8. MENANTI SANG ADIK

2517 Words
seminggu berada di rumah sang nenek Putri sudah mulai terbiasa. ibunya juga sudah terbiasa tanpa sang Ayah. Pagi-pagi Kinans sudah berjualan dan kemudian dilanjutkan juga berjualan di sekolahan. Putri juga tidak pernah mengeluh. Sekarang dia sudah bisa membantu sang nenek. Saat ke ibunya pergi dia akan membantu neneknya membersihkan rumah. neneknya sendiri sekarang lebih suka ke pasar pukul 07.00. menunggu Kinan pulang dari berjualan pagi-pagi. Hanya Nisa saja yang kadang suka bertanya tentang Heri. Maka ketika Nisa menanyakan keberadaan sang Abang dan juga sama air, Putri akan mengatakan bahwa sang ayah sedang bekerja Begitu juga dengan Abangnya sedang sekolah Pesantren. Entah dari mana anak itu bisa mengatakan sekolah Pesantren padahal tidak ada orang di rumah yang menceritakan tentang pesantren. putri mengatakan kepada Nisa untuk menghibur dirinya sementara dirinya sendiri tidak henti-hentinya berharap Abang dan ayahnya segera datang. Dimas dan Heri pun tidak pernah lagi ada kabarnya bahkan tidak lagi menghubungi Bu De Irma. Kinan bahkan seolah kehilangan harapan. merasa sepertinya memang benar Dimas ingin menceraikannya. tetapi karena belum juga berani membicarakan hal ini kepada sang ibu. Namun sepertinya sang Ibu juga Mulai curiga Mengapa sudah 1 bulan ini Dimas tak satu kali pun menjenguk anak dan istrinya. bisa jadi mereka memang sedang ada masalah. jika memang benar dimas ada dan bekerja di luar kota, seharusnya setidaknya 1 bulan sekali dirinya bisa menyempatkan untuk melihat anak dan istrinya. anak-anaknya juga masih sangat kecil dan suka sekali menanyakan dirinya. sang Ibu Hanya berdiam diri saja, memperhatikan tidak pernah bertanya atau apa. Tetapi lama-lama dia Jengah juga, melihat Nisa yang suka menangis menanyakan sang ayah sementara Kinan tak bisa mengatakan apa-apa. "Kinan Sebenarnya kamu itu ada masalah apa sih sama Dimas?" tanya sama ibu bertepatan dengan adanya dewok malam itu. "Sudah hampir 1 bulan ini dan kamu belum juga bertemu dengan Dimas lagi kan? Apakah kamu dinafkahin ya oleh Dimas? lama kamu berada di sini Kinan? apakah Dimas suka menelpon kamu? atau setidaknya menitipkan uang untuk kamu dan anak-anak?" sambung dewok seperti mencari celah. "kinan sama sekali tidak bisa menghubungi Mas Dimas Bu, Kak, terakhir yang Kinan tahu dari Kak Erna, Dimas pergi ke Jawa Tengah kak. tapi nggak tahu pergi ke Jawa Tengah itu ke tempat siapa. dia kemarin beralasan mau pulang kampung sama bosnya. tetapi kak Erma mau menyelidiki di kampung halaman tidak ada Mas Dimas ataupun Heri. jadi Kinan merasa mungkin benar mereka ke Jawa Tengah, tapi enggak tahu sama siapa dan ngapain,"Kinan berterus terang pada akhirnya. "Apa maksudnya Dimas melakukan semua itu kepada mu kinan? Apa kalian sempat bertengkar? Apa Mungkin kalian ingin berpisah? begitukah? Mana mungkin seorang suami menelantarkan anak dan istrinya tanpa kabar dan tanpa memberi nafkah seperti ini? ini sudah 1 bulan Kinan, bahkan abang rasa inu sudah lebih, ya kan Bu?" ujar Dewok lagi. "Ibu Sebenarnya gue curiga kinan. Jadi kamu mendingan cerita aja ,Sebenarnya kamu sama Dimas itu kenapa. ada baiknya juga kamu bicara sama ibu. biar ibu sama Abang bisa mengambil keputusan juga. jika memang benar kamu nggak punya masalah dan nggak punya masalah apa pun sama Dimas nggak seharusnya Dimas melakukan ini. andai kata Memang Dimas pergi bekerja, Kita seharusnya mencari tahu kemana dirinya pergi. Mungkin saja dia hilang di laut atau di bunuh orang di tengah perjalanan, bisa saja kan? Jadi sebaik sebaiknya kita mencari tahu keberadaan Dimas saat ini. jika memang kau ingin menginginkan itu dan juga memang kau tak ada masalah dengan Dimas. jadi katakan saja kepada ibu dan abang Mu, "pinta sang ibu kemudian. kinan menarik napas panjang kemudian memutuskan memilih menceritakan masalahnya kepada sang Ibu dan juga sama Abang. sudah terlalu lama dirinya merasakan hal ini sementara Kak Irma juga sama sekali tidak bisa membantu apa-apa. dirinya sudah mencari tahu ke sana ke sini namun tak juga ada kabar Di mana keberadaan Heri dan juga Dimas. "Iya Bu Sebenarnya hari dimana aku pertama kali menginap di sini malam-malam itu sebenarnya aku sama Mas Dimas habis bertengkar. Untung saja pada saat itu Mbak Erma datang dan melerai pertengkaran kami. Mbak Erma malam menyuruhku untuk pulang dulu ke rumah ibu dan dia meredakan amarah dari Mas Dimas. tetapi pas esokan paginya aku pulang, Mas Dimas rupanya malah enggak ada di rumah Bu nanti. Aku kemudian nanya sama Mbak Erma, kemana, jadilah Mbak Erma bilang Mas Dimas sepertinya pergi karena baru saja dia menelpon dan mengatakan akan pergi ke Jawa Tengah. pada. mas Dimas juga bilang kalau handphonenya mau dijual Buat ongkos pergi ke Jawa Tengah begitu, "ujar Kinan menjelaskan. "Mas Dimas itu tentang apa memangnya? kenapa sampai dirinya harus kabur dan pergi meninggalkan kalian seperti ini? sama juga kenapa malah menyuruh kamu pulang ke rumah Ibu? seharusnya Erma itu menenangkan kalian berdua dan menjadi penengah akan bertanya kepada kalian berdua Ada apa dan ada masalah apa. bukan langsung menyuruh kamu pergi dan pulang ke rumah ibu begitu saja. Tentu saja dimas malah berpikir mau pergi juga. Kangan jangan Erma mau bikin masalah juga antara kamu sama Dimas. kayaknya dia suka kalau kalian bertengkar tidak. jangan-jangan si Dimas juga sebenarnya ngasih tahu keberadaan Dimas sama Erma. Cuma Ermanya aja yang tidak mau bilang ke kamu Kinan,"ujat sang Ibu jadi kesal. "nggak seperti itu adanya Bu Tanti Ibu jangan langsung berprasangka buruk sama Mbak Erma. Mbak Erma hanya kebetulan mau ke rumah aja Bu dan langsung masuk ke rumah mendengar kami bertengkar di dapur. pada saat itu masih Mas mau nusuk aku pakai pisau dapur Bu karena kami memang lagi tertangkap di dapur. Mbak Erma hanya tidak ingin Mas Dimas makin emosi makanya nyuruh aku pergi dulu. Heri juga pada saat itu lagi mau ngerjain PR dan akan ada temennya yang datang makanya dia nggak mau ikut Bu. sama sekali nggak seperti itu pikir. aku rasa Mas Dimas sendiri yang nggak mau ketemu aku dulu Bu. Mbak Erma juga udah mencari tahu kesana kesini tapi enggak juga ada kabar tentang Mas Dimas, "ujar Kinan membela. "gila si Dimas Masa mau masuk kamu pakai pisau dapur? Emangnya karena bertengkar karena apa sih sampai segitunya? apa gara-gara kamu kerja terus begitu?" tanya dewok penasaran. "Mas Dimas marah gara-gara aku makai duit yang seharusnya dia pakai buat bayar motor Bang. aku pakai buat kebutuhan dapur terus dia marah ke aku. cuman gara-gara itu aja kok. sama sekali nggak ada pertengkaran lain. Dan ini juga pertama kalinya kami bertengkar. biasanya juga walaupun aku makai duit dengan seenaknya juga, Mas Dimas juga sama sekali nggak pernah marah. apalagi mau nusuk. seperti itu kok Bu. aku rasa Mas Dimas sendiri lagi ada masalah lain. makanya pergi dan marah-marah ke aku seperti ini, "ujar Kinan lagi. "semarah-marahnya seorang suami nggak Seharusnya juga berlaku seperti itu kepada istrinya. apalagi meninggalkan kamu dan anak-anak tanpa kabar seperti ini. jika memang ingin berpisah seharusnya sudah dilakukan nya. tapi bukan yang menggantungkan kamu seperti ini. lantas Bagaimana dengan kata kamu masih Kamu bayar?"Tanya dewok lagi. "bulan ini sudah aku bayar Mas Mangkanya barang-barang aku masih berada di sana," ujar Kinan. "begitu rupanya. menurut Dewik, lebih baik kita berpisah saja sama Dimas. besok juga barang-barangnya Bawa aja ke sini dan Kina sama anak-anaknya tinggal aja di sini. lagipula untuk apalagi menunggu Dimas. ini sudah lebih dari 1 bulan bahkan lebih dari 40 hari. untuk apa lagi menunggu dirinya? lebih baik kalian.berpisag sekalian. bisa saja Abang apa carikan uang untuk menggugat dirinya ke pengadilan," ujar dewok kesal. "T Tapi bang..,"ujar Kinan ini membantah namun kata-kata yang terputus oleh kata-kata sang ibu. "nggak ada tapi-tapian kinan. mendingan kamu nurut apa kata ibu sama kata Abang mu. Katanya itu Abangmu itu ada benarnya. ngapain lagi kamu nungguin dimas nggak tahu lagi di mana dan lagi ngapain. jangan-jangan dia udah nikah sama perempuan lagi dan lari sama perempuan lain, itu bisa saja kan? udah mendingan Kamu cerai sama dia dan balik ke rumah ibu. Rumah Ibu juga cukup besar untuk menampung kalian. kamu juga bisa cari nafkah sendiri bukan? ngapain juga ngarepin duit si dimas yang nggak seberapa itu," ibunya juga ikutan kesal. "nggak perlu terburu-buru untuk memutuskan langsung ke pengadilan kita lihat saja Apakah Dimas masih mau menjemputmu atau tidak. yang jelas besok kamu harus beresin barang-barang kamu di kontrakan kamu itu. Lagian buat apa buang-buang uang sewa kontrakan yang gak ditunggu seperti itu. kan Sayang duitnya. untuk ke pengadilan kamu Bisa pikirin lagi aja baik-baik. Sekalian nabung buat ngurus surat suratnya. Abang mau pulang dulu,"kata Dewik memilih pulang kerumahnya yang hanya berjarak satu rumah dari rumah sang ibu. "yang dikatakan dewan itu benar Kinan pikirkan lagi baik-baik. Ibu bener-bener dukung kamu Jika kamu mau berpisah dari Dimas. untuk apa terus mempertahankan dia yang nggak peduli sama kamu kinan. udah hampir 2 bulan ini kalian terpisah dan nggak ada sedikitpun ia pedulikan sama kamu ngasih kabar pun nggak tahu entah ada di mana dia sekarang apa jangan-jangan udah mati dibunuh orang. kita enggak tahu kan? "ujar sang Ibu dengan nada ketus. "tapi kan bu oek oek,," tiba-tiba saja mau bicara Kinan malah mual dan langsung berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. melihat sang anaknya tiba-tiba saja mual dan muntah sang Ibu pun segera mengikutinya ke belakang. "Lo lo, kamu kenapa Kinan? apa masuk angin kamu kok muntah mentah begitu?"tanya sang ibu kemudian dengan nada khawatir. "nggak tahu kok tiba-tiba rasanya mual banget bu. rasanya gak enak dan berada eneg. sebenernya sih dari kemarin Kinan merasa mual apalagi pas masak lue merasa nggak enak banget. tapi baru ini yang langsung muntah Begini bu," Ucap Kinan kemudian duduk dan minum segelas air. ibunya Kinan kemudian memijat tengkuk Kinan agar merasa sedikit lebih baik. Lalu dia mengambil uang logam dan mulai mengerok tubuh Kinan. kinan merasa lebih baik setelah dikerok sang Ibu. kebiasaan orang desa yang paling mudah dilakukan ketika mual dan muntah atau pun masuk angin adalah kerokan. dan itulah yang selalu dilakukan Kina dan ibunya ketika masuk angin apalagi kalau badan pegal-pegal paling enak kalau kerokan. "ngomong-ngomong apa kamu pakai pengaman Kinan? kamu KB nggak? apa jangan-jangan kamu ini hamil kok mual begitu?" tanya sang ibu hawatir. "memang nggak KB kok Bu nggak pakai pengaman juga tapi rasa rasanya enggak hamil kok Bu. lagian juga Rasanya baru bulan kemarin kinan dari datang bulan. Ini mungkin cuman kecapean dan masuk angin biasa aja kok bu," ujar Kinan. sang Ibu Pun hanya mengiyakan saja kata-kata anak yang itu namun sayangnya selama beberapa bulan kemudian Urutkan nama-nama nama besar. benar-benar terjadi apa yang ibunya khawatirkan kembali hamil sementara Dimas tak juga kunjung datang. sang Ibu pun tak mengeluarkan anaknya hamil toh mereka sudah mempersiapkan dana untuk mengugat cerai Dimas. ibu-ibu yang tidak menyukai Dimas anaknya pulang seorang diri tanpa suami dan sekarang malah bunting tanpa ditemani seorang suami. Ibu mana yang masih mau menantunya datang tanpa merasa berdosa seperti itu. di bulan ke-7 ketika masa kehamilan Kinan tiba-tiba saja kakak ipar Kinan Ermawati datang Bersama sang suami. dirinya atas nama keluarga besar meminta maaf kepada keluarga besar Kinanti "Maafkan Dimas keluarga ya Bu. sebenarnya 2 bulan yang lalu suamiku menemukan Dimas di sekitar RT sebelah. Sejujurnya dari kemarin-kemarin Dimas bersembunyi. Katanya malah nggak berhenti kerja dan masih bekerja di tempat yang kemaren. dia untuk sengaja meminta tolong kepada si Bos dan juga beberapa orang mengatakan dirinya pergi pulang kampung. kalau soal handphone-nya handphone-nya memang sudah sana aja dijual sama Dimas untuk membayar kontrakan pertamanya. hari juga baik-baik saja masih sekolah tetapi sekolahnya sudah dipindahkan sama Dimas Bu Kinan, "Erma memberikan penjelasan. "Jadi adik kamu itu sembunyi? ya ampun muncul sekali jadi laki-laki. kamu lihat sendiri anak saya lagi hamil begini Malah ditinggal suaminya nggak tahu kemana rupa-rupanya lagi sembunyi Tangcity sembunyi dari apa tanda tanya nggak mampu nafkahin lagi ya pulangnya saja anak saya ke rumah ibunya atau saya masih mampu buat menafkahi dia dan juga jujur saya tapi sekarang bilangin aja sama Dimas Saya mau mereka berdua ini Dimas sama Kinan berpisah saja. daripada seperti ini ya, Kinan lagi hamil, Dimas juga sepertinya tidak peduli. saya benar-benar tidak mau ya jika Dimas datang lagi ke rumah saya. Apalagi menjenguk cucu saya yang nantinya akan lahir Saya berjanji saya nggak mau ngelihat Dimas lagi cantik saya nggak sunti melihat Dimas. Saya benar-benar enggak suka dan Makin gak suka sama orang itu, "ujar ibu Kinan marah. "Saya benar-benar minta maaf atas nama Dimas. besok atau lusa saya akan menyuruh Dimas datang kemari menyelesaikan urusan Dimas dan Keenan. itu rujuk ataupun seperti kata ibu tadi tapi saya masih berharap Kina dan Dimas bisa ke rumah tangga lagi Bu. mungkin saja di Mas kemarin sedang khilaf dan sedang menenangkan dirinya saja,"ujar Ermawati meminta pengertian dari sang ibu. Ibu Kinan terus aja motor dan membicarakan tentang perpisahan Kinan juga Dimas sementara kedua orang cucunya sedang mengintip dari hordeng pintu kamarnya. itu adalah Nisa dan juga putri. disayang sama sekali tidak mengerti pembicaraan orang tua di depan hanya menyuruh Putri untuk kembali masuk ke kamarnya dan bermain boneka tetapi otak Putri yang melebihi kapasitasnya sudah bisa memahami dan mengerti apa yang sedang dibicarakan para orang tua di depan. "Kenapa ayah sama ibu mau berpisah? Kenapa nenek malam mau menyuruh Ibu berpisah dari ayah? nenek jahat sekali kenapa harus menyuruh Ibu berpisah dari ayah? aku suka kalau ibu akhirnya punya adik lagi tetapi neneknya malah menyuruh Ayah untuk berpisah. aku tidak suka," Putri bicara sendiri dengan bonekanya. sejak hari itu bukannya datang Dimas Malam makin tidak pernah datang Munculkan dirinya jangankan Dimas uang untuk nafkah anak-anaknya saja pun tidak pernah datang. hanya Ermawati saja yang sesekali menengok keponakannya itu membawakan jajanan dan juga hal yang lainnya. beruntung sekali Ermawati datang ketika ibunya Kinan tidak ada di rumah. karena beberapa waktu yang lalu ketika ibunya Kinan pulang melihat banyak sekali jajanan ibunya pun bertanya kepada putri dari mana jajanan yang sedang dimakan Putri dan Nisa itu. seketika Putri menjawab bahwa budenya Baru saja datang mengantarkan jajan itu untuk mereka. bukannya senang seneng malah marah-marah the kemudian melempar seluruh jajanan yang sedang dipegang kedua bocah itu ke kotak sampah. otomatis kedua bocah yang tidak mengerti apa-apa itu menangis menjerit Mengapa makanan yang ingin mereka makan malah dibuang oleh sang nenek. Kinan yang sedang hamil tua pun tergopoh-gopoh ketika mendengar suara tangis putri dan juga Nisa itu. dirinya mengira Putri Danisa sedang bertengkar memperebutkan mainan rupa-rupanya sama ibu lah pelaku sebenarnya membuat kedua bocah itu menangis. "Kinan, dengarkan hal ini baik-baik Kinan dan jangan pernah menerima makanan apapun dari Ermawati apalagi dari Dimas. Aku ini masih sehat masih keluar masih gagah Kinan. aku masih mampu menafkahi kau dan juga anak-anakmu apalagi hanya memberikan kalian jajanan seperti itu. harganya juga paling cuma 500 perak ataupun 1000 perak aku masih bisa memberi kalian seperti itu. Satu lagi yang penting, tidak perlu lagi menerima hal dari mereka. Sekali lagi ku katakan kepadamu. Kinan, Jika kau masih menganggap aku ini sebagai ibumu maka dengarkan kata-kataku. jika kau masih ingin tinggal bersamaku di rumahku ini maka dengar apa yang disarankan kepadamu. jika tidak angkat kaki saja dari rumah ini dan anggap aku sudah mati aku tidak suka tidak ikhlas tidak Ridho jika kau masih numpang hidup sama mereka, satu lagi ajari anak anakmu untuk tidak lagi mwncari ayahnya, apabila kakaknya, anggap saja jika mwrwka berduayang sudah tak ada. Sudah mati semua, Jangan lagi berhubungan dengan keluarga Dimas, titik,"kata ibu Kinan emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD