Bab 8

1845 Words
Serbuan udara dingin kembali terasa menusuk tulang Daviant pagi itu, membuatnya begitu menggigil meski telah menggunakan lapisan tebal yang terdiri dari dua selimut. Selama hampir enam hari tinggal di desa ini, Daviant tak juga terbiasa dengan cuaca dinginnya. Menarik selimutnya semakin keatas untuk menutupi seluruh tubuhnya, samar-samar hidungnya mencium wangi masakan, sepertinya bibi Mala telah datang dan tengah memasak saat ini. Mengerutkan alis tebalnya masih dengan mata tertutup, dia juga dapat sedikit mendengar suara gaduh Alisa di sebelah yang mungkin tengah membereskan sesuatu entah apa itu di kamarnya. Akhirnya Daviant memutuskan merubah posisi tidurnya menjadi telentang dan perlahan mengerjapkan matanya untuk terbuka karena tak mungkin lagi bagi Daviant untuk melanjutkan tidurnya. Tak berapa lama kemudian, Ia memutuskan untuk keluar dari kamar hanya dengan setelan piyama berwarna hitam miliknya dan bertelanjang kaki. Rasa dingin semakin menggerogotinya dirinya. Mungkin sedikit aneh dengan kata bertelanjang kaki disini, tapi Daviant selalu menggunakan kaos kaki semenjak Ia tinggal di desa ini. Udara pagi desa Negarayu benar-benar tak main-main membuat ngilu seluruh sendi tubuhnya. Setelah Ia berada di luar kamar segera Ia alihkan pandangannya pada jam dinding yang menggantung di ruang tamu dan menunjukkan angka jam lima pagi saat ini. Mengusap mata indahnya untuk mengusir kantuk dan masih berusaha mengumpulkan kesadaran, Ia jatuh terduduk di atas karpet dan melamun dengan pandangan kosong. Benar-benar pagi yang damai, Pikir Daviant singkat. “E-eh tuan muda? Kau sudah terbangun?”, tegur Alisa saat berjalan melewatinya. Sedikit kaget mendapati Daviant yang tengah melamun dengan pandangan kosong di ruang tamu, saat ini masih terlalu pagi untuk sang tuan muda bangun. Ia hanya merasa aneh. Daviant menarik diri lamunan dan menjawab teguran Alisa, “Ya, Aku tak bisa tidur lagi. Alisa bolehkah aku meminta dibuatkan segelas cokelat hangat?”, pintanya. Mendengar permintaan sang tuan muda Alisa segera mengangguk dan bergegas menuju dapur. Membuatkan segelas cokelat hangat tak lupa dengan marshmellow lembut di dalamnya seperti kesukaan Daviant. Tak sampai lima menit kemudian cokelat hangat itupun jadi, Alisa segera membawanya menuju ke ruang tamu dimana sang tuan muda berada. Mengangsurkan gelas berwarna putih itu pelan dan diterima oleh Daviant. Sambil mengamati sang tuan muda yang tengah mencicipi sedikit demi sedikit cokelat hangat buatannya Alisa membuka pembicaraan yang ingin Ia bahas sejak kemarin. Alisa duduk disamping sang tuan mudanya dan berkata pelan, “Tuan muda, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Apa kau keberatan aku membahasnya saat ini?”, tanya Alisa. Daviant hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatian dari cokelat hangat yang saat ini Ia nikmati. “Hari ini aku akan mendaftarkan tuan muda di sekolah yang baru. Kita harus bersiap untuk berangkat sebelum jam sepuluh pagi ini.”, ujarnya pelan. Daviant mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Alisa, terasa masih sulit dipercaya jikalau Ia benar-benar akan bersekolah disini. Belajar di sekolah sesungguhnya bersama dengan teman seumurannya. Jantung Daviant berdegup kencang karena rasa excited akan kehidupan sekolahnya nanti. Senyuman kecil tanpa sadar Ia kembangkan pada bibir tipisnya. “Tuan muda, bagaimana? Apa kau bersedia ikut hari ini? Kita akan diantar oleh Leo kesana” , kembali Alisa berkata pelan karena sang tuan muda tak juga memberikan respon dan hanya menatap kosong tembok putih di depannya, Ia dibuat bertanya-tanya oleh tuan mudanya tersebut. Di detik berikutnya akhirnya Daviant memberikan jawaban, “Baiklah, aku akan tidur sebentar lagi hingga waktunya tiba”, Ucapnya datar. Dan segera berdiri untuk berlalu menuju kamarnya tak lupa membawa gelas berisi cokelat panas yang barusan Ia nikmati. Terlihat entah mengapa terburu-buru hingga kakinya hampir menyandung karpet. Alisa menatap heran sang tuan muda, Ia pikir Daviant akan senang mendengar ini tapi kenapa respon yang diberikan begitu singkat dan terkesan datar bahkan sang tuan muda langsung berlari ke kamar, mengedikkan bahunya Alisa memilih untuk kembali ke dapur dan membantu bibi Mala. Namun langkahnya terhenti ketika Ia melewati pintu kamar Daviant dan mendengar suara gaduh di dalamnya, Daviant juga terdengar berteriak frustasi mengeluhkan tentang suatu hal yang kemudian samar-samar Ia dengar adalah sesuatu yang berkaitan dengan setelan dan sekolah. Apa tuan mudanya itu tengah kebingungan memilih pakaian yang akan Ia gunakan ke sekolah hari ini? Ah sungguh menggemaskan, Alisa merasa ingin mencubit pipi chubbynya. Sang tuan muda yang tadi bertingkah acuh saat Ia berbicara ternyata menyimpan rasa ketertarikan yang besar pada apa yang akan mereka lakukan hari ini. Yaitu mengunjungi sekolah barunya. Pagi itu Keylani tak bangun terlambat, Ia tak mesti berlari untuk mandi. Kaki-kaki kecilnya Ia bawa melangkah ringan untuk mengantarkan rantang berisi sarapan sang ayah. Ketika Ia melewati rumah nenek Arini, Ia mengerut heran melihat sang paman yang tengah memanaskan motor di pekarangan rumah. Dihampirinya Leo yang terlihat masih sibuk dengan motor besarnya itu. “Paman mau pergi kemana? Kenapa brutus ikut dibawa?” tanya Keylani setelah berada di dekat Leo –brutus adalah nama motor milik sang paman. Leo yang terkaget dengan suara Keylani yang tiba-tiba berbicara di dekatnya mengelus d**a, bocah ini datang tiba-tiba Leo bahkan tak mendengar suara langkahnya. “Mengapa raut paman seperti itu? Seperti melihat siluman saja!”, Keylani terkekeh melihat sang paman yang tangannya masih berada di d**a sembari mulutnya berkomat-kamit entah mengatakan apa. “Aku terkejut! Mengapa tak aku dengar suara langkahmu. Apa kau baru saja melayang dari rumah hingga kemari?”, hardik sang paman. Keylani tertawa keras, tangannya Ia arahkan untuk menepuk punggung Leo, “Aku datang masih dengan kaki, paman saja yang mengalami penurunan pendengaran”, ucap Keylani kurang ajar. “K –kau?!”, Leo sudah bersiap untuk mencekal leher si gadis kecil tapi Ia hentikan saat matanya menangkap pemandangan Alisa yang tengah berjalan menuju ke tempatnya berada bersama seorang anak lelaki yang jika Leo perhatikan lebih dalam terlihat cukup tampan juga sepertinya. Sungguh tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Keylani yang melihat sang paman tak jadi menganiayanya mengerjap bingung, Ia ikut menolehkan kepala ke belakang punggungnya. Segera ditangkap pemandangan seorang wanita cantik berjalan bersama anak lelaki tampan disampingnya. Tunggu, Keylani sepertinya pernah bertemu dengan kedua orang ini sebelumnya. Menepukkan keningnya keras-keras, Ia baru sadar bahwa itu adalah Kak Alisa dan Davi. Ingatannya benar-benar buruk dalam menghafal wajah seseorang. Segera Keylani berlari mendekati keduanya, menyalimi Kak Alisa dan menyapa Davi hangat. “Pagi, permata hati paman Leo!”, ujarnya ceria. “Apa hari ini Kak Alisa dan Davi ingin sarapan bersama disini?”, tatapnya penasaran. Leo yang mendengar kata-kata sang keponakan segera menjitak kepalanya main-main, memaksa Keylani untuk berdiri di dekatnya. Dan mengunci pergerakannya dengan rangkulan pada bahunya. “Permata hati apa maksudmu bocah, berhentilah membual!”, sahutnya cepat. Keylani menyengir puas memandang raut panik sang paman dan Ia alihkan perhatiannya pada Kak Alisa yang juga masih terlihat begitu terkejut karena sapaannya, sementara Daviant hanya tersenyum tipis memandangi kedua anak manusia di depannya. Mengeyahkan rasa kagetnya, Alisa berkata halus, “Pagi Keylani, kau mau ikut bersama kami untuk mendaftarkan Daviant di sekolahmu?”, tanyanya memandang Keylani yang masih berada dalam rangkulan Leo. Entah mendapat kekuatan darimana si gadis kecil akhirnya dapat melepaskan diri dari jerat sang paman dan berjalan mendekati Daviant. “Benarkah itu Davi?, Kau akan mendaftar ke sekolahku hari ini?” tanyanya pada sang anak lelaki. Daviant mengenakan kemeja abu-abu bergaris hitam dengan sebuah gambar pesawat kecil di dadanya. Ia juga mengenakan celana panjang berwarna khaki, rambutnya disisir rapi ke belakang, menampakkan keningnya yang bersih dan alisnya yang menyambung. Daviant terlihat tampan dan innocent pagi ini. Keylani semakin suka memandangnya. “Iya itu benar”, sahutnya singkat menatap Keylani tepat ke arah mata sang gadis kecil yang selalu Ia sukai binarnya. Binar ceria dan penuh semangat yang hanya dimiliki oleh Keylani seorang. Tertawa lebar, Keylani alihkan pandangannya pada sang paman yang tengah sibuk memutar balikkan sepeda motornya. “Paman, aku ikut ke sekolah ya?! Aku ingin menemani Davi melihat kelas barunya nanti!”, serunya gembira. Sang paman menatap jengah sang keponakan, “Lalu mau kau apakan rantang tiga tingkat yang berada di tanganmu itu?”, tunjuknya dengan dagunya. Keylani segera menatap rantang yang baru disadarinya masih Ia genggam, Baru saja Ia ingat kalau Ia memiliki tugas untuk mengantar makanan ini pada Ibunya yang mungkin sebentar lagi akan selesai menggiling gabah. Ia tak mungkin mangkir dari tugasnya untuk mengantar sarapan ini pada kedua orangtuanya. Selain karena Keylani masihlah anak yang berbakti pada kedua orangtuanya, Ia juga takut apabila Ibunya akan meledak-ledak memarahinya sepanjang hari. Keylani merinding membayangkannya. Menghela nafas kecewa, Keylani akhirnya merelakan Ia tak ikut serta. Alisa menepuk lengannya lembut, “Jangan kecewa begitu. Kami, aku dan juga Daviant akan ikut makan siang bersama di rumah nenek Arini selepas pendaftaran sekolahnya.”, ucap Alisa menenangkan. “Kau dapat ikut bergabung bersama siang nanti, Leo akan menjemputmu. Aku benar kan, Leo?”, Ia alihkan pandangannya pada pria yang telah siap duduk diatas motor besarnya. Leo hanya menganggukan kepalanya malas, karena percuma saja mendebat kedua mahluk bernama wanita itu. Ia akan kalah telak menghadapi mereka. “Iya, aku akan menjemputmu. Sekarang pergilah, antarkan rantang itu untuk sarapan kedua orangtuamu.”, perintah Leo. “Mereka pasti tak tahu anak nakalnya tengah sibuk memandangi teman barunya yang tampan dan bukan segera mendatangi mereka”, lanjutnya membuat Keylani memelototkan mata ke arahnya. Alisa hanya menggelengkan kepalanya, dan memberi isyarat pada Daviant untuk segera naik ke motor Daviant dan duduk di boncengannya. Daviant sedikit tersenyum pada Keylani dan berpamitan dengan gumaman kecilnya, “Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti Keylani”, ujarnya. Keylani mengerjapkan matanya, ini adalah kali pertama Daviant mengucapkan namanya. Dan tak daapat Ia pungkiri namanya terdengar berbeda saat mengalir dari bibir Daviant. Gadis kecil ini sepertinya akan terus memaksa Daviant menyebut namanya setiap kali mereka bertemu nanti. Selepas Kak Alisa dan Daviant menaiki brutus, Keylani melambai-lambaikan tangan kecilnya dan berteriak hati-hati dengan lantang. Ia pandangi motor besar sang paman yang telah berjalan menjauh. Ah, rasanya tak rela ikut bersama kawan barunya mendaftar sekolah. Keylani sudah berangan bahwa dia akan menjadi seorang tour guide bagi Daviant. Memperkenalkan tiap jengkal sekolah, dan memberi tahu tempat rahasianya untuk bersembunyi saat pelajaran. Itu pasti akan sangat menyenangkan, pikirnya. Terlalu asyik melamun, Ia akhirnya sadar akan tugas utamanya saat ini. ”Astaga! Ibu akan mencekikku!”, teriaknya dan segera berlari menuju tempat penggilingan gabah. Keylani berpikir Ia tak akan lagi berlari pagi ini karena sudah menjadi anak baik yang terbangun tepat waktu, namun saat kembali dilihatnya sang Ibu yang tengah berkacak pinggang di seberang sana. Ia tahu Ia kembali terlambat. Berjalan menghampiri Ibunya Keylani meringis takut-takut, “I-ibu, jangan marah. Aku tadi berbincang sebentar dengan paman Leo”, ucapnya terbata memberi alasan. Menggaruk hidungnya ragu, Ia kembali berkata, “lagipula matahari belum terlalu meninggi”. Sang Ibu yang mendengar perkataan puterinya menganga tak percaya, “Apa harus menunggu matahari tinggi dulu agar ayahmu dapat memakan sarapannya?”, gemas sang Ibu pada Keylani. “Bawa langsung rantang ini ke saung, Ibu akan memanggil ayahmu dulu”, perintahnya. Keylani menganggukan kepalanya pelan, dan segera menuju saung. Baru beberapa langkah, raut wajah ketakutannya tadi berubah menjadi senyuman ceria. Keylani berpikir tak apa jika sang Ibu marah padanya kali ini, dia sudah cukup merasa bahagia setelah berjumpa dengan teman baru yang disukainya barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD