04. Teman Baik Lisa?

1200 Words
Kafe Edelweiss 22. Tempat yang kini dipijak oleh Lily dan Mikayla. Bangunannya luas, bertema coklat, beberapa spot bangku dengan tembok instagramable. Kafe yang pastinya membawa kenangan siapapun yang pernah singgah. Benar, termasuk Lily. Ia tertegun lama karena semakin pusing dengan keadaannya. Jangankan sosok Lisa, dia sendiri juga sering nongkrong disini bersama pacarnya, Tristan. Apalagi tepat di sebelah kafe ini adalah perumahan tempat tinggal aslinya. Ingin hatinya untuk melarikan diri, namun tatapan aneh dari sorot mata Mikayla nenghentikannya. Mereka segera duduk di salah satu meja dekat dengan jendela. Mereka berdua memesan minuman favorit masing-masing. Lily dengan jus alpukatnya, Mikayla dengan kopi susunya. Setelah semua tersaji lengkap dengan camilan, barulah mereka berdua saling berpandangan serius. "Selera lo masih sama ya?" ucap Mikayla berniat basa-basi sambil memperhatikan Lily meminum jusnya, "pecinta jus.." "Emm~" Lily bingung harus merespon apa karena memang ini minuman yang selalu dia pesan, "semua juga suka jus.." Mikayla malah menyodorkan cangkir kopinya ke hidung Lily, "Nih cium.." Lily memalingkan pandangan karena pusing dengan aroma kopi itu, "Jangan dekatkan itu padaku.." "Kan...  masih sama," gurau Mikayla tertawa setelah sukses menggoda temannya. "Kay.." "Apa? Udah mau cerita tentang Martin?" "Sebenarnya kemana aku sejak seminggu yang lalu?" "Maksudnya? Kok malah bahas itu?" "Martin bilang aku liburan dan semacamnya? Beneran?" "Lo kenapa sih? Ya iya minggu kemarin lo liburan, lo kan ke pantai sama rekan kerja lo," ucap Mikayla mulai menyeringai seolah ingin mengulik sesuatu, "apa hah? Mau curhat masalah rekan kerja lo yang ngeselin? Atau mau pamer ngapain aja di pantai ama cowok-cowok bule?" "Kay?" "Santai, Martin nggak bakalan tau." "Bentar, bentar, kamu ngomongin apa sih?" "Apa-apanya?" "Kenapa kedengarannya aku seperti playgirl begini?" "Siapa yang bilang playgirl, cewek juga butuh hiburan kali, nggak cowok doang. Lo bilang mau bales si Martin gara-gara ketahuan selingkuh dua bulan lalu.. ya gue kira lo lagi happy-happy liburan itu.." "Kenapa.. jadi bahas ini ya.. selingkuh? Si Martin yang itu? Dia overprotektif, dia bahkan masang kamera pengintai di apartemen! Tadi ngunciin aku juga! Gedor-gedor pintu kek orang gila!" Mikayla termenung sejenak, "Ada yang aneh dari lo, Lis. Entah kenapa kayaknya lo kok.. jadi gini sih? Biasanya lo seeloooww aja.. ada apa sih?" "Aku.." "Begini, begini.. lo'kan udah tahu Martin masang kamera itu, lo pura-pura aja nggak tau di depan dia biar dia seneng. Lo biasanya ngalah dan nurutin kemauan dia. Jadi itu kenapa gue heran, kok Martin sampai kayak gini?" Lily teringat ucapan sang penelpon yang mengatakan tentang karakter seorang Martin. "Oke.. aku cuma sedikit bingung. Jangan dianggap serius.." "Tapi ini serius loh, Lis. Kalau udah main kasar, lebih baik lo beneran batalin pernikahan lo. Bukannya gue dukung ya, kan lo sejak dua bulan lalu udah nggak yakin ngelanjutin hubungan lo sama dia." "Emangnya kenapa?" "Lis? Lo nggak apa-apa? Baru juga gue ingetin tadi.." "Apa sih?" "Martin selingkuh'kan? Terus lo ngambek, gue nggak tau kalian berunding apa sejak hari itu. Tahu-tahu pernikahan kalian dimajuin, padahal sebelumnya lo curhat ke gue, kalau pengen batalin aja.." "Oh gitu.." "Lisa? Lo kebanyakan kemasukan air laut ya? Jangan bilang lo lupa kalau lo kerja dimana lagi?" Lily tersenyum paksa sambil mengatakan, "Nggak lah, aku'kan baru kerja di tempatnya Pak Toni." Mikaylah merasa lega. Ia pun menggoda, "Syukur deh, gue kirain lo hilang ingatan gara-gara kebanyakan mantai, kena karma lo gara-gara nggak ngajakin gue." Lily hanya membisu. "Jadi gimana keputusan elo?" tanya Mikayla kembali serius, "seriusan ini dibiarin aja? Sebenarnya masalah apa sih? Jelasin dong, jangan ditutupin mulu.." "Apanya?" "Martin lah." "Aku salah ngomong, lagi kesel.. terus dia ngamuk, terus ngunciin aku disana." "Iya, salah omong apa?" "Aku bilang aku punya pacar." "Eh.." Mikayla lantas kaget. Dia mendelik ke temannya ini, lalu berkata lagi, "ya ampun, sejak kapan lo polos banget gini? Apa kabar ratu drama gue, Lisanette.. kalau nyari alesan buat mutusin hubungan nggak gitu juga kali, Baby.." "Alesan ya.." "Harusnya kalau lo pengen batalin nikah, lo ingetin si Martin kalau dia selingkuh, jadi lo nggak pengen ngelanjutin. Coba kalau lo ngomong gitu, pasti kelar masalahnya.." Lily malah menunduk. Dia tidak sanggup akrab dengan orang yang baru dia temui hari ini. Apalagi perbincangannya sama sekali tidak ia ketahui. Sebenarnya ada apa dengan orang bernama Lisa ini?, pertanyaan inilah yang terus mengintai dirinya. Mikayla memicingkan pandangan Lily, "Entah kenapa lo hari ini aneh banget.. biasanya ngakak mulu kalau ama gue, sekarang jadi diem banget, jaga imej lo?" "Enggak kok, Kay," bantah Lily menyunggingkan senyuman lagi. Ia terpaksa beralasan, "cuma galau aja, tunanganku ngeselin banget. Kira-kira dia nekad nggak ya.. misal nyakitin orang yang tadi nggak sengaja kusebut sebagai pacarku." Mikaylah mengerutkan kening pertanda semakin ragu dengan sosok Lily, "Ya jelas nekad lah, lo'kan tau gimana Martin itu. Dia itu cuma baik ama lo doang, ama gue aja sadis.. " "Gimana ya.." "Emang siapa cowok yang lo sebut tadi? Jangan-jangan Ethan lagi.." "Ethan.." "Jangan kira gue nggak tau deh, Lis, lo deket'kan ama dia? Lagian dia juga yang paling cocok dijadiin pengganti Martin, udah ganss.. tajir mayanlah.. sebelas dua belas ama Martin. Lo pinter banget sumpah kalau nyari cowok, emang mantap dukun lo.." "Mmm.." "Si Martin masih ada darah Spanyol, jadi itu yang bikin wajahnya enak dilihat.. kalau Ethan, badannya lebih bagus, jelaslah.. orang bintang iklan," tambah Mikaylah malah nyerocos sendiri tanpa memperhatikan kebingungan Lily. "Oh.." "Jadi beneran lo tadi sebut Ethan? Terus si Martin ngunciin lo, sekarang lo takut dia ngapa-ngapain Ethan?" Tidak ada pilihan lain, Lily menganggyk seraya menjawab, "Iya. Kira-kira aku harus apa?" "Halah.. cuma masalah gitu doang? Emang salah lo sendiri. Gue kasih saran, coba sekarang lo telpon tuh tunangan posesif tukang selingkuh lo, suruh temuin lo, ancem kalau perlu. Nah, terus lo ngomong deh kalau minta batalin nikahannya karena masalah selingkuh itu. Dijamin, dia nggak bakalan bisa bantah omongan lo.. ya emang dia salah. Udah ketangkap basah sih.." Lily meremas gelas jusnya yang sudah habis. Entah apa yang terjadi padanya. Akan tetapi hatinya terasa sakit saat mendengar kata perselingkuhan. "Selingkuh... padahal dia seperti tipikal orang yang nggak bakalan selingkuh.." gumamnya pelan. Mikayla mengingat kata itu juga terucap dari bibir temannya sebulan yang lalu, "Kek nostalgia ya omongan lo ini.." Lily heran, "Apanya?" "Nggak apa-apa, gue tahu lo cinta sama Martin, tau banget, tapi gue ingetin lagi ya.. cowok yang udah selingkuh itu pasti bakalan selingkuh lagi. Ini belum nikah loh, Lis.. gue nggak tau kalian berunding apa setelah kejadian itu, tapi mendingan lo pikirin lagi.." "Eh.." Lily malah kebingungn harus bagaiman. Dia merasa tidak mengenal sosok Martin. Lalu kenapa harus memikirkan semua ini? Ia hanya ingin segera mendapatkan informasi tentang keberadaan tubuh aslinya. Lalu mencari sebab dirinya berada dalam sosok Lisa. Drrtt..Drrrttt..Drrrttt. Ponsel Mikayla bergetar di atas meja karena panggilan seseorang. Gadis ini segera menjawabnya dengan antusias setelah membaca nama kontaknya "Halo Sayang... iya.. iya..." katanya sambil berdiri serta membawa tas selempangnya. Dia menjauhkan ponsel itu dari telinganya sejenak, lalu berbisik pada Lily, "Lis.. maaf banget ya.. gue udah ditungguin sama Mas Bos.. maaf ya..hari ini gue pengen dating.. lo tadi gue kirain ada masalah berat...." "Ya udah, kamu pergi aja.." Mikayla segera berjalan keluar kafe sambil menjawab sambungan telfonnya lagi, "Tungguin di basement nanti ya, Sayang.. iya pasti.. pokoknya tungguin.. jangan masuk dulu.." Kini tinggallah Lily terdiam di meja itu sendirian. Dia menoleh keluar jendela, tepatnya ke seberang jalan yang berdiri bangunan ruko-ruko mewah. Setelah memastikan Mikayla pergi meninggalkan kafe, dia berniat untuk pergi juga mendatangi runahnya. Akan tetapi seseorang mendadak duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Mikayla. Satu pergi, satu datang. Orang asing lagi di matanya, seorang pemuda seusianya yang memiliki senyuman menawan. Anehnya, senyuman itu sedikit mengusik pikiran seolah pernah melihat ini di suatu tempat. "Pagi Baby.. akhirnya pergi juga si Kayla, kita bisa berduaan..." katanya sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di atas meja. Lilu sangat ingin tahu siapa orang ini. Namun dia yakin kalau pertanyaannya 'Siapa kamu?' Pasti akan bermasalah lagi. "Mmm..." Terjadi kediaman yang cukup lama di antara mereka berdua. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD