Sampai Kau Muak

1474 Words
— Bagaimana aku sanggup menemuimu, yang kucintai tapi telah mengikat janji dengan pria lain — — Mahaksha Hastungkara — * Lega rasanya setelah Iselin bisa keluar dari rumah nenek Rhaevan. Semenjak ia datang ke rumah tua itu, ia telah diberondong sejuta pertanyaan oleh neneknya. Mulai bertanya dimana keberadaan sang suami, kenapa tidak ikut pulang kampung, lalu kenapa Iselin harus pulang dulu, kenapa Iselin belum juga hamil, sampai menyarankan untuk melakukan promil. “Bagaimana mau promil …,” gumam Iselin mengalir seirama dengan langkah kakinya menelusuris gang menuju kembali ke rumah orang tuanya. Banyak kebohongan yang telah ia katakan hari ini, rasanya seperti begitu sesak layaknya ditekan dengan batu yang super besar. Sepanjang sore ia ingin sekali kabur dari rumah nenek Rhaevan yang begitu banyak bertanya. Tidak hanya bertanya saja, nenek Rhaevan juga memberi banyak wejangan. Memberi nasehat kepada Iselin, bahwa perempuan itu layaknya selalu melayani suami, tidak boleh terlalu sibuk dengan dunia sendiri hingga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak boleh membuat suaminya merasa kesepian. Kesepian … Apakah Rhaevan merasakan kesepian hingga mencari kehangatan pada pelukan lain? Iselin berhenti untuk sejenak, pikirannya melayang-melayang kembali pada saat dimana kehadiran wanita itu bahkan tidak terbayangkan oleh Iselin. Jika Iselin tidak salah, Rhaevan selalu menghabiskan waktunya untuk rumah sakit, calon mantan suaminya itu bekerja dengan penuh dedikasi. Masih segar dalam ingatan Iselin dulu saat Rhaevan masih sebagai dokter residen waktunya selalu tersita untuk keperluan rumah sakit. Pernah sekali Iselin memergoki Rhaevan pulang ke rumahnya, pria itu menunggu di depan gang, terlihat begitu lelah, saat Iselin hendak menghampiri langkahnya terhenti saat menyadari kemana pandangan Rhaevan tertuju—pada sosok menawan yang sedang berdiri di depan rumahnya dalam pelukan pria lain. “Dia tidak kesepian!” kesalnya sambil mengentakkan kaki, tangannya terkepal. Mengapa dari semua kenangan ia harus teringat kenangan itu. “Dia hanya menginginkan Clarice,” gumamnya rendah, merasa kalah. Lantas Iselin melangkah lagi, mengempaskan seluruh ingatan buruk yang tiba-tiba saja merangkul pikirannya. Berharap pikiran-pikiran itu akan segera musnah seiring dengan langkahnya yang semakin jauh dari rumah nenek Rhaevan. Jalanan lengang, hanya beberapa toko yang masih membuka pintu dengan cahaya temaram menembus kaca etalase. Namun ada sesuatu yang lain di antara sunyi itu, sesuatu yang membuat bulu kuduknya perlahan berdiri. Langkahnya melambat. Detak jantungnya terdengar di telinga sendiri, cepat dan tidak beraturan. Ia menoleh sekilas, berharap hanya imajinasinya yang bermain. Tapi perasaan itu tetap ada… seperti sepasang mata yang terus menatap dari balik gelap. Iselin berhenti. Dalam diam yang menusuk, ia menelan ludah, berusaha meyakinkan diri bahwa tak ada apa-apa. Namun keheningan justru terasa semakin dekat, seperti seseorang sedang menunggu ia berbalik. Perlahan Iselin menoleh, ingin memastikan firasatnya benar atau salah. Netranya melihat pada etalase kaca yang saat ini ada di samping kanannya. Deg. Jantung Iselin rasanya ingin berhenti berdetak, matanya membulat ketika menangkap sosok bayangan tinggi besar dengan pakaian serba hitam, menggunakan topi dan masker hitam sedang berdiri tak jauh di belakangnya. “Apa dia mau menculikku?” batin Iselin. Sesal dalam hatinya karena ia tidak membawa alat-alat pelindung diri yang biasa ia bawa dulu. Kini satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah melarikan diri. Meskipun dia tidak yakin apakah bisa lari dari sosok yang memiliki kaki begitu jenjang itu. Ah … yang penting kan dicoba dulu! Dan Iselin pun memulai langkah pertamanya untuk kabur dari sosok tersebut. Namun, baru juga beberapa langkah sosok itu malah menghadang langkahnya. Sosok itu berhenti tepat di depan Iselin. Karena langkahnya tak bisa di rem secara mendadak, alhasil Iselin menabrak tubuh tinggi besar itu. Keras sekali sampai Iselin terpental ke belakang. Beruntungnya dengan sigap sosok tersebut menjulurkan sebelah tangannya meraih pinggang Iselin agar tak terjerembab ke tanah dan menariknya kembali untuk berdiri. “Aakh! Lepaskan!” Iselin memberontak ingin melepaskan diri. Memukul-mukul tubuh bidang sosok tersebut agar rela melepaskannya. “Ini aku, ini aku!” Mendengar suara yang tidak asing ini Iselin berhenti memberontak. Namun matanya tak berhenti mencari kebenaran. Sosok itu menyadari ada tanya dalam netra Iselin, ia pun segera melepaskan masker dan menunjukkan wajahnya yang tampan di hadapan Iselin. “Lihat … aku bukan penjahat, Little bug.” Begitu ucapnya setengah mengejek ketakutan Iselin. “Kak Maha … apa ….” Wajah Iselin memerah karena melihat Maha begitu dekat dengan pandangannya, mungkin hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Iselin merasa tak nyaman hingga ia mendorong Maha pelan-pelan untuk memberikan jarak, melepaskan dekapan Maha dari pinggangnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya sambil melihat ke sekeliling mereka. “Apa kau juga sedang berlibur?” imbuhnya lagi. “Hmm, aku ambil cuti untuk berlibur,” balas Mahaksha sambil melengkungkan senyumnya. Pria itu sedikit membungkukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Iselin. “Baru dari rumah nenek Rhaevan?” tanya Mahaksha. “Iya … mama memintaku untuk mengantarkan lauk,” balas Iselin yang enggan untuk memandangi wajah Maha. Kebiasaan Mahaksha yang selalu menyejajarkan wajahnya ketika bicara dengannya sejak dulu itu selalu berhasil membuat wajah Iselin tersipu dan memerah bak tomat matang. “Tunggu, bukankah rumah keluargamu ada di kota sebelah. Kenapa kau kemari?” tanya Iselin lagi saat teringat dengan tempat keluarga Mahaksha yang ada di kota tetangga mereka. Tempat tinggal yang sangat megah dan terkenal paling luas di area tersebut. “Mmm, kenapa ya? Coba kau tebak, kenapa aku datang kemari?” nada godaan Mahaksha tak pernah berubah. “Mana aku tahu … aku bukan anak kecil lagi, aku tidak akan tertipu dengan pertanyaanmu.” “Begitu?” Mahaksha menarik tubuhnya dan berdiri tegap. Sesaat kemudian ia menepuk puncak kepala Iselin pelan. Kebiasaan lain—kebiasaan yang tampaknya tak pernah ia lupakan untuk dilupakan. Dan kebiasaan itu entah kenapa selalu membuat jantung Iselin mampu berdebar dua kali lebih cepat dengan irama yang tidak beraturan. Sesuatu yang aneh, Iselin selalu tidak suka perasaan seperti ini apalagi mereka sudah tidak bertemu selama tiga tahun lamanya. Karena hal itu ia akan selalu menampik tangan Mahaksha dari kepalanya. Sementara itu Mahaksha hanya selalu mengembangkan senyumannya yang menawan dengan segala tingkah laku Iselin. “Aku mau pulang, apa kakak akan mampir ke rumahku? Rune dan orang tuaku pasti akan terkejut melihatmu.” Ajak Iselin mengalihkan situasi yang canggung ini. “Sepertinya tidak akan begitu, tapi aku akan ikut denganmu.” Mereka lantas berjalan beriringan bersama. Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti langkah keduanya, hanya terdengar setiap langkah sepasang anak manusia itu. Terlihat sekali Mahaksha mengimbangi langkah Iselin, karena dengan kakinya yang sejenjang itu seharusnya ia berjalan dua kali lebih lebar dari Iselin. “Kenapa begitu?” tanya Iselin tiba-tiba. “Apanya?” “Kenapa Rune dan orang tuaku tidak akan terkejut dengan kedatanganmu?” tanya Iselin lagi, ia penasaran sekali. “Orang yang terkejut itu karena mereka sudah lama tidak bertemu.” “Apa maksudnya itu, bukankah kau sudah tidak pulang selama tiga tahun?” tanya Iselin lagi. Hawa dingin yang merasuk ke dalam pakaiannya membuat Iselin memeluk lengannya. Menyadari hal tersebut, Mahaksha langsung membuka jaket hitam yang dipakaianya dan ia sampirkan ke tubuh mungil Iselin. Tubuh itu seakan tenggelam dalam jaket besar miliknya. “Terima kasih,” ujar Iselin. “Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Kak.” “Aku selalu mengunjungi orang tuamu setiap tahun.” Langkah Iselin langsung terhenti saat mendengarnya. Kepalanya terangkat untuk melihat Mahaksha. “Apa maksudnya itu?” Pertanyaan itu membuat langkah Mahaksha juga terhenti. Entah mengapa jawaban Mahaksha itu membuat hati Iselin merasa sangat tidak nyaman. Tiga tahun… bahkan saat pernikahannya Mahaksha tidak hadir, alasannya karena ia harus segera berangkat dinas. Dan selama tiga tahun berikutnya ia sama sekali tidak pernah mendapatkan kabar dari pria yang dia anggap sudah seperti kakak kandungnya. Sekarang Mahaksha sendiri yang memberitahu jika ia selalu pulang setiap tahun dan mengunjungi orang tua Iselin. Iselin merasa dirinya sedang dihianati, ia kecewa, dan sangat sedih, seolah-olah perasaannya yang tulus menganggap Mahaksha sebagai kakaknya tak pernah dianggap seperti itu oleh pria yang sedang berdiri di hadapannya kini. “Aku hanya tidak sanggup menemuimu, bukan berarti aku tidak pulang.” Semakin tidak mengerti, wajah Iselin memanas, bingung dengan jawaban Mahaksha. Mengapa Pria itu tidak sanggup menemuinya? “Apa salahku?” Iselin mengepalkan tangan di kedua sisi dengan kuku jari yang menusuk ke dalam. Apakah semua orang memang ingin meninggalkannya? “Tidak ada.” “Kak Maha! Apa kau juga ingin meninggalkanku seperti Rhaevan? Seandainya kau tidak melihatku mabuk malam itu, apa kau tidak akan menemuiku selamanya? Apa benar begitu?” cecar Iselin yang tidak sadar jika suaranya sudah meninggi. Perempuan itu mengambil nafas, dengan mata bulat yang mulai berair itu, ia menguatkan tekad. “Apa … apa … apa kau tidak mau jadi kakakku lagi?” Mahaksha menarik tubuh Iselin ke dalam pelukannya. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menerima setiap pukulan yang dilancarkan oleh Iselin ke tubuh bidangnya. Biarlah ia menerima amarah gadis kecil yang selalu ia gendong dulu. “Katakan apapun yang kau mau … tapi mulai sekarang aku akan tetap disisimu sampai kau muak,” lirihnya sambil membelai rambut Iselin. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD