Ilham meradang

1026 Words
Ilham meradang, ia bahkan berdiri dengan bertolak pinggang menatap tajam Arman. "Songong banget nih orang!" maki Ilham. Takut ada keributan di rumah itu. Ayahnya langsung menenangkan Ilham. Begitu pula dengan ibu dan istri Ilham. "Sudah Ham, duduk dulu! Tidak baik seperti itu pada tamu!" Nasihat ibunya, mengusap lembut lengannya. Perlahan Ilham kembali duduk. Merasa situasi sudah aman terkendali. Ayah Maira kembali membuka suara. "Jelaskan lagi tentang diri kamu! Ini pertemuan pertama kita, dan kami pun belum mengenal kamu sebelumnya," ucap ayah Maira, mempersilahkan Arman. Arman menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya pelan. Beberapa detik, ia terdiam, akhirnya membuka suara juga. "Nama saya Arman Paripurna, usia saya saat ini hampir memasuki tiga puluh satu tahun, dan saya bekerja di sebuah tempat pemotongan ayam dan telur ayam," ucap Arman, memperkenalkan dirinya, kali ini terdengar sopan. Arman sudah mulai menjinak, Ilham kembali membuat ulah. Tidak hanya Ilham, Maira juga sama. "Kenapa nama Bapak, seperti orang lagi rapat?" celetuk Maira. "Hahaha... Kamu benar Mai, terlalu paripurna, makanya songongnya tidak ketolongan," timpal Ilham, tertawa puas. Air wajah Arman berubah seketika. Jika hanya Ilham yang mengejeknya, mungkin ia akan biasa saja. Tapi ini sang pujaan hati. Merasa malu, tentu saja. Apalagi di depan calon mertua. "Ilham, Maira, jangan mengejek nama orang lain! Nama itu pemberian dari orang tua. Dan, setiap nama yang diberikan adalah doa dan harapan bagi kedua orang tua tersebut. Apapun namanya, kalau artinya bagus. Kenapa harus diejek?" tegur ayahnya, membuat keduanya terdiam, saling berpandangan. 'Ah, senangnya. Belum apa-apa, sudah dibela calon ayah mertua,' batin Arman, kali ini tersenyum sinis. "Maafkan kedua anak Bapak! Jadi nama kamu Arman? Kenapa kamu melamar Maira mendadak seperti ini? Sedang kata Maira, dia tidak mengenal kamu sebelum ini," tanya ayah Maira, merasa tidak enak. Arman mengangguk. "Kami berdua memang belum saling kenal. Saya bertemu, emh... lebih tepatnya melihat Maira, saat saya pergi ke kondangan teman saya. Saya merasa jatuh cinta, dan mencari tahu tentang alamat rumah ini pada teman saya," jelas Arman, berkata jujur. "Kalau tanya itu sepaket sekalian! Jangan cuma tanya alamatnya, tanya juga sekalian namanya! Jadi orang aneh sekali," sindir Ilham. " Memangnya kenapa? Masalah nama kan bisa saya tanyakan langsung di rumah? Yang penting sudah tau alamat dulu. Setelah itu, urusan yang lain gampang menyusul," sahut Arman. Ayah dan ibu Maira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Ilham yang seperti tikus dan kucing saat bicara dengan Arman. "Ham, lebih baik kamu masuk ke kamar saja! Jangan membuat keributan di sini, tidak enak didengar tetangga!" tegur ayah Maira. "Maaf Yah, habisnya nih orang bikin kesel," ujar Ilham, nyengir kuda. Ayah Maira beralih menatap Arman. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa takjub dan kagum dengan keberanian Arman yang sudah berani datang langsung ke rumahnya untuk melamar. Tanpa ada perantara atau drama sebelumnya. Kebanyakan dari pria, pasti akan banyak drama, jika ingin datang berkunjung bertemu dengan kedua orang tua pasangannya. Jangankan berkunjung untuk melamar, ingin mengajak jalan anak orang saja, kadang harus lewat perantara sang gadis dulu. "Saya sangat berterimakasih dengan lamaran kamu ini. Jujur, saya merasa kagum dengan keberanian kamu datang ke sini, mengutarakan keinginan kamu tanpa ada rasa takut. Tapi, permasalahannya di sini bukan diterima atau tidaknya. Alangkah baiknya, sebelum menikah itu harus ada yang namanya perkenalan dulu. Menikah bukan sesuatu yang cepat diputuskan. Menikah bukan hanya memakan jangka waktu yang sebentar. Menikah ini kalau bisa, hanya sekali seumur hidup. Harus benar-benar yakin. Karena dalam pernikahan itu ada dua orang, dua kepala dan pastinya ada dua pemikiran. Perbedaan pendapat pasti terjadi kalau kalian tidak saling kenal dulu. Maira ini sudah pernah gagal dalam urusan itu. Maaf, bukan saya membuka kisah pahit putri saya sendiri. Tapi, itulah kenyataannya. Di hari pernikahannya, calon suaminya membatalkan pernikahan mereka, karena menganggap Maira ini sudah tidak perawan lagi," jelas ayah Maira panjang lebar. "Yah, sudah Maira katakan. Maira masih perawan. Itu semua bohong. Itu hanya alasan Bima saja untuk lari dari pernikahan itu," sanggah Maira dengan cepat, ia tidak terima dengan penjelasan ayahnya. "Mai, tenang dulu! Ayah tau, Ayah juga yakin itu. Tapi kita bisa apa Mai? Masalah perawan atau tidaknya, itu hanya suami kamu yang nantinya akan tau. Untuk sekarang, siapa yang tau? Berita itu sudah menyebar, mungkin saja orang-orang sudah punya asumsi sendiri. Ayah mengatakan ini, bukan maksud menghina atau menuduh kamu. Ayah hanya ingin, nak Arman ini tau, bagaimana kisah hidup kamu. Sebelum menikah, lebih baik tau semuanya, agar ke depannya tidak ada masalah lagi," ucap sang ayah, ada gurat kesedihan saat dirinya mengatakan itu. "Maaf sebelumnya. Saya memang tidak tau menahu soal masa lalu Maira. Tapi, apapun itu, saya tidak mempersoalkan. Mau perawan atau tidak, toh pada dasarnya dia akan jadi seorang istri ataupun ibu nantinya. Seperti apapun Maira sebelumnya, itu hanya masa lalu. Semua orang punya masa lalu, begitu juga dengan saya. Saya tetap pada pendirian saya, saya ingin menikahi Maira, dan membuat masa depan yang indah bersamanya," tegas Arman. Ilham yang dari tadi terus mengejek Arman, seketika terdiam. Kata-kata yang keluar dari mulut Arman, benar-benar membuatnya takjub. "Wih, dalam juga kata-kata kamu. Kapan belajar dari mbah Loogle?" tanya Ilham. "Yang dia katakan sih sebenarnya benar Yah. Toh sekarang ini, mana ada yang benar-benar perawan. Jadi, itu tidak terlalu masalah. Walaupun dia benar, tapi aku tetap tidak mau dia menjadi adik ipar, Yah," tolak Ilham, tetap pada pendiriannya. Ayah Maira berdeham, memberi isyarat diam pada Ilham. "Kalau kamu tetap bersikeras ingin menjadikan Maira istri. Baiklah. Saya akan meminta waktu dua hari untuk merundingkan masalah ini," ucap ayah Maira, melirik ke arah Maira yang kini tertunduk lesu. Belum sempat Arman menjawab, Maira mengangkat wajahnya dan lebih dulu bicara. "Tidak usah mengambil keputusan dua hari Yah. Maira siap menikah dengan bapak itu! Tapi, Maira minta waktu dulu bicara berdua dengan dia!" Tunjuk Maira ke arah Arman. Bak mendapat angin segar, Arman menegakkan posisi duduknya. Senyuman menghiasi wajah tampannya. "Ayo kalau mau bicara! ujar Arman, sudah tidak sabar. "Mai, kamu yakin? ini masalah pernikahan loh? pria ini ketuaan buat kamu Mai. Kamu baru dua puluh lima tahun, sedang dia tiga puluh satu tahun. Mana kerjanya cuma di ayam potong. Mana cukup menghidupi kamu nanti Mai. Dia saja kismin, bagaimana memberi makan anak gadis orang?" protes Ilham, tak terima adik kesayangannya jatuh pada Arman yang dikiranya miskin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD