Ardian menggeliat saat secercah cahaya terang menusuk di kedua bola matanya. Ia pun mengucek matanya agar pandangannya bisa kembali jelas. Ardian pun melirik ke arah jam dinding yang tertempel tepat menghadap ke arahnya. Sudah pukul 12.00 siang. Ia tak menyangka bila sudah tidur sampai sesiang ini.
Ardian pun beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Segera ia menggosok gigi lalu mencuci wajahnya dengan sabun wajah khusus pria. Ia pun melepas semua pakaiannya untuk segera membersihkan diri. Setelah merasa segar dengan guyuran air dingin dari shower yang menggantung. Ardian pun kembali ke kamarnya lalu mencari pakaian santai untuk segera menghangatkan badannya yang basah. Beberapa menit kemudian Ardian pun keluar dari kamarnya.
"Sas. Saskia!!" panggilnya yang tak sadar kalau istrinya sudah pergi ke rumah mertuanya tadi pagi.
Ardian pun mencari sang istri dan kedua anaknya di beberapa ruangan dalam rumahnya. Saat ia masuk ke dalam ruang makan, matanya langsung melihat tutup saji yang masih rapi dengan selembar kain khusus di atasnya agar tak dihinggapi lalat.
Akhirnya dia baru sadar kalau Saskia sudah berangkat ke rumah orang tuanya tadi pagi. Ardian pun membuka tutup saji yang berada di tengah-tengah meja makan. Saat melihat terong balado, ayam goreng dan sayur asem, entah mengapa ia pun merasa tidak selera. Ardian menghembuskan nafas beratnya lalu menutup tutup saji itu kembali.
Ardian berjalan ke arah ruang keluarga lalu menghempaskan badannya ke atas sofa yang menghadap ke arah televisi berukuran empat puluh satu in yang ia beli pada saat awal pernikahannya dulu. Ia pun menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Entah mengapa ia sudah mulai jenuh dengan kehidupan sederhananya ini. Makan pun hanya itu-itu saja. Membuat selera makannya menguap seketika.
Tiba-tiba ingatannya melayang pada pertemuannya dengan Yolanda semalam. Wanita itu terasa penuh pesona semalam. Gaya bahasanya, penampilannya apalagi jabatannya. Sungguh membuat Ardian berdecak kagum tak henti-henti.
"Seandainya dulu gue menuruti omongan Mama dan menerima perjodohan dengan Yolanda. Pasti hidup gue nggak kayak gini. Gue pasti udah hidup enak. Jadi, bos besar lagi. Nggak terus-terusan mengurusi tempat usaha orang dan mendapat tekanan dari kiri kanan," gumam Ardian sambil membayangkan posisi suami Yolanda yang menjabat sebagai Direktur Utama salah satu perusahaan besarnya.
"Gue nggak perlu diperintah-perintah, disalahkan dari kesalahan yang tidak gue lakukan. Apalagi membuat orang lain kaya sedang gue masih gini-gini aja. Heh, enak deh pokoknya," tambah Ardian sambil terus membayangkan jika ia bisa menjadi suami Yolanda dulu.
"Bener-bener malam yang indah. Padahal, baru empat tahun gue nggak ketemu sama Yolanda. Kenapa sekalinya ketemu, dia sudah menjadi wanita spektakuler seperti itu," puji Ardian.
"Andai gue bisa bertukar tempat dengan suami Yolanda. Pasti gue akan bahagia," lanjut Ardian masih bergumam pada dirinya sendiri.
Ardian pun membuka kedua matanya lalu menatap ke langit-langit ruang keluarga itu. Beberapa saat kemudian Ardian pun mengangkat kepalanya hingga kembali tegak. Dan tak sengaja matanya menangkap kilauan warna-warni yang berada di samping televisi Ardian pun segera beranjak dari duduknya sambil berjalan mengendap mendekati benda itu. Setelah berada di dekat benda yang tampak seperti bulu burung yang sangat halus itu, Ardian segera mengulurkan tangannya untuk meraih benda asing itu.
"Ini kan benda yang semalem gue temuin di halaman belakang," gumamnya.
Pikirannya pun terus melayang pada kejadian yang ia lalui semalam.
Flashback.
Malam itu jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, mata Ardian belum juga bisa terpejam. Ia pun duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menonton acara tv malam yang membosankan.
"Tapi, lumayanlah. Buat teman menunggu kantuk," gumam Ardian sambil duduk di sofa yang sengaja diletakkan berhadapan dengan televisi empat puluh satu in itu.
Saat Ardian sedang menatap layar kaca yang sedang menampilkan berita tentang puluhan mahasiswa yang sedang berdemo. Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan muncul dari balik kaca jendela yang tertutup gorden.
"Cahaya apa itu ya? Jangan-jangan ada bintang jatuh di halaman belakang," ucap Ardian. Dengan rasa penuh penasaran Ardian pun beranjak dari duduknya lalu dengan pelan ia berjalan keluar dari rumah.
"Bintang jatuh kan meteor. Kalau memang iya? Harusnya ada gempa dan halaman ruah gue bolong dong? Kenapa ini biasa-biasa saja?" Ardian hanya mampu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Matanya pun terus menatap sinar yang mencurigakan itu. Lalu Ardian berjalan ke balik pohon agar bisa melihat dengan semakin jelas. "Apaan itu ya?" tanyanya lagi.
Ardian pun memicingkan mata dan sedikit menutupinya dengan lengan. Agar kilauan itu tak merusak pupil matanya. Keningnya pun berkerut saat cahaya itu seakan kembali terbang ke arah cahaya di langit yang semakin meredup. Dan saat ia mencapai titik tertentu sinar itu kembali terhempas ke permukaan bumi. Begitu untuk beberapa kali. Hingga membuat Ardian menjadi bingung sendiri menyaksikannya. Apalagi saat sesuatu benda warna-warni melayang ke arahnya. Sepertinya terbawa angin yang berhembus ke arahnya. Ardian pun segera menangkapnya.
"Apaan nih?" ujar Ardian sambil membolak-balik benda yang mirip bulu burung itu.
Flashback end.
"Kira-kira ini apaan ya?" ucap Ardian sambil terus mengamati benda yang ada di tangannya. Tak sengaja jari telunjuk dan ibu jarinya memainkan benda itu hingga berputar-putar. Dan tiba-tiba….
Cling!! Sinar itu kembali datang tepat dihadapan Ardian. Hingga Ardian pun mundur beberapa kali saking kagetnya. Ardian pun menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Hai," sapa Gabriel sambil melambaikan tangan ke arah Ardian.
"Hah?!!! Si… siapa loe?!!" tanya Ardian ketakutan, sambil memundurkan langkahnya beberapa kali.
"Perkenalkan namaku Gabriel. Sang Dewa Penolong ," ujar Gabriel sambil menyilangkan kedua tangannya yang terkepal di depan d**a. Sedang kepalanya menunduk dalam-dalam. Begitulah cara mereka memberi hormat.
"De… dewa pen… nolong?! Benarkah?" tanya Ardian terbata. Ia pun mengucek matanya beberapa kali. Tak begitu yakin akan indera penglihatannya saat ini.
"Iya. Dan aku akan menolongmu memecahkan masalah terbesarmu? Jadi katakan saja. Apa yang membuatmu gundah selana ini?" ujar Gabriel sambil duduk di sofa yang diduduki Ardian tadi.
"Mas… masalah? Masalah apa yang kamu bicarakan?" tanya Ardian tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh makhluk misterius di hadapannya. Ia pun melangkah mendekati Gabriel sedikit demi sedikit. Ia pun melirik kaki Gabriel. 'Kali aja nggak napak di lantai. Berarti bisa jadi ia hanya makhluk jadi-jadian?' pikir Ardian dalam hati.
"Ck. Enak saja kau pikir aku makhluk jadi-jadian. Aku ini beneran keturunan para Dewa tau?!" kata Gabriel yang mendengar ucapan Ardian dalam hati.
"Ka… kamu bisa denger kata hati gue?" tanya Ardian semakin bingung.
"Jelas dong. Aku kan Dewa. Masa untuk mendengar kata tak penting begitu saja aku tak mampu." Ardian tak menjawab, ia hanya menatap Gabriel dengan tatapan penuh curiga. "Kenapa? Masih tak percaya?" tanya Gabriel. Ardian pun masih terdiam. Sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Oke. Sekarang sebutkan keinginan terbesarmu?" ucap Gabriel dengan nada yang penuh tantangan.