Tamu Tak Diundang

1603 Words
— Rumah kita yang kubangun penuh cinta dengan mati-matian, malah kau hancurkan. Apa kau begitu bodoh? — — Iselin Lakshita — * Tepat saat di halaman rumahnya, Iselin berhenti, matanya tertuju pada seonggok koper berwarna silver yang tergeletak di samping pagar rumahnya. Meski ragu-ragu, Iselin menebak jika koper itu adalah milik pria di sampingnya ini. Sepanjang perjalanan pulang setelah ia menuangkan semua kekesalannya karena Mahaksha tidak memberinya kabar selama tiga tahun terakhir, ia terus mengungkitnya sepanjang jalan. Yang terakhir sebelum sampai di rumah ia sempat mengancam Mahaksha. “Awas kalau kau berani meninggalkanku! Aku akan lapor pada polisi biar kau dipenjara.” Dan ucapan itu ditanggapi dengan gelak Mahaksha. “Jangan tertawa! Aku serius Kak Maha!” “Iya-iya, bukankah sudah kubilang … aku akan terus disampingmu sampai kau muak.” Dan seringai muncul di wajah elok Iselin. Hatinya senang sekali karena ia mendapatkan apa yang diminta. Tidak ada yang boleh meninggalkannya kecuali Rhaevan. Kalau itu beda lagi ceritanya, Iselin tidak ingin seseorang memaksakan dirinya untuk tetap tinggal di sisinya hanya karena kasihan. Iselin tidak mau dikasihani! “Ini kopermu?” tanya Iselin, menggunakan telunjuknya ia mengarahkannya pada koper. Sebelah alisnya terangkat. “Iya, tadi sore aku sampai di sini.” “Kenapa tidak diletakkan di dalam rumah?” tanya Iselin penasaran. Kenapa jadi Mahaksha rumit sekali. Seharusnya jika datang dia harus masuk dan menyimpan kopernya dulu. “Belum sempat masuk, aku mendengar papamu sedang bicara dengan Rune, membicarakanmu yang pergi ke rumah nenek.” “Memangnya apa hubungannya, apa kau tidak menemui mereka?” Mahaksha hanya menggeleng pelan, matanya tampak sayu menatap Iselin yang pendek dengan segala celotehnya seperti anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. Kadang Mahaksha merasa gemas karena Iselin sangat tidak peka terhadap situasi di sekitarnya akan tetapi itulah daya tarik perempuan ini. menggemaskan dan lucu—bagi Mahaksha. Beda lagi ceritanya jika ketidakpekaan itu dihadapkan pada Rune, dia bisa marah-marah kepada adiknya. “Aku juga ingin bertemu nenek,” bohongnya. “Tapi kakak tidak pergi ke rumah nenek.” “Saat ke sana, kau sudah keluar. Aku malu jika harus menyapa sendirian.” Kebohongan kedua Mahaksha terdeteksi. “Oh begitu rupanya … sudahlah, ayo masuk dan bawa kopermu. Untung tidak hilang, bagaimana kalau kopermu hilang. Apakah ada barang berharga di dalamnya?” “Tidak ada. Barang berharganya ada di depanku,” ujar Mahaksha dengan senyuman nakal di wajahnya. Tergelak Iselin mendengarnya. Sebagai perempuan dewasa dia tidak akan tertipu lagi. Tidak seperti saat dirinya masih remaja dulu. Jika ada yang bilang seperti itu padanya, dia akan tersipu malu. “Jangan membual, sudah ayo masuk.” Iselin ingin menyambut tamu dengan ramah, ia mencoba untuk menarik koper besar milik Mahaksha. Hanya saja ternyata kekuatannya tidak sebanyak itu hingga ia kesusahan. “Bocah sepertimu mana bisa mengangkat koper milik Maha, sini biar aku saja.” Suara Rune menginterupsi. Pria itu baru saja keluar setelah mendengar ada percakapan di luar rumahnya. “Tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri. Lagipula aku akan lama di sini,” ujar Mahaksha mengambil alih kopernya dari tangan Rune. “Apa?!” “Apa?!” Rune dan Iselin begitu kompak terkejut. Mereka berdiri di ambang pagar sambil memandangi Mahaksha tak percaya. “Apa kalian keberatan?” Keduanya langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang. “Bagus, kalau begitu ayo masuk.” Dan Mahaksha mendahului keduanya untuk masuk ke dalam rumah. “Dia sudah seperti tuan rumah saja,” bisik Iselin pada kakaknya. “Kau benar, tidak tahu malu,” lanjut Rune sambil merangkul adiknya. “Aku bisa mendengar kalian!” sahut Mahaksha yang sudah berada agak jauh dari keduanya. Iselin dan Rune pun segera menyusul langkah panjang Mahaksha. Tampaknya yang paling bahagia dengan Mahaksha yang menginap adalah Rune, akhirnya dia punya teman main game selama musim liburan ini. * “Ma! Yang anak mama itu aku atau dia sih!” Iselin protes saat melihat mamanya menaruh daging di piring Mahaksha saat sarapan. Jika sekali atau dua kali mungkin Iselin akan lebih toleransi. Tapi yang dilakukan oleh mamanya ini malah lebih dari tiga kali sampai piring Mahaksha penuh dengan makanan. “Tidak apa-apa dong, Iselin. Dia juga anak mama.” “Anak kesayangan malah,” sahut Mahakhsa sengaja memprovokasi Iselin, tak puas hanya dengan kata-kata, Mahaksha malah mengacak-acak rambut Iselin. “Lihat, lihat, lagaknya benar-benar seperti anak emas saja.” Rune menyahut sambil mengambil daging asam manis buatan sang Mama. Sementara Iselin memberengut melihat Mahaksha lebih disayang oleh mamanya. “Dimana-mana, anak terakhir itu yang paling di sayang,” protes Iselin. Papa tertawa mendengar celoteh putri bungsunya yang merajuk seperti anak kecil. “Memangnya kurang kasih sayang mama dan papa.” “Kalau ada Kak Maha sih iya,” balas Iselin. Meski begitu sebenarnya tidak masalah baginya jika Mahaksha mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Iselin hanya suka pura-pura merajuk agar diperhatikan, lagipula Mahaksha memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Ibu Mahaksha meninggal saat dia SMA, setelah itu dia harus tinggal dengan keluarga ayahnya yang sangat … sangat besar. Ayahnya pun tidak begitu memberikan kasih sayang kepada Mahaksha. Apalagi Mahaksha adalah putra pertama dari keluarga Hastungkara, ia dituntut untuk menjadi pilar kuat di keluarga tersebut. “Anak ini, sudah bersuami tapi masih sama saja tingkah lakunya. Sudah itu habiskan makanannya dan pergi bantu nenek untuk ambil kol di ladang nanti,” ujar Mama “Kau akan ke rumah nenek lagi?” tanya Mahaksha, entah kenapa ada sedikit terdengar kekhawatiran dari suara Mahaksha. Iselin mengangguk, “Iya, nenek sedang panen kol. Sepertinya butuh banyak bantuan tenaga.” “Kalau begitu ayo kita kesana juga Rune.” “Uhhuk-Uhhuk.” Rune langsung tersedak mendengar ajakan Mahaksha. Papa mengambil air untuk membantu Rune. “Pergilah bersama Maha dan Iselin, hitung-hitung membantu nenek. Kalian dulu kan sering bermain di sana.” Papa memberikan masukan. “Baiklah,” balas Rune tidak bersemangat. “Nanti setelah selesai dari sana kalian pergi ke restoran ya, sepertinya akan buka sampai malam. Nanti makan malam di sana saja,” imbuh Mama. “Siap laksanakan!” Rune begitu bersemangat kali ini. Selesai makan pagi itu mereka langsung bergegas pergi menuju ke ladang nenek. Rupanya di sana sudah ada beberapa orang yang membantu nenek untuk panen kol. Meski begitu, ladang tersebut sangatlah luas, hanya dengan beberapa orang akan lama untuk menyelesaikan semuanya. Ketiganya pun segera mengambil peralatan untuk membantu memetik kol. Jika Rune memilih tempat yang berbeda dan agak jauh. Di sisi lain, Mahaksha memilih tempat di mana Iselin berada. Tempat di mana beberapa para bibi berkumpul mengambil kol dan saling bergunjing. “Iselin, apa Rhaevan tidak pulang?” seorang warga yang membantu bertanya pada Iselin. “Siapa pria di sampingmu itu, Iselin?” seorang lagi bertanya. “Aku Mahaksha, Bibi … apa bibi melupakanku?” tanya Mahaksha sembari berusaha untuk melepaskan senyumannya. “Mahaksha? Anak yang nakal itu? Astaga! Kau sudah tumbuh sebesar ini rupanya … tampan lagi. Apa kau sudah menikah?” Mahaksha terpaksa memasang senyumnya lebih lama, “Belum bibi, aku belum menikah.” “Kenapa belum menikah dengan wajahmu yang tampan ini kau bisa mendapatkan perempuan mana saja!” “Apa bibi mau mencarikannya?” Mahaksha berusaha untuk mengimbangi basa-basi yang tidak disukai olehnya ini. “Benarkah, apa kau mau aku mencarikan istri untukmu?” tanya bibi itu. “Bagaimana tipemu?” “Tipe ya ….” Mahaksha tampak berpikir. Meski dalam benaknya dia sudah memiliki gambaran jelas bagaimana tipenya. Sementara para bibi menunggunya dengan sabar. Tiba-tiba saja Mahaksha menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak terasa gatal sambil menyeringai. “Perempuan yang menjadi tipeku sudah menikah,” candanya. Benar-benar membuat para bibi kesal karena menunggunya. “Apa-apaan itu … kenapa kau menyukai istri orang lain.” Seorang bibi menyambar. “Anak muda sekarang, pikiran mereka tidak bisa ditebak.” “Ya, betul … betul sekali.” “Baiklah para bibi yang cantik, aku akan membantu di sebelah sana ya.” Akhirnya Mahaksha menemukan celah meski harus diolok lebih dahulu. Ia mendekat pada Iselin yang sejak awal sudah menjauh dari para bibi. “Jadi tipemu adalah perempuan yang sudah menikah, Kak?” tanya Iselin iseng. “Jangan menyebalkan,” gerutu Mahaksha. “Aku mengatakannya agar mereka berhenti.” “Ohhhh….” Iselin membulatkan bibirnya dengan tangan yang cekatan mengambil kol-kol dan memasukkannya ke dalam keranjang. “Apa kau tidak percaya?” tanya Mahaksha. “Percaya!” elak Iselin, sambil mengibaskan kedua tangannya. “Tentu percaya … bagaimana mungkin seorang Mahaksha yang terhormat akan merebut istri orang lain, tentu tidak mungkin ‘kan.” Entah kenapa jawaban Iselin malah membuat suasana canggung karena Mahaksha tak lagi menyahuti celotehannya. Mereka bekerja secara diam, mengambil satu persatu kol yang sudah siap panen. “Eh Iselin … bukankah itu Rhaevan?” suara seorang bibi menyeruak dalam keheningan canggung antara Mahaksha dan Iselin. Keduanya sontak melihat ke arah bibi tersebut lalu melihat ke arah dimana sang bibi menunjukkan keberadaan Rhaevan. Benar saja. Jantung Iselin berpacu dengan sangat cepat saat matanya menyaksikan betapa suaminya sedang berdiri gagah di pinggir ladang. Namun, bukan karena ketampanan Rhaevan yang membuat debar jantungnya semakin cepat, melainkan sosok yang ada di sampingnya. Seorang perempuan berambut cokelat keemasan, bergaun kuning yang menawan di kulitnya. Bersama seorang anak kecil di antara mereka. Siapapun yang tidak tahu akan mengira jika mereka adalah sebuah keluarga kecil yang cemara. “Loh, siapa itu?” tanya bibi lainnya. “Iselin, suamimu bersama siapa….” Tak sempat menyelesaikan pertanyaannya. Iselin sudah meninggalkan tempatnya, langkahnya pasti menuju ke tempat sang suami, meninggalkan segala aktivitasnya di belakang. Sementara itu di belakangnya, Mahaksha berdiri gagah memandangi kejadian itu—lebih tepatnya ia memandangi punggung Iselin yang menjauh. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya hingga buku jarinya memutih. “Jika diperlukan, aku akan merebutmu dari suamimu ….” Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD