Mikayla menarik pelan kursi disebelah cowok itu, di merebahkan kepalanya diatas tumpukan buku tebal yang entah apa isinya, Mikayla belum mau peduli. Sekarang fokusnya hanya pada cowok disampingnya ini.
'Wow, bener bener mahluk tuhan paling sexy'. Seragamnya sudah dia tanggalkan, yang tersisa hanya kaos hitam yang menambah kadar ketampanannya. Ditambah dengan kaca mata bacanya, membuat Mikayla berdecak kagum. 'Laki laki dengan kaos hitam dan kacamata, damagenya ngga nahan. Ya allah, bisa ngga, yang ini buat aku aja?'
Mikayla mengetukkan jarinya pelan kepermukaan meja, membuat cowok itu reflek menoleh. Sesaat terlihat raut terkejut dari wajahnya, tapi kemudian dia tersenyum menyadari Mikayla yang menatapnya dengan polos.
"Dari kapan disini?." Dia berbisik pelan, takut mengganggu siswa yang lain.
"Baru aja." Suasana kembali hening. Cowok itu kembali melanjutkan bacaannya.
"Kei?"
"Hm,"
"Kamu kemana aja dari kemarin? Kok ngga pernah kelihatan?."
"Kenapa? Kamu kangen?"
"Hm!. Rasanya aku beneran jatuh cinta deh Kei." Mikayla bergumam kecil. Dia masih memusatkan pandangannya pada wajah tampan Jayden tanpa beralih sedikitpun.
"Hm...?" Jayden mengernyit pelan. "Kamu ngomong apa barusan? Sorry aku ngga denger."
Mikayla menarik pelan tangan Jayden yang masih memegang buku.
"Dengerin aku ngomong, boleh?"
Jayden langsung melepaskan bukunya dan menumpukkan dengan buku yang lain. Melepaskan kacamata bacanya, Kemudian dia merebahkan kepalanya menghadap Mikayla. Pandangan mereka berdua terkunci satu sama lain.
"Okay, mau ngomong apa, hm?"
Mikayla mengerjapkan matanya sebentar. Dia terlihat salah tingkah karna jarak wajah mereka yang terlalu dekat. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas Jayden.
"Setan, jangan dulu datang sekarang, gue belum punya hak buat cipok nih cowok. Sepertinya pertarungan si malaikat dan si iblis sudah dimulai nih. Berdoa aja semoga si iblis yang menang. Eh, maksud gue si malaikat. Iya si malaikat!. Typo anjir."
Mikayla sibuk berperang dengan pikirannya, dahinya sampai mengernyit membuat Jayden mengulum senyum melihat wajah imut Mikayla.
"Kepala ini lagi mikirin apa sih? Serius banget sampe bengong gitu?" Jayden mengetuk pelan kening Mikayla membuat gadis itu kembali sadar. Mikayla tersenyum polos menyadari sikapnya yang kelewat bodoh di depan Jayden.
"Kei..."
Jayden hanya menaikkan alisnya tanda dia menyuruh Mikayla berbicara.
"Aku suka kamu, mau jadi pacar aku ngga?"
Dengan satu kali tarikan nafas, Mikayla merapalkan kata kata sakral itu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan karna malu. Dadanya berdegup kencang, perutnya terasa sangat menggelitik, dia sampai berkeringat karna gugup dia benar benar malu sampai tidak berani membuka matanya.
Terdengar kekehan kecil dari Jayden. Tangan Jayden berusaha membuka telapak tangan Mikayla yang masih menutupi wajahnya.
"Buka ya, aku mau liat wajah kamu."
"Ngga ah, aku malu."
"Ngapain malu? Harusnya bangga dong. Mana ada cewek yang seberani kamu?"
Mikayla memberanikan diri membuka matanya. Pandangannya langsung disuguhkan dengan senyum kecil Jayden.
"Bukannya aku kayak cewek murahan ya, berani nembak cowok duluan?"
"Ngga lah, ini kan namanya emansipasi cewek." Lagi lagi jayden terkekeh
"Tuh kan, kamu ketawain aku.."
"Aku ngga ngetawain kamu. Aku malah bangga ditembak cewek cantik. Kapan lagi coba."
"Jadi kamu senang gitu?"
"Iya lah, aku ngerasa kayak, hm...aku diinginkan? jayden menaikkan alisnya dengan jenaka.
"Ih, aku serius!" Mikayla mencebikkan bibirnya, membuat wajahnya terlihat lebih imut.
"Iya, aku tau." Jayden berucap sambil menyeka keringan di kening Mikayla. Jari jarinya memperbaiki rambut Mikayla yang terlihat sedikit berantakan.
Perlakuan Jayden membuat Mikayla mematung. 'Ya tuhan, belum hilang debarannya, malah ditambah lagi frekwensinya. Kalau kayak gini terus, d**a gue beneran meledak nih. Gue harus cepet cepet selesaiin ini. Gue ngga mau mati muda!.'
"Kai, gimana? mau jadi pacarku ngga?"
Jayden terlihat berpikir. Mungkin dia bingung mau menjawab apa.
"Kenapa kamu suka aku?"
"Ya suka aja. Ish, gimana sih?"
"Ya, kan harus ada alasannya?"
"Ngga ada alasan buat menyukai seseorang Kei. Perasaan ini datang sendirinya. Hati kita kan ngga bisa milih mau suka siapa."
"Iya, hati memang ngga bisa milih, tapi mata bisa kok. Jadi apa alasannya?"
"Karna kamu cakep?"
"Udah? itu aja?"
"Ya maunya apalagi dong. Aku kan ngga punya mata batin buat liat kepribadian kamu."
Jayden tertawa kecil melihat wajah jengkel Mikayla. Dia berhasil membuat gadis itu marah, dan itu terlihat lucu dimatanya.
"Kalo aku punya pacar, gimana?"
"Belum nikah kan?" Mikayla bertanya balik dan Jayden hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ngga papa, yang penting belum jadi istri. Masih sah buat ditikung"
Mikayla menjawab santai tanpa beban, membuat Jayden kelepasan tertawa keras. Mikayla buru buru membekap mulut Jayden, jangan sampai mereka berdua jadi pusat perhatian. Walaupun isi perpustakaan sudah sedikit berkurang.
"Ish, jangan ketawa keras keras Kei." Mikayla berbisik, setelah dirasa Jayden sudah tenang, baru Mikayla melepaskan tangannya. Terlihat senyum lebar Jayden membuat Mikayla kembali salah tingkah.
"Ekhm, jadi gimana Kei?"
"Kamu ngga mau nanya, aku juga suka kamu atau ngga?"
"Ya udah" Mikayla diam sebentar, dia menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu suka aku ngga?"
"Suka!"
"Kenapa?"
"Kenapa apa?" Jayden bertanya bingung.
"Kenapa suka aku?"
"Katanya suka ngga perlu alasan. Mana aku tau kalo hati aku maunya kamu.
Skakmat!. Jayden benar benar membalikkan semua perkataan Mikayla.
"So, be my boyfriend?"
"Okay"
"Hah!! Segampang ini kita jadian?"
"Terus maunya kayak gimana?"
"Aku pikir, akan banyak drama."
"Kalo udah saling suka,ngapain pake drama segala."
"Jadi ... kita udah official nih?"
"Iya, pacar. Kenapa sih? Kok kayak ngga percaya gitu."
"Ya, iya lah, gila!. Aku udah punya pacar loh ini. Dan pacar aku ... Oh tuhan, salah satu mahluk tuhan paling sexy. Bukan, bukan, satu satunya mahluk tuhan paling sexy dimata aku." Mikayla menyeringai lebar membuat Jayden tertawa tanpa suara. Tangannya mencubit pelan pipi mikayla.
"Imut banget sih pacar aku." Jayden mengelus lembut pipi Mikayla membuat pipi gadis itu memerah malu.
Mikayla mengangkat kepalanya dari atas buku diikuti oleh jayden. Kepala gadis itu sedikit pusing karna kelamaan tidur miring.
Kayaknya udah bel. Aku mau balik ke kelas dulu. Kamu ngga mau samaan?"
Jayden menggelengkan kepalanya pelan. "Masih ada buku yang harus aku cari." Jayden kemudian menyodorkan tangannya kehadapan Mikayla membuat kening gadis itu mengernyit. Tapi karna Mikayla yang kelewat absurd, dia malah mencium punggung tangan Jayden, membuat cowok itu terkekeh geli.
"Aku minta Hp kamu pacar, bukan minta disalim."
"Oh, bilang dong. Aku kan ngga tau. Aku pikir tadi kita lagi simulasi cium tangan setelah ijab kabul."
Jayden benar benar tidak bisa menahan tawanya, lama lama dekat cewek ini, mungkin dia akan dikira sudah gila karna kebanyakan tertawa dan tersenyum.
"Sini handphone kamu, aku mau nulis sendiri namaku."
Jayden menyerahkan ponselnya. Mikayla mengotak atik ponsel Jayden sebentar. Terdengar bunyi dering dari kantong rok Mikayla. Gadis itu segera mengembalikan ponsel Jayden.
"Jangan dihapus nama kontaknya ya. Awas, Aku bakal cek tiap minggu". Mikayla memicingkan matanya mengancam Jayden, yang dibalas anggukan dan senyum geli dari cowok itu.
"Ya udah, aku balik ya." Mikayla menengok kiri kanan, sepi. Berarti aman, okeh!" Tiba tiba saja Mikayla mendekat ke arah telinga Jayden dan berbisik pelan.
"bye, bye, pacar."
"cup..."
Sebuah kecupan mendarat dipipi Jayden, membuat cowok itu mematung, memegang dadanya sendiri. Sedangkan pelakunya sudah lari terbirit b***t keluar perpustakaan.
"Sial." Jayden tersenyum sendiri menyadari kelakuan Mikayla. "Manis banget pacar gue."
Tapi sesaat kemudian, senyuman itu luntur diganti dengan dengusan kesal dan wajah frustasi Jayden.
"bodoh!, kalo sudah gini, gimana cara gue berhenti." Jayden mengacak rambutnya frustasi, sedangkan dadanya semakin kencang berdebar mengingat wajah menggemaskan Mikayla.
Ting...
Love?
Tadi cap tanda jadian??