"Did you just said that The August f*****g Gold touched himself in his own office?!"
Nathan dan Ryan terbelalak tak percaya.
"Kau pikir apa dia benar-benar berlatih? Cardio? A f*****g cardio exercise? Seriously? The laziest ass August do a cardio? For f**k sakes, cut off all of my f*****g fingers if that was true!" gelak Adam. Diiringi oleh tawa Ryan dan Nathan.
"How pathetic."
"Tapi, aku serius, ini menunjukkan bahwa August telah kalah, bukan?" tanya Ryan masih belum percaya dengan apa yang baru saja diceritakan Adam dan Nathan.
Nathan berdecak tak sabar. "Benar. Buktinya, August memintaku untuk melakukan sign contract dengan Wendy."
Ryan tak dapat menutup mulutnya. "Dari mana kau mendapatkan perempuan itu, Adam? Sungguh, tak dapat dipercaya hal seperti ini bisa terjadi."
"Hmm... just say that I'm lucky. Kebetulan aku memiliki beberapa teman di Toronto. Aku berkata bahwa aku memerlukan perempuan yang polos, bersih, dan penurut. Kau tahu, kalau August sudah mencoba berbagai macam perempuan. Dia adalah superior. Dia tergila-gila pada tipe submissive"
"Hahaha. Bagiku, tipe ini kurang menantang. Membosankan. Aku lebih suka yang agresif dan seksi." Nathan menenggak whisky-nya. “Anyway, you’ve work hard, Adam.”
Ryan menggeleng takjub. "Perjuanganmu sangat besar, Adam."
"Of course!" sahut Adam. "Kita perlu yang terbaik untuk bos. Bos senang, kita tenang. Kita tidak akan pusing dan direpotkan lagi, saudaraku. Biarkan August memuaskan diri dengan sekretaris barunya."
Ryan menjentikkan jarinya. "f**k, true. Tapi mengapa kau tidak mencoba mencari orang-orang yang lebih berkompeten di New York saja? Untuk apa jauh-jauh?"
Adam terkekeh, "Kalau tetep bersikeras mencari di sini, semua pasti akan berakhir menjadi sanapan hiu peliharaan mendiang Tuan Besar Gold. Kau lupa dengan mantan sekretaris August dua bulan yang lalu? Sangat mengenaskan."
Kali ini Ryan mengangguk setuju.
Benar sekali. Seperti yang dulu-dulu, banyak sekali orang-orang sebelum Wendy yang menginginkan posisi ini. Di antara mereka bahkan ada mata-mata atau pun pembunuh bayaran dan itu sungguh merepotkan.
"Kau sebagai bekas pesuruh sejati Tuan Gold seharusnya lebih mengerti dengan masalah ini, Ryan. Sebaiknya kau percepat proses penyediaan ruangan kerja Wendy di lantai dua tiga," desak Nathan. "Sebelum August mulai mengamuk karena tak dapat melihat mangsanya."
Ryan terbahak. "Oke, oke, aku usahakan."
"Omong-omong tentang ruang kerja si sekretaris, dia tidak mau berada satu lantai dengan August. Hahaha!" ungkap Adam pada dua rekannya.
Sekali lagi, Nathan dan Ryan terbelalak tak percaya.
"Serius?!"
"Tuan Gold yang terhormat ditolak tanpa sempat berusaha."
Masih terbahak, Adam mengangguk.
"Wah, jika August mengetahui ini, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dia lakukan,” kata Nathan sekali lagi masih tidak percaya.
Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak kagum. "Awesome! Anyway, aku denger August tadi malam membasmi tiga tikus dari sektor enam ya?"
Nathan mengangguk. "Ya."
Ryan menggeleng. "Tidak heran jika Troy mengeluh padaku karena August telah merusak acara kesukaannya. Kau tahu, belakangan ini dia sangat terobsesi untuk memberikan penyiksaan sinting. Lama-lama, dia semakin mengerikan."
Nathan dan Adam menghembuskan napasnya dengan kasar. Merutuki Troy.
"Dia perlu membereskan kembali isi kepalanya. Jangan sampai August memberikan hukuman kejam pada Troy," sungut Nathan. Adam mengangguk, mengamini.
"Kau benar, Nath. Sebelum August mendisiplinkan Troy, sebaiknya kau melakukan tindakan lebih cepat. Jangan biarkan orang itu lepas kendali. Aku tidak ingin jika August menugaskan Jeon untuk menyelesaikan ini semua. Bisa-bisa, Triptych akan dipenuhi pertumpahan darah," kata Adam.
“Urusan Troy, serahkan saja padaku. Aku akan memberikan edukasi,” kata Ryan. "Oh, ya, jadi siapa yang menyuruh tiga tikus itu berjualan garam oplosan di sektor enam?"
"Eagle."
"Siapa?"
"Entahlah. Ryan, bisakah kau usut tentang kelompok ini bersama Troy?"
“Consider it done, Bro.”
Adam tersenyum lega.
"Kapan kita dapat hidup dengan tenang? Tiap harinya selalu saja ada yang melanggar rules. Dan tiap hari musuh selalu berdatangan."
"Hidup kita tidak akan tenang selama kita masih memegang kendali di dunia ini."
Kenyataan itu membuat mereka menghempas napas dengan kasar. Terpaksa menerimanya dengan berat hati.
oOo
Wendy membersihkan tenggorokannya, meneguk paksa saliva yang terkumpul di mulutnya. Ini pertama kalinya ia datang sendiri ke ruangan bosnya tanpa ditemani Adam. Sepuluh menit yang lalu Wendy mendapatkan telpon dari August Gold. Atasannya itu ingin ia menghadap untuk memberikan laporan secara lisan tentang updated schedule-nya. Dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan tangan yang memproduksi keringat dingin, Wendy akhirnya berdiri di depan pintu merah itu.
Wendy menarik napas lebih dalam sebelum ia menekan tombol interkom yang terletak di samping pintu merah di hadapannya. Setelah ia berdiri ragu di depan pintu itu beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri untuk menekan tombol itu.
"Excuse me, Sir. It's Wendy."
Dua detik setelah Wendy menyebutkan namanya, pintu terbuka. Sebelum Wendy mendorong pintu merah itu, ia mengatur napasnya sekali lagi. Wendy pun masuk, disambut oleh August yang fokus pada laptopnya. Ia tidak membuang waktunya untuk melirik Wendy, apalagi tersenyum ramah padanya. Jangan harap.
"Sir--"
Kalimat Wendy segera terpotong oleh gerakan tangan August Gold. Pria itu mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Sebentar, sedikit lagi selesai. Kau duduk dulu," potong August tanpa mengalihkan matanya dari layar laptopnya.
Mendengar suara atasannya yang berat dan maskulin itu membuat Wendy terdiam seketika. Merasakan aura aneh itu lagi. Aura pria yang sangat dominan dan tidak dapat dibantah. Aura yang membuat Wendy segera menuruti apa yang diinginkan pria itu, walaupun pada dasarnya Wendy adalah gadis yang penurut.
Wendy mengangguk takut. Membalikkan tubuhnya melangkah kembali menuju pintu. Bermaksud untuk duduk ke sofa putih yang ada di pojok ruang kerja pemilik gedung raksasa ini. Sofa yang beberapa hari lalu menjadi tempat uji kesabaran itu.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara August Gold. "Mau ke mana?" tanyanya masih fokus pada layar laptopnya. Tangan kanannya tak berhenti mengklik mice-nya.
Wendy terkejut bukan main mendengar pertanyaan itu. Bukankah bosnya tadi meminta ia untuk menunggunya sebentar dan duduk terlebih dahulu?
"You told me to wait and sit, Sir. So--"
Akhirnya August mengalihkan pandangan matanya dari laptop dan menatap Wendy tajam. Membuat d**a gadis itu terasa remuk hanya dengan melihat cara pria itu memandangnya.
"I told you to sit here, not there."
Wendy menatapnya bingung. Sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh bosnya itu. "Pardon?"
August tetap menatapnya datar. "Di sini. Memangnya saya menyuruhmu duduk di sana?" August menunjuk kursi yang berada tepat di depan mejanya dengan dagunya.
Wendy bingung bukan kepalang. Otaknya masih belum sampai, belum selesai mencerna apa yang dikatakan oleh August. Betapa takjubnya Wendy mendengar atasannya yang berwajah tanpa ekspresi dan pelit untuk mengeluarkan suara itu berbicara lebih dari dua kalimat hari ini. Sungguh, entah mengapa hal itu sangat mengusik bagi Wendy.
August mengangkat alisnya, wajahnya tetap datar. Demands her to get closer to him. Dengan ragu Wendy melangkah maju, kembali mendekati meja kerja August. August masih menatapnya, tanpa suara.
"Sit."
Mendengar suara berat pria berkulit pucat itu, rasa was-was Wendy meningkat. Ia tidak berani membalas tatapan atasannya itu. Tenggorokan dan bibirnya terasa lebih kerontang. Ia mulai menggigiti bibirnya. Kebiasaan jika ia mulai gugup dan merasa tertekan.
Tangan Wendy yang sudah dingin sedari tadi menyentuh kursi hitam yang terletak tepat di hadapan meja kerja bosnya. Ia duduk perlahan. Berhadapan dengan Tuan Gold. Wendy tidak berani mengangkat wajahnya. Hanya menunduk menatap jarinya yang meremas agenda dan bolpoin yang kini berada di atas pahanya yang tertutup black tube skirt.
Tubuh Wendy mengernyit saat mendengar pria berwajah datar itu berdeham. "Okay, silakan dimulai, Nona Wendy."
August menatap gadis itu tajam. Menyatukan dua telapak tangannya di depan wajah, menunggu gadis itu berbicara. Menunggu suara lembut gadis itu untuk masuk melalui gendang telinganya.
Wendy dengan kikuk memindahkan rambut lembut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya ke telinganya. Membuat tautan jari August lebih erat. Urat-urat di tangannya menegang. Sial. Gadis ini benar-benar sedang menguji kesabarannya.
August meyakinkan dirinya, menenangkan dirinya agar tidak menyerang gadis itu. Ia harus menahan dirinya. Ia tidak boleh kalah.
Sebelum memulai, Wendy berdeham terlebih dahulu.
"Sebelumnya saya akan menyampaikan schedule Bapak untuk dua hari ke depan. Besok jam sepuluh pagi Bapak ada meeting bersama marketing department. Selanjutnya ada jamuan dari bla bla bla...."
August memejamkan matanya. Meresapi suara gadis itu. Merekamnya dari gendang telingnya ke dalam memori terdalam di otak dan hatinya. Ia dapat mencium semilir aroma manis tubuh gadis di depannya.
Sial.
Hanya dengan mendengar suara lembut dan mencium segelintir aroma gadis itu saja sudah mampu membuatnya terbuai. Mampu menenangkan dirinya. Seperti aromatherapy. Mengobatinya secara psikologis. Membuat perasaan dan hatinya tenang dan nyaman.
Seakan-akan suara lembut gadis itu mampu mengobati mimpi-mimpi buruknya yang terjadi setiap malam. Seakan-akan keberadaan gadis itu mampu menghapus memori tergelap dalam dirinya.
August tersadar ketika ia tidak mendengar suara itu lagi. Wendy terdiam. Bingung. Apakah pria di depannya ini tertidur?
"Sir?"
August membuka matanya perlahan. Menatap gadis itu langsung ke manik matanya.
Jantung Wendy berhenti berdetak ketika melihat manik mata yang biasanya tajam dan dingin itu berubah menjadi lebih lembut, sangat lembut dan hangat. Membuatnya tersedot ke dalam black hole. Namun Wendy segera menepisnya sebelum ia tercebur lebih dalam. Ia memutuskan koneksi asing itu dengan menurunkan pandangan matanya ke agenda yang ada di tangannya.
"Sekian laporan saya untuk updated schedule. Untuk selanjutnya, akan saya kirimkan ke email Bapak."
Wendy menggigit bibirnya sekali lagi sebelum mengangkat bokongnya dari kursi. Bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan atasannya. Tugasnya sudah selesai untuk hari ini. Namun saat ia akan melangkahkan kakinya, gerakannya terhenti ketika ia merasakan sesuatu meraih lengannya. Membekukan dirinya.
Jantung gadis itu berhenti berdetak saat mendengar suara berat August Gold.
"Don't...."