Bab 8

990 Words
Sudah sebulan lebih dari hari mereka pergi ke mall. Mikayla masih ingat keesokan harinya, Rara berlari memeluk dia dan Sairish sambil berlinang air mata. Rara mengucapkan banyak terima kasih karna telah baik padanya dan keluarganya. Bagaimana tidak, Sairish mengirimkan satu truk bahan makanan, pakaian, perlengkapan sekolah, popok, sampai yang sekecil sabun mandi ada. Semua lengkap dia kirimkan. Dan itu membuat mereka semua sangat bahagia. Mereka senang karna ada orang sebaik itu memberikan semuanya disaat mereka sedang benar benar kesulitan finansial karna donatur tetap mereka tiba tiba menghentikan dananya, membuat bunda dan anak anak yang sudah cukup besar termasuk rara kelimpungan mencari pekerjaan apapun yang penting halal. Rara adalah anak yatim piatu, dia tinggal di panti asuhan dari dia masih bayi. Sekarang dia sudah berumur 16 tahun jadi dia ikut berkewajiban merawat adik adiknya yang berjumlah lebih dari 50 orang. Sebenarnya diantara mereka tidak ada yang tau seluk beluk kehidupan masing masing, kecuali Mikayla dan Sairish yang memang sudah kenal dari jaman masih pake popok barengan, tapi seorang Adena dengan segala bujuk rayu tindak tanduknya membuat rara yang pendiam hanya bisa menjawab jujur saat Adena bertanya soal kehidupannya. Sedangkan pada Mikayla dan Sairish, Adena keburu keder duluan melihat tatapan Sairish. Memang, Sairish dan aura bossy-nya, dan hanya Mikayla yang mampu menjinakkannya. ??? "Oke Class, hari ini pelajarannya sampai disini dulu, jangan lupa kerjakan tugasnya ya. Sampai ketemu minggu depan. Have nice day guys!" Setelah Miss Sovie keluar, kelas langsung ramai seperti pasar malam. "Gila, Miss Sovie serem banget anjir. tugasnya subhanallah." "Gue auto meriang nih kalo guru gurunya kayak miss Sovie semua. Bisa bisa gue mengalami kebotakan dini lagi." "Sumpah ya Gas, ngedengar Miss Sovie ngomong dari tadi bikin gue ngantuk. Mana perut gue ngga berhenti bunyi lagi dari tadi. Sial, kelaparan ini benar benar nyiksa gue." Bangku Mikayla yang bersebelahan langsung dengan bangku murid cowok hanya bisa tersenyum geli mendengar berbagai gerutuan teman temannya. "Makanya, tu otak jangan diisi makanan mulu Jon, jadi ngga konsen kan lo." Mikayla menimpali ucapan teman di sebelahnya yang dipanggil Jon itu. Sebenarnya namanya Jonathan, tapi Mikayla manggilnya Jono. "Eh, neng Mika, nyahut aja." Ke kantin kuy, gue traktir." "Ogah, ajak si Bagas noh. Kayaknya dia udah mau pingsang tuh gara gara denger ocehan lo dari tadi." "Ayo lah, sebagai tanda pertemanan kita ini." Jono masih ngotot membujuk Mikayla. "Oke, kalo lo maksa." Mikayla berdiri dari bangkunya. Dia berdehem sebentar sebelum berbicara keras keras. "Perhatian guys!! hari ini kita sekelas akan ditraktir Jono. Jadi kalian bisa makan sepuasnya dikantin, nanti Jono yang bayar." Langsung terdengar koor serempak dari penghuni kelas 1-1. Semua berteriak heboh sambil mengucapkan terima kasih kepada Jono yang yang wajahnya sudah memucat karna terkejut. Dia masih terdiam kaku belum bisa mencerna ucapan Mikayla yang terdengar seperti dengungan di telinganya. "Jon, ayo dong, kok lo malah bengong?" Adena memukul pundak Jono. Cowok itu reflek terjengkit kaget. "Kenapa lo mukul gue Aden, sakit tau." Jono mengerucutkan bibirnya kesal. "Ih, ngga usah sok imut, lo ngga imut sama sekali. Kuy lah ke kantin, lo harus traktir kita sekelas nih." Adena menyeringai sambil menaik turunkan alisnya. "Tunggu, tunggu. Gue ngga punya uang sebanyak itu buat traktir anak anak sekelas. Gila, bisa digantung gue sama emak, kalau ketahuan ngutang dikantin." "Lah, tadi katanya mau traktir?" Mikayla menaikkan alisnya pura pura bingung. "Iya, tapi ngga sekelas juga. Minimal lo berempat mah gue masih sanggup. Ini sekelas Mika. Ya allah, lo emang niat mau bikin gue menderita deh kayaknya." Mikayla dan Adena sudah tertawa keras melihat raut wajah panik si Jono. Sedangkan Rara hanya bisa terkekeh geli, dia tau gimana perasaan Jono sekarang. Sama persis seperti perasaannya saat dipaksa ikut ngemall bulan lalu. Teman temannya memang unik. "Jon, kuy lah. Kok masih dikelas? Tuh anak anak dikantin udah pada ribut nungguin lo." Terlihat Bagas menyembulkan kepalanya dari arah pintu kelas, menunggu Jono keluar. Jono menatap wajah keempat gadis itu dengan pias. Dia menghembuskan napas pasrah. Sairiah yang sudah tidak tahan melihat wajah nelangsa Jono langsung mendorongnya pelan menuju pintu keluar. "Ayok Jon, kali ini Mika yang traktir kita. Ya ngga guys?" "Sabi lah." Mikayla terkekeh kecil. "Tapi..." "Santai Jon, iyain aja. ribet nanti kalo mika ngambek." Adena ikut menimpali. "Lo ngga mau kan kalo Mikayla ngamuk kayak kemarin?" Lagi Rara ikut memanasi, membuat Jono meneguk ludahnya kasar. "Kuy lah kalo gitu. Tapi jangan bilang bilang yang lain ya. Malu gue anjir, masa dibayarin cewek." Keempat gadis itu lantas mengangguk patuh. Mereka berjalan beriringan keluar kelas. Mikayla melihat seorang cowok berjalan menjauh dari lorong kelas. Apa dia udah balik? Pikirnya. "Rish, nih dompet gue. Lo bayarin nanti ya, gue mau ke toilet bentar. Ngga usah nunggu gue." Mikayla berjalan cepat berlawanan arah dari jalan ke kantin. Tanpa memperdulikan gerutuan Sairish yang bisa dipastikan tidak akan berhenti hanya dengan kata maaf saja. Jadi abaikan!. Dia mengayuhkan kakinya dengan sedikit berlari, dia tidak ingin targetnya menghilang lagi. Udah cukup beberapa minggu ini dia tidak melihatnya. Setelah melewati beberapa ruang lab yang sudah dipastikan targetnya tidak ada, kakinya melangkah ke arah perpustakaan yang berada diujung bangunan sekolah, Mikayla yakin targetnya disana. Mikayla melepas sepatunya dan menaruh di rak yang sudah disediakan di samping perpustakaan. Saat pertama kali masuk, matanya langsung di manjakan oleh bangunan perpustakaan yang megah, tema rustic terlihat lebih menonjol. Tidak ada bau buku disini, yang ada hanya bau dari pengharum ruangan. "Ck, tau nyaman gini. Dari kemarin gue numpang tidur di sini. Mana adem banget lagi." Mikayla masih memandang kagum pada interior dan tata letak ruang perpustakaan ini. "Uang lo ngalir di tempat yang tepat Rish." Mikayla tersenyum dalam diamnya. Dia menyusuri rak rak buku mencari keberadaan targetnya. "Ngga mungkin ngga disini kan? Tadi arahnya bener kok. Apa gue salah orang ya?" Mikayla berjalan menyusuri rak terakhir. Dan gotcha!, itu dia yang Mikayla cari. Punggung lebar yang duduk menghadap jendela itu adalah targetnya. Dia berjalan cepat tapi tidak tergesa gesa. Dia tidak mau dipelototi oleh penghuni perpustakaan yang lain. Tujuannya hanya satu, menghampiri laki-laki yang dia rindukan kehadirannya dari kemarin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD