Dengan Langkah yang teramat kesal, Ben langsung turun dari taksi dan berlari kerumah mary , tepat seperti dugaannya yang mana ia bisa melihat ezra sedang menenangkan ibu mary didalam rumah serta ditemani oleh beberapa saudara Mary beserta ayah dan tantenya mary.
"Maaf, saya mau bawa ezra pulang sekarang!" Tukas Ben tanpa sekedar basa-basi, ia langsung menarik tangan ezra saat itu juga dan membuat ezra semakin tak suka pada sikap ayahnya itu .
"Lepaskan aku sialan!!!" Bentak Ezra, ini adalah pertama kalinya ia bersikap kasar pada sang ayah yang langsung menampar wajah putranya itu secara spontan.
"Kau harusnya gak bersikap kasar begitu pada anakmu, Pak" Tukas Ayahnya mary yang dibalas tatapan tajam oleh ben.
"Kau gak perlu ikut campur dengan urusan keluargaku, lagipula ezra juga gak ada hubungannya dengan nasib anak kalian "
"Kami juga gak menyalahkan nak ezra, malahan sekarang saya jadi curiga kalau anda lah yang memaksa ezra meninggalkan keponakanku" Ucap Tantenya mary yang mulai ikut bersuara disaat ia melihat adik dan iparnya yang tertegun dalam kesedihan saat ini.
"Ah Sial!!!" Tukas Ben yang langsung menendang sofa , lalu ia menarik ezra kembali.
"Ayo kita pulang Sekarang atau kau mau membuat adik dan mama-" Ezra langsung memotong perkataan Ben.
"Pa! Tolong sekali aja jangan bawa-bawa nama axel dan mama dalam urusan apapun, ini benar-benar cara yang bodoh buat membujukku" Bentak Ezra sembari melepaskan tangan ayahnya dari dirinya.
"Ini sudah malam, jangan semakin mempersulit keadaan!" Ucap ben yang terlihat tengah menekan suaranya dan memberikan tatapan amarah pada ezra.
"Baiklah, kau bisa tunggu diluar aja Pa selagi aku membujuk keluarga mary buat mengevakuasi diri dari kota ini " Ucapnya yang langsung pergi, namun langkahnya terhenti tatkala saat ditahan oleh ben.
"Menyingkirlah!!! setidaknya aku bertanggungjawab pada tindakan bodoh yang dilakukan perusahaan kita , tidak seperti dirimu" Sindirnya , ia langsung menolak sang ayah dan berbicara serius dengan kedua orangtua marry.
Ben hanya bisa menghela nafas saja dan menunggu Ezra diluar, ia berkali-kali menendang kerikil dihalaman rumah pacar anaknya itu sembari tak berhenti melirik kearah jam tangan .
Ditengah kegusarannya itu, mendadak sebuah panggilan telepon dari salah seorang temannya berdering yang membuat Ben sedikit terkejut.
"Ada Apa Lusi?" Tanya Ben.
"Halo Pak, suaraku kedengaran gak?" Tanya Balik Lusi, ia seperti tengah berbisik pelan menerima telepon dari Ben.
"Iya, Ada apa? kau baik-baik saja?" Tanya Ben, kini hembusan nafas lusi terdengar jelas ditelinga Ben bersamaan dengan suara teriakan Ezra yang memanggilnya.
"Pak, semuanya telah berantakan..Kita kacau sekarang" Kini Suara lusi dibarengi dengan isak tangisnya yang terdengar sangat menyesal.
"Aku tahu itu, jadi mendingan kau dan keluargamu langsung menyelamatkan diri saja dari kota ini"
"Kau sama sekali gak tahu apa-apa Pak Ben!!!!" Bentak Lusi yang mulai kelepasan emosi.
"Maaf Pak, aku..aku pikir kau belum tahu hal ini" Dibarengi dengan suaranya yang mulai memelas.
"Apa yang memangnya aku tidak tahu, lusi?" Tanya Ben penasaran, walaupun ia sedikit kesal telah dibentak oleh rekannya tersebut.
"Kau ingatkan kita membuat dua hasil eksperimen? Jadi , Kalau kau tergigit Alfa Boy dan antek-anteknya maka kau akan terinfeksi dan kalau kau terkena gigitan Alfa girl maka kau akan meninggal disaat itu juga"
"Sebentar! Kau tahu darimana hal itu?"
"Aku sedang dilaboratorium sekarang, aku sedang memeriksa ulang sampel darah mereka dan beberapa hasil riset kita "
"Kau masih disana?" Tanya Ben terkejut,
"Lebih baik kau pergi sekarang, kau harus menyelamatkan dirimu dan keluargamu"
"Kau lupa ya Pak? Anakku sedang sakit sekarang dan saat ini aku harus melakukan uji coba padanya disini, mana mungkin aku melarikan diri sekarang makanya aku menelepon anda buat menyampaikan sesuatu kepada suamiku"
"Suamimu yang anggota polisi itu?"
"Iya, Dia sedang dirumah sekarang dan tolong suruh dia buat ikut bersama kalian sekalian bawa mertuaku juga dari kota ini" Ucap Lusi bersamaan dengan suara tangisnya yang tak beberapa lama panggilan itu diputus sepihak olehnya .
"Halooo!!!! Lusi, kau masih disana!!!" Teriak Ben yang mulai menyadari kalau telepon sengaja diputuskan oleh Lusi.
"Siapa itu Pa?" Tanya Ezra yang sudah berada disebelah Ayahnya.
"Ikut aku sekarang!"
"Kemana?" Tanya Ezra, lalu ia menunjuk kearah rumah Mary.
"Keluarga Mary belum siap"
"Ada yang lebih penting daripada itu, ayo ikut aku!!!" Bentak Ben.
"Kalau gitu Papa aja yang pergi, aku bakal nunggu sini terus nanti nyusul -"
"Jangan membangkang Ezra!!!"
"Oke, bentar aku pamitan dulu sama mereka dan nyuruh mereka buat duluan ke perbatasan" Tukas Ezra yang sebenarnya sangat kesal pada sang ayah, lalu dengan langkah yang berat pria itu berpamitan pada keluarga mary sebentar.
"Sekarang kita kemana? " Tanya Ezra yang berjalan menghampiri Ben seusai berpamitan.
"Kita langsung naik taksi kerumah dulu, ada yang harus kuperiksa" Tukasnya, lalu mereka langsung menghentikan taksi disaat itu juga .