu pun meyakinkan Kwang-Sun, lalu diambilnya sebuah kursi kecil dan duduk di hadapan Heo-Beul.
“Nah, sekarang coba ceritakan siapa dirimu sebenarnya,” ucapnya sembari melipat kaki.
Heo-Beul yang dari tadi memilih diam, untuk sesaat memandangi bergantian wajah ketiga orang di hadapannya itu. Akhirnya Ia pun membuka mulut, “Baiklah. Namaku Jin-Sang, dulu aku seorang petani. Dua bulan yang lalu ketika tengah malam, saat itu aku terbangun karena mendengar keributan di gudang. Aku pun memeriksanya, tetapi di sana aku disergap oleh sekelompok orang bersenjata yang sedang bersembunyi. Mereka menyekapku di gudang lalu berniat menjarah barang-barangku dan mencelakai istri serta anakku. Dengan cerobohnya mereka meninggalkanku di gudang sendirian, sehingga aku bisa melepaskan diri. Ketika keluar dari gudang, aku mendapati puluhan polisi Jepang sedang berlari di jalanan. Aku memanggil mereka dan melaporkan kelompok perampok tadi yang masih berada di rumahku. Polisi-polisi kemudian menggeledah kediamanku dan mendapati mereka, tanpa basa-basi orang-orang itu ditembaki di tempat. Lalu polisi menggeledah gudangku dan menemukan berbagai peledak serta barang selundupan yang disembunyikan di salah satu bagian gudang. Mereka pun menyitanya dan menuduhku berkomplot dengan pemberontak. Akhirnya aku sadar kalau orang-orang tadi adalah pemberontak yang kabur dari kejaran polisi. Aku yang terheran-heran justru dipukuli dan dikunci di gudang, akhirnya mereka pun membakar gudang tempatku dikurung. Berkat sebuah keajaiban, aku berhasil selamat dan keluar. Tetapi aku mendapati keluargaku sudah terbunuh atas serangan tadi malam. Para warga dan kerabatku mendukung untuk menuntut kepolisian Jepang di sana atas fitnah dan tindakan semena-mena, tetapi kami kalah suara dan mereka memaksaku melarikan diri ke Taegu karena terancam dibunuh. Aku belajar membuat kulit palsu dari seorang artis teater keliling, luka bakar palsu itu aku buat untuk menutupi identitasku.”
Pria di hadapannya manggut-manggut ketika mendengar cerita Jin-Sang, jemarinya tidak berhenti memainkan kumisnya. “Berapa usiamu?” tanyanya lagi.
“Dua puluh... tujuh tahun.”
“Dari mana kau berasal?”
“Cheongdo.”
Saat mendengar jawaban tersebut, si pria langsung tersentak; wajahnya yang tadi tenang kini terlihat tegang dengan mulut menganga. Dua orang di sampingnya pun tidak kalah heran.
“Apakah... keluargamu yang kau sebut tadi... adalah seorang wanita bermarga Gok, dan seorang bocah laki-laki?” tanya pria itu terbata-bata.
Kedua mata Jin-Sang terbuka lebar, “B... Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya heran.
“Jangan bilang..., kau adalah Geum Jin-Sang?”
“I... I... Iya, benar.”
Pria itu – masih dengan tubuh gemetar ketakutan – lalu menyodorkan sepotong kliping dari surat kabar yang sudah kusam. Dari ukuran dan bekas potongannya, tampak kalau berita itu dulunya hanya terpampang di sudut halaman surat kabar. Pada kliping itu tertulis, ‘Korban tindakan penganiayaan oleh kepolisian Jepang, Geum Jin-Sang meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama dua minggu.’ Seketika wajah Jin-Sang berubah menjadi seputih salju serta keringat dingin pun menetes dari ujung hidungnya. Kali ini Ia benar-benar sadar kalau nasibnya berada di ujung tanduk.
“Perlu kau ketahui, nak. Potongan berita itu diambil dari surat kabar dua tahun yang lalu. Kau kira kami tidak mengawasi kebiasaanmu? Orang asing yang muncul entah dari mana, dan setiap hari kau diam-diam membaca surat kabar yang dibawa oleh bosmu. Belakangan ini di Taegu dan sekitarnya tidak ada peristiwa pembunuhan atau kejadian besar; hanya ada satu kejadian besar yang terjadi beberapa bulan lalu dan itu di Gyeongseong. Dalam keadaan pemerintahan seperti ini jika seorang Joseon dengan identitas misterius muncul dan selalu menggeluti surat kabar, maka ada satu kemungkinan terbesar...”
“Buronan,” sela Jin-Sang sembari masih tertunduk.
“Hahaha. Tepat!” sahut pria itu, “Sedangkan menurut ceritamu, wahai Jin-Sang, keluargamu mati terbunuh dan kerabatmu sudah lepas tangan. Polisi di Cheongdo juga tidak akan repot-repot mencarimu ke sini, sebab kau sudah kalah. Lalu berita apa yang ingin kau cari tahu? Jika kau benar adalah Geum Jin-Sang, kabar tentang apa yang kau tunggu-tunggu? Sayangnya, Geum Jin-Sang sudah mati dan alhasil yang di hadapanku sekarang hanya seorang buronan yang mengaku sebagai Jin-Sang.”
“Berita-berita tentang tragedi Geum Jin-Sang dan pembakaran di Cheongdo..., pasti surat-surat kabar itu sudah kalian palsukan dan kalian cocokkan dengan latar belakang kedatanganku.”
Pria berkumis itu lalu merebut pistol Kwang-Sun dan menodongkannya ke kepala si tahanan itu, “Sekarang katakan identitasmu yang sebenarnya! Kalau sedikit saja kau berbohong lagi, aku tidak segan-segan membuat tengkorakmu seperti keju Swiss, orang Gyeongseong!”
Pemuda itu pun menghela napas, matanya terkatup dengan pasrah, “Benar, aku adalah seorang buronan; kabur dari Keijō Kangoku – Penjara Keijō – sebulan yang lalu. Namaku Lee Beom-Seok, dipenjara akibat usaha pembunuhan gubernur Gyeongseong.”
“Tunggu, tunggu! Jadi kau aktivis yang selamat dari Peristiwa Hotel Chōsen empat bulan yang lalu?” sela si pria.
“Peristiwa Hotel Chōsen?” Beom-Seok balik bertanya.
“Begitulah orang-orang menyebutnya, berita itu merebak dengan cepat. Silakan lanjutkan ceritamu. Ingat! Sedikit saja bohong: dor!” ancamnya.
Malam itu Beom-Seok menceritakan semuanya mulai dari rekan-rekannya, perencanaan, eksekusi, kegagalan, kehidupan di penjara, dan bagaimana Ia melarikan diri. Setiap penuturannya diperhatikan dengan saksama oleh pria itu, dan kali ini Ia yakin bahwa setiap perkataan itu benar sebab Ia sudah mengantongi berbagai informasi tentang peristiwa tersebut.
“Begitulah identitasku, sekarang kau yang memutuskan,” ujar Beom-Seok menutup pengakuannya.
Pria itu menurunkan lengannya seraya memberi isyarat kepada rekannya yang bertubuh besar tadi untuk membuka belitan tali pada tubuh Beom-Seok, sehingga membuat pemuda itu terheran-heran.
Si pria menyodorkan tangannya ke hadapan Beom-Seok sambil berkata, “Maaf atas ketidaknyamanannya.”
Beom-Seok sejenak terdiam, kemudian Ia pun menyambut uluran tangan itu.
“Lee Beom-Seok, perkenalkan namaku Park Chae-Song. Harap maklum atas tindakanku tadi, sebab jujur saja, partai pembebas Joseon kami tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan yang terjadi atas kelompokmu.”
“Partai pembebas Joseon? Kupikir perdagangan ilegal yang selama ini kita kerjakan hanya untuk mencari keuntungan pribadi,” sahut Beom-Seok sambil bergurau.
Ketiga orang lainnya pun tertawa ketika mendengar perkataan pemuda itu. Kini wajah Kwang-Sun kembali bersahabat, diambilnya sepotong mantel hangat dan memberikannya pada Beom-Seok.
“Maaf, nak. Aku benar-benar mengira kau antek-antek Jepang.”
Beom-Seok tersenyum, kepalanya menggeleng pelan.
“Nah, Beom-Seok. Sebagai permintaan maaf kami dan hiburan bagi sesama pejuang, mari kita makan-makan dan minum-minum. Tuan Kwang-Sun yang ‘traktir! Ayo, Eob-Seum!” seru Chae-Song pada pria bertubuh besar itu.
Mereka berempat pun menghabiskan malam itu dengan mengobrol dan bersenda gurau semalaman, yang diselingi dengan berbagai hidangan dan minuman yang nikmat, serta menutup pesta kecil itu dengan mabuk-mabukkan. Di saat Ia menginjak tanah Taegu, Beom-Seok sudah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan masa lalunya yang kelam. Namun Ia tidak menyangka kalau sebuah kebenaran yang sederhana akan melunturkan tekad itu dan menyeretnya kembali pada kubangan kehidupan masa lalunya yang keruh.