New House

1851 Words
Roda mobil masih berputar berusaha membelah jalanan basah di desa asri ini, Sedikit terasa kesulitan karena sebagian besar jalanan yang dilewati masih belum berupa aspal. Davi memandangi hamparan sawah dan pepohonan hijau yang berada di sekelilingnya, merasa begitu takjub akan tingginya pepohonan yang Ia temui disini. Membuka sedikit jendela mobil di sampingnya. Ia ulurkan tangan halusnya keluar merasakan lebih dekat udara pedesaan yang menyentuh kulitnya. “Tuan muda, boleh saya menyimpan ubi rebus itu dalam kotak makan milikmu?”, Davi mendengar suara Alisa disampingnya. Suara wanita yang telah akrab di telinganya sejak Ia kecil. Pelan, Davi tarik kembali sebelah tangannya yang Ia ulurkan keluar. Mata cokelat mudanya memandang ubi rebus yang masih Ia genggam hingga saat ini. Terlintas dalam pikirannya raut lembut sang nenek dan juga cucu manisnya yang Ia ingat bernama Keylani. “Tak apa, aku ingin menggenggamnya hingga kita tiba”, sahut Davi pelan. Alisa hanya tersenyum kecil, memandang tuan mudanya yang kini telah beranjak remaja. Masih begitu lekat dalam ingatannya bagaimana dulu Ia timang tubuh ringkih itu. Wanita cantik itu paham tuan muda kesayangannya mengagumi hal baru yang kini sedang Ia genggam erat, yaitu sebungkus ubi merah rebus. Awal mula cerita bagaimana ubi rebus itu bisa berada di tangan sang tuan muda sungguh menarik. Ketika Ia dan tuan mudanya sedang menuju rumah kepala desa untuk membahas izin tinggal, tak sengaja mereka berpapasan dengan seorang wanita berusia lanjut yang nampak kesulitan memunguti ubi-ubi yang terjatuh dari gerobaknya. Tuan mudanya bergegas meminta berhenti, dan membuka pintu mobil. Melangkah turun dan ikut memunguti satu persatu ubi yang terjatuh. Saat itu Ia hanya diam, memperhatikan interaksi tuan muda kecilnya dengan orang yang baru dikenalnya, Ia tak merasa takut akan ada suatu hal buruk yang terjadi. Karena Ia tahu dengan sangat baik seperti apa penduduk desa disini. Dan saat ini, ketika Ia melihat Daviant tuan mudanya tak melepas pegangan pada ubi rebus pemberian sang nenek. Ia tahu bahwa hati dingin miliknya telah sedikit mencair karena kehangatan pertama yang Ia terima di desa ini. “Baiklah, sebentar lagi kita tiba. Dan tuan muda dapat segera memakannya di rumah”, ujar Alisa. Davi menolehkan kepalanya, dan bergumam pelan, “Sungguh aku dapat memakannya?”. Mata indahnya menunjukkan sekilas binar bahagia. Hatinya berbunga karena membayangkan seperti apa cita rasa makanan yang terasa lembut dan hangat di tangannya. “Tentu, tuan muda bisa memakannya. Saya juga akan membuatkan teh tawar hangat yang akan menjadi pelengkapnya”, sahut sang wanita kembali. Daviant semakin merasa bahagia, sepertinya tinggal di tempat yang jauh dari kota dimana Ia dilahirkan bukan sebuah kesalahan. Sebaliknya, hati kecilnya membisikkan bahwa kehidupan yang luar biasa menantinya disini. Tak berapa lama mobil yang membawa Daviant dan Alisa sampai di sebuah rumah berpagar hitam sederhana. Daviant dapat memandang hijaunya pepohonan yang mengelilingi rumah barunya. Sungguh luar biasa, rumahnya berhadapan langsung dengan perkebunan jagung yang luas. Ketika mobil telah sepenuhnya berhenti, Daviant hanya terdiam. Tak berani membuka pintu guna menjejakkan kakinya untuk menuju rumah yang baru. Wanita yang setia bersamanya memandang heran tuan mudanya yang hanya diam, “Ada apa tuan muda? Apa ada sesuatu yang salah?”, tanyanya penuh perhatian. Daviant menggelengkan kepalanya pelan, mengeratkan tangkupan tangannya pada ubi rebus yang Ia genggam, “A-aku, a-aku hanya..”, tergagap Daviant kesulitan merangkai kata, semakin menundukkan kepalanya dalam. Wanita disampingnya masih setia menunggu , “Alisa, A-aku ingin bertanya, a-apakah nanti mama akan datang?”. Davi memandang si wanita muda penuh harap setelah berhasil mengeluarkan tanya yang sedari awal mengganggu hatinya. Alisa menatap tuan mudanya, hatinya kembali dihinggapi rasa bersalah. Daviant sudah berusia empat belas tahun, tapi rasa asing dalam keluarganya telah membuat Ia menjadi pribadi yang kesulitan mengekspresikan diri. Sepanjang waktu sejak Ia dilahirkan, Daviant telah dipaksa untuk mengenal dirinya sebagai seorang pewaris tunggal. Keluarga besar Daviant tak pernah membiarkan sang anak lelaki menjauh sedikit dari pengawasan. Melarang segala hal yang menurut mereka akan membahayakan pemegang tahta masa depan perusahaan mereka. Membuat sang anak menjadi pendiam dan kehilangan banyak hal baru untuk Ia jelajahi. Tak cukup sampai disitu kedua orangtuanya telah berpisah sejak usia Daviant sepuluh tahun, Ayahnya yang hanya seorang instruktur olahraga menyerah menghadapi arogansi keluarga besar Istrinya. Itulah titik dimana Daviant semakin merasa sendirian. Namun, di pandangan seluruh keluarga besarnya Daviant tetaplah sama. Ia tetap seorang anak tunggal pewaris perusahaan yang cerdas dan pendiam. Ketika sang mama mengatakan bahwa papa tak lagi dapat menemaninya bermain bola untuk sekarang dan seterusnya, Daviant tak mengatakan apapun. Ia tetap diam, memandangi bola berwarna putih dengan garis hitam miliknya. Mengelus permukaan bola, dan berkata pelan, “Tak apa, Ma. Aku tak suka bermain bola”. Alisa berada disana dan melihat semuanya, Ia telah berada bersama keluarga Daviant sejak sang nyonya masihlah seorang gadis muda yang penuh semangat. Alisa mengerti berat hati yang dirasakan Ibunda Daviant saat harus merelakan sang putera tunggal untuk tinggal berjauhan darinya. Empat tahun yang dilalui hanya berdua dengan putera semata wayangnya membuat kedekatan mereka semakin erat. Maka, ketika kabar ancaman datang dari pihak saingan perusahaan mereka Sang Ibu merasa begitu gelisah, ketakutan akan puteranya yang bisa saja terluka dan menjadi korban. Putera kecilnya yang menjadi harapan Ia satu-satunya untuk bertahan. Keputusan yang berat terpaksa Ia ambil, setelah berdiskusi begitu lama dengan Alisa. Perempuan yang Ia percaya sepenuh hati untuk menjaga keluarganya. Ia dan Alisa sepakat membawa Daviant menjauh ke tempat dimana dulu Alisa menghabiskan masa kecilnya. Sebuah desa kecil, yang kini akan menjadi rumah baru bagi Daviant. Ingatan sekilas yang mampir di kepalanya membuat Ia tersenyum tipis, Alisa usap rambut sang tuan mudanya perlahan. “Mama akan datang jika tuan muda berperilaku baik selama disini. Beliau telah berjanji”, ujarnya pelan. Daviant terlihat menganggukan kepalanya, perlahan diraihnya handle pintu mobil di sampingnya. Pelan Ia pijakkan kakinya, Davi kembali menatap rumah barunya dalam diam. Dari dekat Davi baru sadar bahwa ada sebuah kolam ikan koi didepan rumahnya, Ia tolehkan kepalanya ke arah kanan dan ada sebuah pohon cengkeh yang berdiri disana. Sebagian besar daunnya tampak jatuh mengotori atap rendah rumah barunya. Berpaling ke kiri, Ia melihat sebuah sepeda yang disandarkan pada bambu berbentuk selongsong. Entah apa, Davi tak tahu. Namun, sepeda itu begitu menarik perhatiannya. Ia tautkan jari-jarinya, merasa begitu excited ingin segera belajar mengendarainya. Daviant tak pernah bermain sepeda. Kedua orangtuanya melarang karena takut sang anak terjatuh. “Ayo tuan muda. Kita masuk dan melihat keadaan di dalam rumah”, Alisa berkata halus membuatnya segera memalingkan wajah dan beranjak mengikuti sang wanita dari belakang. Alisa membuka sebuah pintu berwarna cokelat tua, saat pintu terbuka Davi dapat mencium aroma segar khas pedesaan. Daviant tidak melihat satupun kursi atau meja ketika Ia masuk ke dalam rumah. Yang ada hanyalah sebuah karpet lembut berwarna hijau gelap tergelar. Mengerutkan kening heran, Ia angkat kepalanya guna bertanya pada Alisa. “Alisa, dimana kursi yang akan kita gunakan untuk duduk?, Apa mama akan mengirimkannya dari kota?”, Alisa yang mendapat pertanyaan tersebut, tertawa kecil. Mengusap lengan tuan mudanya dengan perlahan dan memberi pengertian, “Sekarang Davi telah berada di tempat yang baru. Banyak hal baru yang berbeda akan kau temui disini dari ketika kita tinggal di kota.” Davi diam, mencerna kata-kata Alisa dalam otak pintarnya. Jadi, ini salah satu perbedaan itu. “Mari tuan muda, saya antarkan ke kamar barumu”, Alisa kembali berbicara. Davi mengangguk, kembali melangkahkan kakinya mengikuti Alisa dalam diam. Rumah ini hanya terdiri dari satu lantai, kamar yang akan Davi tuju berada di ujung dekat dapur. Alisa meraih gagang pintu dengan ukiran berbentuk sulur di depannya, tersenyum sedikit ketika pintu telah terbuka. Ia geser tubuhnya, memperlihatkan kamar baru sang tuan muda. “Tuan muda, ini kamar barumu. Masuk dan beristirahatlah. Saya akan kembali datang setelah makan siang siap” ujar Alisa pelan. Davi melihat sekeliling kamar barunya, terdapat sebuah kasur dan lemari besar di pojok kamar. Buku-buku pelajaran, novel, dan ensiklopedia kesukaannya telah disusun sedemikian rupa di sebuah laci yg terbuat dari kayu jati berwarna cokelat. Ia edarkan kembali pandangannya dan menemukan sebuah meja belajar berbentuk tingkat lengkap dengan sebuah personal computer di atasnya. Ada juga beberapa action figure koleksinya yang dipajang di sana. Davi merasa apa yang ada di dalam kamar ini tak jauh berbeda dengan miliknya di rumah dulu. Ah, mungkin ada satu perbedaan, yaitu sebuah kepingan gambar dalam bingkai yang diletakkan di meja belajarnya. Sebuah gambar yang diambil tepat saat Ia berulang tahun yang ke sembilan, gambar saat pipinya dikecup hangat Ayah dan Ibunya setelah Ia memberikan potongan kue ulang tahun pertama untuk mereka. Itu adalah kenangan bahagia terakhir yang Davi ingat, sebelum Ayah dan Ibu mulai sering bertengkar dan saling berdebat. Davi yang saat itu tak mengerti apapun, berpikir bahwa semua itu terjadi karena dirinya. Karena Ia yang tak mampu memenuhi harapan Ayah dan Ibunya. Hingga tiba suatu masa sang Ibu memberinya kabar yang begitu takut Ia dengar. Kabar bahwa ayahnya tak lagi dapat bermain bersamanya untuk waktu yang lama. Davi merasa mimpi dan harapannya telah runtuh saat itu juga. Sang ayah adalah sosok yang lebih sering ada bersamanya di saat Ibu pergi mengurus perusahaan. Beliau banyak menceritakan tentang kehidupan di luar tembok rumah besarnya, mendorong semangatnya untuk melihat di luar sana ada dunia yang begitu luas menunggu untuk Davi jelajahi. Daviant yang pada saat itu begitu muda tak sabar untuk menjadi dewasa dan pergi menjelajahi dunia seperti yang sang Ayah ceritakan. Namun, kini Daviant takut. Ia takut menjadi dewasa, takut akan perpisahan yang biasa orang dewasa alami. Ia takut akan rasa kehilangan yang seperti sebuah hadiah saat perpisahan terjadi. Davi letakkan kembali bingkai kecil berisi gambar Ia dan kedua orangtuanya ke atas meja belajar. Beralih melangkah menuju tempat tidurnya, Ia elus perlahan permukaan kasurnya. Lembut dan hangat, sepertinya tidurku akan nyenyak malam ini. Ketukan pintu terdengar beberapa kali, “Tuan muda, saya membawakan ubi rebus dan teh tawar. Boleh saya masuk?”, Suara lembut Alisa terdengar mengalun di telinganya. Davi melangkah menuju pintu, membukanya dengan satu tarikan pelan, “Tentu, Masuklah.” Sahutnya Alisa masuk dan bergerak menuju nakas di samping tempat tidur tuan mudanya, Ia letakkan sebuah nampan berukuran sedang disana. Davi dapat melihat ubi rebus yang Ia genggam di sepanjang perjalanan tadi kini telah berubah bentuk menjadi potongan kecil yang siap dimakan. Tak lupa ada segelas teh tawar yang juga tersaji di sampingnya. Mata cokelatnya sedikit berkilat senang, tak sabar untuk mencicipi rasanya. “Makanlah selagi hangat, Tuan muda. Jika tuan muda merasa tak cukup, aku akan kembali membawakan ubi rebusnya” , Alisa menawarkan dengan lembut. Ia paham tuan mudanya begitu tertarik dengan makanan satu ini. Davi mengangkat pandangannya yang begitu melekat pada ubi rebus dan menatap Alisa, “Tak apa Alisa, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih banyak” sahutnya pelan. Alisa mengangguk dan berpamitan, kembali mengingatkan untuk keluar pada saat jam makan siang. Davi hanya bergumam setuju pelan menjawabnya, entah di dengar oleh Alisa atau tidak. Dan setelah Ia menutup pintu kamar, Ia kembali ke tempat tidurnya. Menatap ubi rebus itu sekali lagi sebelum menusuknya pelan dengan garpu yang disediakan Alisa disana. Akhirnya, aku memakan sebuah ubi rebus.. Rasa terimakasih langsung Ia haturkan dalam hati pada sang Nenek baik hati, sepertinya Davi telah jatuh cinta pada kelembutan dan kehangatan ubi rebus pertamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD