06. Lily Sudah Mati?

1536 Words
Perumahan Edelweiss. Sebuah perumahan sederhana yang kebanyakan dihuni oleh warga kelas pekerja. Karena sedang jam kerja, hampir tidak ada orang yang terlihat di kawasan ini. Satu-satunya orang adalah seorang satpam yang berjaga di pos. Dia berjalan tenang menuju ke rumahnya sendiri, Lilianne Griselda. Gadis yang seharusnya tinggal di blok C nomer 12B, rumah paling kecil yang warna temboknya di d******i cat merah. Akan tetapi sayangnya rumah itu kini dipenuhi karangan bunga yang berbunyi: Turut berduka cita atas meninggalnya Nn. Lilianne Griselda Tidak ada siapapun yang ada di halaman. Lily panik. Ia segera masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara lagi. Di ruang tamunya sekarang didekorasi menjadi lokasi persembahan terakhir. Sebuah peti mati kayu lengkap dengan foto dirinya yang asli ada di tengah ruangan. Gadis berparas mirip Lisa, hanya saja rambutnya lurus memanjang hingga d**a. Sampai sekarang ia heran dengan hubungannya dengan Lisa ini. Seorang pemuda berpakaian serba hitam tampak duduk di salah satu kursi pelayat. Wajahnya pucat, kedua matanya sembab, kemungkinan karena terlalu banyak menangis. “Tristan?” panggil Lily. Tristan menoleh dengan tatapan s***s seakan sudah mengetahui siapa orang itu, “Mau apa kesini?” Lily menghampiri peti matinya, “Maksudnya apa ini? Apa-apaan ini? kenapa aku meninggal?” Ia berusaha membuka pintu peti tersebut. Kemudian berkata lagi, "Aku disini... nggak mugkin!" “Lo mau malu-maluin gue'kan disini!” bentak Tristan mendorong Lily menjauh dari peti mati itu. Ia menutup petinya sembari berkata, “lo udah mutusin, jadi biarin gue berduka sekarang.” “Maksudmu apa? Kamu kenal orang ini...” tanya Lily kebingungan menunjuk dirinya sendiri. Dia tidak tahan melihat wajah sedih sang kekasih, jadi ia langsung mengaku, “Dengar, ini aku Lily! aku tidak tahu kenapa bisa ada di tubuh ini. Aku tidak kenal Lisa ini....” “Cepat pergi dari sini!” bentak Tristan melampiaskan kepedihannya dengan mendorong gadis itu keluar dari rumah, “Ini rumah Lily bukan Lisa!” Lily bertahan di ambang pintu, “Kamu... beneran kenal orang ini?” “PERGI LO CEWEK MATRE!” teriak Tristan benar-benar tidak tahan memandang wajah Lily yang itu. Mata Lily berkaca-kaca karena mendengar sikap kasar kekasihnya. Ia berusaha menjelaskan, “Tristan, aku bersumpah... aku ini Lily. Kamu harusnya membantuku, ini kenapa aku mati?” Tristan tertawa palsu. Dia merasa kalau gadis di depannya sedang meledeknya. “Lo kira bisa begoin gue lagi?” “Tristan...” “Lagian lo ini ngomong apaan sih, ya iyalah Lily mati... lo lupa kejadian di pantai itu, sekarang lo kesini cuma mau ketawa'kan?” “Nggak paham, Tristan... ini ada apa? Aku tadinya itu tidur, terus bangun tahu-tahu jadi wanita ini... si Lisa... aku Lily.” “Oh iya, makasih udah bohongin gue selama ini, Lisanette.” kata Tristan seolah jijik memanggil nama gadis itu, “gue hargain perbuatan lo, tapi sorry ya.. gue cuma cinta ama Lily. Lily nggak kek elo.” Lily berusaha menyentuh tangan kekasihnya itu, “Aku Lily, Tristan... aku bersumpah aku Lily... aku ingat padamu, aku ingat kita selalu makan malam bersama... kamu biasanya menjemputku pulang, kita masak bersama di rumah ini..” “Daripada bikin onar disini, lebih baik pergi sana!” pinta Tristan menepis tangan Lily dengan kasar, “apalagi tunangan lo tuh, posesifnya minta ampun.” “Aku Lily bukan Lisa! Ada yang salab disini! Jangan seenaknya mengatakan aku mati!” Lily masih berusaha menyentuh peti matinya sendiri. Tristan semakin menjauhkan gadis itu dari petinya. Ia menegaskan, “Oh iya sama selingkuhan lo jangan lupa, sana pergi... Lily udah punya pacar malah punya tunangan ternyata punya selingkuhan? Bercanda lo? Lily itu setia...” “Tristan.. berapa kali aku bilang, aku bahkan tidak ingat kenangan apapun tentang kehidupan Lisa ini... aku Lily... aku tahu ini sulit diterima akal sehat, aku juga nggak tahu, kepalaku sekarang pusing sekali! Tolong percayalah padaku!” “Gue maklum kok, kan elo emang nggak waras ya,”potong Tristan terdengar penuh hinaan, “udah jangan gila disini, jangan nemuin gue lagi, gue udah cukup muak ngeliat elo...” "Aku tahu, aku bisa buktikan aku Lily..." kata Lily terhenti sejenak memandangi wajah Tristan serius. Lalu melanjutkan, "Kita pernah berciuman di toilet lantai bawah gedung fakultas seni, gedung kamu dulu." Tristan malah tertawa meledek, "Sudah pergi sana!" Lily akhirnya menangis, “Kenapa kamu malah tertawa? Hanya kita yang mengetahuinya! Ini ada apa sih? Tristan... tolong aku... ada hubungan apa kamu sama Lisa ini?” “Jangan ngacoh deh, lo kira tangisan itu bermakna di depan gue. Setelah kelakuan lo?” “Sebenarnya ada apa saat liburan itu? Aku... aku ngapain... Lisa ini... ngapain Lily? Lisa ini... kenal Lily?” “Ck,” umpat Tristan mual mendengar ucapan aneh Lily. Dia segera mendorong tubuh gadis itu keluar rumah, kemudian menutup pintunya erat-erat. Lily tidak terima. Ia menggedor pintunya berkali-kali sambil mendobraknya sedikit. BRAK..BRAK...BRAAAKKK Gadis ini masih tidak tenang karena foto dan namanya ada terasnya. Ia menangis sejadi-jadinya karena takut kalau seumur hidup harus tetap berada di tubuh itu. BRAKK!!! “Tristan!” panggil Lily mulai merengek, “jelaskan padaku, ada apa ini? Kenapa aku.. aku mati? Memangnya apa yang terjadi di pantai? Aku... aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi... tolong.” Karena tidak ada jawaban, ia sampai menjerit, “TRISTAN!! AKU LILY!!” Ia menangis hingga kakinya lemas, kemudian terjatuh di depan pintu rumahnya sendiri. TOK..TOK.. Tidak henti-hentinya dia mengetuk pintu agar dibuka oleh sang kekasih. “Aku.. mati?” gumamnya sangat lemas, “kenapa bisa begini..” TOK.. Tangannya terus mengetuk sampai lemas. Beberapa menit kemudian, barulah seseorang menghampiri rumah itu dengan pandangan fokus di karangan bunga. “Turut berduka cita.. Lilianne Griselda..” katanya menahan diri agar tidak emosi lagi, “siapa itu ya..” Lily mengenali suara itu. Dia menoleh dalam sekejab dan kaget melihatnya. “Mar..Martin?” “Pasti kamu kesini, jadi aku mengawasimu dari tadi... mmm... dramatis sekali kelihatannya di dalam, apa yang terjadi barusan? Kamu sampai menangis begitu?” “Aku.... tidak ada apa-apa.” “Biasanya Lisa selalu bersikap tenang dan menerima saat kuhukum. Tapi kenapa kamu malah berani ada di sini, Sayang?” “Eh Kay tadi...” Lily merasa takut dengan sosok Martin. Dia langsung mengusap air matanya, kemudian berlari menjauh dengan langkah terburu-buru. Martin mengejarnya hingga tiba di gerbang keluar perumahan. “Lisa!” Ia berhasil menghentikan Lily di dekat pos satpam yang saat itu tengah kosong. Suasana yang sepi ini dimanfaatkan dengan melampiaskan kemarahannya. “Maumu ini apa!” bentak Martin mengenggam erat pergelangan tangan Lisa, “Membalasku karena perselingkuhanku waktu itu? Terus saja begini.. terus aja ketemuan dengan Tristan!” Lily menampar pipi Martin dengan kasar, “Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi!” Martin terdiam sesaat merasakan sakit pada pipinya. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan kasar oleh sang tunangan. Namun ia curiga perubahan ini akibat perbuatannya. “Apa maumu? Aku harus minta maaf berapa kali, Lisa? Kamu bilang sudah memaafkanku, tapi apa? Kamu malah berusaha menjauhiku... aku sudah curiga saat kamu minta ijin liburan tanpa aku.” “Ini bukan masalah itu, Martin... aku bukan...” “Sudah cukup, kita akan menikah minggu depan!” tegas Martin meremas tangan Lily sekasar mungkin, “malam ini dan selanjutnya, kamu akan tidur di rumahku.. kamu tidak boleh kemanapun sampai kita resmi menikah.” Lily tereranjat mendengarnya, “Apa kamu tidak waras? Aku mencintai Tristan.” “Oh akhirnya, mengaku juga, itu malah meyakinkanku agar mengurungmu di kurungan besi,” ancam Martin seolah ingin menunjukkan gigi taring yang siap menerkam tubuh Lily. “Tidak waras!” “Tidak ada basa basi lagi, Lisa, kamu sudah memberikan keputusanmu saat itu, jadi jangan coba-coba menyesal karena aku tidak akan membiarkanmu menarik kata-katamu. Kamu milikku sekarang.” Lily teringat saran Mikayla. Alhasil dia berusaha menepis cengkraman tangan Martin seraya mengatakan, “Aku ingin kita batal nikah, Martin. Sikapmu buruk padaku... dan lagipula hubungan kita hancur karena perselingkuhanmu.” “Apa tunanganku lupa perjanjian setelah kejadian itu?” tanya Martin tertawa palsu, “tidak ada pembahasan selingkuh lagi sekarang. Lagipula.. sudah kubilang padamu saat itu, aku hanya bersenang-senang sesaat bukan serius seperti denganmu..” Lily tidak menyangka mendengar orang mengatakan hal seburuk itu dengan enteng. Ia sampai menggelengkan kepala pertanda kecewa karena masih ada orang yang menganggap perselingkuhan itu remeh. “Orang sepertimu tidak pantas menjalin hubungan dengan siapapun.” “Diam saja kamu ini atau kusuruh mereka datang ke rumahku sekarang.” “Mereka?” “Kamu akan menyesal.” “Sudahlah, aku ingin pergi sekarang...” Martin malah menyeretnya pergi keluar perumahan menuju ke mobilnya, “Nggak ada alasan lagi.” “Lepas!” bentak Lily menarik tangannya, lalu berlari menjauh secepat mungkin. Dia menyebrang jalan seenaknya sendiri sampai para pengendara panik. “LIIIISSAA!!” panggil Martin mengejarnya lagi. Dia ikut menyebrang tidak peduli bunyi klakson dan u*****n terlempar padanya. “Lisaaa!!” Lisa terus berlari di area ruko-ruko dan pertokoan. Dia sengaja berbelok ke jalan lain seolah pernah kesana sebelumnya. Ia juga yakin sering berjalan di antara toko-toko bertingkat itu. Namun karena pikirannya sedang kacau, ia tidak dapat mengingatnya sama sekali. “LIS!” panggil Martin hanya berjarak selangkah dengan gadis itu. Lisa berniat menuju ke kantor polisi yang ada di ujung jalan. Akan tetapi tangannya lagi-lagi tertangkap oleh Martin. Sang tunangan itu langsung menariknya pergi. “Apa maumu, Lis? Pergi kemana lagi! Jangan membuat alasan lagi!” “Aku ingin menenangkan diri sekarang!” bentak Lily tidak tahan lagi dengan sikap itu. Dia menoleh ke beberapa orang yang memang keheranan dengan mereka. Ia nekad berteriak, “Tolong! Pak polisi! Orang ini terus mengejarku! Tolong!” Martin panik. Dia menuding wajah Lisa sambil mengancam, “Ada apa denganmu! Jika kamu berani aneh-aneh lagi, kamu akan menyesal! Aku serius! Sekarang diam saja dan ikut pulang!” Dua petugas keamanan salah satu toko mendekati Martin. Kedua pria itu curiga sehingga langsung membantu Lily melepaskan diri darinya. Kedua tangan Martin ditarik mundur. salah seorang petugas bertanya pada Lily, “Nggak apa-apa, Mba?” Lily menunjuk benci pada wajah Martin, “Dia terus mengganggu saya, Pak! Stalker! Dari tadi mengintai saya!” “Stalker kamu bilang? Berani?” ulang Martin mulai risih dengan tangan-tangan orang asing itu. Dia marah besar pada petugas itu, “Kalian lepaskan aku! Jangan berani menyentuhku! Dia tunanganku!” Dua petugas itu malah balik memarahinya. Mereka menyeretnya ke kantor polisi. Akibat kejadian ini beberapa pengunjung toko sampai melihat keluar jendela. Mereka memandangi Lily dan Martin dengan penuh tanya. Martin terdengar tersu membentak, “LEPASKAN AKU! KALIAN TIDAK TAHU SIAPA AKU!” Ia masih saja berteriak penub ancaman, "LISSA!! LIHAT SAJA NANTI MALAM!" Lily berlari ke arah sebaliknya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan murka Martin padanya. Ia menggumam pelan, “Kalau sudah begini... aku harus kabur, untuk apa juga pura-pura jadi tunangannya orang gila itu.” Ketimbang memikirkan Martin, Lily malah teringat akan ucapan kejam Tristan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD