PERTIKAIAN KELUARGA

1012 Words
Ben memarkirkan mobilnya secara asal diperkarangan rumah, ia langsung menggendong axel turun dan berlari kedalam rumah dengan keringat yang mulai bercucuran deras disekujur tubuhnya. Ia bisa melihat alya dan ezra yang sedang menunggu cemas diruang tamu menunggu kepulauan mereka dan begitu langkah kaki ben memasuki pintu rumah dalam sekejap beribu pertanyaan dari alya menghujani ben kala itu juga. "Lebih baik sekarang kau membereskan baju-baju kita, selagi aku menghubungi bantuan dari luar" Ucap Ben pada alya. "Ezra sudah cerita semuanya padaku, termasuk perbuatanmu yang meninggalkan mary" "Ayolah Alya, hentikan drama ini sekarang dan lebih baik bersiap-siaplah" Ketus Ben yang mulai kehilangan kesabaran, ia memang sosok pria yang jauh berbeda dari kata penyabar dan selalu menggunakan amarah ketika berbicara dengan orang lain ditambahagi sifat egoisnya yang tinggi sering membuat muak setiap orang. "Oke.. " Tukas Alya, ia berusaha mengalah pada ben untuk kali ini saja dan segera berberes-beres saat itu juga. "Kalian juga bawa baju sebisanya aja!" Perintah ben pada kedua anaknya yang langsung menurut tanpa banyak tanya, walaupun ada beberapa kali ezra terlihat geram pada ayahnya. Selagi keluarganya berberes-beres diri, ben langsung mengobrak-abrik ruang kerjanya seperti tengah mencari sesuatu yang menurutnya penting sampai ruangan itu yang awalnya terkesan rapi mulai berserakan dalam sekejap. Untungnya benda yang diperolehnya bisa dapat juga, yang mana ia langsung memasukkan laptop dan flashdisk miliknya serta beberapa dokumen penting kedalam ransel hitam kerja milik ben, lalu tak lupa juga ia menyimpan notebook berisi nomor penting dari luar kota kedalam sakunya . "Udah siap, belum?" Tanya Ben dari ruang tamu. "Sabar dong mas" Jawab Alya setengah berteriak. "Gak usah bawa banyak barang, seadanya saja loh" Teriak Kesal Ben, ia langsung berjalan menghampiri Alya yang masih sibuk memasukkan baju kedalam koper mini. "Sabar dong mas, ini juga udah siap kok jadi gak usah ngeluh terus" Ketus Alya, lalu ia memberikan koper itu pada ben yang segera memasukkannya kedalam bagasi mobil. Selang tak beberapa lama, akhirnya koper milik ezra yang dicampur dengan Axel juga dimasukkan kedalam mobil serta beberapa makanan ringan dari dapur yang masih tersedia. "Semua sudah selesai?" Tanya Ben sembari menatap satu-persatu mata istri dan anaknya, alya hanya mengangguk saja. "Kalau gitu ayo kita masuk!" Ajaknya yang langsung memasuki mobil saat itu juga, mereka sepertinya terlalu terburu-buru tanpa memperdulikan rumah yang belum dikunci atau mobil yang tadi diambilnya secara acuh tak acuh disekolah axel. "Dengar! kita bakal pergi ke perbatasan kota dan semoga saja kita sudah berada diluar kota ini sebelum besok hari" Tukas Ben tanpa rasa bersalah, untungnya axel yang masih polos langsung blak-blakkan berterus-terang pada ibu dan kakak laki-lakinya. "Loh Pa, kita gak memperingatkan yang lainnya tentang besok?" Tanya Axel pada ben yang membuat seluruh perhatian tertuju padanya, terutama alya yang menatap penasaran pada sang suami. "Lupakan itu ax, lagian saat ini yang terpenting kita sekeluarga bisa selamat dari musibah ini" "Ben!!! Kau gak boleh egois seperti itu" Tutur Alya pada ben, ben cuman bisa menghela nafas saja. "Benar Pa, memangnya papa gak puas meninggalkan pacarku dalam keadaan sekarat dikantor, sekarang papa mau menyembunyikan sesuatu dari kami" "Kok Papa sih Ezra, kau harusnya bersyukur papa ada disana saat itu buat membuka matamu lebar-lebar. Bayangin aja kalau kau masih buncin buat nolongin si mary dan ...Ah sudahlah susah berdebat dengan anak keras kepala kayakmu" "Oh jadi Papa nyalahin ezra sekarang? Kapan sih papa gak bersikap egois dan pengecut kayak gini, memuakkan banget!!!" Ezra langsung keluar dari mobil dan pergi begitu saja meninggalkan keluarganya. "Mas!!!" Tegur Alya pada ben. "Kali ini aku benar-benar kecewa sama mu mas, kau sudah mengecewakan ezra dan sekarang kau malah membuatku kecewa" "Ayolah Alya, aku hanya berusaha melindungi kalian aja kok" "Oke kalau memang kau mau melindungi kami, coba sekarang jelaskan padaku apa maksud dari axel barusan? " Tanya Alya dengan ketus pada suaminya itu. "Kedua hasil eksperimenku malah mengkhianatiku, dan tadi mereka bilang memberikanku waktu sampai besok siang untuk mengevakuasi semua manusia dari kota ini" Perkataan Ben membuat alya tercengang seketika. "Lalu kenapa kau malah mau melarikan diri sekarang mas?" "Karena bagiku itu cuman buang-buang waktu saja alya, lagian tugasku itu cuma menyelamatkan keluargaku saja sebagai seorang ayah dan suami bukan malah mengorbankan diri buat sesuatu yang mustahil" "Tapi kau yang menyebabkan bencana ini terjadi mas" Bentak Alya, yang membuat axel menangis dibelakang. "Diamlah Axel!!!" Bentak Ben pada putranya sebagai bentuk pelampiasan atas kekesalannya pada ezra dan alya, Tentu saja bentakkan ben membuat anak itu semakin menangis tak karuan layaknya anak sekolah dasar yang masih manja. "Jangan Marahin axel, dia masih kecil!" Tukas Alya , ia langsung buru-buru berlari ke kursi jok belakang dan menenangkan putra bungsunya itu. "Sial, yasudah aku bakal mencari ezra dan kalian bisa tunggu disini sebentar" Ucap Ben yang merasa sangat kesal dan langsung pergi begitu saja, ia berlari menyusuri jejak ezra sembari terus-menerus menggerutu kesal pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia cukup merasa bersalah karena telah berperilaku mengecewakan pada keluarganya, namun mau gimana lagi sebab baginya melindungi keluarga adalah hal utama yang harus dilakukan olehnya saat ini walau sekalipun ia harus melakukan sesuatu yang licik dan menggelikannya setidaknya ia bisa memastikan kalau keluarganya baik-baik saja . Dengan langkah yang buru-buru, alex berlari kesana-kemari mencari keberadaan ezra yang tak kunjung ketemu dan membuatnya semakin kesal. Belum lagi jam kini telah menunjukkan pukul 7 malam yang membuatnya semakin kesal karena telah seharian penuh mencari anak sulungnya itu. Belum lagi ia sudah mulai lelah karena hampir mengelilingi separuh kota yang sangat padat dan dipenuhi oleh kendaraan yang juga ikut mengungsi setelah masyarakat mendengarkan berita heboh dari papan reklame diseluruh kota yang memperlihatkan tragedi mengerikan di sebuah perusahaan tempat ben bekerja dan kematian misterius disekolau dasar axel, sepertinya seluruh monster itu benar-benar telah lenyap saat ini dan sampai sekarang ben belum bisa memprediksi lokasi persembunyian para monster mengerikan itu. "Dimana kau ezra!!!" Gumam kesal ben, ia terlihat semakin kesal dan berulangkali memukul tiang halte bus didekatnya hingga akhirnya ia mulai menyadari sesuatu yang sejak tadi sama sekali tidak kepikiran olehnya. "Ah sial, bisa-bisanya kau mengunjungi rumah mary" Tukasnya yang terlihat sangat yakin pada intuisi tersebut , Dengan cepat ia mencari taksi dan berkendara menuju rumah mary yang berada beberapa kilometer dari lokasinya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD