Awal Permasalahan

1525 Words
Klandestein University Of People, Jakarta Pusat – 2021 “Gak, tunggu dulu bentar deh Run, Lo lihat ini baik-baik gambar ini serius! lihat ini dengan benar gue gak lagi ngadi-adi ya...” Greta menyodorkan ponselnya dengan menggebu-gebu, membuat Arunika tidak memiliki pilihan lain selain melihat layar ponsel itu dengan dahi berlipat-lipat karena begitu kesal karena diganggu jam tidurnya. “Memangnya ada apaan sih?” Tanya Arunika menyerah pada akhirnya, wanita itu mendekatkan wajahnya ke arah Greta dan melongok untuk melihat layar ponsel wanita itu dengan gak niat. “Ini loh Run lihat dulu makanya, cewek yang pakai topi ini yang jadi sparing match Fabian tadi malam, topinya masak kayak topi hadiah gua untuk ulang tahun lo tahun lalu terus ini juga ransel coklatnya kok juga sama punya kaya lo." Greta menatap Arunika dengan sorot mata tajam dan penuh kecurigaan, wanita itu melirik ransel Arunika yang berada di atas meja lalu menatap Arunika dengan tatapan curiga yang kentara banget Walau pun gusar takut ketahuan Arunika akan tetap berkelit sampai mampus, agar rahasianya gak ke bongkar di hadapan Greta Sikas, "Gak mungkin lah kalau itu gue bercanda aja lo! bukannya yang barang kayak gini banyak di jual di pasaran, online shop juga banyak Kali Ta! hadiah dari lo kan emang gak ada yang limited edition wajar dong kalau gue sama an dengan orang lain dan asal lo tahu ya gue gak mungkin ke sana lah ngaco banget sih lo, apalagi Lo juga tahu kalau gue kalau malam senin kerja." Arunika mencoba menjawabnya dengan tenang, namun matanya bergerak gelisah memandangi sekitar dan menemukan Mario si pentolan Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial berada di depan pintu dan tengah menatap Arunika dengan tampang mencurigakan. pria itu menangkup kan kedua telapak tangannya ke depan dan menundukkan kepalanya membuat Arunika semakin curiga dengan tingkah pria itu. Aneh gak jelas! dan sangat mencurigakan! patut banget diawasi Karena hanya Mario seorang yang mengetahui kalau Arunika adalah pemain tetap di Shuttle Racing, dan karena itu juga Arunika harus selalu memberi pria itu uang tutup mulut setiap Arunika menang balapan, dia memeras Arunika dan Arunika tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan itu. Sungguh sangat sialan sekali kan? “Iya juga sih tapi sialann banget ya lo Run bawa-bawa limited edition lagi, tapi asal lo tahu ya hadiah gue kan tulus diberikan khusus untuk lo seorang, di beli dengan sepenuh hati. Besok deh kalau punya uang lebih gue beliin yang limited edition no kw kw klub lagi.” Ucap Greta dengan sungguh-sungguh, wanita itu mudah sekali untuk dialihkan perhatiannya membuat Arunika dapat menghela nafas lega. satu masalah telah teratasi .... “Hmmm ya udah gue tunggu kalau gitu hadiahnya ya Greta jangan omong doang awas Lo, tepat-in janji lo.” balas Arunika tanpa melepas pandangan dirinya untuk mengawasi Mario yang tindak tanduknya patut dicurigai karena sangat mencurigakan, pria itu begitu gelisah dan apa ya sebutannya? begitu sangat pasrah? pokoknya tindakan pria itu membuat Arunika jadi bertanya-tanya apa yang membuat pria itu jadi seperti itu. apakah hal buruk? batin Arunika. “Iya iya tunggu aja hadiah dari gue pokoknya.” balas Greta sebal. “Hmm oke.” sahut Arunika seenaknya wanita itu menjawab tanpa melepaskan pandangannya ke arah Mario. “Woi Arunika Gauri kenapa lihat gue se begitunya suka ya lo sama gue?" tanya Mario dengan suara keras. Pria itu melemparkan senyum terpaksa sebelum tiba-tiba berjalan kearah Arunika, dan alarm bahaya berbunyi di otak Arunika. Dan sungguh sialnya dia baru ingat kalau kemarin ia telat membayar uang tutup mulut untuk Mario dan Arunika rasa pria itu tidak akan membiarkan hari senin Arunika berjalan dengan tenang begitu saja. “Percaya diri banget sih lo ngapain juga Arunika ngelihatin lo si nyet.” Greta mendengus dan Arunika secepat kilat mengamankan tas miliknya saat Mario hendak menyambar tas itu – dasar tangan-tangan copet, gak tahu diri banget si Mario– “Anjir Pelit banget sih lo Ka gue cuman pengen lihat aja kalik isinya apa kalau isinya uan–” “Woi itu ibu Adhisti udah datang balik woi!.” Arunika setengah berteriak saat melihat Ibu Adhisti, Dosen Pembimbing Akademik mereka datang dan berjalan ke mimbar –sang penyelamat Arunika hari ini– dan karena itu juga yang membuat Mario mau tidak mau kembali ke tempat duduknya meninggalkan Arunika dengan ucapan yang belum selesai, dan begitu Mario jauh dari pandangannya Arunika menghela nafas lega. Arunika selamat. – tapi sementara. Tapi sialnya disaat dia pikir bahwa ia benar-benar aman dari gangguan Mario dan mengendurkan kewaspadaannya, perhitungannya meleset jauh. Tepat setelah Ibu Adhisti, pembimbing akademik mereka keluar dari kelas setelah memberikan pengarahan tentang rencana studi untuk semester ini, tanpa bisa Arunika antisipasi dan ia bayangkan sebelumnya Fabian si anak fakultas engineering, salah satu anggota dari klub varietas dan juga orang yang dibicarakan Greta sedari tadi, muncul di depan pintu menghentikan semua mahasiswa yang hendak keluar dari kelas. Kemunculan nya di fakultas Bisnis dan Ilmu sosial menimbulkan tanda tanya besar. fakultas mereka gak jauh dan gak dekat juga! jadi keberadaan pokoknya agak aneh dan gak sesuai tempat. Mario dari baris terdepan menatap Arunika dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dan Arunika tahu kalau akan ada hal yang buruk terjadi setelah ini. Greta yang duduk di samping dirinya menggoyang-goyangkan badannya terlalu excited, tingkah Greta tidak beda dengan beberapa wanita di kelas ini– mereka terlalu terpesona dengan tampilan ganteng paripurna Fabian Airlangga – “Fabian ngapain itu kemari ke kelas kita?” Tanya Greta setengah berbisik. Itu juga yang ingin Arunika tanyakan, mengapa pria itu kemari bukannya berada di fakultas engineering. Arunika tidak ingin terlalu percaya diri– kalau Fabian datang menemui dirinya karena perkara balapan di Shuttle Racing namun wajah mencurigakan Mario sedari tadi dan tatapan pria itu yang super duper mencurigakan membuat dirinya jadi berpikir demikian, Mario mungkin mengadukan identitasnya ke Fabian dan Fabian yang dendam tidak terima atas kekalahan nya mencari dirinya. Bagi Arunika asumsi itu lah yang paling masuk akal di otaknya sekarang, dan sialnya itu drama banget kan ya kayak sinetron iya kan? “Ta, gue duluan ya mau ke toilet kebelet banget ini.” Kata Arunika beralasan dengan tangan sibuk memberesi semua barang-barang miliknya yang ada di atas meja. Begitu semuanya masuk ke dalam tasnya ia bergegas berdiri dan bersiap melipir keluar mengabaikan Greta yang menatap dirinya bingung. “Berhenti Arunika.” Jadi benar? Dia benar mencari Arunika? Suara itu terdengar cukup lantang dari arah belakang Arunika, ia melirik ke sekeliling dengan waspada kalau-kalau ada orang lain yang bersiap keluar kelas seperti dirinya tapi nyatanya tidak ada, dua puluh sembilan mahasiswa masih tetap berada di kursi mereka masing-masing sambil menaruh atensi penuh kepada Fabian dan kawan-kawannya. “Lo memanggil gue?.” Tanya Arunika menunjuk dirinya sendiri. Arunika memberanikan diri membalik badannya dan menatap Fabian yang berdiri di depan mimbar, semua orang hanya menonton dan berbisik-bisik bahkan Greta menatap Arunika dengan tatapan menyeramkan yang dia miliki. “Memang ada Arunika Gauri yang lain disini?” Tanya Fabian dengan dahi berkerut. Bisikan semua orang terdengar semakin keras dari segala arah saat Fabian tanpa kata berjalan pelan menyusuri meja-meja kelas untuk mencapai tempat Arunika sekarang dia berhenti tepat di depannya dan hanya menyisakan jarak satu anak tangga diantara mereka. Tinggi mereka yang menjadi tidak berbeda jauh memudahkan Arunika untuk melihat lebih jelas lawannya malam itu, pria itu cukup tampan dengan wajah putih bersih dan mata coklat muda, rambut nya yang berwarna coklat gelap ditata sedemikian rupa. Kalau boleh jujur Arunika akui pria itu luar biasa keren dan kelihatan sangat high-classy apalagi dengan bau fragrance perpaduan dari kayu oud, cendana, vetiver, tonka bean dan amber yang pastinya harganya gak murahan, dan karena itu Arunika sempat teralihkan dengan tatapan matanya yang tajam itu dan baunya oud wood nya yang begitu memikat. Fakta nya kan, fragrance dari pria itu memang memabukkan! Fabian lebih dulu memutus kontak mata diantara mereka, Arunika yang sempat tersihir oleh tatapan pria itu tidak bisa mengantisipasi apa yang Fabian Airlangga lakukan selanjutnya, dia meraih tas milik Arunika dengan sedikit kasar dan tentu saja penuh dengan paksaan, Arunika yang tidak terima dengan kelakukan aneh Fabian Airlangga mencoba meraih kembali tas miliknya namun pria itu kembali menatapnya tajam dan menjauhkan tasnya dari jangkauan Arunika posturnya yang memang sangat tinggi dan berotot itu menyulitkan Arunika untuk mendapatkan kembali tasnya. “Apaan sih lo balikin gak jelas banget sih lo woi balikin.” pekik Arunika sangat kesal. Fabian tidak mendengarkan, dan masih terus mengaduk-aduk tas milik Arunika dan baru berhenti begitu tangannya menemukan kunci mobil milik Arunika dan memasukannya ke dalam saku kantongnya. “Lo adalah Arunika Gauri kan, ke ruang Klub Varietas, after class kalau terlambat datang gue anggap lo gak butuh mobil lo lagi see ya!.” Kata Fabian final tidak ingin di bantah sama sekali. Setelah mengatakan itu Fabian berlalu menyisakan Arunika yang emosi setengah mati, apalagi saat tidak sengaja menangkap lambaian tangan mario dan senyum setan pria itu. Mario yang sialan! sejauh apapun Arunika menghindar dari masalah, masalah akan menemukan dirinya ke mana pun dirinya pergi, ia hampir melupakan definisi menghindar, menghindari artinya kalau kita akan baik-baik saja untuk sementara waktu iya benar hanya sementara tetapi kemudian begitu waktunya tiba semua mulai lepas kendali dan sepertinya itu terjadi sekarang!!! Mario sialan dan mobil Volkswagen Scirocco milik Arunika yang sangat malang!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD