Setelah Yolanda pergi. Ardian kembali ke dalam ruang kerjanya. Ia pun menjadi bingung setengah mati dengan ucapannya tadi. Bagaimana tidak? Banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Yolanda. Entah itu makanan kesukaannya, tempat favoritnya apalagi kegemarannya. Maklum, dulu ia hanya bertemu dua kali. Itu pun nggak pernah ada waktu untuk ngobrol berdua atau jalan bareng. Karena waktu itu ia tidak pernah merasa tertarik dengan Yolanda, tapi sekarang tindakannya dulu malah menjadi bumerang.
Saat Ardian sedang mondar-mandir kayak setrikaan. Tiba-tiba sebuah ide muncul ke dalam otaknya. Ia pun segera mencari benda itu di segala tempat. Mulai dari kantong bajunya sampai seluruh bagian ruangannya ini. Sebab, ia tersadar ucapan Gabriel beberapa waktu yang lalu, 'Bulu burung pelangi ini akan selalu bersamamu setiap saat. Apapun yang terjadi. Hanya saja tempatnya yang tak selalu kau lihat dan kau tau. Maka, carilah sampai ketemu. Jika memang kau membutuhkannya.'
Ardian terus mencari bulu burung palangi itu sampai ia benar-benar mendapatkannya. Di sofa, laci meja sampai kulkas pun sudah ia jelajahi semuanya. Hingga akhirnya tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah kilauan warna-warni yang ada di dalam sebuah berkas di lemari khusus untuk menyimpan berkas-berkas penting. Ardian pun hanya melihat ujungnya saja. Namun, ia sangat yakin kalau itu adalah benda yang dicarinya. Dengan menggunakan sofa ia mengambil berkas yang ada di susunan teratas itu. Setelah mendapatkannya Ardian pun segera turun kembali. Sebab, jika sampai kepergok karyawan atau malah Yolanda pasti dia akan ketahuan.
Tanpa membuang waktu panjang, Ardian segera memutar-mutar bulu burung pelangi itu beberapa kali. Sambil mulutnya komat kamit memanggil Gabriel.
"Gabriel datang. Gabriel datang. Gabriel datanglah," panggil Ardian tiga kali. Hingga akhirnya sebuah sinar menyilaukan datang dan….
Gedubrak!!! Gabriel terjatuh dari sofa panjang di dalam ruangan Ardian.
"Aduh!" ujarnya sambil memegangi hidung mancungnya yang sudah nyungsep duluan. "Kalau mau manggil. Jangan terburu-buru dong. Aku kan lagi tidur. Jadi nyungsep, kan?!" protes Gabriel sambil beranjak.
"Hehe. Maaf-maaf. Aku nggak sengaja. Tapi, sekarang keadaannya gawat darurat. Siaga enam belas deh pokoknya," balas Ardian panik. Gabriel pun mengerutkan keningnya. Bingung.
"Maksudnya?" tanya Gabriel dengan wajah polosnya.
"Jadi gini. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan Yolanda. Dia sudah memberikan kado spesial dan sangat mahal berupa mobil sport mewah. Sumpah, deh aku aja nggak pernah kebayang bisa memiliki mobil itu," sahut Ardian dengan nada yang menggebu-gebu. Gabriel pun hanya menatapnya dengan dengan aneh.
"Lalu? Apa hubungannya denganku? Kau hanya ingin pamer ya?" balas Gabriel curiga. Ia tau manusia suka sekali pamer, tapi kalau pamer sama dia kayaknya tidak akan berpengaruh deh. Sebab, walau Ardian memiliki mobil sport termahal di dunia pun Gabriel tidak akan meliriknya. Karena, sayapnya lebih keren dari semuanya kan. Dan dia yakin pasti toko-toko di dunia pasti tidak ada yang menjualnya.
"Bukan gitu maksud aku. Aku cuma mau minta tolong sama kamu. Untuk buatkan sebuah hadiah spesial untuk Yolanda. Sebab, aku bingung mau kasih apa sama dia," ujar Ardian. Gabriel malah mendecak.
"Ck. Kenapa kau minta yang begituan padaku. Aku kan seorang Dewa. Bukannya ibu peri. Kamu harus bisa mencari jalan keluarmu sendiri dong," balas Gabriel kesal.
"Tapi, ini suatu hal yang sangat penting. Aku nggak mungkin nggak ngasih apa-apa sama dia. Sedangkan dia sudah memberikan kado super mahal. Tolong ya Gabriel. Tolong. Bukannya kamu Dewa penolong ya," kata Ardian memohon.
"Hei. Kau harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Jangan hanya mengandalkan orang lain. Namun, karena aku sedang baik. Akan aku bantu kau berpikir," sahut Gabriel sambil menggerakkan tangannya ke arah kening Ardian. Cling! Cling! Cling! Kelap-kelip cahaya pun keluar dari telapak tangan Gabriel yang menari-nari di depan kening Ardian. Dan seketika sebuah ide pun muncul.
"Mama. Gue bisa tanya Mama tentang banyak hal yang disukai Yolanda," ucap Ardian mengeluarkan apa yang langsung terlintas di kepalanya.
"Yap. Tepat sekali," kata Gabriel mantap. Ardian pun malah mendecak.
"Ck. Kalau cuma begitu kenapa kamu tidak bilang aja sih. Kenapa harus pakai mantra-mantra segala," ujar Ardian kesal.
"Hehe. Aku kan bertugas menolong kau dari kesulitan-kesulitan yang harus kau pecahkan sendiri. Ingat! Aku bukan ibu peri," balas Gabriel dengan penuh penekanan. Kemudian…. Cling!!! Gabriel pun menghilang begitu saja. Meninggalkan Ardian yang sedang terdiam sambil terus berpikir.
'Ya sudahlah. Gue masih punya Mama yang bisa gue tanyain macam-macam," gumam Ardian. Lalu ia pun melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul tiga lebih lima belas menit.
"Bentar lagi pulang nih. Gue langsung ke rumah Mama aja deh," gumam Ardian kemudian mengambil tas kantornya. Lalu ia pun mengemasi meja kantornya sebelum pergi.
Tak butuh waktu lama bagi Ardian untuk sampai di depan rumah Mamanya. Apalagi menggunakan mobil sport barunya yang super cepat. Blak!! Bunyi pintu mobil Ardian saat ia menghentak untuk menutupnya. Ardian pun bergegas melangkah mendekati rumah kedua orang tuanya. Walaupun sebenarnya sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya di sini. Namun, Ardian tetap berperilaku biasa saja. 'Toh, mereka tidak pernah merasa aku menghilang selama ini,' ucap Ardian sambil terus berjalan ke arah pintu kayu yang terlihat masih tertutup itu.
Tok. Tok. Tok. Ardian pun mengetuk pintu itu beberapa kali. Hingga tak lama kemudian pintu pun dibuka dari dalam. Cekrek! Bunyi pintu itu saat berhasil memisahkan diri dari daun pintu yang satunya.
"Ardian tumben kamu ke sini siang-siang begini?" ucap Mamanya setelah membukakan pintu untuk sang anak sulung.
"Iya, Ma. Aku ada perlu sama Mama," balas Ardian. Namun, belum sempat Mamanya membalas perkataan Ardian. Adiknya Jordi keluar dari dalam rumah itu.
"Wah, mobil Kakak baru ya," kata Jordi sambil mendekati mobil sport Ardian. Ia pun nampak kagum melihat mobil mewah bericon kuda jingkrak asli produk negara Italia itu
terparkir di depan rumahnya.
"Wah. Bagus sekali mobil kamu. Pasti Yolanda yang beliin ya," kata Mama Ardian dengan pandangan yang tak kalah terpesonanya dengan si anak bungsu. Ia pun langsung mendekati mobil baru Ardian dan mengabaikan perkataan Ardian barusan. Mau tak mau Ardian pun mengikuti gerakan langkah mereka.
"Yolanda kasih ini sebagai hadiah anniversary kita," kata Ardian yang tidak digubris kedua manusia yang masih satu darah dengannya itu.
"Ini sih mobil mahal Kak. Temen-temen aku aja belum ada yang punya nih," komentar Jordi.
"Iya. Kalau ini sih lebih bagus ketimbang mobil anaknya Jeng Mira. Besok kalau Mama mau berangkat arisan. Mama dianterin ya," pinta Mama Ardian. Sedang Ardian pun hanya terdiam. "Tuh, kan. Mama memang nggak pernah salah memilihkan kamu jodoh. Coba kalau dulu kamu menikah sama junior di kampus kamu itu. Heh, bisa-bisa kamu hanya akan makan garam," tambah Mama Ardian yang membuat Ardian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kak. Pinjem kunci dong. Aku pengen jalan-jalan nih. Sekalian cobain," pinta Jordi sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
"Nggak. Nggak. Mobil matic aja kamu belum lancar. Apalagi sport kayak gini," balas Ardian melarang.
"Kemarin aku pakai punya temen juga bisa," balas si adek yang baru saja masuk dunia perkuliahan itu.
"Udahlah Ardian. Pinjamkan saja mobilnya. Toh, dia tidak akan bawa jauh-jauh juga. Paling keliling kompleks," bela sang Mama.
"Ya, udah nih. Jangan lama-lama ya. Dan inget! Nggak usah ngebut. Ngerti!" ucap Ardian dengan penuh penekanan. Ia pun menyerahkan kunci mobilnya yang langsung direbut Jordi.
"Siap, Kakak," balasnya sambil membuka pintu. Jordi pun segera masuk ke dalam mobil itu lalu ia melesat begitu saja.
"Hei, jangan ngebut-ngebut!!!" teriak Ardian yang sudah tidak ia dengarkan.
"Sudahlah. Biarkan saja adikmu merasakan enaknya pakai mobil mahal. Mobil yang kemarin kamu belikan, kan hanya mobil murahan. Yuk! Kita masuk," ujar Mama Ardian dengan nada yang tidak enak didengar. Kemudian ia pun berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan diikuti Ardian.