–Suara tangisannya selalu memekakan telinga, rasanya aku ingin memindahkan dia ke tempat yang jauh. namun, saat di rumah tak terdengar lagi rengekannya, duniaku terasa sepi –
–Rune Mahesa–
*
Pria bertubuh tinggi menatap tiga orang di dalam ruangan dengan penuh tanda tanya, apalagi saat mendapati seorang perempuan yang tidak lain adalah adiknya berdiri di sana dengan kemeja longgar.
“Kalian bertengkar?” tanyanya, setelah ia tahu bahwa dua pria itu memiliki memar di wajah masing-masing. Tidak ada yang menjawab, akhirnya pria itu menatap sang adik perempuan. Keheranan karena selama ini sang adik sebenarnya tidak lagi berhubungan dengan Mahaksha, sangat aneh melihatnya ada di tempat Mahaksha tinggal.
“Iselin, apa yang terjadi?”
Perempuan itu membisu, ia juga tidak tahu harus mulai darimana. Semuanya terasa rumit di kepalanya. Pertengkarannya dengan sang suami, lalu bermalam dengan Mahaksha, akhirnya suaminya memergokinya dan timbul salah paham. Situasinya terlalu memalukan.
“Sekarang kau tidak bisa menjawabnya? Saat kau menuduhku mulutmu bicara tanpa henti, sekarang saat kau sendiri berperilaku buruk terdiam seribu bahasa,” cecar Rhaevan.
“Apa maksudmu?” pria itu meletakkan barang bawaannya ke lantai, lalu berjalan ke arah Rhaevan. Tatapannya tajam, jelas merasa seolah adik iparnya sedang menghina adik kandungnya. Sebagai seorang kakak ia tidak terima itu.
“Tanya adikmu, bagaimana dia bisa berakhir di ranjang pria lain.”
“Aku tidak melakukannya!” sambar Iselin dengan cepat. “Semuanya salah paham! Aku dan kakMahaksha tidak melakukan apapun.”
“Hah, masih bisa berdalih?” remeh Rhaevan.
“Jika ucapan istrimu saja kau tidak percaya, maka ucapan siapa lagi yang akan kau percaya?” desis Mahaksha.
Rune, kakak Iselin, menatap ketiga orang tersebut semakin bingung. Tapi ia mendapatkan gambaran besarnya. Rhaevan tampaknya mengira jika Iselin berselingkuh dengan Mahaksha, dilihat dari situasinya, memang terlihat jika adiknya itu tampak sangat bersalah.
“Iselin, jelaskan. Aku akan dengarkan.” Rune mendekat pada sang adik.
Iselin menatap kakanya, matanya sudah penuh dengan air yang siap tumpah. Sejak kedatangan Rhaevan ia mengepalkan tangannya, rasa kesal dan sesak menunpuk dalam dirinya.
“Penjelasan apa lagi yang ingin kau dengar, apa kau tidak lihat adik kecilmu itu sudah menodai hubungan pernikahan kami!” Rhaevan menyela.
Seketika itu Rune dan Mahaksha menatap Rhaevan dengan tajam. Sementara Iselin di tempatnya menimbang-nimbang apakah yang harus ia katakan, di hadapan banyak orang? Haruskah ia mengungkap pertengkarannya dengan Rhaevan malam sebelumnya hingga membuatnya sangat impulsif hingga akhirnya mabuk berat.
“Katakan saja, Iselin. Katakan kalau kau sudah tidur dengan pria lain!”
“Diam, Rhaevan!” tukas Rune yang kesal karena Rhaevan terus mencicit seperti burung beo. “Aku bicara dengan adikku.”
“Ya, bicaralah dengannya.”
“Aku ingin pulang,” lirih Iselin setelah terdiam cukup lama. Suara yang keluar dari bibirnya menarik perhatian Mahaksha dan Rune, dua pria itu memandangnya penuh tanya. “Kakak, aku ingin pulang.”
“Benar, begitulah dirimu yang sesungguhnya. Selalu lari dari masala—” tak sempat menyelesaikan kalimatnya sebuah pukulan melayang keras mengenai wajah tampan Rhaevan untuk yang kesekian kalinya. Untuk kali ini berasal dari kepalan tangan Rune.
“Kakak.”
“Rune.”
Iselin dan Mahaksha berusaha menghentikan Rune. Keduanya tahu bagaimana watak Rune jika kesabarannya sudah habis. Mahaksha langsung menarik Rune untuk mundur agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Lepaskan aku,” pinta Rune, tangannya berusaha lepas dari pegangan Mahaksha.
“Kakak, kita pulang saja.”
“Tidak. Kau jelaskan di sini. Biar kita semua dengar apa yang sebenarnya terjadi.”
Iselin mengepalkan jemarinya semakin kuat hingga kuku-kuku di tangannya menusuk telapak tangannya semakin dalam. Kebiasaannya saat gugup berlebihan, dan kebiasaan itu akan meninggalkan bekas di sana.
Pandangan mata Mahaksha tak bisa lepas dari Iselin, melihat ke arah tangan yang mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya dengan jari-jari menekuk ke dalam dan kuku yang menancap ke telapak tangannya. Mahaksha sudah hafal dengan kebiasaan buruk perempuan bertubuh pendek dan kurus itu. Dorongan hatinya menyuruhnya untuk mendekat dan mengurai kepalan tangan itu, tapi logikanya menghentikan. Ia merasa tak pantas melakukannya.
“Aku dan Rhaevan bertengkar, kami memutuskan untuk bercerai.”
Pengakuan Iselin itu tak diduga oleh Rhaevan, pria itu mengira Iselin tidak akan berani untuk mengungkap yang terjadi pada pernikahan mereka. Kini Rhaevan menjadi panik, tidak ingin Iselin menjabarkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik pertengkaran dan alasan Iselin ingin bercerai darinya.
“Bercerai?” Rune pun terkejut.
Sama hal-nya dengan Mahaksha. Tubuh pria itu menegang di tempatnya, ucapan Iselin benar-benar mengusik batinnya. Mereka baru menikah tiga tahun yang lalu, pernikahan yang tidak pernah dihadiri oleh Mahaksha. Pria itu memilih untuk segera berangkat perjalanan dinas daripada menghadiri pernikahan Iselin yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang, Iselin memilih untuk bercerai?
“Tidak-ti-tidak, kami tidak akan bercerai. Iselin hanya marah sesaat.” Rhaevan berusaha untuk mendekat, tampak ia panik dengan kata-katanya yang terbata.
“Jangan mendekat!” Rune menghentikan Rhaevan yang selangkah lagi sudah bisa mendekat pada Iselin. Meski pemberitahuan itu terdengar sedikit tidak masuk akal mengingat bagaimana Iselin sangat bahagia ketika pernikahannya dulu, Rune tak bisa membiarkan adiknya lebih menderita.
“Ini perkara yang besar, Iselin. Apa kau mengerti artinya?” tanya Rune lagi.
“Iselin … bisa kita bicara, kita bisa memperbaiki semuanya.” Rhaevan berusaha untuk membujuk.
“Kakak, aku ingin pulang ke rumah papa dan mama.” Iselin bicara dengan suara rendah, Rune bisa mendengarnya.
“Iselin, dengarkan aku dulu.”
“Sebaiknya kau diam, Rhaevan.” Mahaksha akhirnya menggunakan tubuhnya yang tinggi besar itu untuk menghadang Rhaevan. Menggunakan satu tangannya menahan d**a pria itu. “Jangan memaksakan kehendak.”
“Dia istriku, apa urusanmu?”
“Dia adikku!”
“Dia adikku.”
Mahaksha dan Rune begitu kompak melindungi Iselin. Mereka membuat Iselin berada di belakang tubuh mereka yang masing-masing memiliki tinggi 196cm dan 198cm hingga tubuh perempuan itu tak terlihat.
“Baiklah … baiklah, sekarang aku tahu bahwa persahabatan ini sudah hancur karena seorang perempuan yang gila lelaki! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini.” Rhaevan menggertakkan giginya dengan kesal, lantas ia berbalik dan pergi dari tempat tinggal mewah Mahaksha.
Setelah perginya Rhaevan dalam kondisi marah itu, Mahaksha dan Rune berbalik untuk memeriksa kondisi Iselin. Gadis itu terdiam mematung di tempatnya, wajahnya sudah dibanjiri oleh air mata yang mengalir sejak beberapa saat yang lalu.
Melihat air mata Iselin yang tak kunjung berhenti, Rune akhirnya menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Ia sangat lihai dalam melakukan hal ini, adiknya sering menangis waktu masih kecil, dulu masalahnya sepele, kini masalahnya tak bisa dibilang sepele lagi.
“Kau bisa menangis sepuasmu,” ujarnya pelan.
Di sisi lain, Mahaksha keluar dari kamar tersebut. Memberikan ruang untuk Rune menenangkan Iselin. Lagipula keberadaannya tak akan ada artinya karena sudah ada Rune yang menenangkannya.
Mahaksha pergi ke balkon apartemennya setelah mengambil ponselnya. Mahaksha menyulut sebatang rokok dan mengisapnya pelan hingga bara menyala merah dan mengepulkan asap, ia menekan tombol panggil untuk menelepon seseorang. Tak butuh waktu yang lama hingga panggilan tersebut diangkat.
“Hallo, Karim.”
“Ya, Tuan Muda.”
“Bagaimana keadaan b******n itu?”
“Kami lakukan sesuai prosedur, Tuan Muda.”
“Baiklah. Aku ingin kau lakukan satu hal lagi untukku.”
“Silakan, Tuan Muda.”
“Selidiki seseorang untukku.” Mahaksha kembali mengisap rokoknya dan mengembuskan asapnya perlahan.
“Baik, silakan tuan muda beri saya detailnya.”
“Rhaevan Adinata. Dokter Bedah Umum di Rumah Sakit Universitas Nasional.”
“Apa perlu tindakan, Tuan Muda?”
“Selidiki saja, semua kegiatan hingga siapa saja yang dia temui tiga bulan terakhir sampai beberapa waktu ke depan. Aku tunggu laporannya.”
Bersambung...