sejak diketahui sedang hamil ibunya Putri, Kinanti, dilarang keras mencari tahu keberadaan sang suami. terlebih lagi Sejak kedatangan Ermawati ke rumah beberapa waktu yang lalu yang mengatakan bahwa sebenarnya Dimas sama sekali tidak pergi ke Jawa Tengah dan berada di sebelah. mengetahui hal tersebut adalah sebuah kemarahan dari ibunda Keenan. Ibu Ndak ini benar-benar sangat marah dan rasa rasanya ingin mencakar cakar Dimas. namun hal itu urung dilakukan ibunya Kinan mengingatkan saat ini Kinan sedang mengandung.
kehamilan kali ini terasa berat untuk Kinan. terlebih lagi sang suami tidak berada disisinya. di hamil-hamilan sebelum yang kinan memang sangat manja kepada sang suami dan suaminya pun memang selalu mau mencobanya segala hal yang ingin dibeli nya. Ngidamnya Kinan selalu sediakan oleh sang suami meskipun ada atau tidaknya uang. Dimas selalu memenuhi ngidamnya Kinan.
namun tidak kali ini, Kinan sangat sulit untuk makan jika makan akan langsung keluar lagi alias muntah. Parahnya lagi, Kinan bahkan tidak bisa lepas dari susunya jika s**u vitamin yang diberikan dokter tidak diminum Kiman, maka Kinann akan merasa lemas, karna tak ada asupan apapun yang masuuk keperutmya.
Apalagi pagi hari, Kinan selalu mual, tak bisa beraktivitas apapun sebentar saja kinan mual. Jika ibunya masak pun, Kinan akan pergi ke luar, jauh dari bau masakan. Kalau tidak Kinam akan merasa eneg dan lagi lagi muntah.
Putri, dimasa sulit adalah orang yang masih sangat bisa diandalkan, Pagi hari setidaknya pukul enam, anak sekecil itu dengan senang hati mau di suruh menjajakan kue keliling menggantikan sang ibu.
Kue Kinanti, kue yang sudah banyak pelanggannya itu pun ikut larus manis ditangan Putri. Tidak lama, paling lama satu jam kue Kinanti berisi sebakul kue itu habis.
banyak orang yang menanyakan Kinanti Mengapa Kinanti tidak berjualan dan menyuruh Sang Putri kecilnya untuk berjualan. tetapi jawaban dari Putri membuat orang warga langganan kue kinan, langsung terenyuh. Putri memahami mereka harus
"Putri mau bantuin ibu sekarang ibu lagi bawa adik kecil di dalam perutnya Jadi ibu nggak bisa cari uang. Ayah sedang pergi jauh cari kerjaan jauh dan enggak pulang-pulang pada titik kami juga tinggal di rumah nenek jadi putri harus tahu diri dan membantu ibu mencari uang. lagian tahun depan juga Putri mau sekolah biar bisa sekolah bareng adik Nisa juga," ujar Putri membuat orang-orang yang mendengar perkataannya terwnyuh.
Meskipun banyak orang yang kasihan melihat putri harus sekecil itu berjualan membantu sang nenek dan juga sang Ibu tetapi sama sekali tidak merasa malu atau rendah diri dia merasa bangga dan juga sangat senang melakukannya. setiap pagi ketika Adzan Subuh sudah berkumandang dia dengan senang hati langsung bangun sendiri mandi dan sarapan. Putri selalu sarapan lebih dahulu sebelum pergi tanpa dirinya harus memiliki tubuh yang kuat agar bisa membawa sekantung kue yang cukup berat itu.
Kinan Bukannya tidak sedih melihat anak kecil nya itu harus ikut menanggung beban kehidupan tetapi Putri dengan senang hati menolak perkataan sang Ibu
"Putri tidak perlu berjualan seperti itu nak nenek masih kuat kok untuk menafkahi kita jadi kita tidak perlu ikut campur mencari mencari nafkah seperti itu Tan. Putri main saja sama adik Nisa tahun depan kamu sekolah, "ujar sang Ibu lagi.
dengan senyum mengembang di wajahnya Putri pun menjawab dengan sopan perkataan sang ibu, "ibu tidak perlu khawatir akan putri putri baik-baik saja.. karena Putri mau sekolah tahun depan makanya Putri pengen nabung biar bisa beli peralatan sekolah tahun depan. kata Denisa Denisa juga mau sekolah barengan Putri itu kan juga butuh biaya besar Bu. karena itu Putri mau nabung biar bisa sekolah barengan dengan adik-adik kecil juga mau lahir dan ibu juga butuh biaya kan? kata teman-teman Putri seperti itu bu ibu yang bawa adik bayi bakalan melahirkan setelah waktunya. kalau melahirkan itu butuh biaya butuh uang makanya Putri sekarang mau bantu ibu buat Itu semua. ibu tidak perlu menghadirkan putri putri baik-baik saja," Putri melihat bentuk mata ibunya yang sudah berkaca-kaca itu.
Kinan rasanya terkena malu di hadapan Putri Mengapa dirinya harus menanggung beban sedemikian rupa di waktunya masih sangat belia. baru 5 tahun setengah Putri anak-anak lain sudah berada di bangku taman kanak-kanak tetapi Putri menolak untuk berada di bangku taman kanak-kanak.
di zaman Putri saat ini taman kanak-kanak adalah sesuatu hal yang mewah hanya beberapa orang saja yang mampu melakukannya karena selain biaya yang mahal juga tidak semua anak disekolahkan di taman kanak-kanak. lagipula Sekolah Dasar selalu menerima anak-anak yang tidak disekolahkan ke taman tanah saat usia mereka sudah waktunya yaitu 7 tahun. artinya putri akan lebih cepat sekolah sekitar umur 6 setengah tahun sementara adiknya baru berumur 5 setengah tahun. ya Nisa dan Putri hanya berselang satu tahun saja umurnya karena itu Nisa selalu ingin seperti Putri ketika Putri akan sekolah Nisa pun memutuskan sekolah juga.
Kinanti memang sudah Berencana untuk menyekolahkan keduanya berbarengan agar lebih mudah. Jadi ketikan Nisa dan Putri Sekolah dirinya bisa berdagang Namun nyatanya ketika saat ini yang terjadi justru ada bayi mungil yang sedang dinantikan untuk kelahirannya.
berbulan-bulan lamanya Putri menjadi tulang punggung untuk ibu dan adiknya ini sama sekali tidak malu tidak merasa kecil hati melakukan itu semua Putri sangat bangga melakukannya hingga akhirnya masa itu tiba juga. masa ketika kelahiran Sang bayi. meskipun kedatangan Ermawati berkali-kali ditepis oleh sang nenek membuat Fitri juga terkadang kecil hati Mengapa sang Bude yang sudah berada di depan pintu rumahnya tidak jadi masuk apa lagi menemuinya dan membawakan jajanan kecil untuk merwka berdua. Putri ini sekali ingin menegur sang bude yang juga ingin bertanya, Kemanakah ayahnya Apakah ayahnya sudah pulang atau belum.
"Bu Kenapa Bu de Ermawati tidak jadi masuk rumah kita? Putri Sudah berapa kali melihat Bude datang mengetuk pintu dan memanggil-manggil putri dari depan. putri Bapak sudah berapa kali membuka itu tapi dilarang sama nenek. Ini marah-marah sama Putri karena mau bukain pintu. Bude Jadinya malah pulang lagi Tan. Kenapa nenek seperti itu bukan tanya apa nenek marah sama bude karena nggak nyuruh ayah datang ke sini? itu sebenarnya kemana sibuk? waktu itu pernah dengar kalau ayah itu ada di atas sebelah dan nggak pergi jadi ayah itu ke mana Bu? "tanya Putri bertubi-tubi kepada Kinan.
Kinan tak menjawab hanya mengelus kepala sama anak membuat Putri tenang ini rasanya kita mengatakan semuanya kepada putri hanya saja Putri masih terlalu kecil untuk menanggung semuanya. tetapi Kinan tahu Putri sudah mulai memahami apa yang terjadi di kehidupan mereka. Kunan sadar diri anak-anak ini pasti mencari sang ayah apalagi sang kakak. tapi apalah daya dirinya tak bisa melakukan apapun Ibunya sudah Berencana untuk menggugat cerai sang suami lepas dari melahirkan seorang bayi ini nantinya.
Ingin rasanya Kina mencari sang suami seperti yang diinginkan anak-anaknya tetapi kita tidak bisa memilih antara suami dan ibunya. suaminya tidak juga datang untuk melihat untuk sekedar menanyakan kabar mereka sementara saat ibu juga tidak mengizinkan dirinya keluar rumah mencari sang suami.
Amarah sudah begitu besar berada di d**a sang Ibu mana mungkin melakukannya. Ibu Kinan bahkan menyuruh memilih antara suami dan dirinya jika kita memilih suaminya maka kita disuruh menganggap sang Ibu sudah mati Bagaimana mungkin Kinan ucapan sang Ibu. lagipula dewok surga berpikiran sama seperti sang Ibu apabila kita melakukan itu merujuk kepada sang suami maka Dewa pun tidak nganggap adik kepada Kinan lagi tampil Bagaimana mungkin Kinan bisa kehilangan keluarganya dan memilih Dimas yang saat ini saja tidak peduli kepadanya dan anak anak. Kinan yakin saat ini pastilah Dimas juga tahu jika dirinya sedang hamil. Kinan juga yakin, Dimas masih ingat bagaimana jika Kinan hamil. Mual, muntah, sangat sukut du awal kehamilan.
Bahkan saat kehamilan pertamanya, yaitu mengandung Heri, Kinan mengalami pendarahan. Merwja bahkan mengira akan kehilangannya Heri.
"Ke mana saja kamu mas Dimas? apakah kau tidak peduli ke kau sedikitpun tentang Aku sedang hamil anakmu ini? Apakah kau sudah melupakan aku? setidaknya jangan lupakan anak-anak Mas. aku sedang hamil lemas dan sangat menderita karena ini. Bukan mas, Aku bukannya mengeluh mengandung anakmu hanya saja andai kau berada disisiku maka semuanya akan terasa lebih mudah ku lewati seperti yang sudah-sudah,"kata Kinan sedih di malam yang sunyi, saat Nisa dan Putri audah terlelap tidur.
Ini adalah bulan ke-9 kehamilan kinanda tinggal menunggu saat-saat kelahiran saja. Kinan yang hanya di rumah saja itu kan mencoba lebih aktif bergerak agar ketika mudah saat proses melahirkan nanti.
pagi-pagi ibunya kinan sudah pergi ke pasar untuk berjualan. Putri dan Nisa pun sedang bermain ke rumah tetangga. seperti biasanya Kinan lebih aktif membersihkan rumah dan juga mempersiapkan barang-barang untuk lahirannya hanya menunggu hari hari saja Kapankah tiba masanya akan melahirkan entah pagi siang atau malam tidak ada yang tahu.
ketika sedang mengepel sambil berjongkok tiba-tiba saja Irmawati datang dan langsung masuk ke rumah membuat Kinan sangat terkejut.
"Kinan, Kinan, Kamu sedang sendiri kan?"tanya Erma langsung masuk dan ikut.berjongkok.
"loh mbak Yu, kaget aku. Sama siapa mbak?"tanya Kinan.
"Sendiri, ayo duduk. anak anak mana? ibumu pergi kan?"tanya Erma.
"Ya mbak, aku sendirian. anak anak main. ibu sudah ke pasar,"kata Kunan.
"Mbak udah sering kemari, tapi sama ibu kamu.nghak diyang izinin masuk. Ah, ibu kamu beneran marah Kinan. kamu nggak rau aja. Si Putri malah kena marah pas terakhir aku dateng. Aku jadi nggak enak, terus pulang. aku kasihan sama Putri katanya Putri ikutan jualan pagi-pagi gantiin kamu keliling nyari gue. jangan disuruh lagi buat jualan Kinan Mbak Jadi kasihan ngelihatnya Sedih rasanya Ngelihat dia harus ikut nyari nafkah. maafin Dimas ya kinan, "ujar erma menitikan air mata.
"aku sama sekali nggak ngejemput ribet berjualan Mbak dia sendiri yang mau. awalnya sih memang ibu yang menyuruhnya. Putri langsung mau dan sekarang malah nggak pernah mau berhenti sampai sekarang. Bahkan dia pagi-pagi sudah bangun sendiri nggak pernah ada yang bangunin. dia langsung mandi dan beresin semua dagangannya terus pergi. aku kadang juga bahkan belum bangun Dia sudah pergi aja. pada aku nyuruh dia pergi saat udah terang nggak yang jam 6 aja. tapi dia kadang setengah enam udah pergi Mbak. tugas kadang sedih melihatnya seperti itu tapi katanya dia mau sekolah bareng sama adiknya dan dia mau nabung buat sekolah tapi dia juga mau nabung buat adik bayinya juga,"Ujar Kinan jelaskan.
"anak itu seperti kamu Kinan sangat bersemangat sekali mencari uang. kamu kecil dulu kan juga seperti itu. ya sudah mbak gak bisa lama-lama takut Ibu pulang dan malah marah-marah sama mbak. mbak gak bisa sering-sering mungkin kamu Kinan bukan berarti enggak enggak peduli sama kamu Dan nggak merhatiin kamu. kamu Jangan berkecil hati ya sayang. Mbak masih peduli sama kamu meskipun nanti kamu nggak sama Dimas lag,i Tolong jangan benci sama Mbak. Jika punya kesempatan mbak nakal.main main ke sini. ini mungkin kamu dan juga anak-anak saya Mbak ada uang segini buat kamu dan kamu mungkin aja udah deket waktunya buat melahirkan. cuman sedikit. tapi seenggaknya buat pegangan kamu aja. ini juga ada sedikit buat anak-anak buat mereka jajan,"kata Erma lalu menyerahkan dua amplop. satu amplop untuk Kinan dan satu lagi untuk Nisa dan Putri.
"Mbak nggak perlu repot-repot seperti ini Mbak. Kinan udah ada tabungan sendiri kok untuk melahirkan nanti. buat Nisa sama Putri juga sudah ada buat sekolah mereka khawatir. Insya Allah kami baik-baik saja,"kata Kunan tersenyum menyerahkan lembali ampolk itu.
"Mbak, nanti kalau ada waktu dan ada kesempatan bicara lagi sama mas Dimas ya mbak. jujur aja aku masih ngarepin dia buat datang sebelum aku melahirkan. bilang aja aku ngasih waktu dia sebelum waktunya aku melahirkan. karena kalau sudah melahirkan ibu bakal Gugatdia ke pengadilan mbak. Jujur aja aku nggak mau. tapi kalau sudah terpaksa dan gak ada pilihan lain mau bagaimana lagi nanti. aku nggak bisa memilih antara Mas Dimas dan juga Ibu. Ibu nyuruh buat lupain dia Dan menganggap dia sudah mati jika aku bersikeras untuk bersama Mas Dimas Bagaimana mungkin itu aku lakukan mbak? mas Dewok juga ngomingnya sama. Aku mesti gimana lo mbak?"tanya Kinan menitikkan air.mata.
"ini simpan aja pokoknya. Pokoknya Mbak udah mau pulang. kamu yang sabar yang kuat jangan terlalu banyak memikirkan masalah ini jalani aja. apapun keputusan Kinan selalu mendukung kinan. jika pun harus berpisah dari Dimas, Ya sudah mau bagaimana lagi. Jangan membantah kata ibu mu. lagipula Surgamu ada di kaki Dimas dan juga di ibumu. Mbak gak bisa ngasih saran. Ya gimana takut Mbak sendiri malah salah. tapi sebisa mungkin jangan bercerai Kinan.. mungkin Dimas lagi kusut. nanti Mbak bakal nyuruh dia buat jemput kamu dan anak-anak. kamu sing sabar ya Nduk.mbak ni enggak bisa berbuat banyak selain bilang kamu yang sabar. mbak juga udah berapa kali nungguin Dimas tapi Dimas nggak ada terus di rumahnya. nggak tahu deh sekarang kerja di mana. Di tempat yang lama udah nggak ada lagi karena pekerjaan mereka udah selesai. bangunannya aja udah berdiri dengan kokohnya. jadi nggak tahu mereka kerja di mana. Kalau heri, heri ada Heri sekarang sama Mbak dan ikut sama Mbak," Erma menjelaskan.
"heri sama Mbak? Alhamdulillah kalau sama Mbak. Tolong jagain Heri ya Mbak. Kalau dia mau suruh dia ke sini aja. aku mau ketemu sama dia nggak papa kalau dia mau ikut aku. tapi Aduh aku nggak tahu aku pusing," ujar Kinan memegang kepalanya.
"Kenapa megang kepala Kinan?"tanya Erma khawatir.
Bukannya menjawab, Kinan malah memegang.perutnya.
"Duh jadi mules mbak,"kata Kinan.
"Ha? apa mau lahiran Nam?"tanya Erma.
"Ah belum mbak. Perkiraannya minggu depan kok," Jawab Kinan meringis memegang perutnya.
"bener? Ayo mbak temenin ke bidan. kita periksa dulu aja,"kata Erma.
"nggak usah mbak, Kinan baik baik saja,"tolak Kinan halus.
"kamu yakin nggak papa? nanti Mbak Malah pulang, pun kamu malah mau lahiran dan sendirian lagi di rumah? ayo lo mbak teman ke bidan. kita periksa dulu kalau belum lahiran ya nggak papa pulang lagi aja. dari pada nanti Mbak pulang Kamu malah kenapa kenapa dan nggak ada orang di rumah? anak-anak kamu juga gak ada di rumah. apa Mbak Suruh Putri dan sama Nisa pulang aja dulu gimana?" tanya Erma khawatir.
"aku nggak papa kok Mbak suruh Nisa sama Pitri pulang aja, kalau ada Putri seenggaknya nanti aku bisa suruh Putri manggil Mbak atau manggil tetangga atau pun menjadi ojek. jadi Mbak enggak usah khawatir. Nanti aku rasanya cuman mules Biasa aja kayaknya nggak papa kok. Tenang aja Mbak. Nggak apa mbaknya pulang aja,"kata Kinan halus.
Irma pun tidak memaksa lagi kemudian mencari putri dan Nisa yang sedang bermain di rumah tangga. Putri begitu senang melihat sang Bude tiba-tiba mencarinya dan kemudian Putri langsung memeluknya.
"Bude Bude kemana aja? Putri kangen lho sama bude!" ujar Putri memeluk Sang bude sementara Nisa hanya berdiri dan diam saja
"Bude Nggak kemana-mana kok Putri. Putri kangen ya sama bude? Oh ya tadi Budi bawa jajanan lo di rumah, nanti dimakan ya sama adek. tapi jangan bilang-bilang sama nenek ya kalau Budi dari datang ke rumah Putri. jajanannya Disimpan aja bilang aja dari beli jajanan sendiri," pesan Erma pada Putri.
"baik ke Bude. nanti Putri bilangnya beli sendiri. Bude udah mau pulang?" tanya Putri.
"Iya Putri Bude udah mau pulang. Putri sama Nisa pulang dulu gih. tadi ibu Kinan bilang Perutnya mules. Bude takut jangan-jangan ibumu mau lahiran. nanti kalau perut ibu mulas dan sakit lagi kamu ke rumah Panggil bude ya. atau kalau nggak langsung Panggil tetangga atau Panggil ojek ya, Buat nganter Ibu ke bidan. tadi bude juga udah ngajak Ibu ke bidan tapi nggak mau katanya cuman sakit perut aja biasa. bude hawatir tapi ibunya kamu nggak mau periksa. jadi putri sama Nisa pulang dulu ya temenin Ibu, " jelas Bude Irma pada putri yang langsung di anggukan kepala oleh Putri. ketiganya kemudian langsung pulang menemui kinan yang sekarang nampak berbaring di kursi ruang tamu.
"gimana Kinan kamu masih sakit?" tanya Erma menuntun Putri dan Nisa masuk kerumah
"nggak papa kok, udah mendingan. Mbak Yu Udah mendingan Mbak pulang aja mungkin banyak pekerjaan lain di rumah, "ujar Kinan halus.
"Ya deh, tapi benar kamu udah nggak papa? mbaknya khawatir, kalian Cuma sendirian di rumah ini ntar kalau Mbak pulang malah tambah kenapa kenapa, "ucap Bude Erma masih khawatir.
"iya lho Mbak Yu aku udah nggak kenapa-kenapa kok. ada Putri sama Nisa juga nemenin aku jadi Mbak Yu jangan khawatir. Putri udah bisa diandelin Kok. Terus Nsa juga bisa nemenin aku disini,"kata Kinan halus
Erma pun kemudian mengangguk kemudian meminta izin pulang ke rumahnya. tetapi Erma meminta tolong tolong kepada sang tetangga Kinan agar sesekali melihat Kinan mungkin terjadi sesuatu karena Katanya tadi mules-mules takutnya sudah mau melahirkan dan malah tidak ada yang menolong.
10R mau ke rumahnya Kinan benar-benar mules lagi dia pun terkadang meringis sedikit meminta tolong kepada putri untuk mengambilkan minyak kayu putih di dalam kamar. Putri pun nampak gelisah melihat sang ibu yang kau sakitan. sementara ini Hanya berdiam saja memijat kaki sang ibu.
"ibu Gimana masih sakit ya perutnya? apa kita Panggil ojek aja? Ibu kebidanan aja ya?" ajak Putri khawatir melihat ibunya meringis kesakitan.
"Aduh Ibu nggak tahu sayang Iya deh kamu panggil aja tetangga Panggil bu mina ya. terus panggilin bentor aja. Ibu Naik bentor aja susah kalau mau naik ojek susah perutnya. Putri tahukan yang gimana itu bentor?" ujar Kinan sambil meringis.
"Iya bu Putri tahu kok Yang gimana bentar ya sudah tunggu sini sebentar ya Putri mau panggil Bu Mina dulu sama sekalian Mamang bentolnya juga," Putri kemudian berlari kecil ke rumah tetangga memanggil Bu Mina, tetangga mereka. bu Minasegera menemui Kinan yang masih meringis kesakitan di ruang tamu sementara Nisa masih memijat kaki sang ibu.
"Kenapa Kinan udah mau lahiran?" tanya Bu Minah khawatir.
"nggak tahu nih kayaknya. perut mules ini bu dari tadi,"ujar Kinan masih meringis memegang perutnya.
tidak Berapa lama kemudian Putri pun datang dengan Abang bentor. Bu Mina pun dengan cekatan membantu Kinan keluar rumah dan Naik bentor. sementara Putri tergopoh-gopoh membawa tas besar miliki Kinan yang memang sudah dipersiapkan kalau-kalau dia akan melahirkan.
Bu Minah pun segera ikut naik bentor. sementara Putri dan Nisa ngotot mau ikut juga ke bidan. Setelah Mengunci pintu Putri,Nisa Kinan dan Bu Mina pun pergi ke bidan untuk memeriksa Apakah kinan sudah melahirkan atau belum.
Putri dan Nisa menunggu di ruang tunggu sementara bumina dan juga Canon masuk ke ruang bidang tanah. Pakde mereka sudah dikabari untuk segera menjemput ibunya Kinan di pasar. cukup lama Putri dan bisa menunggu di depan sampai akhirnya ada suara tangisan bayi dari dalam tanah titik Putri mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa karena Allah telah mempermudahkan kelahiran Sang Ibu melahirkan bayi kecilnya.
"Dek Dek, Nisa, Dek bisa dengar suara bayi? ibu sudah melahirkan adik bayi. Alhamdulillah semoga ibu dan adik bayinya selamat dan baik-baik saja, "ucap Putri memeluk sang adik.
tidak Berapa lama kemudian Bu Mina pun keluar dan tersenyum.
"Putri, Nisa Ibu Kinan udah nglahirin itu adiknya cowok. yeeee Putri sama Nisa punya adik cowok. Nanti mau dikasih sama siapa nanti Sayang?" tanya Bu Minah tersenyum memeluk keduanya.
"Alhamdulillah, Putri nggak tau bu Minah kasih namanya siapa. Em nanti aja nunggu ibu,"kata putri tersenyum senang.
Selang tiga puluh menit kemudian, barulah Dewok dan ibunya tiba. bayi mungil Kinan sudah tertidur disisi Kinan. semantara Putri dan Nisa tak hentinya memandangi adik kecil mereka yang nampak menggemaskan itu.
"wuah adiknya Nisa sama Putra ganteng ya. di kasih nama siapa sayang?" Sapa Dewa membelai kepala Putri dan Nisa.
"Putri Nggak tahu Pakde tanya ibu aja. Oh iya bukannya adik bayi itu harus di adzanin ya Pakde adzan in Adik bayinya Pakde," ujar Putri mengingatkan dewok. dewok pun langsung teringat dengan semua Azani keponakannya yang tampan itu. setelahnya barulah dirinya bertanya kepada Kinan Bagaimana keadaannya Kinan mengatakan bahwa kepalanya sedikit merasa pusing Selain itu semuanya baik-baik saja.
"Kamu merasa pusing Kinan? Bagaimana ini dewok perasaan semuanya baik-baik saja ayo tanya Bidannya dulu,"kata ibunya khawatir.