1. Karin Yang Ceroboh
Malam telah berlalu, namun pagi masih terlalu buta. Udara dingin menusuk kulit saat seorang gadis tujuh belas tahun membuka pintu belakang rumahnya. Embun masih menggantung di daun-daun, dan dunia seolah enggan terbangun dari lelap.
Bermodal lampu lima Watt dan pompa manual, seorang gadis bernama Karin cekatan memompa air dengan tangan, mencuci beras dan sayuran di belakang rumah. Tangannya bergerak terampil, meski dingin menggigit hingga ke tulang.
“Ini juga dicuci,” ucap seorang wanita tua, menyodorkan beberapa papan tempe yang telah diiris. Tangan keriput itu gemetar, namun sorot matanya penuh kehangatan.
“Iya, Nek,” jawab Karin lembut.
Selesai mencuci semuanya, Karin membawa bahan makanan itu kembali ke dapur, lalu memompa air untuk mengisi kamar mandi.
Demi menghemat pengeluaran, neneknya tak menggunakan pompa listrik. Pompa manual menjadi andalan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Butuh sepuluh menit hingga bak mandi terisi penuh. Setelah itu, Karin membantu neneknya memasak.
Seperti itulah rutinitas Karin setiap hari. Bangun sebelum fajar, membantu menyiapkan dagangan nasi pecel nenek yang akan dijual ke pasar.
Tepat pukul lima pagi, Karin memasang obrok karung di belakang motor. Memasukkan seluruh dagangan ke dalamnya, setelah itu membantu neneknya naik di kok belakang motor.
Brum…
Motor Karin membelah jalanan yang masih sepi. Satu-satunya barang paling berharga yang diberikan almarhum kakeknya sewaktu Karin ulang tahun ke enam belas.
Walau hanya motor matic bekas, Karin mencintainya sepenuh hati. Motor itu dibeli dari hasil tabungan sang kakek selama bertahun-tahun bekerja sebagai tukang servis kunci.
Sementara kakeknya tetap setia mengayuh sepeda tua, dengan alasan tak mampu mengendarai motor.
Sepuluh menit kemudian, Karin telah sampai di pasar, cekatan menyusun dagangan neneknya. Namun tangannya terhenti tatkala matanya menangkap sebuah gerobak yang teronggok di belakang. Berdebu, cat hijaunya mengelupas di mana-mana. Sebuah tulisan ‘ahli kunci’ samar terlihat di antara tumpukan debu.
Dada Karin sesak.
Air mata menetes tanpa terasa, mengaburkan pandangan. Sudah dua minggu kakeknya tak lagi datang ke pasar dengan sepeda tua itu, tak lagi menata dagangan bersama mereka. Kini, pria sepuh itu benar-benar pergi, meninggalkan kenangan yang masih terasa begitu hidup.
“Pulanglah, Karin. Sudah jam setengah enam,” ujar Martini, memecah lamunannya.
Karin mengangguk, menyeka air matanya cepat, setelah itu melanjutkan menata. Setelah semua selesai, ia segera pamitan dan naik ke motornya.
Klek-klek…
Kunci motor Karin tak bisa bergerak bahkan ia memaju-mundurkan motor, berharap keajaiban terjadi.
"Karin, motormu bukan yang itu. Motormu yang ini!” Suara Martini keras di antara riuhnya pengunjung pasar di pagi hari.
Wajah Karin memerah saat menyadari kekeliruannya. Apalagi ketika pemilik motor datang menghampiri.
“Maaf,” ucapnya lirih, lalu bergegas menuju motornya sendiri.
***
Riuh rendah suara siswa terdengar dari kelas sebelas IPA. Jam istirahat siang tinggal beberapa menit, namun sebagian besar siswa sudah kembali ke kelas, termasuk Karin.
Tugas menghapus papan tulis biasanya diberikan kepada siswa yang sabar dan baik hati. Itupun atas persetujuan siswa tersebut, tak ada paksaan apalagi intimidasi.
Dan Karin yang baik menerima tugas itu dengan senang hati. Setiap habis istirahat, apabila papan masih ada tulisan, ia bertugas menghapus papan yang tadi di pakai.
Begitu juga hari ini. Setelah istirahat Karin maju ke depan untuk menghapus.
Bagian depan kelas di sekolah Karin semua di desain lebih tinggi, menyerupai panggung kecil, dengan tujuan saat guru menerangkan, semua murid bisa dengan jelas melihat guru, bisa melihat papan dengan jelas tanpa khawatir terhalang teman yang duduk di depannya, dan guru juga lebih leluasa mengawasi murid.
Dug!
Kaki Karin tersandung bagian depan kelas yang lebih tinggi.
Bruk!
Tubuhnya terjatuh ke depan. Untunglah tangannya sigap menopang tubuh, jadi kepalanya aman, namun siku dan lutut terasa berdenyut sakit.
“Hahaha…!” Tawa seketika pecah di kelas. Ada yang tertawa sambil menunjuk-nunjuk, ada juga yang tertawa sambil menggebrak meja.
Seperti biasa, tak ada yang mau menolong Karin. Itu sudah biasa. Karin terduduk malu, menunduk agar wajahnya tersembunyi. Namun akhirnya dia bangkit berdiri.
Dengan wajah merah menahan malu, gadis itu menggosok papan tulis seolah tak terjadi apa-apa, berusaha mengabaikan teman-temannya yang menertawakan dirinya.
Sewaktu Karin kembali ke kursinya, seorang murid pria bernama Bagas berteriak padanya. “Kak yang hati-hati dong! Jangan jatuh lagi.” serunya.
“Jangan jatuh lagi kalau cuma sekali! Ahahaha…” sahut murid yang lain sambil tertawa keras. “Sering-sering jatuh ya? Biar kita sekelas bisa ketawa bareng.” sahutnya lagi, di susul dengan gelak tawa yang lain.
Karin hanya tersenyum kecil. Tangannya membenahi kacamata tebalnya, lalu kembali ke bangkunya, menunduk, menyembunyikan perasaan.
Dua cewek yang baru saja masuk kelas, duduk di dekat Karin. Pandangan mereka menyapu seluruh kelas, sebagian sudah tenang, namun sebagian masih ada yang tertawa sambil melihat ke arah Karin.
“Kamu habis melakukan kecerobohan lagi ya?" Tebak Renata.
"Aku…,” Karin mengangkat wajahnya sedikit, “nggak sengaja jatuh di depan kelas.” Terang Karin, bibirnya tersenyum kecut.
“Lagi? Setiap hari kamu jatuh di tempat dan waktu yang sama? Kok bisa sih? Kamu kenapa, Karin? Akhir-akhir ini cerobohmu makin parah?”
Sela melambaikan tangan pada dua sahabatnya. “Udah lah, Ren. Buat apa kamu nasehatin dia, aku yakin besok Karin gak akan berubah, tetep ceroboh, nggak hati-hati, nggak bisa di percaya kalau dia bilang ‘besok berusaha nggak akan jatuh lagi’. Masalahnya, gara-gara ini, teman-teman sekelas pada ngetawain Karin.” Sela kali ini menatap Karin, "Rin, kamu harus cari cowok yang dewasa dan bisa melindungi kamu. Biar nggak ada lagi yang ngetawain kamu, sekali lihat dia, anak-anak auto diam. Iya kan, Ren?" tanya Sela pada Renata, dan Renata mengangguk setuju. Sela lalu melanjutkan, "tenang Karin aku akan cariin cowok kayak gitu buat kamu. Tunggu cowok kayak gitu sih ada, ada banyak juga di sekolah kita, tapi masalahnya…, ada yang mau sama kamu nggak? Penampilanmu monoton, gak punya gaya yang menarik, setiap hari kamu nggak pakai bedak, bibirmu juga pucat, rambut selalu dikuncir kebelakang, kacamata besarmu…,”
“Cukup Sela. Kamu selalu kebablasan kalau nyari solusi buat Karin.” Renata memukul pelan lengan Sela, tau, gadis itu selalu tak sadar berkata sepanjang kereta, terlalu blak-blakan, sama sekali tak ada filter, walau kenyataan, tentu itu menyakitkan.
Renata lalu menepuk lembut tangan Karin, gadis itu sejak tadi diam, menunduk saat mendengar pendapat Sela. Seolah merenungi perkataannya. “Semangat, Karin. Kamu pasti bisa berubah. Intinya jangan tergesa-gesa, selalu berpikir dulu sebelum bertindak." Selesai berkata begitu. Renata memutar tubuhnya menghadap ke depan, begitupun dengan Sela. Guru matematika sudah masuk ke dalam kelas.
Pelajaran hari itu berjalan lancar. Karin dan otaknya yang biasa-biasa saja berhasil mengerjakan tugas. Walau bukan yang pertama menyelesaikan tugas, namun ia berhasil menyelesaikan sebelum jam pelajaran selesai.
Walau otak Karin pas-pasan, Karin sangat senang membantu guru, membawakan bukunya, rela di suruh ke kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, ia bahkan mau saat guru menyuruhnya membeli makanan di kantin sekolah, karena inilah banyak guru yang menyayangi Karin.
Wajar jika semua guru dua minggu silam, saat kakeknya meninggal karena kecelakaan, datang berbela sungkawa ke rumahnya, begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, jam pulang sekolah akhirnya tiba.
Saat kelas mulai bubar, semua murid berjubel saling mendahului, ingin keluar dari kelas paling cepat, namun Karin dan dua sahabatnya berjalan santai.
Saat Karin melewati bangku guru, matanya menangkap sebuah ponsel yang tergeletak di atas tempat duduk. Itu ponsel milik bu Intan, guru Fisikanya. Karin mengambilnya.
“Teman-teman, aku mau nyusul Bu Intan ke kantor, hpnya ketinggalan di kelas,” ucap Karin pada teman-temannya, setelah itu dia berlari keluar kelas. Khawatir gurunya keburu pulang.
Gubrak…
Terdengar suara jatuh lumayan nyaring di luar kelas. Buru-buru Renata, Sela dan teman-temannya keluar kelas, melihat apa yang sedang terjadi.
“Karin…!!” pekik Rena dan Sela bersamaan. Namun siswa yang lain justru tertawa terbahak-bahak menatap Karin, tak hanya teman sekelas, siswa dari kelas lain juga ikut menertawakannya.
Renata menolong Karin berdiri, dan Sela menyuruh orang-orang diam.
“Kalian nggak punya rasa empati kah? Ada yang jatuh, bukannya ditolong malah menertawakan.” Teriak Sela. Orang-orang pun terdiam.
Sela dan Renata akhirnya menemani Karin menuju kantor, melarang gadis itu berlari lagi, khawatir jika nanti jatuh lagi.
Sela yang awalnya serius, bahkan masih terbawa emosi karena orang-orang menertawakan Karin, kini justru tertawa terbahak-bahak. Ia baru tahu, jika Karin terjatuh karena tersangkut tali sepatunya sendiri.
Setelah menyerahkan ponsel guru, Karin dan dua sahabatnya berjalan bersama di area parkir kendaraan siswa. Naik motor masing-masing dan melambaikan tangan.
Renata dan Sela sudah duluan, sedang Karin masih sibuk menggerakkan kunci motornya yang macet.
“Ini motorku." Seorang murid laki-laki tiba-tiba berkata seperti itu, Karin menoleh pada cowok itu, lalu pada motor yang ia naiki, mengamatinya lebih seksama, akhirnya dia sadar, itu memang bukan motornya. Wajah Karin seketika merah menahan malu.
Cepat-cepat Karin berdiri dan meminta maaf. "Maaf, aku nggak tau.” ucap Karin penuh penyesalan.
Karin lalu mencari motornya, kali ini lebih teliti dengan melihat plat nomornya lebih dahulu. Jangan sampai ia salah motor lagi.
Nafasnya berhembus lega akhirnya menemukan motornya. Setelah memasang kunci, menghidupkan motor, ia bergegas pulang.
Karin tak sadar, seorang siswa tampan, paling tampan di sekolah, satu kelas dengannya, diam-diam memperhatikan nya, bibirnya tak pernah ikut tertawa saat semua orang tertawa, ia hanya menatapnya.
Saat semua anak sudah pulang, cowok itu masih berada di kelas, melihat ke bawah melalui jendela kelas. Kepalanya lantas menggeleng saat Karin salah motor. Pandangan matanya terus mengikuti gadis itu hingga dia keluar sekolah.
Bersambung…