05. Kekasih Gelap Lisa?

1118 Words
Satu menit.. Dua menit.. Tiga menit.. Tukk..tuk..tukk Hanya suara ketukan jemari di atas meja yang terdengar. Tidak ada suara pembicaraan dari dua bibir orang yang saling berpandangan ini. Lelaki itu menahan diri untuk tidak menyemburkan amarah, "Ayo, Lisa.. aku nunggu ini.. cepet jelasin.. udah dua minggu ngejauhin aku." "Ngejauhin?" "Alesan lagi?" "Nggak ngejauhin kok." Orang itu sontak mengepalkan tangan di atas meja. Lalu memberikan gagapan mematikan padanya. Nada bicaranya menjadi tinggi dan kasar, "Lo mau mainin gua hah? Berapa bulan lagi gua nunggu? Tahu-tahu lo jauhin gua.. mau lo apa!" Lily yang takut mulai mengedarkan pandangan ke seluruh tempat itu. Ia berharap seseorang bisa menolongnya kalau diperlakukan kasar oleh orang asing. Karena tidak tahan, dia bertanya sekaligus beralasan, "Kamu ini siapa? Maaf, setelah kemarin kepalaku terbentur batu saat di pantai, ingatanku sedang tidak karuhan.." Laki-laki itu malah tertawa karena tidak percaya, "Oh iya? Jangan bercanda begitu dong, Sayang, ratu akting aku lagi betcanda..." ia menyentuh dagu Lily seraya menggoda, "Masa sama kekasihmu sendiri bisa lupa.. ini aku.. Ethan, Ethanio." Lily tidak percaya orang yang disebutkan Mikayla sudah ada di depannya. Lalu kini mengaku sebagai kekasihnya. Ia mulai curiga dengan kehidupan buruk sang pemilik tubuh bernama lisa ini. Ia menurunkan tangan itu sambil menegaskan pelan, "Maaf, nggak mungkin.. aku punya kekasih? Tapi aku sudah punya tunangan.." "Apa? Masih mau lanjut pura-puranya?" goda Ethan yang tetap merasa Lily hanya memainkan drama di depannya. Dia tersenyum lebar sambil mengingatkan, "Kamu udah janji loh kalau aku bisa membuktikan tunanganmu selingkuh, kamu akan melepaskannya dan menikah denganku. Aku sudah cukup sabar menunggu ini, Lisa." "Nggak mungkin!" Ethan menatapnya dengan penuh intimidasi sambil berbisik, "Kalau lo mainin gue, lo bakal nyesel, Lisanette..." "Mainin apa? Jangan mengancamku!" "Berani ya!" "Jangan macam-macam, siapapun kamu, jangan temui aku lagi, aku punya tunangan!" pinta Lily hanya ingin dijauhi oleh orang-orang asing yang berpotensi menyulitkan keadaannya. Ethan mengubah suaranya menjadi tenang lagi saat menjelaskan, "Lisaa... kamu pasti udah kenal siapa aku'kan? Kamu juga bukan tipikal orang yang suka berbohong, jadi sebaiknya aku mendengar rumor kalian batal menikah dalam minggu ini, Sayangku, atau aku akan... membagikan kebersamaan kita di dunia maya sehingga kita semua akan mendapat nama buruk... aku berpacaran dengan tunangan seorang pengusaha muda bernama Martin Athaniel." "Aku nggak peduli.." "Baik kalau kamu memang tidak peduli dengan nama baikmu, ataupun nama baik Martin, tidak masalah." Lily berpikir sejenak. Dia tidak menyangka kalau sosok Martin bisa menjadi topik pembicaraan orang. Namun ia segera sadar kalau pengusaha manapun pastinya punya nama baik. Ethan segera berdiri, "Kasihan sekali Martin, setelah dikabarkan selingkuh, sebentar lagi dia akan kena berita buruk lagi kalau tunangannya membalas perlakuannya dengan selingkuh juga." "Martin tidak mungkin selingkuh, aku.. tidak mungkin selingkuh juga.. tidak akan ada yang peduli juga.." kata Lily meyakinkan dirinya sendiri seolah tidak peduli antara kehidupan Lisa atau dirinya. "Ada apa denganmu, Baby? Kamu seperti orang lain saja," ledek Ethan yang benar-benar tidak suka selera bercanda Lily. Ia mencolek dagu gadis itu lagi sembari berkata, "Kalian akan menyesal nanti, terutama kamu.. mempermainkanku sama saja mati.." "Ini sudah masuk ranah hukum, aku akan melaporkanmu ke polisi!" bentak Lily lagi-lagi menepis tangan Ethan. Ethan mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan menu galeri yang penuh akan potret mesra kebersamaan mereka. "Masih lanjut pura-pura lupanya? Aku tidak sepertimu. Bagiku setiap momen kebersamaan kita itu penting, jadi tidak pernah kuhapus.." Lily membisu lama sekali saat melihat banyaknya foto mesra tubuhnya dengan orang bernama Ethan itu. Dia hanya ingin pergi ke perumahan itu, tapi entah mengapa sekarang harus berurusan dengan selingkuhan Lisa. "Selingkuh.." ulangnya merasa sakit dalam d**a. Selama ini dia paling menghormati yang namanya kesetiaan dalam menjali hubungan. Jadi kini dia bingung harus berbuat apa saat ada kekasih gelap menagih janji. Ethan memandangi layar ponselnya juga, "Kalau saja Martin tahu kebersamaan kita.." "Nggak mungkin..." "Apanya? Kamu jangan pura-pura polos. Bahkan kamu sebelumnya juga bersama Tristan'kan? Ya.. kamu sih nggak ngaku punya hubungan apa dengannya, tapi aku tahu pasti spesial.. setidaknya sekarang, kamu cuma milikku.. tinggal meresmikan status kita saja, dan aku orangnya tidak sabaran." Lily tersentak kaget saat nama kekasihnya disebut. Dia yakin tidak pernah berhubungan dengan orang-orang ini. Namun Tristan sangat dikenal oleh mereka. "Tristan.. dengan orang ini.." gumamnya sambil meremas kedua tangan. Ia berusaha menenangkan diri supaya tidak berpikir macam-macam. Kepercayaan, itulah pondasi hubungannya dengan Tristan. Tidak ada rahasia, tidak ada pengkhianatan. Ethan mengeryihkan dahi pertanda mulai curiga. Dari awal ia merasa ada yang aneh dengan sosok gadis yang dia sukai ini. "Kamu serius hilang ingatan?" "Enggak terlalu juga ..." sahut Lily merasa berdosa karena akan menumpuk kebohongan. Ethan mengembuskan napas panjang seraya mengendurkan otot wajahnya. Ia menyentuh punggung tangan gadis itu pelan-pelan, "Oke.. maaf ucapan kasarku tadi.. kayaknya kamu memang lagi... sesuatu. Apa sudah ke dokter? Bagaimana katanya? Bagian kepala mana yang terbentur?" Perubahan suara dan sikap lelaki ini membuat suasana hati Lily terasa nyaman. Entah mengapa dia seolah terbiasa diperlakukan lembut olehnya. Ia bergumam pelan, "Enggak apa-apa, sudah... minum obat kok. Katanya ini cuma sementara, katanya akan sembuh bertahap." "Jadi kamu sama sekali tidak ingat denganku?" "Emm.. cuma ingat Martin.. Mikayla.. saja." Ethan masih mempelajari raut wajah Lily. Kemudian ia berpikir sejenak, "Kalau begitu, ayo kuantar pulang ke apartemenmu.. kamu sebaiknya istirahat dan minum obatnya... aku harus memastikan kalau kekasih tercintaku tidak bohong." DEG.. Lily baru saja bersyukur bisa membuat Ethan percaya. Namun ternyata ujung-ujungnya menambah masalah lagi. "Tidak perlu, aku masih ada urusan," ucapnya sedikit memohon. "Tapi aku tidak bisa menerima kalau kamu tidak mengenaliku, Lis. Aku harus tahu kamu sakit atau pura-pura seperti biasa... aku sungguh mencintaimu, jadi ayo kuantar pulang." Lily menatap mata Ethan dalam-dalam berharap dapat merayunya. "Aku berkata jujur, Ethan, untuk sekarang.. aku harus menemui seseorang.." "Martin?" "Iya!" Lily mendadak mendapat ide, "tadi sebenarnya aku sedang mengobrolkan itu dengan Mikayla, dia menyarankan aku untuk segera mengakhiri hubunganku dengan Martin. Kamu tahu tidak? Tadi dia ngunciin aku di apartemen.." Akhirnya Ethan percaya dengan ucapan Lily. Ia pun tersenyum, "Kenapa kamu tidak bilang tadi? Kalau kamu mau membatalkan pernikahan, cepat lakukan.." "Aku harus bertemu dia dulu." Ethan berbisik kepadanya dengan seringaian tak lepas dari bibirnya itu, "Silakan. Pastikan lo inget kita, kalau gua tahu ini pura-pura lagi, lo nggak bakal selamat kali ini, Baby." Lily meneguk ludah. Ia merasa sosok Lisa ini terlalu banyak masalah dan rahasia. Sekarang malah diancam oleh kekasih gelapnya sendiri. Ia pun menegaskan, "Aku nggak bohong." "Iya aku tahu, jangan takut begitu..." goda Ethan menghilangkan senyuman licik tadi, "aku itu sayang kamu." "Aku minta maaf." "Untuk apa?" "Sikapku tadi, aku hanya waspada karena ingataku benar-benar berantakan, Ethan." Ethan terdiam sesaat karena luluh mendengar hal itu dari bibir orang yang dia cintai. "Emm... ya sudah, kamu cepat hubungi Martin. Untuk nanti malam, aku akan menjemputmu, pokoknya akan kutunjukkan tempat istimewa agar kamu segera mengingatku," katanya bernada halus. "Tentu, Sayang." "Akan kuhubungi lagi nanti." Lily mengangguk. Ia terlihat lega karena akting sedihnya bisa membuat sosok Ethan menjadi lembut. Ia berdiri, lalu keluar sambil berpura-pura akan menelpon seseorang. Ethan tersenyum memandangi punggung gadis itu meninggalkan dirinya. Senyuman itu baru lenyap setelah sosok Lily sudah lepas dari jangkauan matanya. Tuk..tukkk..tuukk... Jari telunjuknya mulai diketukkan ke atas meja lagi. Ia diliputi kecurigaan kembali. Terlebih saat gadis itu bukannya naik taksi, malah berlari masuk ke gerbang perumahan. "Tristan.." gumamnya pelan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD