Bab. 14 Kado Termahal

1091 Words
Ardian pun akhirnya mengikuti Mamanya masuk ke dalam rumahnya. Setelah sampai di ruang tamu ia pun langsung menjatuhkan badannya ke atas sofa yang empuk. "Mau Mama siapin minuman apa? Kamu pasti haus, kan?" tanya Mama Ardian dengan penuh perhatian. Dan inilah sosok Mama yang selama ini Ardian kenal. Bukanlah orang yang boros dan tamak harta seperti beberapa detik yang lalu. Ardian pun mengangkat punggungnya hingga berada di dalam posisi terduduk. "Ada jus mangga nggak, Ma?" tanya Ardian. Dia memang sangat menyukai minuman yang satu itu sejak kecil. "Nggak ada. Adanya jus sirsak. Itu pun Bibik yang membuatnya tadi pagi. Kamu nggak bilang dulu sih mau ke sini. Tau gini kan Mama siapkan dulu," balas Mamanya dengan nada yang sedikit menyesal. "Ya, udah deh nggak papa. Aku juga nggak ada rencana kesini kok. Tadi, mampir aja mumpung lagi pengen pulang lebih awal," balas Ardian berbohong. "Kalau gitu bentar ya. Biar Bibik ambilin," ujar Mama Ardian. "Biikkk! Bibik!!" panggil Mama Ardian pada asisten rumah tangganya yang sedang berada di dalam. Dengan tergopoh-gopoh Bibik pun terlihat berjalan ke arah keduanya. "Eh, ada Den Ardian. Sudah lama Den," sapanya pada Ardian dengan sopan. Bahkan punggungnya pun sedikit membungkuk untuk menghormati Ardian yang notabene adalah Tuan Mudanya. "Lumayan, Bik. Gimana kabar Bibik? Sehat?" tanya Ardian keceplosan. Ia lupa kalau ia bukanlah Ardian yang sudah lama tidak datang ke rumah ini. Si Bibik emban yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu pun tak langsung menjawab. Ia malah saling melempar pandangan dengan Mama Ardian. "Kamu ini. Dalam banget basa-basinya. Kayak nggak pernah liat Bibik bertahun-tahun aja deh. Kemarin malam kan kamu juga kesini sama Yolanda membicarakan biaya operasi Papa," ujar Mama Ardian yang langsung membuat mata Ardian melotot. "Papa sakit apa Ma?" tanya Ardian penasaran dan juga penuh rasa khawatir. Setahu dia empat tahun yang lalu Papanya sehat walafiat deh. 'Kenapa sekarang ia malah sakit-sakitan?' tanya Ardian dalam hati. Mamanya pun tak langsung menjawab. Ia malah berdecak sebal. "Ck. Kamu ini gimana sih. Bukannya Papa kamu tuh udah setahun ini mengidap penyakit liver. Dan segera butuh operasi transplantasi hati," jelas Mama Ardian. "Kamu kenapa sih pura-pura lupa segala. Kamu mau membatalkan operasinya ya," lanjut Mama Ardian. "Oh… ehm… bukan gitu maksudnya, Ma. Aku cuma…. Pengen mastiin kalau Papa udah bener-bener butuh transplantasi hati itu. Sebab, selain biayanya yang mahal. Rasanya kan juga sakit banget Ma. Jadi, kalau seandainya Papa masih bisa disembuhkan dengan cara lain kenapa enggak? Iya,kan?" ucap Ardian ngeles. Ia pun mempertahankan senyumnya agar Mamanya dan Bibik tidak curiga. Mereka pun kemudian terdiam beberapa saat. "Ya, sudah. Saya permisi ke dalam Den. Buat ambilin minum Den Ardian. Aden suka jus, kan. Bibik ambilin jus sirsak ya!" tawar Bibik yang langsung memecahkan kesunyian sesaat di ruangan itu. "Oh, iya Bik sip!" balas Ardian sebelum wanita paruh baya tadi masuk kembali ke dapur. "Jangan-jangan kamu kesini untuk membicarakan hal ini ya?" tanya Mama curiga. "Enggak. Enggak kok Ma. Aku cuma lagi bingung mau kasih kado apa buat Yolanda. Sedangkan dia sudah memberikan aku kejutan semewah mobil itu," jawab Ardian jujur. "Oh, gitu. Kirain kamu mau batalin biaya operasi Papa karena tadi Mama minta uang sama kamu," sahut Mama yang membuat Ardian menyinggungkan senyum pasrahnya. "Kalau masalah itu kamu tidak usah khawatir. Karena berlian yang sudah lama Mama pesankan untuk hadiah Yolanda hari ini sudah siap. Tinggal dibayar saja," tambah Mama sambil tersenyum bangga. "Berlian? Apa itu tidak kemahalan Ma?" tanya Ardian bingung. Karena Ardian tau harga berlian itu puluhan juta. Bahkan, ada yang sampai ratusan juta. "Cuma delapan puluh lima juta kok nggak mahal," balas Mama Ardian enteng. Ardian pun tak menjawab. Ia hanya membuang mukanya ke samping kiri. 'Delapan puluh lima juta? Darimana aku bisa dapat uang sebanyak itu? Tunggu. Tapi, sekarang kan aku sudah menjadi orang kaya. Untuk transfer uang ke rekening Mama aja nggak ada kendala. Berarti ATM yang ku bawa gendut nih. Pasti cukuplah kalau hanya untuk membeli berlian itu,' batin Ardian. "Udah nggak usah kebanyakan mikir. Itu harga sudah paling murah. Kan yang jual langganan Mama. Teman Mama arisan juga. Jadi, udah dikasih harga sahabat deh. Nggak usah bingung gitu," tambah Mama merayu. Ardian pun masih terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya ia pun mengangguk setuju. "Ya sudah yuk! Kita ke tempat teman Mama sekarang," ujar Ardian yang langsung membuat senyum di bibir Mamanya mengembang. "Nah, gitu dong. Dari tadi kek," balas Mamanya sambil beranjak. "Mama mau kemana?" tanya Ardian cepat-cepat. "Mau ambil tas bentar," ujar Mama Ardian sambil berjalan masuk ke dalam. Tak lama kemudian ia pun datang dengan tas wanita yang sudah tercangklong di pundaknya. Walaupun, hanya melihat sekilas. Ardian tau kalau tas yang dibawa Mamanya itu bukanlah tas murah. Apalagi, melihat dari bahannya yang terlihat seperti kulit buaya asli. Ardian pun bisa menaksir harga tas itu jutaan rupiah. "Kenapa kamu hanya bengong. Ayo! Berangkat," ucap Mamanya yang langsung menyadarkan lamunan Ardian. "Tapi, mobilku kan belum pulang Ma. Mama hubungi si Jordi deh biar dia cepet pulang," kata Ardian mengingatkan Mamanya. "Nggak usah nungguin Jordi. Bakal lama dia. Kita pakai mobil dia saja. Biar Mama ambilkan kuncinya," ujar Mama Ardian sambil kembali masuk ke dalam. @@@@@ "Ini seharga delapan puluh lima juta Ma? Kecil gini?" tanya Ardian terlihat syok. Sambil terus memperhatikan cincin berlian yang ia putar-putar di tangannya. Dia yang memang belum pernah membelikan satu gram perhiasan pun pada Saskia merasa terkejut melihat bandrol yang ada di gantungan cincin itu. "Itu sudah harga murah, Mas. Sebab, ini berlian asli. Karena Mama Mas sudah menjadi langganan kami. Makanya kami kasih diskon," ucap si Mbak-Mbak penjaga toko perhiasan di salah satu Mall terbesar di Jakarta ini. Entah, mengapa kening Ardian pun cenut-cenut. Maklum, dia menjadi orang kaya dadakan. Jadi, belum siap benar. Biasanya ia hanya mampu membelikan martabak manis seharga tiga puluh lima ribu untuk Saskia. Itu pun sang istri sudah melonjak kegirangan melihat sang suami pulang membawa jajanan kesukaannya. Apalagi kalau seandainya Saskia ia belikan berlian seharga puluhan juta seperti ini. Bisa-bisa ia akan pingsan saking senangnya. "Udahlah, Ar. Ini kan yang kemarin kamu pilih untuk kado ulang tahun pernikahanmu. Mama malu dong. Kalau kamu nggak jadi beli. Mau ngomong apa Mama sama temen Mama kalau ketemu di arisan besok?" rayu Mama Ardian. Ardian pun masih terdiam beberapa saat. "Ya, udah deh," balas Ardian akhirnya. Dengan jantung yang berdebar kencang. Ardian pun merogoh saku celananya lalu ia menarik kartu ATM yang ada di antara kartu-kartu lain yang tersimpan di sana. Sambil berdoa semoga uang yang ada di dalam kartu itu cukup, ia berikan kartu itu pada si Mbak penjaga toko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD