Bab 7

1759 Words
"Habis ini ngemall yuk." Adena membalikkan badannya menghadap kebelakang menatap Mikayla dan Sairish yang sedang membereskan buku dan alat tulisnya. "Kuy lah, udah lama juga ngga belanja gue." Sairish menimpali ajakan Adena. "Ckckck, udah lamanya lo itu baru kemarin Rish. Lo lupa sebelum balik ke Jakarta, kita belanja dulu di Bandung?" "Ck, itu bukan belanja namanya Ka, tapi pemanasan, tau ngga." "Ajegile nih anak, belanja puluhan juta dibilang pemanasan. Lo waras?" "Kalo gue ngga waras, bukan disini tempat gue, cantik." Sairish mengerlingkan matanya genit. Mikayla memutar bola mata malas melihat tingkah Sairish. "Orang kaya mah bebas ya, buang uang segitu udah kayak buang upil di kolong meja, gampang banget. Ya ngga?" Adena menimpali. "Gue buang uang bukan kayak buang upil dikolong meja Den, tapi kayak buang kentut di tengah ruangan kelas. Ngga berbunyi tapi semua dapat merasakannya. Baik kan gue?" "Bener bener sinting nih anak." Mikayla menggelengkan kepalanya prihatin. "Mimpi apa gue dapat sodara macam gini. Boleh ditukar ngga sih?" "Mau ditukar sama siapa ka?" Rara yang diam menyimak ikutan bertanya. "Boleh sama Ariana Grande ngga? Atau Kim Soo Hyun juga ngga papa deh?" "Ck, masalahnya mereka yang ngga mau temenan sama lo. Lo terlalu Astagfirullah untuk mereka yang Masyaallah." Rara sudah tertawa cekikikan sedangkan Adena tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Mikayla yang kecut. "Lo mau bilang gue jelek gitu?" "Ngga lah, lo cantik gini. Kalo jelek, mana mau gue dikintilin sama lo." "Idih, gue ngga ngintilin lo ya. Tapi gue jagain. Lo masih terlalu muda buat dilepas dialam liar." "Eeh, maksud lo gue hewan gitu?" "Bukan gue yang ngomong ya, tapi lo." "Anjirr, untung gue cantik. Jadi ngga papa dikatain sama lo." "Udah, udah, sakit perut gue dengerin debatan lo berdua." Adena masih saja tertawa sampai air matanya keluar. Begitupun Rara yang terlihat memegang perutnya sambil menahan tertawa, suaranya sampai terdengar ngik ngik. Wajahnya sudah merah padam. "Udah, ayok pergi. Tinggal kita doang dikelas nih." Sairish bangkit menunggu Mikayla keluar duluan. Mereka berempat melewati koridor sekolah yang mulai sepi. Hanya tinggal sebagian saja, mungkin mereka yang melakukan kegiatan eskul hari ini. "Ra, lo juga ikut ya!." Sairish berkata tegas. Itu bukan nada ajakan, tapi nada penegasan kalau rara tidak boleh menolak. Rara tersenyum kaku, dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak sekaya teman temannya ini. "Hm, tapi gue belum ijin sama bunda Rish. Gue takut bunda khawatir kalo gue pulang telat." "Telepon aja Ra. Jangan bilang lo ngga punya nomor bunda lo. Itu ngga masuk akal." Sekarang Adena yang bersuara. "I-itu, g-gue...." "Ya udah, kita mampir ke tempat lo aja." Mutlak, itu ucapan Mikayla. Rara tersenyum pasrah."Ya udah, gue telepon bunda sekarang." Ketiga gadis itu saling berpandangan dan menyeringai bersamaan. ??? Keempat gadis itu sudah sampai di mall yang mereka tuju dengan masih memakai seragam sekolahnya. "Ke butik dulu yuk, ganti baju. Gerah gue pake seragam ini, rasa rasanya ada beban berat yang gue pikul." "Lebay lo. Itu bukan karna seragam, tapi karna dosa lo tu yang keberatan." "Ah, sial. Lo pintar banget bikin mood gue terombang ambing." Mikayla hanya menaikkan bahunya menanggapi perkataan Sairish. Mereka memasuki butik terbesar di mall itu. Adena yang notabene anak orang yang lumayan kaya pun merasa sungkan masuk ke butik itu, karna ibunya sangat disiplin soal keuangan Adena. Jadi dia hanya bisa memasuki butik itu hanya ketika sedang keluar bersama ibunya. Itupun bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Karna kalau dia datang sendiri, dia ngga bisa jamin uang jajannya selama tiga bulan akan selamat. Sedangkan Rara, sudah jelas dia belum pernah masuk. Mungkin ke mall pun, gadis itu sangat jarang. Dia hanya bisa diam berdiri melihat teman temannya melihat lihat baju yang ingin dipakai. "Ra, kok malah bengong. Ayo pilih bajunya, ngga nyaman pake seragam terus." Sairish menyadari kalau Rara masih berdiri diam melihat mereka yang sibuk memilih. "Ngga papa Rish, gue pake seragam aja. " "Ck, mbak, cariin pakaian buat teman saya. Sama kerudungnya sekalian." Sairish menyuruh salah satu pelayan toko yang sedang berdiri disisinya. "Iya mbak." "Lo," sairish menunjuk Rara. "Ikut mbak ini, jangan membantah. Gue ngga suka." "Ikut aja Ra, lo bakal susah kalo Sairish udah marah nanti." Mikayla berucap santai sambil berlalu ke ruang ganti mengikuti Sairish. Adena menepuk bahu rara pelan,"lo nurut aja Ra, biar lo selamat." Adena terkekeh sambil menatap wajah pias Rara. Dia berlalu menuju ruang ganti. Setelah berganti pakaian, mereka berempat menuju bioskop yang berada tepat dilantai empat. Mereka berencana untuk nonton film terbaru rekomendasi dari Adena. "Gue beli popcorn dulu ya, lo berdua tungguin Adena disini aja." Mikayla berlalu meninggalkan Sairish dan Rara menuju stand penjual makanan dan minuman. ??? "Mbak, saya pesan New mix bucket popcornnya dua, Strowberry macchiato dua, sama Milkshake greentea latte dua." Mikayla menyerahkan empat lembar uang merahnya. Sambil menunggu kembaliannya, Mikayla mengedarkan pandangan ke seluruh area bioskop yang hari ini terlihat ramai sekali. "Gue menghindari hari libur biar ngga rame, ternyata sama aja." Mikayla menggerutu sendiri. Tiba tiba pandangannya terfokus pada pasangan yang baru memasuki pintu masuk bioskop. Mikayla menajamkan penglihatannya menatap pasangan itu. Gadis yang tidak sengaja dikenal Mikayla karna insiden perkelahiannya di kantin itu terlihat bergelayut manja di lengan lelaki disebelahnya, dan lelaki itu terlihat biasa saja, tidak merasa risih sedikitpun. Lelaki yang memakai topi dan masker itu terlihat sesekali menanggapi ocehan si gadis. "Ternyata dia punya cowok juga, gue kira beneran pacarnya Jayden tu cewek." Mikayla memperhatikan penampilan cowok itu. "Sempurna sih, tapi sayang, pake topi sama maskernya gitu banget. Emangnya dia pikir ini lagi di gurun pasir apa, sampe mata aja ngga kelihatan. Kenapa ngga sekalian pake kacamata tadi." Saat laki laki itu mengangkat kepalanya, pandangan mereka bertemu. Untuk sesaat, Mikayla membeku melihat bola mata yang melebar itu. Mikayla yang salah tingkah langsung membalikkan badan menghadap kasir, yang kebetulan dari tadi sudah memanggil untuk memberikan uang kembaliannya. Mikayla bingung, kenapa dadanya berdebar setelah melihat sepasang mata yang terlihat kaget ketika mereka bertemu pandang itu. "Ck, jangan gila Mika, bisa dilabrak lagi lo sama penyihir itu kalo ketahuan lagi liatin cowoknya." Beruntung Adena sudah selesai membeli tiket, terlihat teman temannya berjalan mendekati Mikayla. "Langsung masuk yuk, filmnya udah mulai." Adena menginterupsi sambil mengambil satu Milkshake greantee-nya dan satu popcorn diikuti Sairish dan Rara. Sebelum berlalu, Mikayla masih sempat menoleh kebelakang untuk melihat laki laki itu. Terlihat laki laki itu bersedekap d**a, ketika pandangan mereka kembali bertemu, laki laki itu menarik turun topinya hingga tidak terlihat apapun, hanya setengah wajahnya yang tertutup masker saja. Mikayla mendengus, dia mencibir pelan."Ck, tadi gandengan udah kayak mau nyebrang, sekarang udah kayak orang musuhan saking jaga jaraknya." "Kenapa lo?" "Ngga ada. Kita nonton film apa?" "Ngga tau, liat aja nanti." ??? Sekarang mereka sedang duduk menunggu makanan yang mereka pesan. Sairish masih terlihat kesal, bibirnya masih mengomeli Adena yang terlihat sudah bosan mendengar suara Sairish. "Lagian lo Den, kok bisa petugas penjual tiket itu ngasih lo beli sih. Umur lo kan 16 tahun? Gila, lo bener bener udah racunin otak polos gue, gue masih dibawah umur Den buat nonton yang kayak gitu." "Alahhh, tapi lo kelihatan menikmatinya tuh." "Ngga ya, gila.." "Tapi mata lo berbinar binar tadi pas adegan ehem ehemnya. Mana lo pegang tangan gue erat banget lagi. Tegang lo?" "Sinting!, Adena sinting. Mika, belain gue dong, Rara juga. Iiihhh, kesel gue." "Ngga papa Rish, edukasi itu, ambil hikmahnya aja." Mikayla menahan tawanya melihat wajah panik Sairish. "Hikmah apaan? Dari awal sampe akhir, gue ngga ngerti jalan ceritanya. Yang gue tangkap cuma adegan adegan itu. Ya allah, otak polos gueeeee." Sairish menjerit histeris. "Tapi suka kan adegannya?" "Sukalah..." "Pengen lakuin adegan yang kayak gitu ngga?" "Pengen la--. Eh ... apa maksud omongan lo Ka? Lo ngejebak gue, kambing!." Sairish kembali meraung histeris membuat ketiga temannya terbahak bahak. Ternyata Sairish sepolos itu. "Udah ah, malu diliatin orang orang tuh." Sairish meringis pelan ketika melihat meja meja di sekelilingnya yang sudah diisi semua. Dia mengucapkan maaf berkali kali karna sudah menjerit dari tadi. Pandangan Mikayla kembali terarah keluar area restoran. Pandangannya menjurus ke pintu masuk restoran. Disana, dia Kembali melihat pasangan itu yang membalikkan badan menjauh dari pintu restoran. 'Ck, apa sih yang gue pikirin? kenapa perasaan gue ngga nyaman ya?' Selesai makan, mereka bersiap untuk berbelanja. Mereka kembali ke butik tadi untuk mengambil seragam mereka yang ditinggalkan disana. "Guys, gue boleh pulang duluan ngga? Ini udah malam, gue ngga enak sama bunda." "Tungguin aja Ra, kita cuma belanja bentar kok. Yang lainnya udah selesai semua." Sairiah menanggapi ucapan Rara sambil terus berjalan. Langakah mereka sudah sudah memasuki butik itu kembali. Seorang pria tergopoh gopoh mendekati mereka dan berbicara dengan Sairish. "Pesanannya sudah saya antarkan ke lokasi mbak." "Oke, terimakasih banyak pak. Silahkan kembali bekerja, saya bisa lihat lihat sendiri." Sairish berucap sopan. "Ngga apa apa mbak, saya temani." "Santai, bapak pasti lelah ngurus pesenan saya dari tadi. Jadi santai saja, saya cuma sebentar kok." "Terima kasih mbak, kalau gitu saya pamit. Mari mbak mbak semua." Bapak itu tersenyum ramah sebelum membalikkan badan dan masuk ke salah satu pintu di belakang kasir. "Aden, Rara, ayok pilih. Ambil aja apapun yang kalian mau." "Ih ngga boleh gitu Rish, kesannya kita mau porotin lo lagi." Adena berucap tidak enak, sedangkan Rara terlihat menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. "Ambil aja guys, gue malas urus Sairish kalo dia ngambek nanti." Mikayla berucap santai. "Tapi ngga gitu sih Ka, nanti kalo uangnya Sairish habis karna belanjain kita gimana?" Adena masih beragumen pelan. "Lo berdua mau kuras isi butik ini aja ngga bikin nih anak bangkrut. Lagian ini butik juga punya dia." "Adena dan Rara melotot kaget, mulut mereka menganga lebar. Entah mereka syok atau kesurupan. Tampang mereka berdua terlihat konyol dimata Mikayla dan Sairish. "l-lo ngga b-becanda kan Mika?" Adena bertanya terbata bata. Dia merasa syok. Butik yang hanya bisa dimasuki olehnya hanya beberapa kali dalam setahun adalah punya teman barunya. Apakah ini yang namanya dapat rejeki durian runtuh? Mimpi apa Adena punya teman sultan begini. Mungkin dikehidupannya yang dulu, dia pernah menyelamatkan negara. Akhirnya Adena kalap juga, dia mencuci matanya dengan barang barang branded itu. Tapi dia hanya memilih dua saja, alasannya biar tiap kesini tetap dikasih gratis. Tas dan sepatu yang dia ambil aja bisa membuat dia ngga belanja setahun saking mahalnya. Apalagi kalo dia ambil lebih, itu namanya tidak tau diri. Auto dikirim ke pluto dia sama Sairish. Rara yang tidak berani berbuat apa apa hanya bisa pasrah ketika tentengannya lebih banyak dari Adena. Karna greget, Mikayla dan Sairish sendiri yang memilihkan barang barang itu untuk dia. Dan alhasil, beginilah jadinya. Enam paperbag dengan isi berbagai macam barang. Sebenarnya tadi bukan enam paperbag ini saja, tapi ada banyak. Berhubung rara ingin menangis melihatnya, jadi mereka menguranginya. Jangan lupa vote dan comentnya gays
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD