Klandestein University Of People District, Jakarta Pusat – 2021
Ruang Klub Varietas bagi kebanyakan mahasiswa di Klandestein University of People's adalah kawasan elit dan eklusif karena tidak banyak orang yang memiliki akses ke sana bahkan Dosen Klandestein University of People's sekali pun, hanya orang-orang tertentu yang kedudukannya tinggi yang mendapatkan akses untuk masuk ke sana.
Dan ruang Klub Varietas adalah satu-satunya ruang klub extra dan co curricular terbesar di Klandestein dan satu-satunya ruang klub yang memiliki dua pintu ganda berbahan wooden jati yang mahal, Klub Varietas terletak di paling ujung koridor lantai empat di gedung induk – gedung utama Klandestin, bahkan kata beberapa anak Klandestin roof top gedung induk hanya bisa di gunakan oleh anak-anak Klub Varietas– kesenjangan yang terlihat jelas dan terjadi di Klandestein.
Mengenai penghuninya, Klub Varietas dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa grade A dengan kelas sosial tinggi : kelas sosial yang mereka dapatkan sejak mereka lahir, menjadi pewaris perusahaan, pewaris saham, anak politisi, anak pejabat atau jabatan terhormat seperti jaksa, pengacara dan dokter.
Arunika melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti Reiyyan Abiyyu. salah satu mahasiswa fakultas engineering yang terkenal sebagai anjing penjaga klub Varietas sekaligus ketua berandalan kampus garis keras – Sparta. Reiyyan Abbiyu yang secara khusus bahkan sudah menunggu kedatangan Arunika di depan pintu gedung induk membuat banyak pasang mata menatap mereka penasaran, mereka mungkin bertanya-tanya apakah Arunika adalah target pembullyan Sparta selanjutnya? intinya keberadaan Reiyyan Abiyyu ini seolah-olah untuk mengumumkan sesuatu yang menyebabkan banyak kontroversi atau menghasilkan situasi yang sangat sulit untuk dihadapi oleh Arunika kedepannya.
“Lo bikin masalah ya dengan salah satu anak klub varietas?.” Tanya Reiyyan dengan nada menyebalkan.
Arunika mendengus dan tidak ingin menjawab pertanyaan menyebalkan itu, Reiyyan dan Mario itu satu geng dan ke b******k kan mereka gak perlu lagi di pertanyakan jadi daripada Arunika membuang waktu miliknya hanya untuk meladeni Reiyyan Abiyyu lebih baik dia mempersiapkan diri akan skenario terburuk yang akan terjadi pada dirinya setelah bertemu Fabian.
“Ini gue ngomong gini sebagai teman yang ikut prihatin dengan nasib Lo sekarang ya, siapa tadi nama Lo oh iya Arunika Gauri kan?” Reiyyan menatap Arunika dengan tatapan kasihan dan nada sombongnya mendominasi suaranya itu, “Jadi saran gue Arunika Gauri, Lo jangan deh main-main sama anak klub varietas karena nantinya yang ada hidup lo gak bakal tenang.”
“...”
“Walaupun kelihatan kami ini lebih kejam dan berbahaya tapi anak-anak dari Klub Varietas itu gak bisa di prediksi mereka lebih bahaya dan gak manusiawi pokoknya mending lo di gangguin orang-orang kayak kami daripada mereka.” lanjut Reiyyan dengan percaya diri.
Arunika tidak bisa untuk tidak memutar bola matanya kesal mendengar perkataan Reiyyan yang mendekati tidak masuk akal dan dangkal.
“Jadi maksud lo, lo sedang me maklum kan semua tindakan biadab lo dan teman-teman sialan lo itu?.” Tanya Arunika dengan emosi.
Aslinya Arunika bukanlah orang yang bersumbu pendek dan suka ikut campur masalah orang begini, tapi kalau teringat perlakuan semena-mena Fabian kepadanya kemarin dan kepada anak-anak Klandestin lain– dari golongan kelompok bantuan sosial membuat Arunika begitu marah dan juga sangat kesal.
Sparta – Kelompok mereka itu gak lebih dari sampah masyarakat yang harusnya di basmi saja karena melakukan penindasan terhadap yang lemah, pelopor kekerasan di lingkungan kampus dan kelakuan gak manusiawi lainnya yang telah dilakukan mereka yang tidak bisa di tolerir lagi, tapi walaupun kelakuan mereka salah dan seburuk itu gak ada orang yang peduli dengan mereka atau pun para korbannya mereka semua memaklumi karena sekali lagi mereka semua takut menjadi sasaran Sparta selanjutnya mereka memilih cuci tangan daripada harus ikut campur dengan Sparta ditambah status Mario dan Reiyyan itu di bawah anak-anak klub Varietas menjadikan mereka semakin semena-mena dan merasa memiliki kekuasaan yang besar.
Kalau anak klub varietas disegani oleh seluruh universitas dengan deretan prestasi yang mereka miliki untuk Klandestein maka beda jauh dengan Sparta yang menaklukkan universitas dengan kekejaman dan kebrutalan mereka!.
“Apa lo bilang tadi biadab? watch your mouth bitchh ⁴” Reiyyan yang tidan terima di hina bertanya dengan sangat kesal.
“Tapi gue benar kan menindas mereka yang lemah, mengganggu orang-orang yang gak bersalah, menjadikan mereka mainan menurut lo itu manusiawi dan bisa di benarkan?. Kalian juga mengadu anak-anak untuk menghasilkan uang lewat live streaming sialan lo itu kan!.”
Bagi Arunika semuanya sudah kepalang tanggung, jadi yang ia lakukan adalah mengatakan semuanya kebenaran yang tidak pernah di katakan siapapun di hadapan Reiyyan dan membuat pria itu bertambah sangat kesal.
“Apa lo bilang! Sialan lo cewek gak tahu di untung!.”
Reiyyan mengangkat tangannya dan Arunika memejamkan matanya bersiap menerima pukulan itu tapi setelah lima detik menutup mata tidak ada yang terjadi, Arunika memberanikan diri untuk membuka perlahan matanya dan menemukan tangan Reiyyan menggantung di udara karena cekalan seorang pria yang gak Arunika tidak kenal betul siapa.
Yang Arunika tahu pria itu adalah salah satu anggota klub Varietas yang sering berlalu-lalang memberikan speech untuk event Klandestein juga sering memberikan speech untuk universitas-universitas lain bahkan pria itu pernah menjadi salah satu pembicara di acara reality di salah satu stasiun Televisi swasta di Indonesia –Leaders Club Debate nama programnya – salah satu anak jenius dan berprestasi kalau Greta menyebutnya sebagai orang nomor satu di Klandestein; tampan, berprestasi dan lebih di hormati anak-anak Klandestin.
“Mengangkat tangan lo kepada cewek membuktikan kalau lo gak lebih dari seorang pengecut.”
Tanaqeel Russel berkata dengan sangat dingin dan datar, pria itu tidak melepaskan tatapannya pada Reiyyan.
“Cewek ini duluan yang mulai Tan,”
Reiyyan masih menatap Arunika nyalang tapi tatapan itu berubah menjadi kesakitan saat Tanaqeel Russel menekan kuat pergelangan tangan Reiyyan membuat Reiyyan mengaduh kencang karena kesakitan.
“...”
“Aw aw aw, oke oke gue yang salah jadi lepasin tangan gue sekarang.” Teriak Reiyyan kesal.
“Minta maaf.” ucap Tanaqeel dengan datar.
Tanaqeel menghempaskan pergelangan tangan Reiyyan dengan kasar, pria itu mundur satu langkah bersisian dengan Arunika.
“Gue minta maaf dengan dia? Jangan harap wanita sialan itu yang merendahkan gue duluan Tanaqel.” Reiyyan yang tidak pernah meminta naaf semasa ia hidup tentu saja menolak dengan keras.
“Gue bilang minta maaf.” kata Tanaqeel lagi dengan menyelipkan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak ingin lagi dibantah oleh Reiyyan ataupun siapapun.
“Sial, oke oke oke fine !!! gue akan minta maaf sekarang juga,” Reiyyan Abbiyu mendengus saat mendapatkan tatapan tajam dari pria di depannya. “Gue minta maaf sama lo ya Arunika.”
Arunika hanya membisu dan menghela nafas kasar mendengar permintaan maaf Reiyyan yang sama sekali tidak tulus, dan hal itu membuat Reiyyan bertambah kesal kepada Arunika.
Masa bodoh! memang apa yang ia harapkan dari seorang Reiyyan Abiyyu si berandalan kampus?!
“Arunika Gauri lo gak butuh kunci ini lagi ya!”
Suara menggelegar Fabian terdengar di koridor yang hening membuat Arunika terkesip dan mendongak. Fabian berderap menuju ke arah mereka dengan kesal, masuknya Fabian dalam lingkaran panas mereka membuat beberapa orang mahasiswa kini terang-terangan mendekati mereka dan bahkan ada yang mengeluarkan ponselnya untuk membidik mereka dan dapat di pastikan kejadian memalukan ini akan terposting di komunitas Klandestein cepat atau lambat.
“Arunika Gauri gue bilang kan temuin gue di Ruang Klub Varietas kenapa lo malah terlibat opera sabun disini sih! gak kapok ya lo.” Fabian berkata dengan kesal.
“Gue on the way tadi ke ruang klub Varietas seperti instruksi lo.” sahut Arunika pelan, tidak ingin disalahkan atas keterlambatannya.
“Alasan aja ya lo bisanya!” kata Fabian.
Fabian mencengkram pergelangan tangan Arunika ia bersiap membawa Arunika pergi tapi tarikan Fabian di hentikan oleh Tanaqeel. pria itu meraih salah satu tangan Arunika yang lain.
demi tuhan sekarang aku malah terlibat kembali dengan opera sabun jilid tiga dan ini gak keren sama sekali.
batin Arunika menjerit kesal, dia berusaha melepaskan cengkraman di kedua pergelangan tangannya namun berakhir sia-sia kedua cowok itu tidak main-main saat mencengkeramnya.
“Jangan memaksa, apalagi dengan seorang perempuan Fabian.”
Suara Tanaqeel begitu terdengar jelas di koridor yang mendadak sangat sunyi karena semua orang membatu di tempatnya.
“Ini urusan gue sama Arunika gak usah ikut campur, urus saja olimpiade lo.” ucap Fabian dengan sindiran keras diakhiri kalimatnya.
“Akan jadi urusan gue juga karena tingkah lo telah mencoreng nama klub varietas.” sahut Tanaqeel cepat.
“Klub Varietas lagi? Lo gila pencitraan ya Tanaqeel Russel!”
Fabian tertawa keras, membuat semua orang mendadak menutup mulut mereka rapat-rapat demi menantikan apa yang Fabian lakukan selanjutnya, Arunika merasakan aura yang tidak enak di sekitar keduanya baik Fabian maupun Tanaqeel baginya sekarang keduanya sama-sama mengerikan apalagi ditambah tatapan permusuhan yang terang-terangan di lontarkan Reiyyan pada Arunika. Situasi yang memanas ini tidak kunjung berakhir saat Tanaqeel tetap bergeming sambil menatap dingin Fabian.
”Sialan get off Tan gue gak mau ribut dengan lo karena gue masih punya urusan dengan cewek ini.” kata Fabian singkat, dia tidak ingin membuang waktunya.
“Urusan?.”
Wajah Tanaqeel yang minim ekspresi membuat semua orang sulit menebak apa yang ada di pikiran pria itu sekarang. Arunika bergidik ngeri sesaat setelah Tanaqeel meraih paksa kunci mobil miliknya dari tangan Fabian dan secepat kilat pula pria itu menarik Arunika cukup kuat hingga pegangan Fabian terlepas sepenuhnya lalu tubuh Arunika di tarik mundur dan berada tepat di balik tubuh Tanaqeel yang berdiri tegap menghalau pandangan Fabian.
“Kalau begitu dengan begini urusan lo sama cewek ini selesai kan, jadi balik ke Ruang Klub Varietas sekarang karena kita ada rapat.”
Tanaqeel menyerahkan kunci itu pada Arunika dan mendorong wanita itu menjauh, Arunika yang memiliki kesempatan untuk kabur dari ring hell itu dengan langkah kilat kabur dari tempat kejadian perkara mengabaikan seluruh tatapan mata dan bisik-bisik tidak mengenakan orang-orang di sepanjang koridor.
Hei Arunika Gauri kamu sekarang sukses menghancurkan hidup tenang mu di Klandestein University of People and welcome to hell! neraka yang kamu buat sendiri karena kecerobohan kamu.