Curiosity Killed The Cat

1495 Words
[Shuttle Racing Arena – Jakarta Pusat] Malam ini setelah mendapatkan informasi dari team manajer nya dari Cyan Racing Lynk & Co – Tim yang menaungi Fabian selama ia berkarir menjadi pembalap di FIA– kalau Shuttle Racing mengadakan sebuah welcoming after party Fabian langsung pergi begitu saja menuju ke tempat dimana pesta itu dilaksanakan tanpa persiapan apa pun. Hanya berbekal modal nekat dan Hennesey Venom hitam mengkilap yang baru ia gunakan satu kali – saat balapan dengan Arunika – Fabian nekat ke Shuttle Racing seorang diri tanpa di dampingi oleh siapa pun gak seperti dia banget. Tujuannya hanya satu, memastikan bahwa Arunika benar-benar pemain amatiran yang mengalahkan dirinya waktu itu di street arena, padahal aslinya Fabian hanya mencari pembenaran terhadap tindakan yang ia lakukan kepada wanita itu – he is become more more curious tentang semua hal tentang Arunika– walaupun dia sebenarnya sadar kalau Ketika ingin tahu tentang urusan orang lain dapat membuat dirinya mendapat masalah yang serius maksudnya menyiratkan bahwa rasa ingin tahu terkadang dapat menyebabkan bahaya atau kemalangan tapi Fabian sepertinya gak peduli sama sekali dengan itu. Ha ha ha Dan disini lah Fabian sekarang, berada di tengah kerumunan manusia-manusia yang kehilangan akal tengah berpesta gila-gilaan seperti tidak ada hari esok, dengan rokok dan gelas alkohol ditangan mereka. Menyingkir dari hiruk pikuk itu Fabian bergegas mencari tempat yang sedikit sepi ia menjejalkan tubuh besarnya, meliuk liuk diantara kerumunan orang di dance floor untuk mencapai Bar baginya di sana adalah satu-satunya tempat yang sedikit sepi dan aman buatnya – aman dari orang-orang yang membawa berbagai macam kuman di tubuh mereka – I’ll tell you, ⁷ semua orang di dance floor itu belum tentu bersih dan Fabian dapat menjamin itu! “Which one do you want sir?” Tanya Bartender di depan Fabian begitu ia berhasil mendudukkan bokongnya di kursi tinggi bar. “Eumm, whiskey please.” Pintanya kepada Bartender yang telah terlatih untuk melayani pelanggan dengan segera. “Which kind sir?” tanya Bartander itu mencoba kembali memastikan apakah pelanggannya memiliki preferensi khusus untuk sebuah whiskey, “We have bourbon, Tennessee whiskey and Rye Whiskey here sir.” “Which one do you recommended?” tanya Fabian, ia melihat ke Rak dimana bermacam-macam minuman alkohol berada di sana. Bartender itu tersenyum tipis sebelum menjawab, “Depending on what kind of flavor you are looking for Sir. Sweet, wood and caramel anda dapat menemukannya di Bourbon, Charcoal and sweet Tennessee whiskey cocok untuk anda namun jika anda menyukai rasa yang spicy and light Rye Whiskey suitable fo you.” “Bourbon Please.” Kata Fabian pada akhirnya. “Wait a minute sir.” Kata Bartender itu lalu, dengan cekatan pria itu mengambil botol Whiskey di rak, dan tidak lama setelah itu bartender itu telah menyiapkan gelas baru untuk Fabian meletakkan Sherry Copita dengan ice cube lalu menuangkan Bourbon untuk Fabian ke dalam gelas. “Ice cube membuat rasanya akan lebih smooth Sir.” kata Bartender itu memberitahu keunggulan racikannya. Fabian mengangguk ia meraih gelas itu menyesapnya untuk menikmati rasanya, “Kalian memiliki cara tidak biasa ya untuk menyajikannya?” komentar Fabian, ia mengamati Sherry Copita yang ada di genggamannya. Fabian jarang menemukan seorang bartender menyajikan Whiskey dengan gelas Sherry Copita biasanya mereka menggunakan gelas tapi dia gak ingin memikirkan hal itu terlalu banyak. “Ya, lekukan sherry copita akan memudahkan aroma alkohol wiski bisa tercium sempurna oleh pelanggan Sir." Fabian mengangguk saja ia kemudian melihat ke sekeliling – mencari keberadaan Arunika, kalau wanita itu benar-benar datang. “Hei Fab.” Tepukan ringan di pundak Fabian membuat pria itu menoleh dan mendapati Mario Mannuel tengah tersenyum lebar kepada dirinya kelihatan sangat senang melihat Fabian sekarang. “Lo datang juga ya?” Tanya nya pria itu kini duduk di sebelah Fabian ikut mengamati area dance floor yang semakin malam bukannya semakin sepi malah semakin sesak karena orang-orang terus berdatangan, skala Shuttle Racing memang besar, dan itu menjadi satu-satunya balapan di Indonesia yang memiliki fanbase terbesar. Memilih mengabaikan semua perkataan Mario Fabian meneguk Bourbon di gelas miliknya dengan sekali shoot, Fabian dan Mario tidak sedekat itu untuk duduk bersama dan mengobrol karena batasan di antara mereka harusnya cukup jelas seperti batasan antara Sparta dan Klub Varietas. “Arunika ada di atas kalau Lo sedang mencarinya.” Katanya ringan seolah tahu apa yang membawa Fabian kemari. Mendengar bahwa Arunika berada di atas membuat semua asumsi dan tuduhan yang ada di otak Fabian semakin masuk akal. Sudah menjadi rahasia umum kalau lantai atas adalah area eklusif dengan penjagaan ketat tidak sembarang orang dapat naik ke atas ada dua penjaga di ujung tangga dan kabarnya banyak penjaga juga ditempatkan di seluruh penjuru ruangan. “How?” Gumam Fabian pelan namun sepertinya gumamnya itu masih di dengar oleh Mario yang langsung merespon Fabian. “Bagaimana di bisa naik atau siapa dia?” tanya nya mencoba tarik ulur dengan Fabian. “Semuanya.” Mario meletakkan gelasnya lalu bersedekap kelihatan berpikir, tapi Fabian sangat yakin kalau pria itu tidak benar-benar berpikir. “Gue juga penasaran.” “Sialan gue pikir Lo tahu.” Kata Fabian kesal, Mario Mannuel tertawa melihat kekesalan Fabian. “Gak semuannya juga lah, Shuttle Racing always be exclusive place.” Mario menatap Fabian dengan serius, dia tidak bercanda tentang betapa exclusive nya Shuttle Racing, sejauh apapun ia bertanya-tanya tentang Arunika tidak ada orang dalam yang berani membocorkan informasi apapun. Terlalu rahasia! “Saat gue menjadi penonton tetap Shuttle Racing satu setengah tahun yang lalu, Arunika telah menjadi pemain tetap dia bergabung dengan tim Eclaire ...” Katanya saat melihat respon Fabian yang kelihatan tidak percaya ia kembali melanjutkan, “Lo gak percaya kan? Gue juga awalanya gak percaya gimana cewek yang from know where ²⁰ berhasil masuk ke dalam big Three team Shuttle Racing.” “Tapi saat balapan dengan gue waktu itu dia gak pakai nama Eclaire di belakangnya.” Bantah Fabian cepat karena ia ingat betul kata manajer nya saat itu bahwa lawannya malam itu bukan pemain tetap shuttle racing makanya ia sangat santai dan besar kepala saat balapan dan seperti yang telah kita ketahui bersama pada akhirnya pria itu kalah karena keteledoran dan kesombongannya! “Arunika memang sesekali turun ke street racer Fab untuk bersenang-senang, dan itu ga pakai nama Eclaire lah.” Jawab Mario membuat mata Fabian terbelak. “Bersenang-senang?” tanya Fabian sedikit cengo. “Iya, biasanya dia taruhan sih dengan orang itu untuk membunuh waktu ya...” Mario menunjuk pria blasteran amerika berotot yang kini berada di tangga tengah berjalan untuk menuju ke lantai dua. “Dia siapa?” tanya Fabian pelan. “Teman Arunika, bagian dari Eclaire juga namanya Benjamin. dia itu kayak otaknya engine mereka.” “Arunika berteman dengan orang seperti itu?” Tanya Fabian dengan kening berkerut, lingkup pertemanan gadis itu boleh juga. “Orang seperti itu yang Lo maksud itu kayak penjaga, abang, bodyguard nya si Arunika anjirr beneran...” Mario mendengus kesal, pria itu sepertinya memiliki pengalaman yang buruk tentang orang-orang di sekeliling Arunika, hingga menimbulkan sedikit trauma. “Gue bilang gini ke Lo sebagai sesama teman yang peduli ya Fab, saran gue jangan ganggu Arunika kalau Lo gak mau berurusan dengan orang-orang itu.” Kata Mario dengan sungguh-sungguh. Tapi bagaimana ini, setelah Mario bilang begitu Fabian malah semakin tertantang dan penasaran. Melihat wajah-wajah Fabian yang mencurigakan dan tidak menunjukan wajah menyerah membuat Mario berteriak histeris membuat beberapa orang di bar menoleh ke arah mereka, “Anjir gue seriusan Fab jangan coba-coba ya jangan pokoknya!” kata Mario kesal karena kebebalan Fabian yang tak tertolong “Suara Lo Mar!” Hardik Fabian dengan kesal, menunduk untuk menghindari tatapan penuh ingin tahu orang-orang di sekeliling mereka. “Sorry, tapi gue seriusan Fab, Lo harusnya berhenti.” kata Mario dengan sungguh-sungguh. “Gue gak ngapa-ngapain ya anjir biasa aja dong lo itu.” balas Fabian gak terima. “Ya makannya sebelum lo ngapa-ngapain gue peringatkan untuk berhenti.” “Sialann lo, berisik banget sih.” Dengus Fabian kesal mengedarkan pandangannya ke sekeliling karena tidak ingi melihat wajah Mario, bertepatan dengan saat itu juga dari tempatnya berdiri ia akhirnya melihat Arunika Gauri – alasannya datang ke sini malam ini– turun dari lantai dua dengan cepat. “Fab inget kata Gue jangan coba-coba untuk –” perkataan Mario terpotong. “Sorry Mario sepertinya gue akan mengabaikan saran Lo yang satu itu dulu yap.” Kata Fabian dengan cepat, lalu berdiri menjauh dari Bar. Langkah Fabian yang ringan membawa dirinya untuk menunggu wanita itu di ujung tangga. Begitu wanita itu turun dan memapas jarak di antara mereka, Fabian menghadangnya dengan senyuman yang terlukis sangat lebar di wajah miliknya, “Yoo Arunika kita bertemu lagi di sini.” Kata Fabian dengan seringai Dan wanita itu kini melihat Fabian seperti dia ini adalah hama menjijikan yang pantas dijauhi dan alien yang sangat menyeramkan untuknya. Melihat ekspresi lucunya itu membuat Fabian menahan tawa miliknya yang dapat keluar kapan saja karena satu fakta lagi yang ia temukan dari diri Arunika kalau wanita itu sungguh lucu dan menyenangkan untuk diganggu. Dasar Fabian si jiwa jiwa perundung!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD