Bab. 9 Warna Keajaiban

1070 Words
"Oke. Sekarang sebutkan keinginan terbesarmu?" ucap Gabriel dengan nada yang penuh tantangan. Bukannya segera menyebutkan apa yang sejak tadi ia pikirkan. Ardian justru terdiam. Sungguh, apa yang dihadapan Ardian sekarang masih sangat sulit diterima akal sehatnya. Bagaimana tidak? Tiba-tiba Gabriel datang setelah Ardian memutar benda mirip bulu di tangannya itu. Ditambah lagi penampilannya yang sudah mirip dengan para pemain drama kolosal dengan sayap yang menempel di kedua sisi punggungnya. Duh, siapa yang tidak takut bercampur bingung coba. Jika harus berhadapan dengan makhluk seperti ini. "Kenapa? Masih belum percaya?" tanya Gabriel lagi. Lagi-lagi Ardian pun menggeleng lemah. Ardian memang orang yang realistis. Maklum, ia lahir dan besar di kota besar macam Jakarta ini. Pendidikannya yang ditempuhnya pun cukup tinggi disertai ilmu agama yang cukup bagus pula, membuatnya tak mudah mengenal mahkluk-makhluk astral yang ia namai takhayul itu. Jadi, untuk menerima hal-hal yang di luar nalar seperti ini, baginya masih sangat sulit untuk mempercayainya. "Baiklah," lanjut Gabriel sambil beranjak dari duduknya. "Bagaimana dengan kehidupanmu selama ini? Kau merasa Bahagia?" tambah Gabriel yang langsung membuat Ardian tersentak. Ardian pun langsung menatap punggung Gabriel. "Bagaimana dengan wanita yang kau temui semalam? Apakah kau merasa dia lebih baik dari takdirmu sekarang?" ujar Gabriel lagi. Ardian pun semakin bingung dengan ucapan makhluk aneh di depannya. Padahal, ia belum pernah menceritakan masalah pribadinya itu dengan siapapun. Termasuk juga sahabat satu profesinya, Naufal. 'Tapi kenapa dia bisa tau?' batin Ardian lagi. "Apa kamu membuntutiku sejak tadi malam? Bagaimana kau bisa tau semua itu?" tanya Ardian terheran-heran. "Heh. Sudah kubilang, kan? Kalau aku ini seorang Dewa. Jadi, aku tau semua yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini," jawab Gabriel sambil membalikkan badannya memunggungi Ardian kembali. "Lalu apa kamu bisa membantuku?" kata Ardian dengan cepat. Entah kenapa kini otak modernnya menghilang seketika. Dan mulai mempercayai perkataan makhluk aneh di depannya itu. "Untuk menukar takdirmu dan merubah peta kehidupanmu?" tanya Gabriel balik. Sambil berjalan ke salah satu dinding ruangan itu yang dipenuhi dengan hiasan tanaman plastik yang berbunga kecil-kecil. Gabriel pun menatap tanaman hias plastik yang tertata rapi untuk mempercantik dinding ruangan itu. Gabriel pun merasa heran dengan tumbuhan di bumi yang sangat kasar dan kaku itu. Namun, ini bukan waktunya ia membahas itu. "Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Ardian antusias. Sambil berjalan mendekati Gabriel dengan sedikit terburu. Ia tak bisa membayangkan kalau akhirnya ia bisa menjadi suami Yolanda yang kaya raya itu. "Tentu. Itu sangat mudah," balas Gabriel sambil menjentikkan jari kelingkingnya. Membuat mata Ardian langsung membulatkan matanya tak percaya. "Kalau begitu tolonglah aku. Hai Dewa Penolong," ujar Ardian setengah memohon. 'Mungkin ini akan terdengar gila, tapi kalau Gabriel benar-benar bisa bantuin gue. Gue yakin kalau gue bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya,' ucap Ardian dalam hati. Hatinya pun semakin tak sabar jika ia akan benar-benar menjadi suami Yolanda. "Ck. Apakah kau sudah yakin kalau memang dia lah orang yang tepat dan bisa membuatmu merasa bahagia?" tanya Gabriel yang lagi-lagi mendengar apa yang Ardian ucapkan dalam hati. Kening Ardian pun kembali bertautan. "Kamu mendengarkan kata hatiku lagi?" Lagi-lagi Ardian merasa bingung dengan kelakuan dari makhluk misterius ini. "Haruskah aku menjawab hal yang sama untuk ribuan kalinya?" tanya Gabriel mulai terdengar kesal. Karena Ardian belum juga percaya dengan perkataannya. "Tidak. Tidak. Iya, aku percaya sekarang," balas Ardian cepat-cepat. Takut membuat Gabriel marah lalu ia mengutuknya menjadi manusia kera. Atau malah manusia babi? Bisa-bisa nanti mereka malah melakukan perjalanan ke barat untuk mencari kita suci. Eh! Kembali pada Ardian yang tengah menatap Gabriel dengan wajah penuh permohonan. Gabriel pun menoleh ke arah Ardian sekilas. Lalu kembali membuang wajahnya ke arah dinding lagi. "Kau yakin? Apa kau tidak akan menyesal?" tanya Gabriel meyakinkan. Sungguh, ia tidak mau kalau Ardian akan menyesal nantinya. Dan dia pun akan semakin terlihat bodoh di pandangan para Dewa di atas sana. Dengan penuh semangat Ardian pun mengangguk mantap. "Iya. Aku yakin. Aku tidak akan menyesal. Karena memang sudah lama aku ingin menjadi seorang Direktur Utama. Dan menjadi suami Yolanda aku bisa otomatis menjadi Direktur Utama," ucap Ardian dengan mantap. Matanya pun menatap ke depan. Menerawang. Membayangkan jika ia sudah menjadi Direktur Utama di salah satu perusahaan milik keluarga Yolanda. "Oke. Baiklah. Jika itu bisa membuatmu merasa lebih bahagia. Duduklah sekarang," titah Gabriel. "Duduk? Di sofa itu?" tanya Ardian bingung. "Iya. Kenapa? Masih belum percaya juga?" tanya Gabriel balik. Sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Hehe. Percaya. Percaya," balas Ardian sambil duduk di sofa yang tadi sempat didudukinya. "Lalu menggunakan bulu burung pelangi yang kau pegang itu. Putarlah beberapa kali," lanjut Gabriel. "Maksudmu? Bulu warna-warni yang berkilauan ini?" tanya Ardian lagi. "Iya. Itu bulu burung pelangi dari telaga Paesjiwa tempat para Dewi berendam untuk mempercantik diri," jelas Gabriel dengan tak semangat. Sebab, ia jadi teringat dengan tantangan Lucas yang membuatnya kini terdampar di dunia manusia. "Hah? Tempat para Dewi berendam? Kenapa bisa terbawa saat kau datang? Atau jangan-jangan…," ujar Ardian mulai berani mengajak Gabriel bercanda. Kedua alis Ardian pun ia gerakkan ke atas dan bawah beberapa kali. "Eh, nggak usah mikir macam-macam. Atau aku urungkan kebaikanku untuk merubah nasibmu," balas Gabriel mengancam. "Eits. Jangan. Jangan. Sorry-sorry. Aku cuma bercanda kok. Hehe," balas Ardian sambil nyengir kuda. Gabriel pun melirik ke arah Ardian yang sedang berusaha mempertahankan senyumnya. Untuk beberapa menit ia hanya menatap manusia itu. Lalu setelah ia menghembuskan nafas berat. Gabriel pun membalikkan badannya. "Ya, sudah. Lakukan saja apa yang aku perintahkan," kata Gabriel dengan sedikit lantang. "Iya. Iya. Bulunya diputar-putar begini, kan?" ujar Ardian sambil memutar-mutar bulu yang terasa sangat halus di tangan Ardian. 'Kalau bulu burung aja sehalus ini. Apalagi kalau benang sutranya di sana ya. Pasti halus banget,' ucap Ardan dalam hati. "Udah terus apa lagi?" tanya Ardian mulai tak sabaran. "Kau perhatikan saja. Warna-warni bulu burung pelangi itu sampai menjadi satu warna yang indah," ucap Gabriel yang langsung membuat Ardian terus memutar bulu di tangannya. Seperti perintah Gabriel, Ardian pun terus mengawasi warna-warni bulu burung pelangi yang ia putar-putar di tangannya. Hingga semakin lama warna itu semakin berbaur menjadi satu. Warna-warni bulu burung pelangi yang tadi nampak indah kini pun membentuk satu warna yang baru saja dilihat oleh Ardian. Mungkin bagi penduduk bumi itu adalah warna baru dari puluhan jenis warna yang selama ini menghiasi dunia. Dan entah kenapa, semakin lama mata Ardian menatap warna yang berkilauan itu. Semakin matanya terpaku pada warna yang terlihat menakjubkan itu. Seakan terbius. Hingga akhirnya….. Bin salabin!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD