Bab. 10 Kehidupan Baru Dimulai

1122 Words
Ardian mengucek matanya saat secercah cahaya berhasil menerobos kedua kelopak matanya. Untuk beberapa kali lelaki itu mengerjapkan matanya. Dan seketika ia pun terlonjak kaget saat mendapati sosok Yolanda sedang tertidur pulas di dalam pelukannya. "Hah?!" pekik Ardian sambil menjauhkan diri dari tubuh Yolanda yang sedang memeluk pinggangnya. Jelas saja, akibat gerakan mendadaknya itu Yolanda menjadi terbangun. Lalu menatapnya aneh. "Kamu kenapa sih?" tanya Yolanda bingung. "Aku dimana? Ngapain kita tidur di sini?" tanya Ardian balik dengan keadaan yang lebih bingung lagi. "Nggak usah ngeprank aku. Kamu pura-pura amnesia ya. Sumpah itu nggak akan kena," balas Yolanda sambil kembali memeluk pinggang Ardian kembali. "Empat tahun sudah kita bersama. Kamu masih saja suka godain aku," tambah Yolanda. Sambil mempererat pelukannya. 'Empat tahun sudah kita bersama Yolanda? Apa itu artinya gue sudah berubah menjadi suami Yolanda? Terima kasih Gabriel. Ternyata apa yang elo omongin benar,' ujar Ardian dalam hati. "Mikirin apa sih? Kok diem aja. Cewek lain ya?" ucap Yolanda sambil mengusap pipi Ardian yang mulus. "Enggaklah. Mana mungkin aku bisa memikirkan wanita lain sedang aku sudah memiliki wanita secantik dirimu," puji Ardian sambil meraih dagu Yolanda lalu mengecupnya dengan gemas. "Ah. Kamu Bisa aja deh,"ujar Yolanda sambil mengangkat punggungnya hingga dalam posisi duduk. "Eh, udah siang nih. Kita harus bersiap-siap buat berangkat ke kantor. Bukannya kemarin kamu yang bilang ada meeting dengan klien baru hari ini?" tambahnya saat manik matanya melihat jarum panjang jam berada di angka tiga dan jarum pendek berada di angka enam. "Heemzz… masih pagi banget nih. Lima belas menit lagi deh," balas Ardian sambil menutup badannya dengan selimut hingga menutupi ujung kaki sampai ujung kepalanya. Sreeett! Yolanda segera menarik selimut itu hingga menunjukkan badan suaminya tercinta. "Ayo!!!" ajak Yolanda sambil terus menarik suaminya agar keluar dari atas tempat tidurnya yang empuk. "Lima belas menit lagi ya Yo," ujar Ardian dengan mata yang masih terpejam. "Ooh lima belas menit lagi ya. Nih, aku kasih lima belas menitnya," sahut Yolanda lalu menggelitik pinggang Ardian. Lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu pun langsung terlonjak. Kaget. Tak mengira ia akan mendapat serangan klitikan dari Yolanda yang kini sudah menjadi istrinya. "Hahaha. Hentikan. Hentikan," ujar Ardian memohon. Namun, bukannya mendengar permintaan suaminya. Yolanda justru semakin gencar menggelitiki pinggang suaminya. Sebab, ia paling tau kalau sang suami sangat tidak bisa digelitik pinggangnya. "Nggak. Aku nggak akan berhenti menggelitiki pinggang kamu kalau kamu nggak segera turun dari tempat tidur," ancam Yolanda tak mau kalah. "Hahaha. Oke. Oke. Oke. Haha. Aku turun sekarang. Hahaha," ujar Ardian akhirnya. Ia pun menurunkan kakinya satu persatu ke atas lantai yang dilapisi oleh sebuah permadani yang sangat lembut. Sampai-sampai Ardian pun enggan menginjaknya. "Nah gitu dong," kata Yolanda lagi. Saat melihat usahanya pagi ini mulai membuahkan hasil. "Hehe. Kamu kan juga mau ke kantor. Bagaimana kalau kita mandi bareng," ujar Ardian sambil menggerakkan alisnya naik turun. Mata Yolanda pun membulat seketika. "Ih, nggak-nggak. Hii…. Malu tau?" balas Yolanda sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Hehe. Kali aja kamu mau," ucap Ardian sambil nyengir kuda. "Ck. Enak aja. Kamar mandi di rumah ini kan banyak. Kita tinggal pilih saja kamu mau pakai yang mana," ujar Yolanda lagi. "Hehe iya sih," balas Ardian sambil tersenyum manis. Ardian pun segera melakukan apa yang istrinya perintahkan, yaitu segera mandi dan siap-siap ke kantor. Setelah lima belas menit mandi di bawah air guyuran shower yang sudah di set sedikit hangat. Ardian pun akhirnya keluar dengan menggunakan handuk yang terlilitnya di pinggangnya. Segera ia membuka lemari kayu yang berada di samping meja rias. Beberapa menit berlalu untuk memakai sebuah setelan jas berwarna dongker yang di kombinasi dengan kemeja warna merah maroon dan dasi yang berwarna senada. Beberapa menit berkutat dengan penampilannya. Akhirnya Ardian pun menyunggingkan sebuah senyuman. "Dan inilah gue yang sekarang. Ardian Yudistira, seorang Direktur Utama perusahaan… perusahaan apa ya?" ucapnya seakan pada bayangannya yang ada di balik cermin. "Entahlah, nanti juga gue tau," lanjutnya masih dengan nada penuh semangat. Lima menit kemudian. Ardian berjalan keluar kamarnya. Ia pun sedikit celingukan saat mencari keberadaan Yolanda. Maklum, dia kan belum pernah datang ke rumah Yolanda yang berukuran hampir seribu lima ratus meter persegi itu. Pantas saja jika Ardian tersesat. "Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita muda. Mungkin sekitar umur dua puluh lima tahunan. Sambil membawa kemoceng di tangannya. Tanpa Ardian tanya pun dia sudah tau kalau wanita cantik ini adalah seorang pembantu di rumah ini. "Ehms…. Saya sedang mencari, Nyonya," ucap Ardian sedikit gelagapan. Tengsin juga kalau dia sampai ketahuan tersesat di rumahnya sendiri. "Oh, Nyonya sedang berada di ruang makan, Tuan. Nyonya pun sudah menunggu Tuan untuk sarapan bersama," jawabnya dengan sopan. "Di ruang makan? Yang di sebelah sana?" tanya Ardian sambil menunjuk ruangan yang berada di sisi kiri ia berdiri. "Maaf, sebelumnya Tuan. Tapi, ruangan itu ada di sebelah sana," ujar si wanita pelayan tadi sambil menunjuk ke lorong yang ada di belakang Ardian dengan wajah bingung. "Oh, iya. Hahaha. Selamat ya kamu pagi-pagi sudah kena prank. Mana mungkin aku lupa dengan rumahku sendiri? Hahaha," ujar Ardian agar dia tidak curiga. "Oh, begitu ya," kata si pelayan tadi dengan wajah yang masih bingung. Sedang Ardian pun segera pergi dari tempat itu sebelum si pelayan menyadari kejanggalan yang dilakukan Ardian saat ini. Setelah berjalan sesuai arah yang ditunjukkan si pelayan muda tadi. Ardian pun segera menemukan Yolanda di sebuah meja makan yang cukup panjang dengan kursi yang berjajar rapi mengelilinginya. 'Wah, ini ruang makan atau ruang rapat? Banyak bener kursinya,' ucap Ardian dalam hati. Tapi, ia hanya punya sedikit waktu untuk mengagumi ruangan besar ini. Sebab, Yolanda pun langsung menyadari keberadaan Ardian di ruangan itu. "Ayo! Kita sarapan dulu. Setelah ini biar aku antar kamu ke kantor. Mobil kamu masih di bengkel kan?" ujar Yolanda. "Iy… iya," balas Ardian tergagap. Dengan cekatan Yolanda pun mengisi piring kosong di tangannya dengan nasi Goreng Sosis dan bakso di depannya. Setelah ia merasa cukup piring itu segera di hadapkan ke arah Ardian. Sejenak Ardian pun terpana. 'Yolanda ini memang istri is the best. Cantik, pintar dan bisa melayani suami dengan baik lagi,' puji Ardian dalam hati sambil terus menatap wanita yang berada di seberang meja. Dan Ardian pun merasa pagi ini adalah pagi yang paling damai di hidupnya. Tidak ada ocehan Saskia, tangisan bayi ataupun rengekan Danu yang minta disuapilah, dimandiin lah dan lain-lain. Makanya Ardian segera menikmati hidangan di hadapannya dengan nyaman tanpa ada gangguan. "Kamu janjian sama klien dimana?" tanya Yolanda memecahkan kesunyian yang sempat terbentuk karena sibuk dengan isi piring masing-masing. Ia pun selanjutnya meraih gelas s**u putih kesukaan Yolanda. "Hah…. Uhuk. Uhuk." Ardian pun tersedak saat sebuah pertanyaan yang jelas ia tak bisa jawab itu dilayangkan oleh Yolanda. "Minum. Minum. Kamu sih! Pelan-pelan dong makannya," ujar Yolanda dengan sedikit panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD