“Halo?”
“Halo?”
“Halo??”
“Halooo?!”
“Halooo!! Siapapun ini aku sedang tidak ingin bercanda! Jawab aku!”
Lily berkali-kali menghubungi nomer yang diberikan padanya. Walaupun tersambung, namun tidak ada yang menyahut.
“Jangan mengerjaiku!” ia menjadi sebal sendiri, “Hei!!!”
Setelah dia berniat mematikan sambungannya, barulah ada seseorang menjawab, “Lisa itu... tidak pernah meninggikan suaranya loh.”
Suaranya sudah disamarkan sehingga terdengar seperti bisikan. Alhasil tidak bisa dideteksi jenis kelaminnya.
“Siapa ini?” tanya Lily, “sudah jelas aku bukan Lisa.”
“Apa kabar, Lily? Apa kemarin tidurmu nyenyak?”
“Siapa ini!”
“Panggil saja Goat.”
“Goat? Apa-apaan ini? Dengar ya, aku serius, tolong, siapa ini! Bocah darimana kau ini!”
“Aku akan membantumu untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi padamu. Jadi dengarkan petunjukku baik-baik..”
“Aku sama sekali tidak paham...”
Suara dibalik telfon mulai menjelaskan:
“Langsung ke poinnya saja, untuk sementara bersikaplah seperti Lisa. Namamu sekarang Lisanette Clarice. Kamu berasal dari keluarga biasa, saat ini seluruh keluargamu ada di kota lain. Kamu tinggal di kota ini sendirian karena diterima kerja di sebuah perusahaan asuransi jiwa milik Pak Tony sejak dua bulan yang lalu..."
"...Tunanganmu bernama Martin, dia direktur marketing di perusahaan keluarganya, A.F Corp. Bergerak di bidang furniture, dia juga pengusaha bidang kuliner, restoran Jepang yang ada di dekat sini adalah miliknya. Kalian sudah menjalin hubungan selama tiga tahun...”
“... sifat Martin sedikit tempramen, tapi dia tidak akan bersikap kasar kalau kamu menurutinya. Dia juga orang yang paling realitis, jadi percuma saja kamu bersumpah-sumpah padanya kalau kamu bukan Lisa..”
“..Teman baikmu yang sekarang bernama Kay, Mikayla, dia sepertimu, baru saja lulus dari perguruan tinggi jurusan manajemen. Hanya saja dia tidak bekerja di tempat yang sama denganmu. Tapi kalian sering makan siang bersama..”
“..itu saja yang penting. Sekarang cepat lihat ke jendela luar..”
Lily akhirnya meresponnya dengan kebingungan lagi, “Maksudmu?”
“Lakukan..”
Lily berjalan ke satu-satunya jendela yang ada di kamar. Ia menyibakkan kelambu putih yang menutupinya.
Terlihatlah pemandangan luar apartemen kembali. Halaman parkir yang sudah ramai, jalan raya yang sudah penuh sesak oleh kendaraan bermotor.
Ada seseorang ber-hoodie putih yang berdiri di atas trotoar seberang jalan. Posisi tangannya terlihat sedang menelpon. Wajahnya lurus ke arah jendela Lily. Ia perlahan melambaikan tangannya seolah ingin menyapa.
Suara di sambungan telfon Lily kembali berkata, “Aku akan mengawasimu.. Aku akan memandumu, tenang saja. Untuk sementara bersikaplah biasa.. jangan terus memberontak dan mengaku kamu bukan Lisa.”
Lily berusaha menatap wajah yang terpasang masker itu. “Kenapa kamu tidak kemari saja lalu bantu aku keluar dari sini. Kita bisa bicara langsung!”
“Maaf, Lily, tunangan Lisa itu terlalu protektif. Kamu belum tahu'kan? Selama ini, apartemen itu banyak pengintainya. Coba periksa kamera kecil di rak buku ruang tengah, lalu di atas lemari bumbu dapur.”
“Hah? Orang gila macam apa dia sampai memasang kamera di tempat begini! Aku akan keluar dan kita harus bicara langsung!”
“Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu! ini serius tahu..”
“Kita akan berhubungan via telfon. Sekarang... temui saja teman-temanmu, minta batuan Mikayla untuk membuka pintu apartemenmu, telfon dia dari ponsel itu. Lalu selanjutnya.. pergilah ke rumah aslimu agar kamu sedikit tahu apa yang sedang terjadi.”
“Maksudnya apa?”
“Sudah itu saja pesanku hari ini.”
“Tunggu, aku...”
Sambungan telfon itu ditutup langsung.
Lily langsung memukul jendelanya dengan kesal. Apalagi saat dia melihat sosok ber-hoodie itu mulai pergi berbaur dengan orang lain.
Tidak ada pilihan lagi baginya selain melakukan perintah tadi. Iya, dia segera mencari nama kontak Mikayla di ponsel Lisa. Ia sedikit bingung dengan deretan nama yang hampir ratusan, tapi tidak dia kenali sama sekali.
Ada apa sebenarnya? Siapa Lisa? Kenapa malah terjebak di tubuhnya?
Begitulah kira-kira isi hatinya saat ini. Dia yakin seribu persen kalau dirinya bukanlah gadis bernama Lisa, melainkan Lily.
Seorang Lily yang hidup sebatang kara di sebuah rumah sewaan di Perumahan Edelweiss Regency. Gadis yang bekerja sebagai customer service sebuah perusahaan kecil. Gadis yang menjalin hubungan dengan pemilik design studio bernama Tristan.
Lily meminta bantuan pada Mikayla untuk mencarikan kunci lain apartemennya. Dia berusaha bersikap selembut dan setenang mungkin supaya tidak menimbulkan kecurigaan.
Pesan orang berjuluk Goat tadi sedikit tertanam di benaknya. Lagipula dia tidak mau terjebak kegaduhan lagi akibat tingkah gegabahnya.
Harus tenang dan mencari informasi tentang apa yang terjadi.
Butuh waktu sejam lamanya untuk Mikayla mendatangi apartemen ini. Dia meminta bantuan pihak keamanan apartemen untuk membuka paksa pintu.
Wanita bertubuh agak berisi ini panik karena sahabatnya terjebak di dalam. Ia segera menanyakan banyak hal begitu pintu berhasil dibuka paksa.
“Astaga, Lisa, lo seriusan terkurung dari tadi?” wanita bernama Mikayla ini memeriksa keadaan sahabatnya, “Nggak apa-apa'kan?”
Si petugas keamanan tampak serius memperhatikan wajah gadis itu pertanda sedang mengingat sesuatu. Namun dia segera mengecek kenop pintu seraya bertanya, “Ada apa kok bisa gini, Mba?”
“Eh.. kuncinya hilang.. tolong bapak urus ya..” kata Lily bohong. Dia menyerahkan urusan pintu itu pada petugas tanpa peduli apapun. Takutnya, Martin kembali muncul seperti tadi.
Petugas itu makin heran sekaligus cemas, “Kalau ada...”
“Tidak masalah..” potong Lily seraya menarik pergelangan tangan Mikayla. Dia berjalan menuju ke lift yang ada di lantai itu. Setelah itu ia menekan tombol menuju lobi berkali-kali.
Mikayla sedikit bingung. Dia baru bicara ketika sudah berada satu lift dengan temannya ini, “Lagian berapa kali gue bilang, cari apartemen yang bagus dan aman! Lihat'kan kondisi tempat ini buruk loh.. lo ini calon istri Martin si pengusaha muda, malah masih mau tinggal di sini.”
Lily bingung harus merespon apa. Baginya tempat ini sangat layak, nyaman dan cukup mewah. Namun orang yang kini jadi sahabatnya berpikir ini tempat 'kumuh'.
Karena penasaran, Mikayla bertanya lagi, “Kayaknya ada masalah nih, ada apa sih?”
“Aku takut Martin datang lagi... dia yang ngurung aku...”
Mikayla mengeryitkan dahi pertanda tidak percaya, “Seriusan lo dikurung Martin? Nggak mungkin ah!”
“Beneran,” sahut Lily menatap pantulan dirinya sendiri di lift. Tubuh tinggi semampai, rambut lembut berombak, wajah cantik nan kalem. Dia sama sekali tidak kenal dengan sosok Lisa ini.
“Kalian marahan? Seriusan?”
“Iya, pokoknya bertengkar biasa. Kenapa sih kaget banget? Biasa aja juga, yang nggak wajar itu sikapnya itu..”
“Lis, tiga tahun gue tahu hubungan kalian, baru kali ini gue ngeliat kalian bertengkar.”
“Ya... ya.. nggak mungkinlah ada orang hubungan nggak ada pertengkaran. Ya.. selama ini kami sembunyikan saja dari luar..” terang Lily mencari alasan sambil memutar mata kemana-mana seolah takut ucapannya salah.
Mikayla tertegun setelah mendengarnya. Bukan karena jawaban itu aneh, namun cara berbicaranya yang berbeda. “Lo nggak apa-apa?”
Lily sadar mungkin reaksinya terlalu berlebihan. Jadi dia menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut saag bertanya, “Kenapa lagi?”
“Oh, nggak jadi..” balas Mikayla akhirnya mengenali sosok itu sebagai temannya, “kita ke kafe langganan ya, ntar ceritain ada apa, kok sampai lo dikurung, agak.. mustahil. Tapi lo beneran nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Martin cuma kesel doang tadi.. emm.. begitulah..”
Tidak ada yang berbicara lagi setelah itu.
——000——