Ben langsung berlari kedalam mobil begitu turun dari taksi, ia meraih berkas yang tadi telah disimpannya didalam bagasi sembari mencari sesuatu dari berkas tersebut dan mengacuhkan keberadaan istri dan anak-anaknya saat ini.
Untungnya tak beberapa lama, ia berhasil menemukan sebuah map berwarna hijau tua tersebut dan langsung mengambil posisi duduk dijok depan sambil membaca serius pada dokumen yang ada dimap itu.
"Apa itu Mas?" tanya Alya yang mulai tak tahan pada rasa penasarannya saat melihat raut wajah Ben yang terlihat berubah seusai membaca berkas tersebut.
"Data diri mereka"
"Siapa mereka, Pa?" tanya Ezra.
"Kedua Monster itu" jawab ben, lalu ia memberikan berkas itu pada Alya dan menyalakan mesin mobil.
"Sialan!!!" teriak ben sembari memukul-mukul stir mobil dengan kecepatan penuh.
"Ada apa sih, mas? kau kenapa terburu-buru sekarang?" tanya Alya.
"Aku akan mengantar kalian ke perbatasan sekarang!" gumam Ben yang seolah-olah tengah berbicara pada dirinya sendiri.
"Kalian? Memangnya setelah itu kau mau kemana, Mas?" tanya Alya.
"Aku sudah janji dengan temanku untuk memperingati suaminya," jawab Ben yang membuat Ezra tertawa.
"Apa sekarang Ayahku adalah orang yang pilih-pilih untuk menolong nyawa orang lain?" tanyanya seperti tengah memberikan satiran tajam.
"Tutup mulutmu, Ezra! Kau masih terlalu muda untuk mengerti tentang segalanya sekarang," bentak Ben yang memang mudah sekali naik pitam.
"Aku memang selalu anak kecil dimatamu, Pa! Kapan sekali aja kau berhenti menganggapku sebagai orang dewasa? Rasanya aku muak harus berada didekatmu terus, kalau bukan karena Mama dan Axel pasti aku sudah memilih -" belum sempat Ezra menyelesaikan kalimatnya, Ben langsung memotong dengan nada yang membentak seraya menoleh kebelakang.
"Kau ingin memilih hidup terlunta-lunta dengan teman-teman nakalmu itu? Kau kira hidup dijalanan itu enak? Kau harusnya sadar dan bersyukur punya orang tua sepertiku, bahkan gak pernah sekalipun aku berhenti memikirkan masa depan yang terbaik untukmu! Sudah cukup ya, aku bantu Pacarmu itu bisa bergabung bekerja di perusahaan tempatku dengan mudahnya." Ben terus-menerus mengoceh pada putranya itu, sampai tak menyadari kalau saat ini ada seorang Pria bertubuh besar sekitar 100Kg lebih yang berdiri beberapa meter didepannya.
Dan begitu ia menoleh kembali ke depan, ia bisa mendengarkan suara teriakan istrinya yang membuatnya terpaksa banting setir mobil ke sebelah kiri sampai menabrak mobil lain dan terpental beberapa meter kearah taman.
"Sial, kalian baik-baik saja?" tanya Ben yang untungnya bisa selamat berkat airbug yang memang terpasang bagi seluruh pengemudi mobil.
lalu ia menoleh kearah istrinya yang ada disebelah kiri, Alya tak banyak memberikan respon selain mengangguk saja. Sepertinya kepala istrinya masih terasa pusing akibat tabrakan barusan.
"Kau serius baik-baik saja kan , Sayang?" tanya Ben pada istrinya.
"Aku baik-baik saja, Anak kita?" tanyanya yang tampak jauh lebih mengkhawatirkan kedua anaknya itu dibandingkan keselamatannya sendiri.
"Aku baik-baik saja, Ma." Ezra menyahut dari kursi tengah sambil memegang kepalanya yang masih sakit, sepertinya ia masih sibuk mengurusi kepalanya yang terasa pusing itu dibandingkan memperhatikan adiknya sendiri yang sudah mengalami perdarahan hebat dengan pecahan kaca jendela mobil yang mengenai mata kanannya.
Dan orang yang paling pertama kali menyadari apa yang menimpa Axel adalah Ben sendiri, sebab saat itu Ben masih terlalu pusing untuk menyadari luka di tubuhnya sendiri. Ben pun jelas langsung turun dari mobil dan menghampiri Axel, disusul oleh Ezra yang tak sengaja mengeluarkan kata u*****n saking terkejutnya dengan apa yang terjadi pada Ben.
"Papa, Kenapa mata Axel sakit?" tanya Axel yang mulai menangis, sontak saja Ben langsung melepaskan kemejanya dan membuat balutan donat pada bagian kaca yang masih menancap dimata kanan anaknya. Tak lupa juga ia membaluti seluruh mata Ben dengan sisa robekan kemeja itu supaya tak memberikan pergerakan yang banyak pada matanya dan membuat cedera yang lebih parah.
Beruntungnya saat itu Ben mengenakan kaos berwarna hitam dari balik kemejanya, jadi ia tak perlu merasa kesulitan saat mengoyak kemejanya itu.
"Apa yang terjadi pada anakku? Oh tuhan!" teriak Alya yang mulai panik saat menoleh kebelakang, tapi buru-buru Ben memberikan isyarat pada Ezra untuk menenangkan Mamanya sendiri selagi Ben memberikan pertolongan pertama pada anak bungsunya itu.
"Dengar! Waktu kita tidak banyak sekarang, Kau bawa saja Ibumu ke perbatasan dan aku bakalan ke Rumah Sakit buat meminta mereka mengobati Axel. Kalian mengerti kan?" tanya Ben.
"Apa-apaan sih kau, Mas. Mana mungkin aku meninggalkanmu dan Axel dikota mengerikan ini? Aku akan ikut!" pungkas Alya seraya menangis saking paniknya.
"Tidak bisa, kalian justru semakin menghambatku!" tukas Ben sambil menggendong Axel yang masih terus menjerit-jerit kesakitan, lalu Ben melirik pada Ezra.
"Kau ingin menjadi orang dewasa kan? Saat ini waktunya kau membuktikan padaku, kau harus bawa Ibumu pergi dari sini sekarang!" tukas Ben yang langsung pergi dari sana sambil membawa Axel dalam gendongannya, sementara itu Ezra berusaha menahan tangan Alya untuk tidak mengejar Ben. Sepertinya ini adalah kali pertama ia menuruti perkataan Ayahnya setelah beberapa kali tak pernah berhenti membantah dan mengkritik sang Ayah seenaknya.
Ben terus berlari melewati kerumunan warga kota yang tampak histeris berlari kesana-kemari, seolah-olah mereka tak tahu lagi mau kemana berlari saat itu. Dan tak lupa pula, diantara kerumunan itu terdapat beberapa monster menjijikkan yang tampak menikmati santapan dari tubuh mayat-mayat yang telah mati termasuk salah satunya adalah tubuh Pria gendut yang membuat Ben kecelakaan tersebut.