"Aaaaa empat hari lagi olimpiade gue Gaaaa! Dan gue belum pernah belajar serius, kalo gue kalah gimana ya?" ucap Adisa yang terus menatap buku paket tebal dengan banyak coret-coretan didalamnya.
"Belum pernah belajar lo bilang? Ca, lo udah gila!"
Adisa menatap Haga dengan penuh pertanyaan. "Kenapa?"
"Udah lah lupain, mending lo beresin barang bawaan lo buat ke Semarang besok,"
"Gue nggak bisa fokus kalo ada lo," celetuk Adisa sambil memegangi kepalanya.
Haga lalu menyeringai. "Haha gue tau, pasti karena gue terlalu tampan kan?"
"Pede banget lo Ga!"
"Terus kenapa?"
"Lo berisik tau!" seru Adisa sambil mencubit bibir Haga yang terus mengoceh tak henti-hentinya.
"Yaudah gue pake headphone aja deh," balas Haga kemudian laki-laki itu berjalan mengambil headphone miliknya di meja rias milik Adisa.
"Wiiihh udah bisa dandan, buat siapa?" celetuk Haga saat ia melihat banyak skincare dan make up disana.
Adisa memutar matanya malas, lalu ia beranjak menuju kopernya.
"Besok kalo gue kangen sama lo gimana?" celetuk Haga lagi kepada Adisa.
"Katanya lo mau dateng pas hari H?"
"Oh iya Ca!" seru Haga yang membuat Adisa terkejut.
"Apa?"
"Coba deh lo kabarin Om Zaki, siapa tau orang yang kita pikir itu Buna Adhis sama Ayah Tama dateng, gimana?" tanya Haga dan Adisa menjentikkan jarinya.
"Gila Ga lo pinter banget sih, cocok lo jadi detektif kayaknya!" seru Adisa kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi Zaki.
"Halo Om? Sibuk kah?" tanya Adisa saat panggilan ponselnya diangkat oleh Zaki.
"Halo Ca, tumben nih kamu sering telpon Om. Nggak sih, kenapa Ca?"
"Ini empat hari lagi aku olimpiade, kalo Om mau dateng nanti aku kasih alamatnya di Semarang,"
"Wah keren, kirim aja alamatnya, kalo bisa dateng nanti Om dateng. Tapi nggak janji ya, soalnya kan lagi mau launching toko baru di Papua," jelas Zaki.
"Yahhh, yaudah nanti ku kirim via w******p yah,"
"Iya Ca, yaudah Om matiin ya teleponnya. See you Dica," jawab Zaki dan laki-laki itu mematikan sambungan teleponnya dengan Adisa.
"Iya baru inget, Toko Buna sama Ayah mau launching baru di Papua, dan kayaknya Om Zaki nggak akan datang, Oma sama Eyang juga kayaknya nggak datang," jelas Adisa dengan raut wajah sedihnya.
Haga lalu berusaha memeluk sahabatnya tersebut. "Yaudah nanti gue ajak Mommy, Daddy, Alex, Fattah sama Reina. Gimana?"
"Tumben ajak Fattah? Udah baikkan kah kalian?"
"Out of topic ah aku nggak suka, yaudah yuk aku bantu beres-beresin barangnya," ucap Haga kemudian ia membantu Adisa memilih baju untuk tiga hari kedepan saat di Semarang.
***
Saat ini jam setengah tujuh pagi Adisa dan beberapa murid lain yang mengikuti olimpiade sudah berkumpul di lapangan sekolahnya. Disana juga ada Haga yang membantu Adisa untuk membawakan koper dan barang-barang lainnya.
"Ca, Oma kamu telpon," panggil Haga sambil memperlihatkan nama 'Oma Dica' diponsel milik Haga.
"Bilang aja udah dianter sama kamu, aku lagi siap-siap mau keatas gitu," jawab Adisa ketus.
Beberapa saat kemudian Fattah datang dari kejauhan dengan tas gemblok dan tote bag nya, laki-laki itu berjalan kearah Adisa dan Haga.
"Kok bawa tas? Lo ikut olimpiade emang?" tanya Adisa kepada Fattah yang baru saja sampai dihadapannya.
"Gue kan jadi panitia disini,"
"Oh i know, bagus deh,"
"Tah, jagain Adisa ya, nanti H-1 gue nyusul kesana," ucap Haga yang masih menelpon Intan.
"Pasti,"
"Ca, Oma mau ngomong," bisik Haga sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Adisa terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk dan Haga langsung memberikan ponselnya kepada Adisa.
Adisa berjalan sedikit jauh agar tak ada seorangpun yang mendengar pembicaraannya. "Ya Oma kenapa?"
"Ca, nanti H-1 atau hari H Oma sama Eyang kesana ya. Nanti Oma ajak Om Chandra dan Alex juga, tapi Oma nggak janji ya, soalnya kan cafe orangtua kamu lagi buka cabang baru. Kalau misal Oma sama Eyang nggak bisa dateng, nanti biar Om Chandra sama Alex yang kesana ya," jelas Intan dan Adisa sudah tidak kaget dengan omong kosong itu semua.
"Iya Oma, Dica juga udah tau kok pasti kalian nggak akan datang. Lagian juga udah ada Haga sama orangtuanya mau dateng katanya,"
"Tapi nanti Oma usahain datang ya, semangat!"
"Ya Oma makasih," jawab Adisa dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan Haga dari kejauhan hanya memperhatikan Adisa dengan raut wajah yang mulai berubah, Ia kemudian berjalan mendekati Adisa.
"What's wrong?" tanya Haga lirih saat sampai disamping Adisa.
Tanpa basa-basi Adisa langsung memeluk sahabat laki-lakinya tersebut dan menumpahkan segala tangisnya dibahu laki-laki itu.
Haga yang mengerti Adisa sedang tidak baik-baik saja itu langsung membalas pelukan Adisa sambil mengelus-elus punggung sahabatnya, dirinya berusaha menenangkan Adisa.
"Harusnya tadi gue nggak usah ngomong sama Oma," lirih Adisa yang masih memeluk Haga dengan sangat erat.
"Kenapa?"
"Gue nggak mau ikut olimpiadenya," gumam Adisa tepat ditelinga Haga.
"Ca?!" seru Haga dan langsung melepaskan pelukannya dengan Adisa secara paksa.
"Jangan gila lo! Udah sana masuk, nanti ditinggal aja," sambung Haga lalu ia membawa Adisa berjalan menuju bus yang akan mengantar Adisa ke Semarang.
"Ga," panggil Adisa lirih.
"Apa sayang?" jawab Haga yang membuat beberapa siswi menengok ke arah nya.
"Kalo gue berhasil sama olimpiade ini, apa mereka bakal bahagia dan mengapresiasi prestasi gue?" gumam Adisa dan Haga hanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Anak-anak yuk kita semua masuk ke dalem bus nya, lima menit lagi kita berangkat!" seru Mr. Jovhan sambil menepuk-nepukkan tangannya.
Siswa dan siswi yang mengikuti olimpiade tersebut langsung buru-buru masuk kedalam bus tersebut.
Cup.
Satu kecupan yang diberikan Haga kepada Adisa mendarat dengan sempurna di pipi kanan miliknya. Adisa yang terkejut langsung membelalakkan matanya, sedangkan Haga hanya tersenyum tanpa dosa.
"Semangat ya Dica sayang, kalo kamu butuh seseorang yang mau kamu aja ngobrol, telpon aja aku atau video call. Nanti H-1 aku, Mommy sama Daddy nyusul ya, semangat Dica!" seru Haga yang terus berusaha mengembalikkan mood Adisa yang sempat hilang.
"Thank you Mr. Griffin," balas Adisa dan ia langsung bergegas masuk kedalam bus.
Haga dari luar bus hanya memperhatikan Adisa yang duduk di kursi paling belakang bersama Fattah, memperhatikan bus tersebut yang perlahan-lahan mulai menjauhi dirinya.
"Sorry Ca, gue nggak berniat ngerusak lo seriusan," gumam Haga lalu ia memukul mulutnya sendiri dengan tangannya.
Sedangkan didalam bus tersebut, Adisa masih dengan senyumnya sambil terus memegangi pipi kanan yang beberapa menit lalu dikecup oleh sahabat laki-lakinya.
'Andai yang ada disebelah gue elo Ga, bukan Fattah,' gumam Adisa yang masih setia memegangi pipi kanannya tersebut.