Ardian melonjak-lonjak girang saat sudah berada di dalam ruang kerjanya. Ia berlarian kesana kemari. Bak anak kecil yang memiliki kamar baru, ia seakan ingin mencoba semua hal yang akan menunjang rasa betahnya berlama-lama di ruangan ini. Ardian pun berlari ke arah meja kerjanya. Lalu mencoba kursi kerjanya yang bisa diputar-putar. Kemudian ia pun meraih remot kontrol AC yang terpasang di salah satu dinding atas ruangan itu. Beberapa kali ia memencet tombol di remot itu untuk menaikkan suhunya. Dan seketika udara pun menjadi panas dan sedikit pengap. Hingga ia harus mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengipasi wajahnya. Karena tak tahan dengan udara panas, Ardian kembali mengambil remot kontrol AC lalu menurunkan suhunya hingga titik terendah. Jelas saja, tubuh Ardian langsung terasa kaku. Membeku. Asap keluar dari mulutnya yang bersuhu lebih panas.
"Brrr…. Brrr…," gumam Ardian menahan rasa dingin yang semakin menusuk kulitnya. Ia sampai harus menggosok-gosokkan kedua lengannya. Agar sedikit mengurangi suhu mainstream itu. Dengan sedikit susah payah. Ardian menggapai remot tadi. Lalu ia putar suhu seperti awal dia masuk ruangan. Makanya kini Ardian bisa kembali bernafas lega.
"Haa…. Hatchii…." Entah mengapa hidungnya pun terasa seperti digelitik dari dalam.
Ardian pun kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Walau ini masih terasa seperti mimpi, tapi Ardian begitu menikmati ruangannya yang luas. Tak seperti biasanya yang hanya berukuran sepertiga dari ruangan ini. Fasilitasnya ruangan ini pun sangat lengkap dengan kulkas pribadi yang berisi aneka makanan dan minuman yang enak-enak, televisi layar datar berukuran empat puluh satu in yang menempel di dinding yang berhadapan langsung dengan meja kerjanya serta satu set sofa yang bisa ia gunakan untuk bersantai bahkan tiduran.
"Haha. Enaknya jadi Bos," gumam Ardian sambil memutar kursi kerjanya.
Kursi yang bisa berputar tiga ratus delapan puluh derajat itu pun segera berputar sesuai arah yang digerakkan Ardian. Hingga di putaran ke tiga ratus derajat. Tiba-tiba….
Cling! Gabriel muncul tepat di depan Ardian. Ia yang duduk di meja kerja Ardian pun langsung membuat lelaki berkumis tipis itu terlonjak kaget.
"Hah?!!" teriak Ardian sampai tersungkur ke lantai.
"Hahaha. Gitu aja kaget," ujar Gabriel sambil tertawa renyah. Sambil turun dari meja kerja Ardian lalu berjalan ke sisi ruangan yang lain. Memperhatikan kemewahan yang tersaji di ruangan itu.
"Heh. Bisa nggak sih kalau mau datang itu bilang dulu. Ngabarin dulu kek. Biar nggak bikin aku kaget aja," balas Ardian keki. Kini ia pun sudah bisa lebih santai menanggapi kehadiran Gabriel. Ardian segera beranjak lalu kembali duduk di kursinya.
"Wah. Wah. Jauh perbedaannya dengan ruang kau yang kemarin. Pantas saja kau lebih memilih memiliki jabatan ini. Dasar manusia. Ck. Ck. Ck," sindir Gabriel. Sambul menggelengkan kepalanya beberaa saat.
"Ck. Semua ini kan harusnya udah gue dapatkan sejak dulu. Tapi, waktu itu gue lagi khilaf aja milih Saskia. Dan mengabaikan perjodohan ini," ujar Ardian tak mau kalah.
"Begitu ya?"
"Benar. Dulu gue masih bocah. Belum berpikir menggunakan akal. Hanya berdasarkan kesenangan belaka," ujar Ardian lagi.
"Satu hal sifat yang bisa merusak manusia tanpa ia sadari. Yaitu, ceroboh mengambil tindakan," balas Gabriel. Padahal, dulu ia yang sering dikatain begitu oleh teman-teman Dewanya.
"Iya. Benar. Dan memilih Saskia menjadi istri gue adalah kecerobohan terbesar gue," gumam Ardian dengan nada penuh penyesalan.
"Ck. Kau belum bisa menguasai pelajaran hidup. Bersiaplah untuk terus belajar," kata Gabriel kemudian ia kembali menghilang.
"Apa yang kamu maksud? Hei jangan pergi dulu!" teriak Ardian yang sudah tak mendapat jawaban.
Tok. Tok. Tok. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya beberapa kali. Ardian pun langsung berjalan mendekat dan membukanya. Cekrek! Suara decitan pintu saat Ardian membukanya. Seketika muncul sosok Sang Mama dari balik pintu kaca buram itu.
"Mama," panggil Ardian sambil memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu. Maklum, ia memang sudah lama tidak bertemu dengan wanita ini. Sebab, setelah ia meninggalkan perjodohan dan menikah dengan Saskia ia memutus hubungan dengan kedua orang tuanya.
"Kamu ini kenapa?! Kayak nggak pernah liat Mama saja," balas Mamanya bingung. Ia pun segera melepas pelukan anak sulungnya itu. Lalu berjalan memasuki ruangan anaknya tanpa sungkan. Sepertinya ia sering masuk ke dalam ruangan ini. Lihat saja cara berjalannya yang terasa ringan seperti sudah biasa.
Melihat Mamanya sudah masuk ke dalam Ardian pun segera mengikutinya.
"Ada apa Mama ke sini?" tanya Ardian bingung.
"Kamu tanya kenapa?! Apa kamu lupa? Kalau kemarin kamu janji mau memberikan uang untuk membayar biaya kuliah adikmu?" balas Mama Ardian sewot. Ia yang sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Ardian itu pun melengos melihat anaknya mendekat.
"Benarkah? Kapan aku menjanjikannya?" tanya Ardian semakin bingung. Bukannya ia baru saja berubah menjadi suami Yolanda sejak tadi pagi. Kenapa Mamanya datang dengan menagih janjinya yang kemarin. 'Kapan aku menjanjikan sesuatu padanya?' tanya Ardian di dalam hatinya.
"Ck. Kamu sudah mirip malin kundang saja ya. Mentang-mentang sudah punya istri orang kaya. Kamu jadi melupakan kedua orang tuamu yang sedang menderita. Mau kamu Mama kutuk menjadi batu," ujar Mama Ardian sambil beranjak dari duduknya.
"Ma. Sabar, Ma. Mama ini kenapa? Nggak usah marah-marah gitu dong. Kalau Mama butuh uang nanti aku transfer. Berapa pun yang Mama inginkan?" ujar Ardian yang langsung membuat senyum di wajah Mamanya merekah.
"Oh. Begitu ya. Kalau gitu Mama minta Tiga puluh juta, ya? Nggak papa, kan?" ucap Mama Ardian sambil mengelus lengan atas Ardian.
"Hah?! Apa?! Tiga puluh juta, Ma. Bayaranku saja tidak sampai segitu sebulan," balas Ardian setengah berteriak.
"Ck. Bayaran??! Ini kan perusahaan istrimu. Bukan milik orang lain. Jadi, kamu pun memiliki hak atas laba perusahaan setiap harinya. Kenapa kamu memikirkan bayaran," timpal Mama Ardian kesal. Ardian pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, Ma. Iya. Oke aku transfer uangnya. Tiga puluh juta sudah ditambah biaya kuliah Jordi, kan?" kata Ardian sambil merogoh saku dalam jasnya. Lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku tersebut.
"Tiga puluh juta itu untuk kebutuhan Mama. Kalau ditambah uang kuliah Jordi jadi lima puluh juta," ujar Mama Ardian entheng.
"Apa?!" Ardian pun tersentak kaget mendengar kata-kata yang barusan diucapkan Mamanya. "Mama itu ada kebutuhan apa, Ma? Tiga puluh juta itu bukan uang sedikit," tambah Ardian heran. Bahkan, ia sendiri pun belum pernah melihat uang sebanyak itu dari dulu.
"Kamu mulai pelit sama Mama. Kemarin kamu liburan ke luar negeri sama teman-teman kamu. Udah menghabiskan uang ratusan juta. Dan istrimu pun nggak masalah, kan?!"
"Hah?! Liburan keluar negeri? Kapan? Aku tidak pernah melakukannya?" tanya Ardian yang semakin terlihat kebingungan dengan ucapan Mamanya itu.
"Kamu masih berkilah. Lalu ini apa?" Mama Ardian pun mengeluarkan ponsel pintarnya lalu membuka salah satu sosial media i********:. Ia pun menunjukkan gambar-gambar Ardian sedang jalan-jalan di luar negeri. "Gimana? Masih mau mengelak?"
"Oke. Mah aku kirim uangnya segera," balas Ardian dengan kepala yang sudah nyut-nyutan.
"Nah. Gitu dong."