"Nona Wendy, untuk sementara anda bisa menggunakan ruangan di lantai dua puluh, bergabung dengan PR Department. Is that, okay?"
Wendy mengangguk patuh dan tersenyum. Adam menyerahkan dua agenda dan satu buku tebal padanya. "Itu adalah agenda dan schedule Presdir Gold untuk minggu ini. Dan buku ini adalah SOP, tolong dipelajari."
Wendy mengangguk sekali lagi.
"Mari, saya antarkan ke ruangan anda." Adam membukakan pintu ruangannya, mempersilakan Wendy untuk keluar terlebih dahulu. Wendy mengekori Adam dari belakang menuju lift.
"Saya harap Nona Wendy betah bekerja di sini. Presdir Gold memang begitu. Dia agak berbeda dan unik. Maklumi saja."
"Saya mengerti, dan Tuan Adam, anda bisa memanggil saya dengan Wendy saja."
Adam tertawa, "Okay, Wendy."
Mereka menaiki lift. Adam menekan tombol dua puluh.
"Ngomong-ngomong, kemarin mengapa anda menangis? Apakah Tuan Gold mengatakan atau melakukan sesuatu yang kasar?"
Wendy tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia segera menggelengkan kepalanya. "Bu-bukan begitu. Presdir Gold tidak melakukan apa-apa. Sungguh, hanya saja...."
Adam menoleh pada Wendy, melontarkan senyumnya dan menaikkan alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Wendy yang menggantung.
"Saya... saya ingin buang air kecil. Saya menahannya. Iya, benar. Saya menahannya hingga tanpa sadar saya menangis seperti itu. Sungguh memalukan," sambung Wendy tersipu malu.
Dia berbohong. Wendy tidak mungkin memberitahu Pimpinan HR ini. Tidak mungkin Wendy berkata jujur bahwa sesungguhnya ia takut pada atasannya. Takut dengan ekspresinya yang datar dan tatapan mata tajamnya yang merasuk ke dalam ruang hati itu. Sungguh. Sejujurnya Wendy sangat takut pada pria yang kini menjadi bosnya. Ada aura aneh yang membuatnya terusik. Terutama saat bertemu dengannya dua hari yang lalu. Pejabat tertinggi sekaligus pemilik perusahaan tempatnya meniti karirya kini sungguh tidak ramah sama sekali.
Berbeda dengan artikel-artikel yang ia baca tentang Gold Corporation dan August Gold yang selalu berperan aktif dalam gerakan sosial. Perusahaan ini selalu memberi sumbangsih dan andil sangat besar dalam setiap kegiatan sosial hingga mendapat julukan Perusahaan Bertangan Kasih. Kenyataannya seratus delapan puluh derajat dan berbanding terbalik, karena seorang August Gold sama sekali berbeda dengan citra perusahaan yang dia miliki. Dia sangat dingin dan berwajah tanpa ekspresi.
Saat Wendy duduk merenung di pojok ruangan bosnya kemarin, ia sempat berpikir, jangan-jangan bosnya ini gay, tidak menyukai wanita. Prasangka tersebut tidak beralasan kuat, karena di Toronto, Wendy mempunyai beberapa teman laki-laki yang mempunyai kelainan seks seperti itu. Lelaki gay justru sangat menyayangi wanita dan selalu bersikap lembut dan hangat. Mereka sering kali menganggap wanita adalah teman terbaik. Jadi, kesimpulannya adalah kemungkinan besar August Gold tidak gay. Mengapa? Karena August Gold tidak ramah terhadap wanita.
Or maybe, he hates her? Right, Wendy, thats ridiculous. You just met him, so how could he hate you?
Tawa ringan Adam membangunkan Wendy dari lamunannya. "Untung saja anda tidak sampai buang air kecil di sofa kesayangannya."
Mendengar kalimat Adam, Wendy tidak dapat menahan tawanya. Ia tertawa malu, menutup bibirnya dengan tangan kanannya. "Benar. Untung saja tidak terjadi hal seperti itu."
Mereka tertawa sejenak. Meruntuhkan atmosfer canggung yang biasanya menjadi tembok penghalang. Menurut Wendy, Adam adalah pria yang sangat ramah dan hangat. Dia selalu tersenyum dan pandai membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Jujur saja, Adam benar-benar mengingatkan Wendy pada mantan pacarnya dua tahun yang lalu. Bukan fisiknya, Adam jauh lebih tampan dibandingkan mantannya itu. Melainkan karena karakternya yang ramah dan hangat.
Lift berhenti di lantai dua puluh. Ketika pintu terbuka, mereka segera disambut oleh ramainya aktifitas PR Department yang terlihat sibuk.
"Beginilah PR, Wendy, mereka selalu sibuk. PR dikepalai oleh Aldrich. Namanya juga PR, jarang di kantor. Nanti anda bisa berkenalan dan berteman dengannya. Aldrich orang yang ramah." Adam berbelok ke sebelah kanan, berjalan sekitar dua puluh langkah dari lift dan berhenti di sebuah ruangan kecil.
Adam membukakan pintu ruangan yang akan menjadi ruang kerja Wendy. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter berisikan meja kerja lengkap dengan komputernya, ruangan sejuk, ada tiga sofa di dekat pintu masuk, file shelf, televisi, bahkan kulkas.
"Untuk sementara anda bisa memakai ruangan ini. Maaf, ruangannya kecil. Hanya ini yang available. Terpaksa anda harus naik-turun lift untuk menemui Tuan Gold. Saya sudah koordinaskan dengan GA untuk membuatkan ruangan khusus untuk anda di lantai dua puluh tiga agar akses anda bertemu dengan Presdir lebih mudah. Bagaimana, Wendy?"
Wendy menaruh tasnya, dua agenda dan buku tebal yang ada di tangannya ke atas meja kerja barunya. Senyum merekah di wajahnya. Ia menyukai ruangan ini. "Tidak perlu, Tuan Adam. Saya menyukai ruangan ini."
"Nanti anda bisa kerepotan kalau Tuan Gold tiba-tiba memerlukan anda."
"Tidak, tidak apa-apa. Sungguh. Saya sangat menyukai ruangan ini," tolak Wendy.
Tidak perlu bagi Wendy untuk berada satu lantai dengan bosnya yang sama sekali tidak ramah, tanpa senyum dan menyeramkan itu. Wendy lebih memilih merepotkan diri untuk naik-turun lift dibandingkan menghabiskan waktunya berada satu lantai dengan August Gold.
Adam menatap Wendy, menyelidik. Alisnya mengernyit. Dua detik kemudian ia tersenyum maklum.
"Okay."
Wendy tersenyum lega saat mendengar kata yang keluar dari mulut Adam itu.
"Ayo kita ke lantai dua puluh tiga. Kita perlu menemui Presdir Gold."
oOo
"Aaah... Wendy...."
August memanjakan dirinya sendiri. Menggenggam bagian terujung tubuhnya dengan tangannya yang berkulit pucat. Mulai menggerakkan tangannya dengan stabil. Ia tak dapat berhenti membayangkan lekuk indah tubuh gadis itu. Paras cantiknya. Senyum indahnya. She tempted him. So hard, he can't resist.
Di dalam otak August, gadis itu benar-benar mendoktrinnya. Mengacaukannya. Membuat hatinya jungkir balik. August tidak dapat menghapuskan bayangan paras indah gadis bernama Wendy Lawson. Sekretaris sekaligus asisten pribadi barunya. Ia sudah menunggu hampir tiga jam di ruangannya namun sekretarisnya itu belum datang juga. Tentu saja Wendy tidak akan datang ke ruangannya, karena August tidak memanggilnya.
Apa yang diharapkan August? Gadis itu dengan inisiatifnya sendiri datang kemari dan memuaskan nafsunya? t***l.
August menyesali perlakuan buruknya pada gadis itu. Dua hari yang lalu, saat ia melihat Wendy menitikkan air mata, ia merasa bodoh sekali. Ia pikir gadis itu sama dengan sekretarisnya yang dulu-dulu, yang tidak sanggup menahan diri untuk duduk diam. August memang mempunyai cara unik untuk menguji calon-calon sekretarisnya. Gadis itu, Wendy, berbeda. Dia yang selama ini ia inginkan. Layaknya seorang submissive untuk master-nya Dambaannya yang selama ini cari.
"Oh, fuck..." desahnya saat gerakan tangannya lebih cepat.
Matanya terpejam, merasakan sentuhannya sendiri. August sedang tinggi. Keringat sebesar bulir jagung menetes. Tubuhnya mulai basah, berkeringat. Sedikit lagi. Sedikit lagi ia akan meledak. Ia terus membayangkan dirinya menghujam gadis itu dengan brutal. Membayangkan gadis itu meminta ampun padanya dan meneriakkan namanya. Membayangkan dirinya meremas dan mencumbu bagian-bagian terlembut dari tubuh gadis itu.
Sedikit lagi ia akan merasakan ekstasi dan euforia itu. Ia akan mengeluarkannya.
"August, ini aku."
Gerakan August terhenti saat mendengar suara Adam dari interkom.
"b*****t," desis August.
Proses penembakkannya batal. Ia mengatur napasnya. Menghentikan sesi solonya. Merapikan kembali celana serta kemeja putihnya dan kemudian memencet tombol khusus untuk membuka pintu tersebut. Masih terhengal.
Adam segera masuk ke dalam ruangannya. Bersama dengan gadis yang baru saja ia fantasikan. Wendy Lawson. Gadis itu berdiri dengan kepala menunduk di belakang Adam. Mengenakan blouse berwarna baby blue dengan pita-pita merah yang manis di bagian dadanya dan red tube skirt berwarna sepadan dengan hiasan yang ada di blouse-nya yang menyelimuti dan membuat lekuk tubuh gadis itu terlihat nyata. Wendy menggigiti bibirnya. Berdiri tidak jauh dari pintu.
'Stop biting your plump lips, Wendy Lawson!' teriak August murka dalam hatinya.
Hal sepele yang dilakukan gadis itu sungguh membuat dalam dirinya berkecamuk. Ingin rasanya August segera menerkam gadis itu hanya karena melihat Wendy menggigiti bibir tipisnya.
Shit. Seandainya saja Adam tidak ada di ruangannya. Mungkin ia akan....
Wendy membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat pada August. "Good morning, Sir."
August menatapnya intens. "Apakah jam sebelas masih temasuk pagi, Nona Wendy?"
Suara berat August membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Fo-forgive me, Sir."
'God damn it, August Gold! Could you stop making her scared?!" Dalam hati August berseru pada dirinya sendiri.
"August, mengapa kau berkeringat seperti itu? Bukannya ruanganmu terasa sejuk?" tanya Adam menyelidik. Sukses membuat August yang biasanya anteng, kalem dan datar menjadi agak panik.
"Oh, aku... aku baru saja selesai latihan cardio."
Adam meluncurkan senyum sinisnya. August berbohong. Untuk pertama kalinya ia melihat August menampakkan sisi barunya yang unik.
Cardio? Bodoh sekali. Itu adalah alasan tertolol yang pernah August ucapkan.