Rumah bertembok hijau dan kuning itu kini telah terlihat di dekat jarang pandang Keylani, segera Ia dorong lebih cepat gerobak yang berisi ubi-ubi itu bersama sang paman. Si gadis kecil terlihat begitu senang.
Setibanya mereka di pekarangan rumah milik Nenek Arini, Keylani beranjak mengambil sebuah karung besar berwarna cokelat yang selalu tergantung di dekat pondasi rumah.
Membantu sang paman menurunkan ubi satu persatu, sementara sang nenek terlihat tengah berjalan ke dapur, bermaksud mengambilkan sepiring ubi rebus dan sekaleng biskuit untuk sang cucu .
“Paman, apa paman tahu tadi aku dan nenek bertemu siapa?”, tanya Keylani dengan suara cerianya. Menatap lekat sang paman yang terlihat masih sibuk memasukkan ubi-ubi ke dalam karung. Leo hanya mengernyitkan alis mendengar nada ceria keponakan perempuannya.
“Siapa? Si Alim?”, Jawab sang paman geli. Si Alim yang Ia maksud adalah seorang pemuda desa yang memiliki sikap sedikit urakan. Rambutnya dibiarkan memanjang dan gemar memakai pakaian yang menyilaukan mata sehari-sehari.
Keylani kecil langsung mendatarkan raut mukanya, dari sekian banyak penduduk desa ini kenapa juga Ia harus bertemu dengan si Alim.
“Tentu saja bukan!”, Serunya merengut kesal. “Aku dan nenek bertemu dengan seorang anak lelaki yang tampan juga kaya. Ia datang dari kota” , jelas Keylani menggebu-gebu.
Leo menghentikan sejenak kegiatannya menurunkan ubi, “Kalau dia tampan dan kaya. Dia tak akan datang ke desa ini. Berhentilah bergurau” , jawab sang paman lugas.
Mendengar sahutan sang paman yang seolah tak percaya dengan ucapannya, Keylani kembali menyahut menggebu-gebu, “Aku tak bergurau. Paman saja yang bodoh. Apa menurut paman di desa ini hanya berisi mahluk jelek seperti paman Leo?!” . Tidak kan?!”, teriaknya keras.
Leo yang mendengar perkataan keponakan nakalnya, langsung mengarahkan tangan guna mengapit leher Keylani. “Apa yang baru saja kau katakan, Bisakah kau mengulanginya sekali lagi?”, Leo arahkan ketiak berbau segar miliknya tepat ke depan hidung Keylani. Membuat si keponakan terengah-engah mengambil nafas.
“A-aarh ampun ampun, lepaskan aku!“ Ucap Keylani terbata, “Paman maafkan aku, aku minta maaf” Sahutnya sekali lagi. Leo melepaskan apitannya pada leher Keylani, memandang puas keponakan nakalnya yang masih terengah-engah mengatur nafas.
“Belum apa-apa kau sudah kehabisan nafas. Dasar lemah”, sang paman beralih pada karung berisi ubi, mengangkatnya di punggung dan beranjak masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Keylani yang masih berusaha menetralkan nafasnya dari harum ketiak sang paman.
“Bagaimana aku tidak lemah, ketiaknya berbau seperti kerbau”, gerutunya.
Keylani langkahkan kedua kaki kecilnya menuju rumah sang nenek, tak ada yang lebih membahagiakan selain menghirup wangi kehangatan yang menguar dari dalam rumah. Dapat Keylani lihat sepiring ubi rebus serta setoples biskuit s**u di atas karpet yang diletakkan tepat di depan televisi.
Tak sabar segera Ia duduk bersila di depan piring ubi tersebut, sebelum suara lembut sang nenek kembali memanggilnya, “Lani, cucilah dahulu kedua tanganmu. Ubi itu tak akan terbang meski kau tinggal selama lima menit”, ucap sang nenek.
Mengerucutkan bibirnya, Ia kembali beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh kedua tangannya. Di rumah nenek Arini terdapat kamar mandi, hanya saja tidak ada sebuah kloset disana. Jadi nenek Arini ataupun paman Leo yang tinggal bersamanya, tetap harus pergi ke pemandian umum apabila ingin buang air.
Selepas Ia mencuci tangan, Keylani kembali berlari menuju ruang tamu neneknya. Duduk bersila dan mulai mengelupas kulit ubi rebus yang tersaji diatas piring. Rasa panas kulit ubi terasa menyengat kulit jarinya namun tetap Ia abaikan. Langsung saja dilahapnya ubi tersebut, dan dapat ditebak rasa panas menyeruak langsung di lidahnya, mulut kecilnya ternganga bersamaan dengan tangan yang terangkat mengipas-ngipasi bagian dalam mulutnya.
Setelah hangatnya ubi tertelan, Ia mengeluh keras, “Ubi nakal, rasa panasnya seperti membakar lidahku“. Sang paman yang mendengar u*****n keponakannya tertawa keras. Tak peduli seberapa suka Keylani pada ubi rebus, Ia akan selalu berbicara anarkis ketika memakannya.
“Anak bodoh, setidaknya tiup dulu ubi tersebut jika tak mau lidahmu terbakar.” Ucap sang paman.
Keylani hanya memberikan pelototan ganasnya karena dikatakan bodoh oleh pamannya yang menurutnya lebih bodoh dari dirinya. Segera Ia alihkan pembicaraan karena malas mendengar sang paman kembali mengejeknya.
“Paman, anak lelaki yang aku temui tadi memiliki usia dua tahun diatasku. Tapi kenapa Ia terlihat seperti anak kecil yang baru pertama melihat ubi” , ujar Keylani.
Sang paman kembali tersenyum geli, Keylani berkata seperti Ia bukan anak kecil saat ini. Nyatanya keponakannya baru berumur tiga belas tahun, dan masih selalu mengekor kesana kemari pada orang dewasa yang dekat dengannya.
“Ubi rebus yang saat ini tengah kau kunyah itu, bukanlah takaran kedewasaan seseorang. Lihat saja tingkahmu yang masih seperti anak balita ketika memakannya.” , sahut sang paman lugas.
Keylani terdiam, memikirkan kata-kata sang paman dalam kepala kecilnya. Benar juga. Ubi rebus hanyalah sebuah makanan. Kembali ia berpikir
Tunggu dulu, ada yang salah disini. Aku bukan balita. Pelototan kembali Keylani layangkan pada sang paman yang Ia lihat tengah meminum teh dengan penuh khidmat.
“Aku bukan balita!“, teriaknya keras. Tak ada balita yang dapat mendorong gerobak sejauh 2 kilometer spertiku”. Kembali Ia berteriak keras dan merengut tak terima.
Belum sempat Leo menjawab teriakan menggelegar keponakan perempuannya, sang Ibu terlihat tergopoh-gopoh menghampiri, “Ada apa Leo, kenapa Keylani berteriak?”, terselip nada khawatir disana. Ia takut Keylani terjatuh. Bocah itu memiliki kegemaran yang mendarah daging dalam dirinya sejak kecil yaitu terjatuh dan berteriak.
Menyengir sekilas, Leo menjawab sang Ibu, “Bukan apa-apa bu, Keylani hanya kepayahan pada panasnya ubi rebus yang Ia telan”. Ujarnya singkat
Nenek Arini menghembuskan nafas lega karena dilihatnya sang cucu masih terduduk nyaman dengan ubi rebus di tangan meski kini si manis tengah memberi tatapan mata tajam pada anak bungsunya, Leo. Pasti kedua anak ini kembali bertengkar.
Menggeleng-gelengkan kepala nenek Arini kembali menuju dapur, meneruskan acara masak singkatnya untuk makan siang.
Selepas kepergian nenek Arini, langsung saja Keylani menyerang sang paman. Diletakkannya ubi rebus yang tengah Ia cicipi, beralih mendekat pada sang paman dan mengigit punggung tangannya keras-keras.
“Aarhh—sakit, lepaskan aku vampire. Gigi taringmu menyakitiku”, ringis sang paman. Tangan satunya Ia gunakan untuk mencubit-cubit kecil lengan keylani yang tengah menahan tangannya. Meski tak memiliki gigi depan, gigitan anak ini tak main-main. Leo berpikir punggung tangannya akan mengeluarkan darah.
“Baik, baik. Maafkan aku, maafkan aku. Aku tak akan memanggilmu balita kembali.”, Keylani kembali mengeraskan gigitannya. Ia tak suka mendengar kata balita.
”Arrh, sial. Baiklah, Keylani yang dewasa maafkan paman. Paman berjanji tak akan mengulanginya.” Ucapnya putus-putus. Sial, ini sakit. Dasar anak nakal
Setelah mendengarkan ucapan sang paman, Keylani melepas gigitannya. Tersenyum menang saat dilihatnya paman Leo tengah merenung meratapi punggung tangannya yang berbekas oleh gigitan taring milik Keylani.
“Bagus, Itulah yang ingin kudengar.” , ditepuknya lengan pria muda didepannya. Leo hanya mendecih sebal. Tingkah sok dewasa Keylani membuat Ia merasa jengah. Tunggu pembalasanku, bocah.
Sepertinya disini bukan hanya Keylani yang memaksa untuk dilihat sebagai orang dewasa, Leo pun terasa terjebak dalam dunia kanak-kanak ketika tengah bersama Keylani.
Di lain tempat, Davi tengah memandangi sepeda berwarna biru di pojok teras rumah barunya, sepeda yang telah menarik minatnya sejak pertama datang kerumah ini. Kedua kakinya beranjak mendekat pada tempat dimana sepeda itu berada.
Selepas makan siang bersama Alisa tadi, Davi diizinkan untuk sejenak melihat-lihat pada sekitar rumahnya ini. Sedikit takut-takut Ia meminta izin Alisa untuk menggunakan sepeda berwarna biru ini.
Ketika Alisa mengizinkannya, Ia langsung berlari keluar. Namun, entah mengapa begitu Ia berdiri tak jauh dari sepeda tersebut Ia merasa ragu. Keraguan yang Ia rasakan seperti ketika menerima ubi rebus sebelumnya, keraguan yang sesungguhnya berselimut sedikit rasa excited dan penasaran yang besar.
Ia arahkan tangan putihnya menyentuh sepeda itu, merasakan tiap jengkal besi yang disusun menjadi rangka yang sedemikian rupa . Matanya menatap roda sepedanya, apa aku akan baik-baik saja mengendarainya. Sepertinya sepeda ini sudah lama tak digunakan. Kembali Ia bergumam dalam kepalanya.
Hampir lima menit lebih Ia habiskan hanya untuk melamunkan apa Ia dapat mengendarai sepeda ini. Hingga akhirnya tanpa Ia sadari, Alisa telah berdiri di dekatnya.
“Ada apa tuan muda, kau bilang ingin mengendarainya?”, tanya Alisa pelan.
Dilihatnya sang tuan muda yang hanya menatap sepeda berwarna biru tua tersebut, tangan Daviant masih melekat di stang sepeda. Matanya berbinar tertarik, sepertinya Alisa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tuan mudanya ini.
“Apa kau ingin aku membantumu mengajari cara mengendarai sepeda ini?”, kembali Alisa bertanya pada anak lelaki di sampingnya. Tersentak Davi mengangkat kepalanya, menatap Alisa dalam diam dan menganggukan kepalanya pelan.
“Baiklah, ayo kita gunakan halaman rumah ini untuk belajar.” Lanjutnya.
Mereka berdua melangkah bersama menuju samping kolam ikan koi, dengan Daviant yang menuntun sepedanya. Sinar matahari yang hangat mulai terasa sedikit mengalahkan hawa dingin desa. Wajar karena hari sudah mulai beranjak siang. Waktu yang begitu pas bagi Daviant belajar mengendarai sepeda barunya.
“Sebelum tuan muda menaikinya, saya ingin menjelaskan satu hal penting terlebih dahulu.”, ujar Alisa. “ benda yang saya sentuh ini dinamakan rem, kita menggunakannya saat laju sepeda terasa terlalu cepat. Atau ketika kita ingin menghindari sesuatu. ”, lanjutnya.
Daviant memperhatikan dengan baik ucapan Alisa, merekamnya dalam ingatannya. Ia tak ingin terluka parah di percobaan pertamanya.
“Nah, sekarang coba tuan muda duduk di saddle sepeda ini.” Arahnya kembali. Daviant dengan tangan yang sedikit gemetar memegang setang sepeda. Ia dudukkan dirinya dengan pelan. Matanya menatap lurus kedepan dengan postur tubuh yang tegak dan kaku.
Alisa tersenyum menatap ketegangan tuan mudanya, “Sekarang tarik nafas, pelan-pelan coba gunakan kedua kakimu untuk mengayuh sepeda. Tak berbeda dengan cara mengayuh perahu bebek di danau barat.”, Tambah Alisa pelan. Danau barat adalah danau buatan yang terletak tak jauh dari rumah Daviant di kota. Ada sebuah wahana bebek-bebekkan yang dulu pernah Ia naiki bersama Ibunya.
“Jangan khawatir, tuan muda. Saya akan turut menjaga laju sepeda ini, tak akan saya lepaskan. Cobahlah mengayuhnya”, Alisa bertutur lembut. Sejenak Daviant memejamkan mata dan menarik nafasnya, setelah menghembuskan dan merasa sedikit tenang. Ia kayuh sepedanya perlahan, dapat Ia dengar gesekan rantai ketika Ia mengayuhnya. Roda sepeda bergerak pelan sedikit tak terarah karena Ia masih kebingungan mengarahkan setang.
Jantungnya berdegup kencang, anomali kebahagiaan mulai merasukinya sedikit demi sedikit. Tersenyum lebar, Ia berkata senang pada Alisa. ”Alisa, aku ingin mencoba mengendarainya sendiri. Bolehkah kau melepaskannya?”.
Alisa terkejut, cepat sekali sang tuan muda menemukan keberaniannya. Ia masih mengingat sebelumnya gurat kegugupan Daviant yang terpancar saat pertama kali mendudukan diri diatas sepedanya.
Dengan senyum menenangkannya, Alisa perlahan melepaskan pegangan pada setang sepeda yang dikendarai Daviant.
“Hati-hati”, gumamnya pelan. Daviant mengangguk dan mulai melajukan sepedanya. Sedikit demi sedikit mempercepat laju rodanya. Sedikit tersenyum akan keberhasilannya pada percobaan pertama. Meski tangannya masih terlihat kaku, setidaknya Ia tidak terjatuh. Selepas ini Ia berpikir untuk terus menggunakan sepedanya mengelilingi desa ini.
Tak dapat Ia bayangkan betapa indahnya pemandangan desa yang akan Ia jelajahi bersama sepeda barunya.