"Don't...."
Wendy tersentak saat merasakan genggaman pada lengannya. Sentuhan pertama yang dilakukan oleh pria berambut blonde itu padanya. Setelah beberapa kali bertemu dengannya, beberapa hari mengenalnya, ini adalah skinship pertama mereka.
Mengingat sejak awal kedatangan Wendy ke perusahaan ini, mereka tidak pernah melakukan percakapan yang wajar, apalagi berjabat tangan atau bersentuhan. Yang Wendy dapatkan dari pria ini hanya kalimat-kalimat singkat dan dingin, tatapan mata yang tajam dan mampu membuat bulu kuduknya berdiri serta membuatnya merasakan risi di seluruh tubuhnya.
Wendy terbelalak, menahan napas. Mata mereka bertemu. Tatapan mata pria yang menggenggam lengannya ini masih lembut, tidak dingin seperti biasanya.
Jantung Wendy terpompa lebih cepat saat ia merasakan lengannya yang tengah digenggam itu ditarik. Membuat tubuh Wendy lebih condong pada August. Sayang sekali, meja kerja Presiden Direktur Gold itu menghalangi tubuh mereka sehingga August tidak dapat menghapus jarak dan merapatkan tubuh mereka lebih dekat lagi.
Tiba-tiba August melepaskan genggaman tangannya. Namun detak jantung Wendy masih belum kembali normal.
"Don't... don't be late. Seperti tadi. Jangan buat saya menunggumu hampir lima belas menit hanya untuk mendengarkan updated schedule saja."
Mata pria di depannya berubah kembali menjadi dingin saat mengucapkan kalimat-kalimat itu.
Mendengar nada bicara dan melihat tatapan mata yang berubah dastris itu, Wendy merasakan rasa perih di hatinya. Wendy segera menunduk dan berkata, "Maafkan saya, Pak."
Kemudian ia membalikkan tubuhnya. Berjalan menuju pintu merah, keluar dari ruang kerja atasannya.
August menghela napas sepeninggal gadis itu. Frustasi. Menghantamkan kepalan tangannya ke udara. Menggertakkan giginya.
"s**t," desahnya.
Ia hampir saja kehilangan kendali.
Ia hampir saja mengungkapkan isi hatinya.
Ia hampir saja dikalahkan oleh hasratnya.
Ia hampir saja menyerang gadis itu.
Seandainya saja meja kerjanya tidak menghalanginya. Mungkin sekarang ia sedang menghirup aroma tubuh gadis itu, mendengarkan desahannya, mencium dan melumat bibir manisnya, merasakan betapa lembut dan indahnya lekuk tubuh gadis itu.
"f**k,” desis August ketika menyadari bahwa bagian dari dirinya telah bangkit sejak ia melakukan skinship pertama itu.
August menghela napas. Kalah. Ia harus menuntaskan hasratnya itu. Lagi. Solo.
oOo
Wendy menguap dan merenggangkan otot tubuhnya. Pegal. Akhirnya kegiatan kantor hari ini selesai. Akan tetapi berkas-berkas yang harus ia seleksi untuk diteruskan pada atasannya masih menumpuk.
Lelah? Tentu saja. Secara fisik maupun secara psikis.
Pertama tugasnya yang menumpuk. Mengingat semua apa yang kini menjadi tanggung jawabnya belum pernah dikerjakan dan diselesaikan oleh orang lain. Wendy tidak habis pikir bagaimana cara August Gold mengatur semua ini sendiri. Menyeleksi segala berkas ini secara langsung, mengatur schedule-nya dan berbagai tugas yang seharusnya dilakukan oleh sekretaris. Wendy yakin, pria itu tidak waras. Gila. Workaholic.
Wendy merenggangkan bahu dan lehernya yang penat. Melepas ikatan rambutnya yang mulai membuat kepalanya cenat-cenut. Rambut panjangnya terurai indah. Ia sangat menyayangi rambutnya.
Ia mulai merapikan meja kerjanya. Sudah pukul enam, jam kerja sudah berakhir. Saatnya ia pulang dan beristirahat di apartment kecilnya yang agak jauh dari kantor raksasanya ini. Ia perlu menaiki bis selama dua puluh menit dan berjalan kaki sekitar lima ratus meter dari halte bis. Perjalanan untuk pulang ke sarangnya masih panjang namun tubuhnya sudah sangat lelah.
"Be strong, Wendy! Ayo pulang!" gumamnya.
Ia menyemangati dirinya sendiri seraya merapikan blouse dan tube skirt yang membungkus lekuk tubuhnya. Ia mengambil tasnya. Mematikan komputer, air conditioner dan pengharum ruangan. Wendy memasang double long coat-nya seraya berjalan menuju pintu.
Saat ia meraih kenop untuk membuka pintu, tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Wendy segera membukanya dan membuat orang yang baru saja mengetuk pintunya itu terkejut.
"Astaga!"
Seorang pria dengan setelan jas navy berdiri di depan pintunya. Wendy ikut terkejut. Di depannya berdiri pria berambut gelap dengan wajah ceria. Tampan dan ramah. Pria itu tertawa, membuat Wendy juga tertawa kecil bersamanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Wendy dengan senyum yang belum terhapus dari wajahnya.
"Oh, maaf, Nona Wendy. Perkenalkan, saya Aldrich. Pimpinan lantai ini, PRD. Saya ke sini ingin berkenalan. Hehehe," ujarnya dengan wajah dan cara bicara yang sangat ramah. Pria ini benar-benar cocok menjadi seorang pimpinan Department PR yang memang diharuskan pandai berkomunikasi dengan relasi-relasi perusahaan.
"Oh, salam kenal, saya Wendy Lawson. Panggil saja dengan Wendy," kata Wendy. Ia menundukkan kepalanya dan tersenyum.
Pria tampan dan ramah bernama Aldrich itu menyodorkan tangannya, bermaksud untuk menjabat tangan Wendy. Wendy dengan malu-malu menyambutnya.
"Selamat bergabung di Gold Corporation, Wendy. Panggil saja saya Aldrich agar kita lebih akrab. Maaf, saya baru bisa memperkenalkan diri, padahal ruangan kita satu lantai. Saya baru pulang dari Jerman. As usual, dinas luar," jabar Aldrich panjang lebar. Ia menjabat tangan Wendy yang terasa lembut di kulitnya lebih lama dari sewajarnya.
"Justru saya yang tidak sopan karena satu lantai dengan anda tetapi tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu," balas Wendy. Dengan senyuman, Wendy mencoba menarik tangannya yang digenggam oleh Aldrich.
"Eh, oh, maaf. Saya agak berlebihan." Pria itu tersenyum lebar membuat Wendy tersipu malu.
Aldrich, manusia secerah matahari. He was definition of sunshine and Wendy can't resist his bright smile. Tanpa gadis itu sadari senyumnya juga ikut merekah bersamaan dengan semburat merah muda di pipinya.
"Anda ingin pulang?"
Wendy mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan ruang kerjanya. "Iya, sudah jam enam. Saya harus pulang lebih cepat. Bus menuju kawasan tempat tinggal memakan banyak waktu untuk transit."
Aldrich mengiringi langkah gadis itu. Memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. "Benarkah? Anda tinggal di mana?"
"Thompson Street."
Aldrich mengangguk-angguk. Mengerti.
Wendy tersenyum pasrah. "Begitulah."
Mereka tiba di depan lift merah. Aldrich menekan tombol turun. Wendy melihat sekitar mereka dan baru menyadari sesuatu setelah beberapa hari bekerja di Gold Corporation ini, bahwa hanya segelintir orang yang menggunakan lift merah ini. Seperti Adam dan Aldrich atau kadang beberapa staff yang harus naik ke lantai diatas angka lima belas. Pantas saja Wendy selalu lancar untuk naik turun menggunakan lift ini karena memang jarang dinaiki.
"Bagaimana kalau saya memberikan anda tumpangan?" tawar Aldrich ketika pintu lift terbuka.
Aldrich memberikan gesture mempersilakan Wendy untuk masuk terlebih dahulu. Gentleman. "Kebetulan saya ada urusan di daerah sana, bisa saja sekalian lewat Thompson Street. Lagipula, sudah sedikit larut. Bagaimana?"
Wendy menatap Aldrich yang tersenyum ramah padanya. Benar kata Adam, Head of Public Relations Department ini benar-benar orang yang sangat ramah dan gentle. Membuat gadis itu merasakan semilir hangat di dadanya.
"Benarkah? Wah, maaf sekali Aldrich, saya sungguh merepotkan."
"Ah, jangan begitu. Kita kan satu kantor, satu lantai pula, sama-sama karyawan di sini, tolong-menolong adalah hal yang wajib," kata Aldrich. Ia tertawa ramah. Membuat mata Wendy tak berhenti menatapnya. Gadis itu tidak berhenti tersenyum pada Aldrich.
"Terima kasih.."
"Don't mention that. Anyway, Wendy, bagaimana rasanya menjadi sekretarisnya August, ah, maksud saya Presdir Gold?"
Wendy mengalihkan tatapan matanya ke langit-langit lift yang tengah bergerak turun. Berpikir sejenak, senyum masih terlukis di wajahnya. "Hmm. Bagaimana ya?"
"He didn't do harsh things to you, right?"
Wendy terkejut pada pertanyaan yang ditanyakan oleh Aldrich. Harsh things?
Tanpa ragu Wendy segera menjawab, "No. Of course not."
Mengapa Aldrich melontarkan pertanyaan seperti itu? Apakah August Gold, atasannya itu adalah orang yang sering melakukan kekerasan atau semacamnya? Wendy memang merasakan aura aneh tentang pria itu. Akan tetapi, syukurlah, hingga saat ini pria itu tidak pernah menyentuhnya. Menyentuhnya dalam artian negatif. Lupakan kejadian dua jam yang lalu, kejadian skinship pertama mereka itu. Tentu saja itu tidak termasuk tindak kekerasan, bukan?
Kalimat-kalimat yang dilontarkan, cara bicara dan cara menatap August Gold pada gadis itu memang terkesan kasar dan tajam, namun hingga saat ini tidak ada hal yang terlalu berarti bagi Wendy. Selama ia tidak melukainya, Wendy tidak ingin ambil pusing dengan cara pria itu memperlakukannya. Masalah bagaimana tubuh dan hati gadis itu bereaksi jika berada dekat August Gold, scratch that. Jangan pedulikan. Wendy sendiri pun bingung mengapa reaksi tubuh dan hatinya menjadi sedikit... berbeda jika ia berada di dekat atasannya itu.
"Hahahaha."
Lamunan Wendy buyar dan otomatis menoleh saat mendengar suara tawa Aldrich.
"Serius sekali. Saya hanya bercanda. Mana mungkin August, maksud saya Presdir Gold melakukan hal-hal seperti itu pada anda."
Tanpa Wendy ketahui, Aldrich menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya dari balik tubuhnya. Ia berbohong. Tentu saja. Mana mungkin ia membocorkan rahasia tergelap mereka. Gadis ini tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu bahwa pria yang berada disampingnya ini juga merupakan pria yang sangat berbahaya. Tidak jauh berbeda dengan August Gold dan Adam.
Melihat tawa ceria Aldrich, Wendy menghela napas lega, ikut tertawa. Tanpa sadar ia memukul lengan pria itu.
"Aldrich, saya pikir anda serius. Ya Tuhan, saya sempat berpikir kalau Presdir Gold pernah melakukan kekerasan pada mantan sekretarisnya."
"Gotcha!!" Aldrich mengedipkan mata kanannya pada gadis yang tengah tertawa geli.
'I wonder why he didn't do those harsh things to you, Wendy. I mean, not yet,' batin Aldrich.