TWO

1336 Words
"Bagaimana? Dia setuju?" Nathan mengangguk lemah. "Ya." Mendengar itu Adam menghela napas lega. "Akhirnya...." Nathan melepas satu kancing teratasnya seraya meminum americano-nya. "Serius, kau yakin dengan yang satu ini? Jika yang ini gagal, kita semua akan mati." Adam terkekeh. "Kau tenang saja. Dia adalah pilihan terbaikku." "Bukankah dia adalah seorang fresh graduate? Masih bau kencur. Jika dia dimutilasi oleh August, akan sangat disayangkan." "Justru karena dia masih kencur dan polos itulah yang akan menjadi poin plus untuknya. Dia belum mengetahui apapun. Dan yang lebih penting lagi, aku ingin memberikan August pelajaran. Apakah dia bisa menahan diri dengan tipe perempuan seperti ini. Kuakui, saat pertama kali aku melihatnya, aku hampir lost control." Mata Nathan membulat. "Kau sedang tidak bercanda bukan? Adam, sampai sekarang, aku tdak mengerti bagaimana cara kerja hormonmu. Berbagai jenis perempuan bisa membuatmu kebakaran. Kau perlu pertolongan, teman" Adam meletakkan gelasnya ke mejanya. Tertawa. "Brengsek." "Menjijikkan." Adam terbahak. "Jadi, bagaimana dengan sektor enam?" Mendengar pertanyaan itu lagi membuat Nathan berdecak. "August tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dia memintaku untuk mencabut semuanya. Tapi, tidak. Aku rasa ini adalah sebuah jebakan. A f*****g trap. Menggunakan amatiran untuk menjual garam murahan di kawasan kita agar kita terkecoh." Adam terkekeh. "Nathan, kau seperti tidak mengenal August saja. Dia tak akan peduli dari mana asal-usul tikus yang menginjak tamannya. Kalau ada yang mengganggu sedikit saja, dia akan segera membasmi. Tanpa peduli itu tikus dari got mana. Sebaiknya, kau selidiki saja dulu, Nath. Ajak Troy, dia akan menyukai pekerjaan ini Lalu serahkan eksekusi kepada Jeon." Nathan mengangguk setuju. Benar apa yang dikatakan Adam. Kali ini mereka memang harus lebih hati-hati. Cukup sekali saja peristiwa tahun lalu terjadi. Mereka teledor. Ceroboh. Dan hal itu tidak boleh terulang kembali. Kejadian tahun lalu di mana anggota termuda mereka, Jeon, hampir kehilangan nyawanya hanya karena seekor kutu. Kutu betina. Kutu yang memang terlihat kecil dan sepele namun ternyata sangat merugikan. Jeon memang masih terlalu muda saat itu. Belum berpengalaman dengan dunia gelap mereka. Side job mereka. "Baiklah, aku akan membawa Troy untuk menyelidiki hal itu." Adam tersenyum setelah meneguk vodkanya. "Perfect."   oOo "Wendy, kau pasti bisa!" Wendy Lawson memasuki gedung itu lagi. Hari ini adalah hari penentuannya. Hari uji coba. On the job training. Betapa mengejutkannya bagi Wendy ketika Tuan Adam menyatakan bahwa ia akan memulai OJT-nya hari ini. Lalu bagaimana dengan interview kemarin? Oh, interview sepuluh menit itu? Demi Neptunus dan kerang ajaib, interview macam apa yang hanya dilakukan dalam sepuluh menit? Wendy pun bingung. Menurut cerita dari pengalaman teman-temannya, final interview itu sangat sulit. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sungguh menjebak dan tidak masuk akal. Namun apa yang dialami Wendy kemarin? Dia bertemu langsung dengan Direktur HR, ngobrol sepuluh menit, basa-basi, menanyakan kabarnya, kabar orang tuanya, kisah cintanya dan hal-hal tidak penting lainnya. Kemudian Tuan Adam menawarkan jumlah gaji yang tidak mungkin Wendy tolak dan menjabat tangan Wendy. Menyatakan bahwa mulai besok ia diterima bekerja dan memulai program OJT. Jika berhasil dalam program awal itu, maka Wendy akan sign contract dan resmi menjadi Personal Assistant Presiden Direktur Gold Corporation. Begitu mudah bukan? Agak janggal, namun Wendy tidak peduli. Bagi Wendy, yang penting ia mendapatkan job idamannya. Tiba di lantai delapan, Wendy segera menuju ke ruangan HR. Tuan Adam segera menyambutnya dengan hangat. "Selamat datang di Gold Corporation, Nona Wendy. Anda terlihat sangat cantik hari ini." Mendengar pujian itu, Wendy tidak dapat menyembunyikan rona di pipinya. Adam tersenyum ramah dan mengajak Wendy kembali menaiki lift. "Mari, saya antar ke ruangaan Presdir Gold." This is it. Inilah saat-saat yang membuat Wendy tidak karuan tidur tadi malam. Mengapa? Karena ia akan bertemu langsung dengan bosnya, dengan pemilik perusahaan ini. Jantung Wendy berdetak lebih cepat daripada biasanya. Tangannya mulai terasa lebih dingin. Wendy menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Kebiasaannya ketika sedang gugup dan panik. Tadi malam Wendy penasaran dengan calon bosnya. Ia pun berinisiatif untuk mencari profil calon atasannya tersebut. Mengetikkan nama 'August Gold' di mesin pencari Google lewat Macbook-nya dan terpampanglah profil seorang pria muda berkulit sangat putih pucat, bermata bulat kecil, berambut blonde. Tampan. Seksi. Muda. Kaya. Berkuasa. Single. Ah, tidak. Coret kata terakhir. Tidak mungkin dia berstatus lajang. Pria seperti ini jika ia belum menikah, pasti pacarnya banyak. Wendy dengan cepat menggelengkan kepalanya. Menghapus pikiran-pikiran yang menghantuinya dari tadi malam. Pikiran-pikiran yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. "Bagaimana tidurmu tadi malam, Nona Wendy? Nyenyak?" Lamunan Wendy buyar saat mendengar suara Adam. Wendy tersenyum canggung dan menjawab dengan jujur, "Tidak terlalu." Mendengar jawaban Wendy, Adam tersenyum. Senyum aneh. Mencurigakan. Diam. Sepi. Mereka kembali diam. Sibuk dengan pikiran yang menjalari otak mereka masing-masing. Perjalanan menuju lantai dua puluh tiga ini sungguh melelahkan. Nerve wrecking. Wendy harus berdiri canggung di sebelah orang terpenting di bagian Human Resource perusahaan besar ini. Berduaan. Tanpa kata. Setelah percakapan tadi, Adam diam saja. Memainkan ponselnya. Kadang tersenyum dan tertawa sendiri. Awkward. Lift berhenti di lantai teratas. Lantai dua puluh tiga. Jantung Wendy semakin terpompa tak beraturan. Membuatnya semakin gugup. Pintu lift berinterior red vintage itu terbuka. Wendy disambut oleh sebuah ruangan berpintu berwarna sepadan dengan lift yang baru saja ia naiki. "Silakan, Nona Wendy." Adam keluar dari lift terlebih dahulu dan disusul oleh Wendy di belakangnya. Wendy mengatur napasnya. Meletakkan tangan kanannya ke dadanya agar detak jantungnya lebih tenang dan lebih stabil. Adam tersenyum saat memperhatikan gadis itu. "Santai saja. Relax. Presdir Gold tidak akan menggigitmu." Wendy membalasnya dengan tawa canggung. Kemudian Adam menekan tombol interkom yang terletak di samping pintu merah itu. "Ini aku," kata Adam. Mata Wendy membulat saat mendengar Adam berbicara dengan santai, menggunakan bahasa informal pada atasannya. Pintu terbuka secara otomatis. Entah alat canggih apa yang terletak di belakang pintu merah ini hingga dapat terbuka tanpa perlu mendatangi dan membuka kunci pengamannya dengan tangan. Adam membuka pintu. Masuk terlebih dahulu kemudian memberi gesture pada Wendy, mempersilakannya masuk. Wendy mengangguk hormat. Menghembuskan napasnya. Memantapkan hatinya sebelum memasuki ruangan bosnya itu. "August, aku membawa sekretaris sekaligus asisten pribadi barumu," kata Adam, masih dengan bahasa informalnya. Mata Wendy terpaku pada seorang pria berambut pirang dengan kulit super putih yang sedang fokus dengan berkas-berkas  di mejanya. Right. Thats your soon to be boss, Wendy Lawson. Itulah bosnya. Mata Wendy terpatri saat pria itu mengalihkan pandangan matanya dari berkas di tangannya ke wajah gadis itu. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang asing merasuk menembus rusuk Wendy saat tatapan mereka menyatu. Wendy memberikan senyum termanis dan paling ramah. Sebisa mungkin memberikan kesan terbaik dan termanis pada pria itu. Namun apa yang ia dapat? Setelah ia menerima senyum Wendy, pria itu membuka mulutnya selama lima detik dan kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke berkas yang ada di tangannya. Presdir Gold tidak membalas senyumnya. Wendy mulai panik. "Oke, Nona Wendy. Silakan duduk. Untuk sementara anda di ruangan ini dulu. OJT bisa segera dimulai. Good luck." Adam mempersilakan Wendy untuk duduk di sofa putih bersih berbahan kulit yang sangat mewah. "August, aku pergi dulu," kata Adam dan berjalan ke arah pintu merah. Keluar tanpa menunggu jawaban dari atasannya. Adam mengedipkan mata kanannya pada Wendy sesaat sebelum menutup pintu ruangan yang ternyata sangat luas ini. Wendy membasahi tenggorokannya yang kering kerontang secara paksa. Bernapas. Menenangkan diri. Setelah merasa mantap, ia berdiri dari tempat duduknya. Melangkah ke arah meja atasannya. Melihat ada pergerakan dari gadis itu, August Gold mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya. Menatap gadis itu dengan mulut yang sedikit terbuka. "Selamat pagi, Tuan Gold. Saya Wendy Lawson. You can call me Wendy for short. Very nice to meet you," kata Wendy setelah membungkuk sembilan puluh derajat pada bosnya. Memberikan pria itu senyum terbaiknya sekali lagi. Tatapan mereka bertemu lagi. Waktu terasa berhenti berjalan. Bumi terasa berhenti berotasi. Jantung terasa berhenti berdetak. "Nona Wendy." Pria itu akhirnya berbicara. He has deep, raspy, sexy and rough voice. Wendy menahan napasnya saat mendengar suara pria itu. "Yes, Sir?" Wendy merekahkan senyumnya sekali lagi. Mata mereka masih menyatu. Membuat d**a Wendy terasa sesak saat tenggelam di mata pria itu. "Could you just sit down there for a while? Don't do anything and don't make a sound." Oh, Lord. Mendengar itu hati gadis itu hancur berkeping-keping. Bosnya tidak menyukainya. Dia akan dipecat hari ini juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD