--Apakah di hatimu tidak ada tempat untukku?—
- Iselin Lakshita –
*
Seiring langkahnya yang semakin jauh dan berbeda dengan Rhaevan, tegukan demi tegukan bir membanjiri tenggorokan Iselin. Setelah Rhaevan memutuskan untuk pergi menemui Clarice, ia memutuskan untuk tidak menangisi pilihannya dan pilihan Rhaevan. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan untuk menangisi pilihan yang telah dibuat, apalagi jika kakaknya tahu dia menangis karena telah salah memilih sebuah keputusan bisa-bisa ia akan dimarahi sampai tujuh tahun berturt-turut. Iselin memilih untuk berusaha meluapkannya dengan menenggak bir di sebuah club malam, membuatnya lupa meski hanya sesaat.
Saat Iselin berusaha menikmati minumannya dengan menahan tangis yang sedari tadi mendesak untuk membasahi pipinya, seorang pria mendekatinya, duduk di samping Iselin karena melihat Iselin hanya seorang diri.
“Nona, apakah kau keberatan jika aku menemanimu?” tanyanya dengan senyuman aneh di wajahnya. Pria itu tampan, penampilannya pun rapi, tapi jelas dari sorot matanya ia hanya menginginkan hal lain dari Iselin.
“Aku tidak butuh teman, enyahlah!” Iselin mengibaskan tangannya, memberikan isyarat kepada pria itu agar menjauh darinya.
“Kenapa kau begitu jual mahal, Nona. Aku tahu kau membutuhkan seorang teman untuk menemanimu bersenang-senang malam ini.” Tangan pria itu mulai bergerak tak senonoh, menyentuh pinggul Iselin, hampir seperti merabanya.
Tangan Iselin dengan cepat menahan tangan pria itu dan kemudian menampiknya.
“Enyahlah!!”
Pria itu tak terima, wajahnya memerah menahan marah, ia pun mencengkram lengan Iselin dan menyeringai jahat.
“Jalang sialan! Aku tidak akan melepaskanmu!” Pria itu menarik Iselin dari kursinya, hingga membuatnya hampir terjatuh dari kursi tinggi.
Kencangnya musik dan banyaknya orang yang bersenang-senang, tak ada yang memedulikan apa yang terjadi pada Iselin. Tapi Iselin tak selemah itu, meski dirinya sudah mabuk berat, ia masih bisa menarik tangannya sendiri hingga terlepas dari cengkraman pria itu.
“Rupanya kau suka bermain kasar! Baiklah, jika itu yang kau mau.”
“Cuih!” Iselin meludahi pria itu. “Kau pria tidak berguna! Hidung belang berengsek!”
PLAKKK
Sebuah tamparan melayang keras di wajah Iselin hingga tubuhnya ambruk di samping dancing floor. Orang-orang yang sadar akhirnya membuat keributan dan menjauhi Iselin dan pria itu, kebanyakan dari mereka hanya memandanginya, ada yang penasaran, ada yang kasihan, tapi tak ada yang membantunya.
Sementara Iselin menatap lantai yang mengilap, pantulan dirinya tampak bergetar di permukaan licin itu—seperti bayangan seorang asing yang nyaris tak ia kenali lagi. Rambutnya kusut, matanya merah, dan di sudut bibirnya tampak jejak darah tipis yang menetes perlahan, membentuk noda kecil di lantai dingin. Udara di sekitarnya begitu berat, penuh tatapan iba yang tak benar-benar peduli.
Lalu ia tertawa.
Pelan, getir, lalu semakin keras—tawa yang terdengar seperti retakan kaca di tengah malam.
Orang-orang di sekelilingnya bergidik. Beberapa melangkah mundur, tak tahu apakah wanita itu sudah kehilangan akal atau sekadar menertawakan nasibnya yang kejam. Tapi Iselin tahu persis apa yang sedang ia rasakan bukan kegilaan, melainkan kesadaran yang pahit.
Ia menertawakan dirinya sendiri, menertawakan kehidupan yang seolah menjadikannya bahan olok-olok. Suaminya memilih wanita lain sebuah pengkhianatan yang sudah cukup menghancurkan harga dirinya dan kini, di tempat ini, ia harus menelan kenyataan baru: ditampar, dijambak, dan dihina oleh seorang p****************g di depan puluhan pasang mata yang hanya berani menonton.
Sangat menarik sekali hidupnya, pikirnya getir. Sungguh ironi yang menakjubkan, bagaimana nasib bisa begitu pandai menguliti manusia sampai tak tersisa lagi martabatnya. Ia tersenyum tipis di antara darah dan air mata, dan untuk sesaat, tawa itu terdengar seperti jerit yang tak mampu keluar dari tenggorokan.
Lantai yang memantulkan wajahnya kini tampak seperti jurang, gelap, dalam, dan siap menelan sisa kewarasannya kapan saja.
“Argh!” Iselin menjerit kesakitan saat meratapi nasibnya, rambutnya yang ia gerai itu ditarik begitu saja. Tak berselang lama ia merasa tubuhnya diseret dengan tatapan orang-orang tertuju ke arahnya.
Iselin mencoba untuk meraih tangan pria itu, berusaha melepaskan jambakan di rambutnya, tapi usahanya tampak sia-sia. Jemarinya bergetar, mencakar udara, mencari celah untuk bebas, namun genggaman kasar itu justru semakin mengerat. Kulit kepalanya perih, rambutnya terasa nyaris tercabut dari akar, dan napasnya tersengal dalam campuran amarah dan ketakutan. Ia terus memberontak, kakinya menendang-nendang, namun setiap gerakan hanya membuat tubuhnya semakin terjerat dalam kekerasan yang membabi buta.
Ada yang hendak menolongnya—sekilas, seseorang tampak maju satu langkah, namun pandangan pria itu membuat nyali mereka lenyap seketika. Tatapan matanya hitam, dingin, dan mengancam seperti pisau yang menunggu untuk menebas siapa pun yang berani mendekat. Aura kekuasaannya begitu pekat, menekan d**a setiap orang di ruangan itu hingga napas mereka seolah tertahan. Semua tahu siapa dia, seseorang yang berkuasa di dunia malam, tempat di mana moral tak lagi punya arti dan nama bisa dibeli dengan darah atau ketakutan.
BUGGH!
BRAKK!
Suara benturan keras memecah udara, entah meja, entah tubuh yang terhempas. Namun satu hal yang pasti gema itu cukup untuk membuat musik berhenti dan gelak tawa mati seketika. Ruangan yang semula penuh cahaya dan suara mendadak masuk dalam hening yang mencekam. Ratusan mata menatap, membeku, seakan dunia berhenti berputar.
Iselin terjatuh berlutut, napasnya memburu, lututnya gemetar di lantai yang dingin. Jambakan di rambutnya terlepas, tapi bukan kelegaan yang datang, melainkan rasa kosong yang menusuk dari dalam dadanya. Ia mendengar detak jantungnya sendiri, cepat dan tak beraturan, di tengah kesunyian yang menekan seperti jeruji besi.
Di sekelilingnya, tak seorang pun bergerak. Semua hanya menatap… menatap bagaimana satu perempuan menjadi korban di tengah kerumunan yang memilih diam. Iselin hendak melihat apa yang terjadi namun yang terjadi malah ia merasakan tubuhnya telah diangkat oleh seseorang dipundaknya.
“Turunkan aku! Siapa kau! Lepaskan aku!” Iselin kembali berusaha memberontak. Nasibnya sungguh malang, lepas dari satu p****************g ia malah diangkut oleh p****************g lainnya. Tapi saat itu, Iselin sempat melirik ke arah pria yang menjambak dan menyeretnya, melihat ada dua orang bertubuh besar menarik pria itu pergi dari kerumunan.
“Lepaskan aku! Aku akan melaporkanmu pada polisi! Lepaskan! Sialan, turunkan aku! b******k! Lepaskan! Kau p****************g sialan!” Iselin terus memberontak, tapi tubuhnya seperti terlalu rapuh untuk ukuran pria yang sedang mengangkatnya, karena pemberontakan Iselin begitu sia-sia.
“Lepaskan aku! Aku tidak ingin melihat b****g jelekmu ini! Lepaskan aku!” Bukan iselin namanya jika dia menyerah begitu saja.
Sepertinya pria itu mengasihaninya hingga akhirnya ia pun melepaskan Iselin. Menurunkan Iselin perlahan-lahan. Mendapatkan kesempatan itu pun Iselin hendak melarikan diri tapi siapa yang menyangka tangannya ditahan oleh pria bertubuh besar bak raksasa dengan tinggi kurang lebih 190an centimeter itu.
“Sudah besar jadi kau bisa mengumpat semaumu, hmm?”
Langkah Iselin langsung terhenti mendengar suara ini, suara yang sangat familiar di telinganya sejak ia lahir. Sayangnya, suara ini tampak lenyap ditelan bumi tiga tahun terakhir. Seketika itu Iselin menoleh, ia mengedipkan matanya berkali-kali karena matanya mulai kabur akibat bir yang ditenggaknya.
“Apa aku mudah dilupakan begitu saja olehmu, Little Bug?”
“Pasti aku sedang bermimpi! Kau bukan dia.” Iselin mengibaskan tangannya sendiri di depan wajahnya, tak percaya pada penglihatannya, lalu beranjak untuk pergi. Tapi pria itu selalu saja menahannya untuk pergi.
“Baru bertemu dan kau sudah akan pergi lagi?”
“Siapapun kau … aku berterima kasih karena telah menolonghuekkk-hueekkk.” Iselin mengeluarkan isi perutnya ke lengan jas yang dikenakan oleh pria itu dan langsung pingsan begitu saja di pelukan pria itu.
Diangkatnya Iselin di lengan satunya untuk menghindari hasil muntahan sebelumnya, ia melangkah mendekati sebuah Range Rover. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi membukakan pintu untuk pria itu dan Iselin.
“Antar saya ke penthouse.”
Setelah meletakkan tubuh Iselin ke dalam jok penumpang, ia keluar sebentar dan melepaskan jas yang terkena muntahan Iselin dan membuangnya ke tong sampah seolah-olah jas tersebut tak lagi berharga.
Bersambung...