Ardian pun menjatuhkan badannya ke atas kursi kerjanya dengan keras. Sampai-sampai kursi itu sedikit berputar. Kedua tangannya pun memijat pelan kedua pelipisnya yang terasa nyut-nyutan.
Sungguh, ia tidak percaya telah mengirim uang perusahaan dalam jumlah besar hanya untuk kebutuhan Mamanya yang tak jelas. 'Walau benar kata Mama perusahaan ini milik istri gue dan gue pun punya hak di sini, tapi tetap saja gue merasa bersalah pada Yolanda,' ucap Ardian dalam hati.
Kring…. Kring…. Kring. Bunyi ponsel pintar yang tergeletak di atas meja kerja Ardian. Lelaki itu pun tak kunjung menerima panggilan dati sang istri. Sebab, Ardian sedang pusing dengan apa yang harus ia katakan pada Yolanda. Namun, tak mungkin Ardian mengabaikan panggilan itu begitu saja. Makanya dengan malas Ardian menggapai gawainya lalu mendekatkan pada telinganya.
"Hallo," ujar Ardian tidak bersemangat.
"Hai, Mas. Gimana hari ini? Lancar?" balas Yolanda dari seberang sana. Ardian pun menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Ya. Untuk pertemuan dengan klien? Alhamdulillah kita lancar. Bahkan, sudah deal. Tapi, Yo. Tadi Mama…."
"Iya. Mama udah bilang kok. Oh, ya. Aku punya sesuatu lho untuk kamu," ucap Yolanda dengan nada misteriusnya.
"Apa?!" tanya Ardian penasaran.
"Penasaran ya?"
"Heeh. Bilang dong. Kamu punya sesuatu apa untuk aku," rengek Ardian kayak anak kecil.
"Apa ya? Beneran nih mau tau?" ulang Yolanda yang membuat Ardian mulai kesal.
"Iya Yo. Bilang aja deh. Aku udah penasaran nih," kata Ardian dengan nada yang tak enak didengar.
"Kalau gitu. Cepet keluar! Aku tunggu di depan kantor!" ujar Yolanda yang membuat kening Ardian berkerut.
"Di depan kantor ini?" tanya Ardian bingung.
"Heem. Dan aku hitung sampai sepuluh. Kalau di hitungan ke sepuluh kamu belum sampai di sini juga. Berarti kejutannya hangus," ancam Yolanda sambil terkekeh. Ia yakin sekali. Wajah Ardian sekarang panik bukan main.
"Jangan-jangan. Aku akan segera kesana," ucap Ardian cepat-cepat.
"Oke. Aku mulai hitungannya. Satu…."
Ardian pun segera berlari ke arah pintu keluar. Ia pun membuka pintu itu lalu berlari menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dasar. Berulang kali Ardian memencet tombol bergambar segitiga terbalik. Atau dengan ujung lancip di bawah. Namun, kedua pintu itu pun belum terbuka juga.
"Dua…," ujar Yolanda.
"Bentar dong, sayang. Liftnya belum terbuka nih. Masih ada di lantai atas," ujar Ardian panik.
"Tiga…. Haha. Itu bukan urusanku, sayang. Ini udah hitungan ketiga lho. Kalau nggak kuat bisa lambaikan tangan," balas Yolanda meledek.
"Enak aja. Aku akan segera keluar dan mendapatkan apa yang kamu bilang sesuatu itu," balas Ardian dengan mantap.
"Empat…. Jangan terlalu yakin. Udah hitungan keempat lho?! Haha," ucap Yolanda kembali tertawa renyah.
"Enggak. Enggak. Aku pasti bisa ke bawah dengan waktu yang tepat," balas Ardian tak mau kalah. Dan benar! Melihat tekadnya yang sebulat bola basket yang dilempar ke tengah ring. Dewi Fortuna pun memberikan keajaibannya dengan membuat isi lift itu keluar pada lantai ke sepuluh atau dua lantai di atas lantai tempat Ardian berdiri. Sehingga membuat lift itu kosong saat Ardian hendak memasukinya. Jelas saja Ardian bisa turun dalam hitungan ke lima, enam dan tujuh. Itupun karena Yolanda yang mempercepat hitungannya.
Sampai di lantai bawah, Ardian segera lari keluar kantornya. Ia sampai beberapa kali menabrak para karyawannya. Saking paniknya ingin segera sampai di tempat Yolanda berada sekarang.
Dalam hati ia bertanya-tanya. Apa kiranya yang akan diberikan oleh Yolanda itu. Sebab, saat ia menyinggung tentang Mamanya yang meminta uang tidak sedikit itu pun. Dia hanya meresponnya dengan biasa. Seakan uang lima puluh juta baginya bukanlah uang yang terlampau banyak. Bahkan, seakan biasa ia gunakan untuk sekali jajan.
Saat lariannya tinggal beberapa meter lagi. Ardian sudah bisa melihat kerumunan di depan kantornya. Dan jika dilihat dari gaya pakaian mereka, sepertinya mereka adalah karyawan kantor ini.
"Ada apa ya disana? Apa mungkin sesuatu yang dibilang Yolanda ada di sana?" gumam Ardian pada dirinya sendiri. Ardian pun kembali berlari setelah tadi sempat berhenti dan mengambil nafas sejenak.
Ardian pun menyusup di antara kerumunan itu. Dan seketika….
"Taraaa…," ujar Yolanda sambil merentangkan tangannya di samping sebuah mobil sport. Seakan ia ingin menunjukkan mobil keren itu.
"Yo…. Yo…. Ini…." Tiba-tiba saja mulut Ardian tergagap. Seperti otot-otot lidahnya kelu seketika, hingga sangat sulit untuk digerakkan.
"That's right. This is for you, dear," balas Yolanda sambil menahan senyumnya.
"Apa?!!" ucap Ardian masih tak percaya. Mulutnya pun menganga lebar-lebar. Sedang matanya melotot ke arah mobil sport bericon kuda loncat itu. "It's mine?" tanya Ardian masih tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Iya. Happy anniversary, dear," ujar Yolanda sambil memeluk tubuh Ardian mesra. Ardian yang masih belum percaya dengan apa yang sedang terjadi pun masih melongo begitu saja.
"Happy anniversary, Pak Ardian dan Ibu Yolanda," ujar para karyawan yang berkumpul di tempat itu bersamaan. Namun, bukannya menjawab seperti Yolanda. Ardian malah masih asyik terbengong-bengong. Para karyawan pun segera membubarkan diri tanpa Ardian sadari.
"Tapi, bukannya tadi pagi kamu bilang mobilku ada di bengkel ya," kata Ardian bingung.
"Iya. Tapi kamu kan sudah bertahun-tahun memakai mobil itu. Lagian bukannya udah lama juga kamu ingin mobil ini ya," balas Yolanda sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ardian. Ardian pun tersenyum. 'Mungkin inilah rasanya jadi orang kaya. Kemarin gue hanya bisa nonton para artis pakai mobil ginian. Sekarang, gue udah punya sendiri. Asyiiik…,' batin Ardian berusaha menerima apa yang kini menjadi kenyataan di hidupnya.
Ardian pun membalas pelukan Yolanda dengan melingkarkan tangannya di punggung wanita itu.
"Makasih ya sayang. I love you," kata Ardian. Lalu…. Cup!! Ia pun mencium ujung kepala Yolanda dengan penuh kasih sayang.
"I love you too, dear. Dan aku masih punya satu kejutan lagi," balas Yolanda yang membuat Ardian kembali mengerutkan keningnya.
"Apa?!" tanyanya penasaran. Dengan mata yang berbinar-binar. Membayangkan kemungkinan benda mewah apalagi yang akan diberikan Yolanda untuknya.
"Nanti malem aku beri tau. Tapi, kamu nggak lupa juga kan bikin surprised buat aku, kan?" tanya Yolanda balik. Dan pertanyaan sederhana itu langsung membuat sinar kembang api di mata Ardian redup begitu saja. Karena Ardian belum menyiapkan apa-apa untuk merayakan hari ulang tahun pernikahannya dengan Yolanda.
"Emhz…." ujar Ardian dengan mata yang bergerak memutar. Bingung mau bilang apa.
"Tuh, kan. Kamu lupa lagi," kata Yolanda pura-pura merajuk.
"Bukan. Bukan begitu Yo. Sebenarnya aku sudah mempersiapkannya. Tapi, nggak sekarang untuk nanti malam. Hehe," sahut Ardian cepat-cepat. Ia tidak mau terlihat aneh di depan Yolanda. Apalagi melihat Yolanda yang sudah memberinya mobil mewah. Tentu saja ia tidak ingin membuat Yolanda merasa kecewa.
"Benarkah? Kejutan apa?" kata Yolanda dengan wajah yang berubah berseri-seri. Ardian pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Iya. Tentu. Nanti malam juga kamu akan mendapatkannya," balas Ardian berbohong.