Heri sedang bersiap untuk berangkat bekerja ketika pagi-pagi datang ke rumahnya dan titik kabar yang dibawa oleh Mas Deni berlebih mengejutkan dari bunyi suara gluduk di malam gelap.
"Heri Heri apa kau sudah bangun? ini aku mas Deni, "Panggilan Mas Deni didepan pintu.
sekarang hari senin sudah beberapa bulan Tamat sekolah menengah atas dia pun sudah tinggal hanya berdua saja dengan sang ayah namun ayahnya, Dimas, sekarang sedang berada di luar kota sedang bekerja ikut dengan temannya. Heri sendiri sudah beberapa hari ini bekerja membantu temannya berjualan mereka berdua sama-sama berdagang es cappucino di trotoar Jalan hasilnya lumayan setidaknya cukup untuk makan Heri sehari-hari.
hari dengan males membukakan pintu untuk memastikan ini tersebut. Mas Deni Masih saudara jauh dengan Heri mantan istri Deni adalah anak dari pakdenya Heri yang sudah meninggal dunia. Heri sendiri berangkat bekerja pukul 10.00 dan sekarang masih pukul 05.30 dirinya masih sangat malas untuk bangun apalagi untuk beraktivitas yang lainnya.
"Ya, ada apa mas zdeni?"tanya Heri setengah mengantuk.
"Apakah kau bekerja hari ini Heri? tanda lah dulu kau bekerja dan Pergilah sekarang ke rumah sakit kau tahu ibu mungkin nanti sekarang dirawat di rumah sakit! katanya Ibu mu itu terkena serangan darah tinggi mungkin juga terkena serangan jantung dan titik Mas tadi membantu Kinanti masuk kedalam mobilnya Katanya sih mungkin kelelahan gara-gara dari selamatan anaknya yang bungsu ini yang baru lahir sebaiknya kau segera datang ke rumah sakit mungkin inilah Saat Terakhir kau bertemu dengannya hari tanpa harus bertemu dengannya setidaknya menjenguknya atau melihatnya jangan sampai kau menyesal," ujar mas Deni yang membuat mata Heri langsung segar dan hilanglah semua rasa kantuk di wajahnya.
" apa Mas bilang? ibuku masuk rumah sakit? terkena darah tinggi? rasa-rasanya Ibu gak pernah sakit seperti itu mas? "ujar Herry mengucek-ngucek matanya langsung mengambil handphonenya dia mencoba menghubungi Putri namun tidak mendapat jawaban positif.
"Mas tidak tau pasti, tapi katanya dulu juga saat melahirkan Beni.juga ubumu sempat pendarahan dan terkena darah tinggi. mungkin sakitnya kumat, apalagi baru sebulan Ia habis melahirkan,"tukas Deni menjelaskan.
Heri pun manggut manggut, lalu minta izin untuk membersihkan diri dan pergi ke rumah sakit. Mas Deni pun pamit pulang.
Sejak setahun terakhir, terlebih sehak Kinan menikah dengan Riga, Heri sudah berani datang kerumah Kinan. Berbeda saat kecil, Ia takut kena omel Suritem, Heri kecil selalu menangis setiap habis datang kerumah sang nenek.
Berbeda dengan datang ke rumah Riga, Riga menyambutnya hangat, menyuruhnya masuk dan mengobrol hangat dengan sang ibu. Tidak lupa saat pulang, Kinan memberi sayur mayur untuk ditanak Heri. Heri sudah bisa memasak sendiri, menumis sayur, menggoreng ikan, atau bahkan membuat sambal, Heri sudah mahir melakukannya. Semua berkat budenya, bertahun ikut budenya, membantu pekerjaan rumah, Kini Heri sudah bisa mandiri dan bisa masak sendiri. Masakannya cukup enak, dibanding masakan anak bungsu Ermalia.
namun sayangnya setiap kali Heri datang berkunjung adik-adiknya tidak pernah ada di rumah karena putri dan juga adik adik yang lainnya disibukkan dengan pelajaran tambahan yang mereka berikan untuk Mereka. Riga menginginkan anak-anak sambungnya itu mendapatkan pelajaran tambahan agar bisa mengasah kemampuan mereka apalagi Putri yang memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi seorang dokter. Rega ingin agar Putri bisa meraih cita-citanya itu meskipun terasa sangat sulit untuk digapai karena harus memiliki nilai yang tinggi serta dompet yang cukup tebal.
namun ia yakin jika Putri berusaha dan dibimbing dengan belajar yang rajin ya yakin Putri akan bisa mendapatkan cita-citanya tersebut karena itu ia menyuruh anak-anak sambung yaitu untuk belajar dengan giat. salah satunya adalah dengan menyuruh mereka untuk les privat di luar rumah di samping belajar di sekolah.
"ibu.. ibu sakit apa? kita baru saja dekat beberapa waktu terakhir ini Apakah ibu akan pergi sekarang? Aku mohon jangan Bu!" perintah Heri di dalam hatinya sambil melajukan motornya ke arah rumah sakit umum di daerah kota mereka.
Heri bahkan Sudah berani mengkredit motor. sekarang usia kredit motornya sudah memasuki angka 2 bulan. meskipun bukan atas nama dirinya Tetapi semua angsuran Heri sendiri yang mencarinya. Heri bekerja dengan rajin bahkan terlalu rajin menurut ayahnya Dimas.
Heri bahkan orang yang sangat hemat. setiap kali memiliki uang selalu mengumpulkannya dan tidak suka berfoya-foya. Heri adalah anak yang sangat hemat menurut ermalia. Heri juga tidak terlalu suka jajan. apa lagi merokok seperti teman-teman lelaki yang lain.
di mata budenya sendiri, heri pasti bisa menyelesaikan kredit motornya seorang diri. buktinya bahkan sebelum memiliki angsuran kredit motor seperti itu, Jeri selalu mengumpulkan uangnya. tabungannya cukup banyak.
Budenya Ermalia bahkan seringkali meminjam uang kepada heri ketika kesulitan keuangan. Heri karna belum memiliki kebutuhan mendesak pun, heri pun dengan senang hati meminjamkan uang yang kepada bude irma alia nya. toh berkat budenya itu dirinya sekarang bisa menyelesaikan sekolah menengah atas nya. terlebih lagi saat kemarin ayahnya berbulan-bulan tidak mengirim nya uang. uang dari budenyalah yang digunakan untuk mengganjal perutnya yang keroncongan serta membayar beberapa kebutuhan sekolahnya, Hingga Heri tamat sekolah.
suasana rumah sakit nampak sepi karena memang hari baru menunjukkan pukul 6 pagi suasana nampak mencekam dan bau Rumah Sakit begitu menyengat ketika Heri masuk ke ruangan unit gawat daruratan S Heri cukup yakin jika Ibunya bisa saja dimasukkan ke dalam ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan intensif karena itu ketika masuk ke dalam rumah sakit besar tersebut Heri langsung menuju ruangan UGD berharap dan berdoa semoga ibunya ada di ruangan UGD tersebut agar dirinya tidak membuang waktu untuk berkeliling rumah sakit untuk mencari Di mana ibunya mendapatkan perawatan.
benar sekali durian Heri tidak jauh dari ruangan IGD tersebut nampak Rega tangan menunggu di luar pintu ruangan UGD juga pakdenya yang merupakan ayah kakak tertua dari Kinanti yaitu Dewa ke tengah duduk tidak jauh dari Rega pergi Rita nanti Heri pun memberanikan dirinya dan langsung menyapa Riga dan juga dewok. tentu saja Dewa terkejut melihat anak sulung Kinanti tersebut yang sudah besar bahkan sekarang tengah berada di depannya Dewok sudah bertahun-tahun ini tidak pernah melihat Heri pun menyapanya.
"Heri? Kau sama siapa? Dapat kabar ibu ya dari siapa?"tanya Riga Langsung menyapa anak sambungnya tersebut sementara dewok Hanya berdiam diri menatap keponakannya tersebut dari atas hingga ke bawah seolah tak percaya orang didepannya adalah keponakannya yang sudah lama tak Ia temui.
"dari tetangga Bapak tadi ada yang ke rumah bilang kalau ibu dibawa ke rumah sakit. apa benar ibu darah tinggi? terus bagaimana kondisi sekarang Pak? Apakah ibu sudah sadar?" tanya hari langsung bertanya kepada Riga.
"kita belum tahu Apa penyakit ibu kamu tadi saya di perjalanan ibu kamu juga langsung lemas dan pingsan. langsung dapat perawatan dan kita belum mendapatkan informasi apapun dari tadi sepertinya ibumu cukup gawat karena sudah hampir ke berapa jam ini Bapak mau nunggu di luar dan belum ada satu orang pun keluar dari ruangan ini kita hanya bisa berharap dan berdoa dan menunggu Semoga ibu kamu baik-baik saja, "jari via memberikan penjelasan yang.
Heri hanya manggut-manggut kemudian memilih untuk duduk sementara Liga pun mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
"Maafkan Bapak ya Heri Bapak tidak terlalu bisa menjaga ibumu seperti ibu kamu kelelahan gara-gara kemarin habis acara Adek Leni. kamu tahu sendiri kan Bapak abis ngadain acara syukuran kelahiran Adik kamu Leni. sepertinya ibu kamu nggak bisa tidur semalaman mungkin gara-gara itu dia jadi sakit dan sekarang mungkin darah tingginya kumat Padahal ibu selalu bapak suruh untuk mengontrol darahnya yang Bapak tahu bahkan bertahun-tahun ini ibu kamu nggak pernah lagi sakit darah tinggi bahkan saat kemarin tinggal sama nenek kamu juga sama darah tinggi enggak pernah,. yang Bapak tahu bahkan dari nenek kamu juga yang bapak tahu, ibu kamu darah tingginya kumat cuman Pas melahirkan adik Beni kamu aja. kamu lihat sendiri adik Beni aja sudah sebesar itu dan ibu tidak pernah sekalipun ibu kamu mengeluh sakit kepala ataupun darah tingginya kumat. sama gua saja sekarang bukan darah tinggi hanya khayalan saja Bapak harus seperti itu, "Riga menjelaskan kekawatiran nya sendiri.
"Iya Pak, Heri pun berharap seperti itu. Semoga ibu baik-baik saja dan bisa beraktifitas seperti sedia kala. Semoga ibu segera membaik hari sangat merindukan Ibu terlebih saat seperti ini tapi Semoga Allah menyelamatkan Ibu dari sakitnya," ujar Herry penuh harap.
"Allah selamatkan ibu, Heri masih merindukan ibu. Kami baru saja dekat, tolong jangan ambil ibi sekarang ya Rabb, apalagi adik Leni, Dia masih terlalu kecil, ku mohon ya Allah,"Heri berdoa dalam hatinya, sementara matanya mengawasi pintu UGD berharap dokter segera memberi tahu mereka kondisi Kinanti.