Sunrise Between Us 3

1824 Words
Udara desa masih terasa dingin meski matahari telah terbit sejak dua puluh menit yang lalu, ke-empat anak manusia yang mendaki puncak buniwah masih tetap terduduk santai di saung. Menikmati ubi rebus yang dibawa Leo, bersama s**u putih hangat yang sengaja disiapkan Alisa sebelum mereka berangkat tadi pagi. Mereka terlihat bersenda gurau dan saling berbincang hangat bahkan sang tuan muda pun turut menyumbangkan tawanya beberapa kali mendengar lelucon seorang pria dewasa yang baru diketahuinya bernama Leo. “Hey, Daviant! Berkunjunglah ke rumahku jika kau merasa bosan, sekolah baru akan dimulai sekitar seminggu lagi. Kau akan merasa jenuh jika hanya menghabiskan waktu mengelilingi sekitaran rumah selama waktu itu”, ucap Leo panjang lebar. Daviant menatap Alisa di samping kanannya, bertanya dalam tatapan mata cokelatnya apa Ia akan sungguh bersekolah disini. Sekolah yang terisi banyak teman dan tidak hanya belajar dalam satu ruangan tertutup seperti yang biasa Ia jalani ketika tinggal di rumah lamanya. Alisa tersenyum lembut membalas tatapan matanya, dengan tangan halusnya Alisa mengusap helaian rambut Daviant. Mengelus Alis lebat milik sang anak yang telah Ia temani sejak hari kelahirannya, “Iya, apapun yang kini kau pikirkan itu benar, Davi” , ucapnya pelan. “Kau akan bersekolah di sekolah umum disini, bertemu banyak teman, dan bebas mempelajari kesenian seperti yang kau suka”, Jelasnya pada sang tuan muda. Mata cokelat Daviant berkaca-kaca, Ia tundukkan kepalanya merasa saat ini Ia ingin menangis bahagia. Alisa yang memperhatikan bahwa sang tuan muda akan menangis, kembali mengangkat dagu Daviant. Menggelengkan kepalanya pelan, dan bergerak menghapus setitik air yang bergantung di ujung matanya. Di lain sisi, meski tak mengerti dengan situasi yang entah mengapa penuh haru antara teman barunya dengan Kak Alisa. Keylani menyahut ceria, “Aku juga bersekolah di sana! Meski tak sekelas, aku berjanji akan selalu mengunjungimu saat istirahat.”, anggukan semangat Keylani berikan pada teman lelaki disampingnya. Leo membalas sahutan ceria milik keponakannya, “Jangan sering mengunjunginya, Daviant akan ditatap heran oleh kawan sekelasnya nanti.”, ujarnya singkat. Daviant yang baru reda dari rasa terharunya mengerutkan kening heran, “Mengapa begitu?” tanyanya. “Tentu saja karena Keylani terkenal sebagai anak nakal yang sering keluar dari kelas di jam pelajaran dan pergi ke perpustakaan untuk membaca ensiklopedia dunia hingga tertidur”, Jelas Leo panjang lebar pada Daviant. Keylani yang mendengar kata-kata sang paman segera memukuli lengan kerasnya, “Aku tidak sesering itu kabur dari kelas. Teman-temanku saja yang sering melebih-lebihkan cerita pada Ibu”, bela Keylani. “Ohiya, benarkah? Lalu apa yang akan kau katakan bila Ibu mendengarnya sendiri dari wali kelasmu dan bukan melalui teman-temanmu yang sama nakalnya itu?”, ejek sang paman. Raut wajah Keylani terkaget, mungkin ini kali pertama Ia tahu bahwa Ibunya saling bertukar kata dengan sang wali kelas. “Aku tak percaya.” Ucap Keylani singkat. “Davi, jangan dengarkan perkataan pamanku yang disana itu, kita pasti akan bersenang-senang bersama di sekolah”, alihnya pada anak lelaki yang masih melekatkan tatapan heran padanya. Keylani tersenyum lebar, dan akhirnya Daviant mengangguk mengiyakan ucapan gadis kecil itu. Leo yang menyadari bahwa sang anak nakal telah menyerah dengan pembelaannya menjulurkan lidahnya untuk mengejek Keylani. Benar-benar paman yang kekanakkan. Alisa menepuk pelan lengan Leo, memintanya dalam diam untuk berhenti memojokkan keponakan perempuannya itu. Jika tak dihentikan maka kedua orang ini akan terus beradu mulut hingga matahari tenggelam kembali.  “Bukankah lebih baik kita turun sekarang, aku rasa Bibi Mala telah selesai menyiapkan sarapan.”,  Ia julurkan kepala ke depan untuk memandang anak perempuan di samping Daviant. “Keylani sayang dan, kau Leo ikutlah sarapan bersama aku dan tuan muda”, ujar Alisa. Leo cemberut mendengar Alisa memanggil keponakan perempuannya dengan sayang namun tidak dengannya. “Aah sarapan bersama? Aku suka sekali, ayo paman kita menuju rumah Kak Alisa dan Daviant!”, sahut Keylani. Leo kembali memandang sang keponakan dengan kesal, “Hey bocah, bukankah tadi malam kau baru saja memohon pada nenek untuk dibuatkan sup ayam untuk sarapan pagi ini?” Sang paman mengingatkan Keylani. “Saat ini pasti sup ayam itu sudah menggelepar hangat di atas meja”, ucapnya kembali. Alisa dan Daviant tertawa mendengar ucapan Leo, sedangkan Keylani menepuk keningnya pelan. Baru saja Ia teringat dengan permintaannya itu pada sang nenek. Nenek Arini bisa-bisa tak akan mengizinkannya bermain kerumahnya lagi jika Ia berani tak memakan masakan yang telah Nenek Arini buat dengan susah payah untuk cucu tunggalnya tersebut. “Yah sayang sekali kalau begitu, mungkin lain kali kita bisa menikmati sarapan bersama”, ujar Alisa. Menganggukan kepala singkat pada Leo. Tak lama kemudian, akhirnya keempat orang itu memutuskan untuk turun. Perjalanan menuruni tanjakkan buniwah tak semenakutkan saat mereka menanjak sebelumnya, karena matahari telah terbit mereka kini dapat memandangi hijaunya persawahan yang mengelilingi Desa Negarayu dari atas. Dan sekitaran saung yang mereka tempati tadi, sudah mulai dilewati oleh beberapa kendaraan bermotor milik penduduk yang membawa tumpukkan padi maupun gabah. Penduduk desa Negarayu memang sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani, ada beberapa juga yang berprofesi sebagai pedagang di pasar. Barang dagangan pun hampir semuanya adalah hasil panen dari desa ini. Jarang penduduk desa yang merantau jauh ke kota, bahkan anak muda disini, lebih memilih mengurus sawah milik keluarga dibanding mengadu nasib di kota. Contoh saja Leo, Ia adalah Sarjana Ilmu Komunikasi dari sebuah Universitas Swasta di kota ini. Tapi kini, Ia lebih memilih tinggal bersama sang Ibu dan mengurus perkebunan keluarga. Sesekali Ia mengajar sebagai guru komputer di sekolah Keylani. Pelajaran komputer memang belum terlalu digalakkan di sekolah pedesaan, mungkin Leo hanya mengajar satu minggu sekali itupun hanya selama dua jam. Namun, anak-anak tetap belajar dengan giat dan bersemangat. Maka dari itu jarang ada anak-anak penduduk desa yang putus sekolah di tengah jalan. Karena penduduk desa percaya, anak-anak yang pintar kelak akan membangun desa menuju ke arah yang lebih baik. Pembangunan desa sudah banyak berkembang sejak Keylani kecil, ketika Ia kecil dulu. Ia bahkan sering terjatuh karena banyaknya bebatuan di sekelilingnya, desa juga sering mengalami banjir karena saluran irigasi yang bermasalah. Namun kini, desa telah aman dari banjir dan tanah longsor karena penghijauan yang banyak digalakkan oleh kepala desa. Daviant memandangi sepanjang jalan turunan yang Ia lewati, berkata pelan pada Alisa “Alisa, papa pasti akan menyukai desa ini. Desa ini memiliki semua hal yang papa sukai, hijau persawahan dan langit yang berwarna biru terang.”, gumamnya. Alisa memberikan senyum lembut pada tuan mudanya, “Papa akan menyukainya, apapun yang tuan muda sukai papa juga akan menyukainya”, Ia menyahut pelan. “Apa tuan muda suka berada disini?” tanya Alisa kembali. Mereka masih berjalan beriringan menuju jembatan buniwah. Sambil memandangi Paman Leo yang tengah menggendong Keylani di pundaknya dan bersenda gurau bersama di depan mereka, Daviant mengucap pelan, “Ya, aku suka berada disini”.   Setibanya mereka di jembatan Buniwah, Keylani segera turun dari gendongan sang paman. Karena  kelelahan setelah menanjak dan berceloteh ria, Ia memaksa sang paman menggendongnya saat turun. Meski awalnya menolak, Leo tetap luluh pada mata memohon sang keponakan. Hingga Keylani mendapatkan yang Ia mau dan mereka berakhir menuruni tanjakkan dengan sang paman menggendongnya di pundak. “Alisa, hubungi aku saat kau membutuhkan sesuatu. Tinggal berdua bersama seorang anak lelaki saja cukup riskan dan berbahaya”, Keylani dapat mendengar nada khawatir sang paman pada Kak Alisa di depannya. “Ya, tentu. Aku akan berhati-hati dan segera menghubungi jika terjadi sesuatu.”, ucapnya singkat. “Sudahlah, Jangan terlalu khawatir aku cukup dapat diandalkan untuk menjaga diri”, tambahnya saat melihat raut tak yakin milik Leo. Tak berapa lama, Daviant terlihat mendekat bersama sepeda biru tua miliknya, dituntunnya sepeda itu dan berhenti tepat di samping Alisa. “Kalau begitu kami pamit pulang terlebih dahulu, Leo jangan lupa untuk menemaniku ke sekolah baru Daviant nanti.”, ingatnya kembali pada sang pria muda di depannya. Leo hanya menganggukan kepala singkat. Kemudian Alisa beralih pada si gadis kecil yang terlihat asyik memandangi tuan mudanya, “Keylani, jangan lupa berkunjung ke rumah kami ya. Daviant akan senang memiliki teman untuk diajak bermain bersama.”, ujarnya. Keylani tersenyum lebar mengiyakan, tangan kecilnya seketika meraih tangan halus Daviant. Sedikit tersentak Daviant dibuatnya. “Davi, Aku pasti akan berkunjung! Ibu akan senang mengetahui aku memiliki satu lagi teman baru yang berhati baik disini!”, sahutnya semangat. Daviant hanya dapat tersenyum tipis membalas ucapan kelewat semangat dari Keylani, Ia eratkan genggaman tangan mereka dan balas menggumam, “Aku pasti akan menunggu kedatanganmu”. Kedua orang dewasa disana hanya dapat mengulum senyum gemas, kedua anak dengan kepribadian yang saling bertolak belakang kini tengah saling melempar senyum. Alisa disana menjadi saksi senyuman tulus pertama milik sang tuan muda selama empat tahun ini telah Ia berikan pada seseorang yang baru dikenalnya tak lebih dari dua puluh empat jam. Mereka akhirnya berpisah saat Alisa dan tuan mudanya kembali mengendarai sepeda mereka menuju rumah. Keylani masih betah memandangi kepergian sepeda biru tua yang turut mengikuti Kak Alisa dari belakang. Berjengit kaget karena tepukan sang paman, “Hey! Tak perlu sampai melamun. Sekarang kita bergantian, kau kayuh sepeda ini dan paman akan duduk di saddle belakang.”, ujar sang paman dengan nada tak terbantah. Ia dudukkan tubuh besarnya di bagian belakang, dan menaik turunkan alis memberi tanda Keylani untuk bergegas. Apa-apaan mahluk besar ini, tak sadarkah Ia beratnya sama dengan kerbau. Keylani hanya menggelengkan kepala dan bergerak mengambil batu kerikil di sekitar jembatan, Leo yang menyadari apa yang akan dilakukan sang keponakan berseru panik, “Baik, yang mulia ratu! Hamba bersalah, tolong jangan timpuk hamba dengan batu kerikil jelek itu.”, ujarnya ketakutan dan berusaha melindungi wajah tampannya dengan tangkupan tangan. Mendengar permohonan sang paman Keylani kembali mengerutkan kening, “Lebih jelek wajah memohon paman saat ini dibanding batu kerikil yang aku ambil!”, ujarnya sadis. Benar-benar keponakan titisan nenek sihir. Mengidam apa kakak iparku yang cantik itu melahirkan anak ini. Sama sekali tak mirip dengan sifat suaminya yang penyayang dan lembut, ucapnya dalam pikiran. Ya, Ia hanya berani berucap dalam pikiran. Karena Keylani pasti akan langsung menimpuknya dengan kerikil tersebut apabila Ia mendengar dirinya disamakan dengan nenek sihir. “Baiklah, baik. Wajahku memang sejelek batu kerikil. Sekarang cepatlah naik, yang mulia ratu. Hamba akan membawamu kembali pulang dan memakan sup ayam”, ucap sang paman. Keylani tersenyum lebar dan melemparkan batu kerikil yang baru saja Ia kumpulkan ke pinggir jembatan kembali. Bergegas naik ke boncengan sang paman dan bernyanyi riang di tengah udara pagi. Menyapa beberapa orang yang mereka temui di perjalanan, Leo dan Keylani yang memang telah tinggal disini sejak lahir tentunya dikenal oleh penduduk desa Negarayu. Bahkan di perjalanan pulang mereka, ada seorang nenek memberikan beberapa ikat hasil panen sayuran. Mereka tertawa senang dan berterimakasih dengan semangat. Namun,  karena banyaknya sayuran yang diberikan hal itu sempat membuat oleng sepeda tua yang Leo kendarai. Hingga mereka memutuskan untuk kembali membaginya dengan para ibu-ibu yang tengah berbincang hangat di saung dekat lumbung padi. Setelah beban sepeda terasa lebih ringan, akhirnya mereka dapat berkendara lagi dengan damai kerumah nenek Arini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD