3. Apa Yang Kamu Lakukan?!

1157 Words
"Suara ribut apa itu?" tanya Emely sembari melangkah keluar kamar. Hatinya terenyuh saat melihat seorang perempuan muda sedang menggendong seorang bayi yang menangis kencang. "Maaf Sus, kenapa dede bayinya menangis?" tanya Emely pada perempuan yang mengenakan pakaian khas pengasuh. "Mbak ini siapa?" tanya perempuan itu dengan sinis dan tajam. "Saya ... ditolong sama Mas Leonardi waktu diganggu preman," jawab Emely canggung. Perempuan muda itu tampak masih waspada dan semakin menunjukkan raut ketidaksukaannya pada Emely. "Oh, begitu ...," gumamnya dengan sinis. Dia lalu mengalihkan pandangannya, dan mengayun-ayunkan bayi di pelukannya dengan lembut. Terlihat sekali jika dia berusaha menenangkan tangisan si kecil. Hati Emely terasa berdenyut saat melihatnya, tanpa sadar dia bertanya. "Ini bayi siapa dan kenapa dia menangis?" "Ini Non Aluna, putrinya Pak Leonardi. Dari tadi nangis terus karena kehausan. Pak Leonardi bilang asinya baru datang 30 menit lagi," jawab sang pengasuh dengan nada cuek. Emely mengerutkan dahi setelahnya, rasa penasaran yang besar membuatnya melontarkan pertanyaan secara spontan. "Memangnya ibunya ke mana Sus, sampai harus mendapatkan donor ASI?" Wajah pengasuh Aluna semakin bertambah masam, membuat Emely merasa tak enak hati. Dia segera berbicara untuk mengurangi ketegangan yang tercipta. "Ekh ... kalau keberatan nggak usah dijawab, Sus." Helaan napas pun keluar dari mulut pengasuh itu, dia lalu menjawab pertanyaan Aluna dengan nada malas. "Ibunya meninggal saat melahirkan karena pendarahan. Sudah dicoba s**u formula, tapi Non Luna alergi s**u sapi. Jadi Pak Leo inisiatif untuk mencari donor ASI." Emely lantas mengangguk tanpa sadar. Matanya tak bisa lepas dari bayi mungil berbalut selimut pink itu. Entah kenapa, dadanya terasa sesak saat mendengar tangis Aluna. Seperti mengingatkan dirinya pada Carmen yang terpaksa dia harus tinggalkan. "Nama Mbak siapa?" tanya pengasuh Aluna lagi yang tak menghilangkan rasa tidak sukanya pada Emely. "Emely," jawabnya pelan. "Saya Dena, pengasuh Nona Aluna," ucap perempuan itu dengan seringai tipis. "Terima kasih, Sus," balas Emely dengan suara lemah. Tangisan Aluna yang semakin kencang membuat hati Emely terasa perih. Ada kerinduan yang begitu dalam menguasai dirinya. Kerinduan pada Carmen. "Sus ... apa boleh saya yang susui?" tanya Emely. "Memangnya Mbak siapa sampai mau menyusui Non Luna!" sentak pengasuh itu dengan geram. Emely yang sadar jika telah lancang segera berbicara. "Saya tidak bermaksud buruk, Sus. Kebetulan saya juga sedang menyusui anak saya yang berusia satu bulan. Dan sejujurnya 'ini' saya terasa nyeri karena belum menyusui selama 6 jam." Dena terdiam beberapa detik, memandangi Emely dengan tatapan meremehkan. Bayi mungil di pelukannya terus menangis tanpa henti, tubuh kecilnya tampak mulai memerah karena terlalu lama menangis. Akhirnya Dena menarik napas panjang. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa dengan Non Luna, Mbak yang harus bertanggung jawab. Emely mengangguk cepat, mencoba menyakinkan Dena jika tidak akan terjadi apa-apa. Mata Dena memicing tajam sebelum kembali bersuara. "Kalau begitu, ikut saya ke kamar Non Luna. Biar saya bantu cek kebersihannya sebentar." Emely kembali mengangguk, perasaannya campur aduk antara lega dan gugup. Dia mengikuti Dena masuk ke kamar bayi yang letaknya tak jauh dari kamarnya. Kamar itu didominasi warna putih dan pastel, dengan ranjang bayi bermotif putri duyung di sudut ruangan, boneka-boneka kecil tergantung di atas boks. Dena menaruh Aluna di ranjang sejenak, lalu mengambil hand sanitizer dan meminta Emely membersihkan tangan. Setelah itu, Dena mengambil selembar kain bersih dan melemparnya tepat di kepala Emely. "Ini buat alasnya ya, Mbak," ucapnya dengan ketus. Emely meringis lalu duduk bersandar di kepala ranjang yang berdampingan dengan boks bayi, perlahan dia menggendong Aluna yang masih terisak-isak. Sentuhan pertamanya membuat Aluna berhenti sejenak, seolah merasa sesuatu yang familiar. Dengan hati-hati, Emely mulai menyusui bayi mungil itu. Hanya butuh beberapa detik sebelum tangisan Aluna mereda. Bayi kecil itu kini tenang, bahkan tangannya yang mungil mencengkeram erat baju Emely. Sekuat tenaga dia menahan air mata yang hampir jatuh. Rasa rindu pada Carmen begitu kuat saat merasakan kehangatan Aluna di pelukannya. Dena yang mengamati dari samping akhirnya dapat tersenyum lega, tapi tak berkomentar apapun. Sementara Emely menyusui Aluna dengan berlinang air mata, hatinya penuh dengan rasa sakit, kerinduan dan sedikit damai. Beberapa menit berlalu. Setelah memastikan Aluna tertidur dengan kenyang di pelukannya, Emely menyerahkan bayi itu kembali ke Dena dengan sangat hati-hati. "Terima kasih banyak, Mbak," ucap Dena dengan nada datar, tatapannya pun masih menyelidik. Emely mengangguk. "Saya juga terima kasih sudah diizinkan menyusui Aluna." Dena mengangguk dan mempersilakan Emely untuk keluar dari kamar Aluna. "Sus ..." Dena yang sedang mengganti popok Aluna seketika menoleh. "Boleh saya pinjam beberapa botol s**u Aluna?" Meskipun bingung dengan ucapan Emely, Dena segera mengulurkan 3 buah botol s**u berukuran 120 ml. "Terima kasih. Sus," ucap Emely yang segera keluar dari kamar Aluna. Di dalam kamar, Emely memandangi ketiga botol s**u itu dengan penuh kerinduan. Setidaknya jika ASI-nya tak dapat dia berikan untuk Carmen, maka biarlah bayi yang lebih membutuhkan yang meminumnya. Dengan memendam kerinduan yang besar kepada mendiang suami dan putri kecilnya, Emely akhirnya memenuhi botol-botol itu. Dia tersenyum pahit melihat ketiga botol s**u yang kini penuh oleh ASI-nya sendiri. Ada rasa lega, tapi juga sakit yang mengiris hati. Seakan-akan, melalui cara ini, Emely sedang mengobati sedikit luka di hatinya—memberikan kasih sayang yang kini tak dapat dia berikan sepenuhnya pada Carmen. Perlahan Emely membersihkan botol-botol itu dan membawanya ke kamar Aluna. Dengan masih memasang wajah ketus, Dena menerima ketiga botol itu. "Sebenarnya Mbak tidak perlu memompa ASI lagi karena stoknya baru datang," ucap Dena tanpa keramahan sama sekali. Emely hanya menunduk lalu meminta izin untuk kembali ke kamarnya. Dia segera merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar yang polos. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya masih bergulat. Air matanya mengalir diam-diam. Dia membiarkan dirinya menangis dalam kesunyian malam. Tangisan kehilangan yang mendalam. Setelah puas menangis, Emely tertidur lelap dan tak menyadari jika Leonardi masuk ke kamar dan memandanginya dengan penuh arti. Leonardi bersandar di ambang pintu, memperhatikan Emely yang tertidur dengan mata sembab. Tanpa suara, dia melangkah pelan mendekat, lalu membenarkan selimut yang hampir jatuh dari tubuh mungil perempuan itu. Beberapa helaan napas berat keluar dari d**a Leonardi. Tatapannya jatuh pada wajah pucat Emely, penuh luka yang seolah tak terlihat. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Leonardi akhirnya kembali ke kamarnya dan tak lama terdengar ketukan pelan di pintu yang terbuka. Dena muncul di ambang pintu dengan ekspresi tegang. "Maaf, Pak. Non Aluna terbangun lagi, sepertinya dia terkena alergi," lapor Dena cepat. Leonardi mengerutkan dahinya merasa aneh dengan laporan dari pengasuh sang putri. "Kenapa Luna bisa terkena alergi, sementara selama ini dia baik-baik saja?" Wajah Dena memucat dan dia segera berteriak. "Ini pasti karena ASI dari perempuan yang Bapak bawa!" "Maksud kamu apa?" tanya Leonardi dengan tatapannya tajam. "Perempuan itu menawarkan untuk menyusui Non Luna, Pak. Dan dia berkata jika akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Non Luna," jawab Dena dengan antusias. Tangan Leonardi mengepal erat, dengan langkah cepat dia menuju kamar Emely. "Bangun cepat!" ucap Leonardi sembari mengguncang tubuh Emely. Emely terbangun kaget, matanya yang masih sembab langsung menatap Leonardi yang berdiri di hadapannya dengan wajah marah. "Ada apa, Mas Leo?" tanyanya panik. Leonardi menahan amarahnya sekuat tenaga. "Apa yang kamu lakukan pada Aluna?" tanyanya dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD