Wendy mendongakkan kepalanya, mengalihkan perhatiannya saat mendengar pintunya diketuk. Ia berhenti membuka kotak bekal makan siangnya. Benar, dia selalu membawa bekal untuk makan siang untuk berhemat. Selain itu, ia dapat menggunakan waktu istirahatnya untuk melanjutkan tugasnya mengingat tumpukan berkas di atas mejanya.
"Masuk."
Pintu terbuka. Kepala Aldrich menyembul dari celah pintu. Wajah sumringah dan cerianya membuat kepala Wendy yang mumet dengan segala pekerjaannya tiba-tiba menjadi terasa ringan.
"Halo," sapa Aldrich seraya membuka pintu lebih lebar dan berjalan masuk. "Wah, sedang menikmati makan siang?"
Wendy melontarkan senyum termanisnya pada pria itu. "Benar, perut saya sudah mulai keroncongan."
Aldrich melangkah mendekati meja kerja Wendy. Memberi gesture meminta izin untuk duduk di kursi di depan meja kerjanya. Wendy mengangguk.
"Sepertinya rencana saya untuk mengajak anda makan di luar hari ini telah gagal," ungkap Aldrich seraya menopang dagunya, bersandar ke meja kerja Wendy, memandang wajah gadis itu dengan hikmad.
Menyaksikan cara Aldrich menatapnya, pipi Wendy merona. "Kenapa tidak mengajak saya dari kemarin? Jadi saya tidak perlu repot menyiapkan dan membawa bekal dari rumah."
Masih menatap Wendy, Aldrich terkekeh dan menjawab, "Saya lupa."
Wendy tertawa.
"Bagaimana kalau besok anda tidak membawa bekal? Temani saya makan siang di luar saja. Saya yang traktir."
Mendengar itu Wendy berhenti mengunyah makanannya, membalas tatapan lembut Aldrich, takjub.
"Bagaimana? Atau kalau anda tidak bisa keluar dari kantor, bagaimana dengan sekotak bekal untuk saya? Hehehe."
Aldrich memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Senyumnya yang secerah sinar matahari di musim panas dan menyilaukan itu membuat Wendy ikut tersenyum dan mengangguk. Wendy merasakan sesuatu menghangatkan hatinya. Lagi.
"Saya ingin mencoba menu makan siang sesuai seleramu, Tuan Aldrich, tetapi pekerjaan saya tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Sepertinya saya bisa memenuhi opsi kedua. Anda setuju?"
"Tidak masalah!"
Wendy tertawa kecil atas antusiasme Aldrich. Dia mengambil salah satu kotak bekalnya yang lain. Membukanya. Isinya adalah buah-buahan seperti anggur, stroberi, pir dan apel. Menyodorkannya pada Aldrich.
Aldrich menatapnya, bingung. Wendy tersenyum, memberi gesture mempersilakan pria itu memakan bekalnya.
"Ini untuk saya?"
Aldrich mengambil satu stroberi dan menyuapnya. "Anda memang tipe calon istri idaman," ucapnya seraya tersenyum lebar.
Mata Wendy membulat. Pipinya semakin memerah. Tersipu malu.
oOo
Wendy Lawson duduk termenung di kursi paling belakang bis yang ia naiki. Matahari sudah terbenam. Jalan mulai diterangi oleh lampu. Kota New York tidak pernah sepi. Hari ini ia pulang telat tiga jam dari biasanya. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam.
Ia teringat berkas-berkas di mejanya masih menumpuk, belum selesai. Syukurlah atasannya memintanya untuk mengosongkan jadwalnya dalam satu minggu agar Wendy dapat fokus pada tugas-tugasnya yang belum terselesaikan. Karena jika jadwal August Gold mulai padat, Wendy akan sangat kerepotan.
Perutnya mulai mengadakan konser lagi.Wendy memegang perutnya yang sudah menuntut untuk segera diisi. Ia teringat kejadian makan siangnya bersama Aldrich. Saat di mana Aldrich mengucapkan tiga kata itu.
'Calon istri idaman.'
Tanpa ia sadari pipi Wendy memerah lagi. Teringat senyuman dan cara Aldrich menatapnya. Entah apa yang membuat Wendy menyukai senyuman dan tatapan matanya itu. Wendy selalu merasa nyaman di dekat pria bermata bulat itu.
Tiba-tiba lamunan indahnya terusik ketika ia mendengar nada dering pemberitahuan telepon masuk dari tasnya. Ia segera merogoh kantong tasnya dan mengambil ponselnya. Telpon dari August Gold.
Ini sudah di luar jam kerja. Apa yang diinginkan bosnya itu sekarang?
Tanpa membuang waktu, Wendy segera mengangkat teleponnya.
"Yes, Sir?"
"Di mana berkas saya yang ada dalam map merah itu?"
Holy s**t! Map merah itu ada di pangkuannya sekarang.
"Maafkan saya, Pak, masih ada di tempat saya."
"Saya tunggu kau lima belas menit, sampai jam tujuh lewat lima. Saya perlu berkas itu sekarang."
Sambungan terputus. Wendy panik. Tubuhnya gemetar. Ia segera berdiri dari tempat duduknya dan memencet bel, meminta sopir menepikan bisnya. Bis pun menepi. Ia meminta maaf sekaligus mengucapkan terimakasih pada sopir bis dan penumpang lainnya karena menyebabkan terhambatnya perjalanan.
Wendy segera turun dari bis. Membawa kakinya yang terbungkus stiletto, berlari secepat mungkin. Untung saja bis yang ia naiki belum terlalu jauh dari gedung kantornya, sekitar tiga blok atau dapat di perkirakan satu kilometer dari tempatnya berada sekarang.
Wendy terus berlari seperti orang yang tengah dikejar anjing gila. Betisnya mulai terasa perih. Lecet. Tube skirt selututnya pun ia angkat hingga pahanya sedikit terbuka. Membuat akses kakinya lebih nyaman untuk berlari. Ia tidak peduli lagi. Habislah karirnya jika ia terlambat mengantar berkas ini.
Gadis itu berhenti sejenak. Sudah tidak sanggup lagi berdiri dengan sepatu dengan hak sepuluh centimeter itu. Ia melepas sepatunya. Mulai berlari lagi, tanpa alas kaki. Kali ini lebih cepat.
Wendy terus memaksakan kakinya untuk berlari. Betisnya mulai perih karena lecet akibat sepatu dengan hak tinggi dan lancip itu, juga karena telapak kakinya yang menginjak kerikil-kerikil yang ada di sepanjang jalan. Ia tidak peduli orang-orang melihatnya dengan pandangan heran. Jantungnya terpompa sangat cepat. Dadanya terasa sesak. Paru-parunya perih karena siklus napas yang tiba-tiba berubah drastis.
Please, don't be late.
Or I'll die.
oOo
August memutuskan sambungan teleponnya. Menghela napasnya dan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya yang super empuk. Ia tersenyum sendiri. Baru saja berhasil menemukan ide untuk memanggil sekretarisnya itu untuk segera menemuinya.
Faktanya, ia tidak terlalu memerlukan berkas itu sekarang. Berkas itu bisa ia baca dan tanda tangani kapan pun ia mau asalkan sebelum deadline. Alasan utama August memanggil Wendy sudah sangat jelas. Ia hanya ingin melihat reaksi gadis itu.
Apa yang akan gadis itu lakukan untuknya? Bagaimana tanggapannya setelah menerima telepon itu? Ia ingin memastikan dirinya sekali lagi apakah Wendy memang adalah 'miliknya' yang akan melakukan apa saja untuknya. Untuk kepuasannya. Mengapa demikian? Karena August Gold berbeda dalam konteks seksual.
Apakah August Gold pernah melakukan seks?
Pertanyaan konyol. Tentu saja. Dulu jam terbangnya sangat padat. Ketika ia lebih muda, hormonnya selalu mendidih dan tak dapat dikontrol. Sekarang? Tentu saja berbeda. Ia sudah lebih dewasa dan mampu menahan diri.
August Gold adalah seorang Sadistis. Entah berapa wanita yang telah ia siksa dan hampir mati kehabisan napas saat melakukan seks dengannya. Ia tak pernah puas. Ia belum menemukan seseorang yang benar-benar ia inginkan. August Gold tidak pernah melakukan seks berulang-ulang hanya dengan satu orang wanita saja. Ia selalu menggantinya. Alasannya? Dari semua wanita yang pernah b******a dengannya, belum ada yang membuatnya ingin mengulangi. August belum menemukan wanita impiannya.
Teman-temannya tentu saja sangat mengerti akan hal itu. Terutama Adam dan Nathan. August terlalu brutal dan sadis. Tidak hanya dalam lalu lintas di dunia gelap New York, namun juga di ranjang. Hal itu yang membuat mereka sangat frustasi. Mereka harus membereskan wanita-wanita yang berakhir mengenaskan akibat ulah August.
Apakah ia melakukan seks dengan sekretarisnya?
Tidak, karena tidak ada yang bertahan menjadi sekretaris August lebih dari satu hari. Hal tersebut disebabkan oleh sang superior yang tidak menyukai mereka atau dikarenakan rahasia dan misi calon sekretaris-sekretaris palsu itu terbongkar di hari ketika mereka melamar pekerjaan. Kebanyakan dari mereka adalah mata-mata atau pun pembunuh bayaran. Dan itu sungguh merepotkan.
Bukan hal yang mengherankan jika banyak sekali orang menginginkan nyawa August Gold. Terutama mereka yang hidup di dunia gelap New York. August adalah sebuah akar dari segala apa yang tebentuk dan berjalan di kegiatan underground. Perdagangan obat-obatan terlarang, bisnis pemuas nafsu, kehidupan tanpa norma antar kelompok kriminal, hingga komplotan politikus dan polisi yang mencintai uang suap. Itu semua adalah dunia yang digenggam olehnya.
Dan ketika dia bertemu dengan Wendy dan menjadikannya sekretaris sekaligus asisten pribadinya, August merasakan sesuatu yang berbeda. Tuan Gold pun tidak yakin mengapa ia sangat menginginkan gadis polos dan lugu itu. Entah mengapa ada sesuatu yang bersifat magnetik di dalam diri gadis itu dan mampu membuat August kecanduan untuk bertemu dengannya.
Senyum di wajah putih pucat August memudar saat interkomnya berbunyi. Baru saja sepuluh menit yang lalu ia menelpon gadis itu, sekarang Wendy telah tiba? Cepat sekali. Apa mungkin Wendy memang belum pulang dan masih berada di ruang kerjanya?
August menekan tombolnya. Pintu pun terbuka.
Bang!
Sebuah peluru melesat hampir mengenai August Gold. Seseorang berpakaian serba hitam masuk dengan sebuah pistol mengarah ke tubuh sang penguasa.
August bangun dari singgasananya. Tidak merasakan takut sama sekali. Tanpa ekspresi. Berdiri dengan santai.
"So, I got an uninvited guest, I guess?" kata August dengan tenang, merentangkan kedua tangannya. Wajahnya tetap datar.
"You killed my brothers!" Lelaki dengan pakaian serba hitam itu gemetar, tidak mampu memegang pistolnya dengan fokus. "I will f*****g kill you!"
August berjalan mendekati vodka's tablenya. Mengambil dua gelas tinggi dan membuka botol vodkanya.
"Want some drink? I got whisky, vodka, and...."
Menuangkan isinya ke gelas-gelas itu dengan tenang. Mengambil gelas-gelas yang telah terisi vodka dan menyodorkan satu gelas pada tamu tak diundangnya.
"b*****t!" teriak pria itu sebelum kembali menembakkan pistolnya.
Namun sebelum pelatuk ditarik, August sudah melempar gelas yang ia sodorkan tadi tepat mengenai wajah pria itu. Gelasnya pecah, berhamburan di lantai.
Peluru yang ditembakkan mengenai lemari buku-buku favorit August dan langit-langit ruangan kerja yang sejuk itu. Tembakan berulang-ulang terjadi. Peluru melayang ke mana-mana tak tentu arah. August sudah mencengkram tubuh orang asing itu. Mencekalnya dari belakang. Mencekik orang itu dengan lengan kanannya, kuat, hingga orang itu kesulitan bernapas.
August mengarahkan ujung bolpoin berharga jutaan won-nya yang tajam ke leher tamu yang tak di undang. Ia mengambil bolpoinnya itu dari saku kemeja putihnya ketika menghindari tembakan-tembakan pria itu. August menusukkan bolpoin ke lehernya dalam satu tusukan. Pria itu berteriak kesakitan dan tubuhnya mengejang. Hampir separuh batang bolpoin itu masuk ke lehernya. August menggertakkan rahangnya ketika mulai menarik bolpoin yang tertancap di leher orang itu. Dari kiri ke kanan. Menggoroknya hingga urat-urat di bagian leher kiri pria itu terputus. Darah merembes mengotori kemeja dan tangan August. Cairan kental berwarna merah gelap itu membanjiri lantai. Tubuh itu mulai menggelepar. Pria berambut blonde dan berkulit putih pucat itu mencabut bolpoin kesayangannya dan mendorong tubuh sekarat itu ke lantai.
August memejamkan matanya. Menghirup oksigen yang kini bercampur bau darah di ruangan kerjanya. Mengatur napasnya. Menenangkan dirinya. Ia membasahi bibirnya yang agak kering. Rasa amis darah itu terasa di lidahnya. Rupanya darah orang itu juga terpercik ke bibir August.
Setelah merasakan kepuasan dan ketenangan itu, August membuka matanya. Wajahnya kembali normal. Tanpa ekspresi seperti biasa. Namun seketika ia merasa jantungnya berhenti berdetak saat menyadari gadis yang ia tunggu-tunggu, yang ia fantasikan, yang membuatnya harus menuntaskan hasratnya sendirian dan yang selalu berhasil meningkatkan gairah seksnya itu berdiri kaku di depan pintu merahnya.
For f**k sakes, you come at the wrong timing, baby.