Chapter 1
Lia Adrela Maharani berdiri di depan cermin yang menempel di pintu lemari kamarnya. Jemarinya merapikan blazer krem yang membungkus tubuh rampingnya, lalu menarik sedikit rok span hitam yang panjangnya beberapa senti di atas lutut.
Rambut panjangnya dikuncir rendah dengan rapi, sementara riasan tipis membuat wajahnya tampak segar dan profesional.
Ia mengangguk pelan melihat pantulannya.
Tok.
Tok.
"Lia, sarapannya udah siap!" Suara Ratna terdengar dari balik pintu.
"Iya, Bu."
Lia mengambil tas kerjanya sebelum keluar menuju ruang makan.
Rumah mereka memang tidak besar. Hanya rumah sederhana di salah satu gang senggol kawasan Jakarta Selatan. Namun semuanya bersih dan tertata rapi.
Di meja makan sudah tersedia sepiring nasi goreng hangat, ayam goreng berbumbu kuning, semangkuk sayur bening, dan kerupuk yang masih renyah.
Ratna tersenyum puas melihat hasil masakannya. Namun senyum itu perlahan menghilang saat Lia justru membuka rak roti.
Perempuan itu mengambil dua lembar roti tawar, mengolesinya dengan selai stroberi, lalu mengeluarkan sekotak jus jeruk kemasan dari kulkas.
Ratna mendengus kesal. "Ibu udah masak dari subuh, kamu malah makan roti."
Lia hanya tersenyum sambil menggigit rotinya. "Lebih praktis, Bu."
"Praktis dari mana? Itu nasi goreng, ayam, sama sayur nggak disentuh sama sekali."
"Aku lagi jaga makan. Takut gendut."
Ratna meletakkan sendok dengan suara cukup keras.
"Kamu itu udah kurus. Mau dikira tipes?"
Lia terkekeh kecil. "Nggak segitunya."
"Malam juga jarang makan. Pagi cuma roti. Badanmu tinggal tulang."
Lia mengangkat bahu santai. "Aku kan sering ketemu direktur sama klien. Penampilan juga harus dijaga."
Ratna hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Yang dijaga mah kesehatan dulu."
Belum sempat Lia menjawab, suara pintu depan diketuk berkali-kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Ratna segera membukanya.
"Eh, Bu Dewi... Bu Windi... Bu Laras. Masuk... masuk."
Tiga ibu-ibu tetangga langsung memenuhi ruang tamu sambil membawa kertas undangan berwarna biru putih.
"Bu Ratna. Anak saya nikah dua minggu lagi. Jangan lupa datang ya."
Ratna menerima undangan itu sambil membelalak.
"Lho... bukannya anak Bu Dewi baru lulus SMA kemarin?"
"Iya."
"Sekarang udah nikah?"
"Iya, jodohnya cepat."
Lia yang sedang meminum jus langsung menyemburkannya hingga nyaris tersedak.
"Hah? Masih muda banget."
Bu Dewi hanya tertawa bangga.
"Nggak apa-apa. Yang penting dapat laki-laki baik."
Belum selesai Lia mengelap bibirnya, Bu Windi langsung menoleh.
"Kalau Lia gimana?"
Lia sudah punya firasat buruk. Radarnya menangkap gunjingan netizen akan segera dilontarkan.
"Kapan kawin?"
Bu Laras ikut menyambar.
"Gimana mau kawin, pacarnya aja nggak ada."
Ketiga ibu itu tertawa bersamaan.
Lia hanya menggeleng sambil meminum lagi jusnya.
"Itu nggak penting."
"Nggak penting gimana?" sahut Bu Windi. "Umur kamu udah tiga puluh."
Ratna ikut menimpali. "Sebenarnya ada anak temen ibu baru pulang kerja dari Korea. Ganteng, mapan—"
"Bu."
Lia langsung berdiri sambil mengambil tas kerjanya.
"Aku udah telat."
"Tapi baru jam tujuh."
"Macetnya Sudirman nggak kenal jam."
Tanpa memberi kesempatan ibunya melanjutkan perjodohan dadakan itu, Lia segera berjalan menuju pintu.
Begitu daun pintu dibuka, seorang pria berdiri di depan rumah sambil memegang kotak styrofoam berisi ikan segar.
Kaos oblong abu-abunya sudah mulai pudar dimakan usia. Celana jeansnya sederhana, sandal jepitnya sedikit basah, sementara aroma khas laut dan ikan segar langsung menyeruak begitu ia tersenyum.
"Ikan pesanan, Tante."
Ratna langsung menyambut. "Makasih ya, Iqbal."
Pria itu adalah Iqbal Rezyfa Ardiansyah. Sahabat Lia sejak kecil.
Bu Windi melirik keduanya bergantian. "Eh... jangan-jangan jodohnya Lia malah Iqbal."
“Kalau saya sih terserah anak-anak aja.” Ucap Bu Ratna.
Bu Laras lanjut terkekeh. "Sayangnya, Lia nggak bakal mau."
"Kenapa?"
"Lia tuh terlalu pilih-pilih."
Mereka kembali tertawa.
Lia memutar bola matanya malas. "Bercanda mulu."
Iqbal sendiri hanya tersenyum tipis seperti biasa, sama sekali tidak menanggapi.
Lia menghampirinya.
"Lo lewat kantor gue, kan?"
Iqbal mengangguk.
"Ayo bareng."
"Hah?"
"Gue telat gara-gara dengerin ceramah kumpulan ibu-ibu cerewet ini."
Ketiga tetangga itu langsung memprotes sambil tertawa.
Iqbal hanya mengangguk kecil. "Oke."
Iqbal berpamitan kepada Ratna, lalu berjalan menuju mobil pikap putih miliknya yang terparkir di depan rumah. Bak belakang mobil itu dipenuhi beberapa kotak fiber putih berisi es dan ikan segar yang akan diantarkan ke restoran-restoran langganannya.
Lia membuka pintu penumpang depan dan langsung duduk di samping Iqbal.
Bu Windi yang melihat pemandangan itu kembali berbisik pelan kepada Bu Laras.
"Padahal kalau dilihat-lihat, mereka udah kayak pasangan."
Bu Laras menggeleng. "Temenan mulu dari kecil. Padahal Iqbal nggak jelek-jelek amat."
“Sayang juga kalau dipikir-pikir, kalau saya masih punya anak jomblo, mending saya jodohin ke Iqbal.”
Ucapan itu terdengar samar hingga ke telinga Lia. Ia hanya mengembuskan napas panjang lalu menutup pintu mobil.
Mesin pikap dinyalakan. Perlahan mobil melaju keluar dari gang sempit menuju Jalan Jenderal Sudirman yang mulai dipenuhi kendaraan para pekerja.
Iqbal melirik sekilas ke arah Lia yang masih sibuk menatap ponselnya.
"Ibu-ibu itu ganggu lagi?"
Lia mengembuskan napas panjang.
"Mereka nggak pernah bosan nanya kapan gue kawin."
Sudut bibir Iqbal terangkat.
"Gimana mau kawin kalau lo aja nggak pernah mau dideketin cowok."
Lia langsung menoleh.
"Itu cuma buang-buang waktu, nggak sih? Baru kenal seminggu udah ngajak jalan tiap hari. Ada yang baru dua kali ketemu udah manggil sayang. Aneh."
Iqbal terkekeh pelan. "Ya namanya juga pendekatan. Gak mungkin langsung nyantol."
"Halah ribet lah."
Lia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Lo sendiri aja masih jomblo. Jadi jangan ikutan ngeledek, ya."
Iqbal hanya tersenyum tipis tanpa membalas.
"Sabtu ini ada reuni SMA."
Lia mengernyit. "Hah?"
"Grup angkatan rame semalam."
"Oh iya..."
"Lo datang, kan?"
Lia memandang keluar jendela. Kemacetan Sudirman mulai mengular, membuat mobil hanya melaju pelan.
"Lihat nanti aja deh."
"Kenapa?"
"Males gue, Bal."
"Udah lama kan lo nggak ketemu mereka."
"Itu alasannya." Lia mendecih malas. "Gue tau tiap reuni arahnya mau kemana."
Iqbal menggeleng kecil. "Kebiasaan overthinking."
Lia tidak menjawab. Ia justru memiringkan sandaran kursinya sedikit ke belakang.
"Pokoknya kalau udah sampai kantor, bangunin gue."
"Ngantuk?"
"Iya. Semalam gue lembur. Mana nggak bisa claim kantor lagi, cuma dibeliin makan doang sama ucapan makasih. Amit-amit."
Belum sempat Iqbal menjawab, Lia sudah memejamkan mata. Tak butuh waktu lama hingga napasnya berubah pelan dan teratur.
Iqbal hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir. Sesekali ia menggeleng geli. Perempuan itu memang selalu merasa aman setiap kali berada di sampingnya.
Empat puluh menit kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan gedung tinggi berlapis kaca, kantor tempat Lia bekerja.
Mesin dimatikan. Suasana di dalam kabin mendadak sunyi.
Lia masih tertidur pulas. Iqbal menoleh ke samping.
Beberapa helai rambut Lia menutupi pipinya. Wajah yang biasanya tegas kini terlihat jauh lebih lembut. Bahkan tanpa riasan berlebih, perempuan itu tetap tampak cantik.
Ia menghela napas pelan.
"Lia..."
Tak ada jawaban.
Iqbal sedikit memajukan tubuhnya, berniat memanggil sekali lagi.
"Lia..."
Jarak mereka kini tinggal beberapa senti. Sekitar lima sentimeter. Hembusan napas Lia bahkan mulai terasa di wajahnya.
Tepat ketika ia hendak mundur... Kelopak mata Lia perlahan terbuka. Tatapan mereka langsung bertemu dalam jarak yang nyaris tak menyisakan ruang.
Lia membelalak kaget.
"Iqbal...?"