Wajah Emely semakin tegang, memikirkan nasib dirinya setelah ini. Apalagi pria itu semakin mendekati dirinya.
“Hei, santai aja dong, Mbak—” Pria itu belum sempat menyentuh Emely ketika sebuah mobil hitam berhenti tiba-tiba di belakang mereka. Suara klakson panjang menggema, membuat kedua pria itu menoleh cepat.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan halte, pintunya terbuka dengan cepat dan suara langkah kaki terdengar mendekat. Leonardi yang mengenakan jas hitam berjalan dengan ekspresi tajam dan penuh amarah. Ditambah dengan tetesan air yang membasahi wajahnya, semakin memperjelas kesan dingin Leonardi.
"Hey! Cepat menjauh dari wanita itu!" bentak Leonardi.
Kedua pria itu langsung siaga dan salah satu dari mereka berkata dengan nada lantang. "Memangnya lu siapa sampai nyuruh kita pergi seenaknya?"
"Kalau kalian nggak mau berurusan dengan polisi, lebih baik pergi dari sini sekarang juga!" Ancam Leonardi dengan suara berat dan penuh tekanan.
"Sombong sekali pria kaya ini," ucap pria yang berada di dekat Emely dengan sinis.
Suasana menjadi tegang karena pria yang lain turun dari motor dan berjalan mendekati Leonardi. Sementara Emely hanya dapat mengamati situasi dalam diam.
Kedua pria bermotor itu saling pandang sebentar, lalu dalam hitungan detik menyerang Leonardi secara bersamaan.
Leonardi bergerak cepat. Tangannya terlatih menangkis pukulan pertama yang mengarah ke wajahnya, lalu membalas dengan pukulan telak ke perut salah satu pria hingga orang itu mundur sambil meringis kesakitan. Pria kedua mencoba menyerang dari samping, namun Leonardi lebih sigap dengan menyikut rahang pria itu hingga tubuhnya limbung dan terjatuh ke aspal yang basah.
Emely terkejut. Dadanya berdegup kencang menyaksikan bagaimana sang penyelamat menghadapi dua pria sekaligus tanpa ragu. Gerakan pria itu cepat, tegas, dan yang jelas ini bukan pertama kalinya dia bertarung.
Salah satu pria yang terjatuh bangkit dan kembali melancarkan serangan, tapi Leonardi menarik kerah bajunya lalu menendang motor mereka hingga roboh.
"Kalian masih mau mencoba lagi?" Leonardi menggeram rendah. Matanya tajam dan penuh ancaman.
Kedua pria itu akhirnya menyerah. Salah satu dari mereka memaki kasar sebelum berlari kembali ke motor yang sudah tergeletak tak berdaya. Dengan tergesa mereka kabur, meninggalkan Leonardi dan Emely di halte yang kini sunyi kembali, hanya ditemani suara hujan yang mulai mereda.
Leonardi menghela napas dan mendekat ke Emely yang masih berdiri kaku, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.
“Kamu nggak kenapa-kenapa?” tanyanya pelan dan menyiratkan kekhawatiran.
Emely menggeleng perlahan. “Sa-saya tidak apa-apa …," ucap Emely dengan suara nyaris tak terdengar.
Leonardi mengamati Emely dengan seksama, baru menyadari bahwa wanita ini basah kuyup, wajahnya sembab, dan tangan yang menggenggam koper itu nyaris membiru karena dingin.
“Kamu butuh tempat berteduh. Ayo, ikut aku," ucap Leonardi dengan nada datar.
Emely seketika bingung. Matanya menatap pria asing yang tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya. Tidak ada emosi yang tergambar di mata hitam sepekat malam itu dan pada akhirnya dia mengangguk pelan.
Leonardi mengambil koper Emely dengan satu tangan dan membuka pintu mobil. “Masuklah.”
Emely tersentak saat mendengar nada dingin dari pria penyelamatnya ini. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil. Rasa hangat langsung membelai kulit Emely, dan sedetik kemudian dia menyadari jika pendingin udara telah dimatikan.
Emely bersandar dengan tubuh lemas. Air matanya kembali menetes tanpa suara. Sementara Leonardi hanya diam, tak bertanya apa pun. Memberi ruang bagi wanita yang baru pertama kali dia temui untuk tenang.
"Terima kasih sudah menolong saya dan maaf sudah merepotkan," ucap Emely yang mulai menemukan ketenangan.
Leonardi menoleh sekilas, menatap wajah wanita disebelahnya yang masih tampak lelah dan rapuh. Dia tak menjawab langsung, hanya mengangguk kecil sebelum kembali fokus ke jalanan.
"Rumahmu di mana?" tanyanya singkat, tapi tak terdengar dingin seperti sebelumnya.
Emely menunduk. Bibirnya bergetar sebelum menjawab lirih, "Saya … saya mau pergi ke terminal bis."
Hening sejenak. Hanya suara mesin mobil dan sisa-sisa rintik hujan di luar yang menemani mereka. Leonardi memperlambat laju mobilnya. Dia melirik ke arah koper Emely yang tergeletak di kursi belakang, lalu kembali menatap wanita itu. “Kamu lari dari rumah?”
Emely menggeleng pelan, lalu menggigit bibirnya sejenak sebelum berkata, “Saya … saya memang mau keluar dari kota ini, mau mencoba kehidupan baru."
Nada suaran Emely yang rendah dan nyaris putus asa membuat Leonardi mengerutkan dahinya. Merasa janggal akan perkataan wanita yang yang ada di sampingnya.
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya Leonardi yang membuat Emily menatap mata pria itu.
Leonardi tertegun saat melihat mata Emely yang menyiratkan luka yang mendalam dan mungkin juga sesuatu yang belum siap wanita itu ceritakan.
"Nama saya Emely. Kalau Bapak?"
"Apa saya setua itu untuk dipanggil Bapak?" tegur Leonardi yang membuat Emely salah tingkah.
"Maaf atas kelancangan saya, Mas ...," ucap Emely dengan perasaan tak enak.
"Leonardi. Panggil saja Leon," kata Leonardi dengan nada datar.
Leonardi terdiam sejenak sebelum akhirnya menghubungi seseorang melalui ponselnya. “Suruh orang yang ada di rumah untuk mempersiapkan kamar tamu,” ucapnya kepada seseorang di ujung sambungan telepon.
Emely langsung menoleh cepat. “Tunggu … saya nggak bisa ikut ke rumah Mas. Saya ... saya mau ke terminal sekarang dan lagi saya ini cuma orang asing.
Leonardi menatap tajam Emely lalu berkata. “Kamu bisa pergi ke terminal besok pagi. Sekarang kamu butuh tempat yang aman buat istirahat.”
Emely menatap tangannya yang masih menggenggam ujung bajunya sendiri. Rasa malu, takut dan bingung bercampur jadi satu. Tapi sejujurnya dia merasa sedikit … lega karena menemukan tempat berteduh malam ini.
Mobil Leonardi melaju memasuki kawasan perumahan elite. Emely menelan saliva saat melihat pagar tinggi otomatis terbuka, memperlihatkan sebuah rumah mewah berlantai dua bergaya modern. Matanya membesar, tak percaya bahwa dia akan menginjakkan kaki di tempat yang sering dia tonton dalam drama.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang pria berjas rapi menyambut di depah pintu, membungkuk singkat kepada Leonardi. “Kamar tamu sudah siap, Pak .”
Leonardi mengangguk. “Bawa kopernya. Dan pastikan dia mendapatkan makan malam."
“Baik, Pak.”
"Anggap saja seperti rumah sendiri. Saya tinggal dulu," ucap Leonardi yang lalu meninggalkan Emely.
Emely segera mengikuti langkah pria berjas itu dengan ragu. Hujan sudah benar-benar berhenti, menyisakan tanah basah dan aroma lembab yang samar.
“Ini kamarnya, Bu,” kata pria itu.
Begitu masuk, Emely nyaris tak bisa berkata-kata. Ruangan itu lebih besar dari kamar utama rumah Aji. Ada tempat tidur empuk, kamar mandi dalam dan lemari dengan pakaian wanita yang sudah digantung rapi.
'Apa jangan-jangan pakaian ini milik istri pria itu?' tanya Emely di dalam hatinya.
“Kalau butuh apa-apa, tinggal tekan tombol ini. Saya akan datang." Emely tersadar dari lamunannya saat pria itu bicara, dan dia meresponnya dengan anggukan yang kecil.
Setelah pria itu pergi, Emely duduk di tepi ranjang. Tak percaya dengan semua ini, karena terasa seperti mimpi. Emely kemudian membuka kopernya. Di dalamnya hanya ada beberapa pakaian, beberapa surat berharga miliknya dan sebuah foto kecil—foto Carmen. Bayinya yang baru berusia satu bulan. Bayi yang tak dapat dia bawa serta dari kediaman Aji.
Rasa nyeri pada kedua asetnya membuat air mata kembali mengalir di pipinya. “Maafin Mama, Carmen … Mama janji akan berusaha membawa kamu keluar dari rumah itu."
"Tadinya koper ini akan aku gunakan untuk berlibur bersama Mas Aji dan Carmen tiga bulan lagi, ternyata aku sudah memakainya sekarang," gumam Emely yang kembali membuka isi kopernya.
Dia mengerutkan dahi saat mendapatkan alat pemompa ASI di dalam kopernya. Beberapa saat kemudian, dia tersentak saat teringat sesuatu.
"Jangan-jangan ...."
Namun perkataannya harus terpotong saat mendengar suara gaduh yang ada di luar kamarnya.