Terbangun Di Samping Pria Asing

1387 Words
—Apakah takdir suka mempermainkan nasib seseorang? Apakah dia sedang tertawa karena nasibku begitu rumit?— -Iselin Lakshita- * “Ergghhh.” Iselin mengerang ketika merasakan ada denyutan di kepalanya yang begitu menyiksa. Rasa sakitnya menjalar hingga ke tubuh, seolah-olah ia baru saja dipukuli oleh orang. Ia pun berusaha untuk bangkit, akan tetapi ada yang aneh. Saat matanya sudah lebih tajam untuk melihat, sekelilingnya terasa sangat asing dan … “Arrghhh!” Kali ini Iselin menjerit dengan kencang setelah melihat ada sosok di sampingnya yang sedang tengkurap dengan kepala menghadap ke samping. Sosok itu tak mengenakan pakaian atasnya hingga terlihat punggungnya yang memiliki tato di bagian bawah leher. Refleknya, Iselin meraih selimut dan menutup tubuhnya. Ia panik, sangat panik. “Apa yang aku lakukan? Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?” Iselin bergerak terburu-buru hendak turun dari ranjang, melarikan diri, tapi saat kakinya menapak ke lantai gelenyar rasa nyeri menyerangnya tak karuan hingga akhirnya ia malah terjatuh di lantai. “Erggh, sakit sekali.” “Kenapa berisik sekali?” serak suara bariton ini membuat Iselin semakin panik. Menahan rasa sakitnya, ia pun berdiri untuk melihat gerangan yang tadi sedang tidur di sampingnya. Pria itu sedang duduk, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat jelas sangat lelah, tubuhnya terbentuk sempurna dengan otot-otot yang menunjukkan betapa gagah dirinya. Pria itu menoleh ke arah Iselin yang termenung di samping jendela super besar yang mengirim cahaya ke dalam kamar mewah itu. “Kak … Maha?” Iselin terkejut sekali setelah melihat wajah dari pria itu. Jelas sekali ia mengenal pria itu, tak mungkin ia lupa wajahnya. “Kak Maha, apa yang terjadi? Kenapa aku di sini bersamamu?” Rasa panik sekali lagi menyerang Iselin, bukan sembarang pria asing ia malah tidur bersama dengan pria yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Benar-benar gila! Mahaksha menatap dengan mata sayu, lalu ia menyingkap selimut yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Melihat gerakan itu, Iselin memalingkan wajahnya. Takut-takut jika Mahaksha tidak menggunakan apapun di bawah sana. “Setelah lama tidak bertemu, itukah yang kau tanyakan?” Mahaksha mendekat pada Iselin, berdiri di depan perempuan itu dengan tubuhnya yang menjulang tinggi. “Tidak, bukan, maksudku, bagaimana…kita bisa berakhir ….” Malu bagi Iselin untuk mengatakan bahwa mereka telah tidur seranjang. Entah apa yang terjadi tadi malam, Iselin belum bisa mengingatnya. “Tidur bersama?” “HAH?!” Iselin memekik terkejut, ia menoleh pada Mahaksha, harus mendongak karena pria itu jauh lebih tinggi dibanding dengan dirinya yang hanya memiliki tinggi 165 cm. “Jangan bercanda!” Raut wajah Iselin tampak kesal, tidak bisa menerima informasi bahwa mereka telah tidur bersama. Rasanya malu, kesal, panik menjadi satu. “Apa kau tidak mengingat apa yang terjadi semalam?” Mahaksha, pemilik mata cokelat gelap yang tampak kelam itu menatap Iselin seksama, ia menundukkan sedikit kepalanya. Mengisyaratkan melalui bola matanya pada apa yang melekat di tubuh Iselin. Perempuan itu mengikuti isyarat itu, melihat dirinya sendiri di dalam balutan kemeja longgar berwarna putih. Lalu ia melihat Mahaksha tanpa pakaian atas hanya mengenakan celana kain berwarna abu-abu gelap. “Tidak mungkin, ‘kan?” “Sangat mungkin. Coba kau ingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam.” “Kak Maha! Jangan mempermainkanku,” ujar Iselin sembari melihat ke sekelilingnya, ia mencari sesuatu—pakaian dalamnya! Tapi tak ada di mana-mana. Jika—seandainya mereka memang tidur bersama, mengapa Iselin tak mengingat apapun. Iselin hanya ingat pertengkaran dengan suaminya sebelum ia pergi ke sebuah club malam dan minum banyak. “Tenanglah, Iz.” Mahaksha mengusap puncak kepala Iselin. “Aku tidak mungkin bercinta dengan istri sahabatku.” Mendengar hal itu Iselin sangat lega sekali, tapi masih ada pertanyaan dalam benaknya. “Lalu kenapa kakak tidur di sampingku dengan pakaian seperti itu, lalu pakaian ini?” Iselin menunjuk pada dirinya sendiri. “Kebiasaan burukmu saat mabuk masih belum hilang, kau harus mencoba mengingat sendiri. Masalah aku tidur di sampingmu, aku tidak sengaja tertidur setelah menjagamu semalaman.” “Menjagaku?” Iselin tahu kebiasaan mabuknya memang sangat buruk, ia bisa saja melakukan hal yang memalukan. Tapi untuk apa Mahaksha menjaganya semalaman seolah-olah Iselin sedang dalam kondisi sekarat yang bisa diambil maut kapan saja. “Lihat dirimu di cermin.” Mahaksha meraih bahu Iselin, menuntunnya menuju ke sebuah cermin yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kini keduanya sedang berdiri di cermin, Mahaksha membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Iselin, ia menunjukkan bagaimana wajah Iselin saat ini. Ada bekas kemerahan di sudut bibirnya, wajah bagian kirinya tampak memerah, rambutnya acak-acakkan, dan ada perban di sudut kening kanannya. Kini Iselin tahu penyebab sakit kepalanya yang tadi bukan hanya disebabkan karena hangovernya juga karena luka-luka ini. “Kau sudah mengacaukan hidup seorang pria, Iz.” Suara rendah milik Mahaksha menyelinap masuk dengan sempurna ke telinga Iselin dan berhasil membuat tubuh perempuan itu menegang. Iselin memutar tubuhnya hingga kini menghadap pada Mahaksha, keduanya saling berhadapan, mata bertemu mata, dengan deru nafas sebagai iringannya. “Apa maksudnya itu? Tunggu dulu ….” Samar-samar dalam ingatan Iselin yang tak begitu bagus selain untuk mengingat tangga nada itu, ada sekelebat bayangan tentang kejadian yang tak pernah dialami oleh Iselin sebelum-sebelumnya. “Kau sudah mengingatnya?” Iselin hanya mengangguk samar. Ia mengingatnya kini dengan sangat jelas. Ingatan yang sangat memalukan, dia dilecehkan semalam oleh seorang p****************g dan seseorang datang untuk menyelamatkannya. Apakah berarti orang itu adalah Mahaksha. Raut wajah Iselin semakin merah karena ia teringat bagaimana ia memuntahkan seluruh isi perutnya dan mengotori jas yang digunakan oleh Mahaksha. Sangat memalukan. “Sampai di mana kau mengingatnya?” “Sampai aku muntah.” Ucap Iselin dengan wajah memerah menahan malu. “Hanya sampai di sana rupanya, tidak masalah.” “Memangnya aku melakukan hal memalukan apalagi?” “Tidak perlu dijelaskan, wajahmu akan semakin merah jika kau mengetahuinya. Sekarang lebih baik bersihkan dirimu, aku akan siapkan sarapan.” Mahaksha tersenyum dengan lebar, setelah mengusap lembut puncak kepala Iselin, ia berjalan menuju pintu keluar. Tepat saat ia membuka pintu seseorang telah berdiri di balik pintu kamarnya. Tubuh Mahaksha langsung menegang melihat sosok tersebut. “Apa aku datang terlalu awal? Sepertinya kau membawa pacarmu kemari.” “Kak, apa kau bisa membuatkan pancake untukku?” Suara Iselin menggema hingga tamu yang baru saja datang itu juga mendengarnya. “Suaranya tidak asing, siapa pacarmu itu, Maha?” “Dia bukan pacar—” “Siapa yang datang?” Iselin datang menyela namun ia langsung terdiam saat melihat tamu yang datang ke tempat Mahaksha. “Iselin, apa yang kau lakukan di sini?!” Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar Mahaksha ketika melihat Iselin. “Kau tidur dengan Mahaksha?” tuduhnya spontan dengan mata menelisik dari ujung rambut Iselin hingga ke ujung kakinya. Iselin menggeleng dengan keras tapi situasinya sangat tidak mendukung perkataannya. Saat ini Mahaksha sedang berdiri hanya mengenakan celana kain panjang, sementara dirinya mengenakan kemeja longgar yang jelas-jelas adalah milik Mahaksha, siapapun akan mengira mereka telah menghabiskan malam dengan panas dan liar. “Kau!” Pria itu mencengkram tangan Iselin dengan kuat. “Kau menuduhku berselingkuh, tapi lihat apa yang kau lakukan ini?!” Iselin meringis kesakitan, tangan pria itu sangat kuat mencengkramnya. Apalagi dirinya baru saja mengalami kekerasan semalam. Rasanya tubuhnya yang kecil itu bisa remuk kapan saja. “Lepaskan tanganmu, Rhaevan!” Suara Mahaksha terdengar jernih penuh perintah. “b******n sepertimu tak pantas bicara.” Rhaevan tak menggubris ucapan Mahaksha untuk melepaskan cengkramannya dari Iselin. “Kubilang lepaskan tanganmu!” Tangan Mahaksha terulur untuk meraih tangan Rhaevan yang mencengkram tangan Iselin itu, namun ditampiknya dengan kuat. Rhaevan lantas berbalik dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Mahaksha hingga kepala pria itu berpaling ke kanan. “Dari semua perempuan di dunia ini kenapa kau harus meniduri istriku!” “Rhaevan! Kau salah paham.” Iselin melangkah maju, berusaha untuk melerai. “Jalang sepertimu tidak pantas membela diri!” Tepat setelah Rhaevan bicara sebuah pukulan membentur wajahnya yang tertutupi oleh keberingasan amarah itu. Tubuhnya terhuyung-huyung hingga keluar dari kamar Mahaksha. Jejak darah merembes dari sudut bibir bagian kanannya, pria itu berusaha berdiri dan melangkah lagi menuju ke kamar tapi Mahaksha sudah melangkah maju untuk menghadangnya. “Sekali lagi kau menyebutnya dengan tidak hormat, aku akan membungkam mulutmu.” “Apa yang sedang kalian lakukan?” Sebuah suara lain menyeruak masuk melerai ketegangan antara Mahaksha dan Rhaevan yang siap untuk saling membunuh. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati tamu lain yang memang seharusnya datang hari ini. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD