*Aleandro POV*
Aku lebih suka suasana hening ini daripada mendengarkan kedua orang itu berkicau membicarakanku atau Wren. Terbiasa hidup sendiri dalam heningnya hutan selain kalau ada pekerjaan membuatku sedikit aneh harus berinteraksi dengan banyak sekali orang belakangan ini. Dan keheningan inilah yang membuat otakku berputar cepat dan menemukan keanehan dari semua ini.
Dengan kesal aku mengerem mendadak, meninju stir dan mengumpat pelan, membuat Lily menegurku keras. “Bisakah kau tidak mengumpat di hadapan wanita? Dan ada apa ini sebenarnya?”tanya Lily terlihat kesal dengan apa yang kulakukan.
“Kita dijebak.”bisikku pelan.
“Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Aleandro. Aku juga tidak bisa bertelepati denganmu. Jadi kau harus berbaik hati menjelaskan apa yang sedang kau pikirkan.”ucap Lily seakan aku tidak mengetahuinya saja.
Aku kembali menyetir, memutar di tengah jalan dan kembali ke jalan utama Witney, menjauh dari Carterton. “Mereka berpencar! Sengaja membuat gerakan seolah mereka memutar kembali sementara sebagian lainnya meneruskan perjalanan menuju utara. Kemungkinan besar mereka akan Whitehaven! Kalau mereka sudah sampai disana, tidak ada yang bisa kita lakukan. Alaric salah kalau mengira mereka bertujuan untuk mengaburkan jejak. Yang mereka inginkan sebenarnya adalah memperjelas jejak mereka agar kita mengikuti jejak yang salah.”
“Kau yakin dengan ucapanmu ini? Karena kalau kita salah kita akan memutar jauh sekali, Aleandro. Pikirkanlah lagi.”tanya wanita itu cepat.
“Aku bahkan sudah yakin kalau mereka sudah tiba di Whitehaven! Terakhir kali kita melihat Lazaro adalah di Brampton! Jarak Brampton dan Whitehaven hanya seperlima jarak Whitehaven dengan London!”
“Tapi Lazaro menghilang. Tidak ada yang melihatnya di Brampton setelah itu. Bisa saja dia pergi ke tempat lain. Dan Alaric yakin kalau yang melewati Bristol tadi malam adalah kawanan Lazaro.”
“Mungkin memang kawanan Lazaro, tapi aku yakin kalau tidak ada Lazaro diantara mereka. Mereka mungkin memang keluar dari Brampton tapi tidak akan ke Selatan. Kalau aku jadi Lazaro, aku tidak akan pergi jauh dari sarangku dulu dan setelah memastikan keadaan aman, aku akan kembali atau mencari tempat aman lainnya. Dimana lagi daerah paling aman selain Whitehaven, Lily? Tempat yang selalu menjadi kawasan bebas hukum!”jelas Aleandro sambil memacu mobilnya melewati batas kecepatan yang diizinkan polisi. “Dan apa kau tidak merasakan kalau Lazaro berubah, Lorenz?”
“Tidak ada. Tidak sejak kemarin.”sahut were itu cepat.
Lily menatapku tajam. “Apa yang akan terjadi kalau dia sudah sampai lebih dulu Whitehaven?”tanyanya masih dengan ketenangan yang mencurigakan.
“Tidak ada. Hanya menunggu sampai dia keluar sendiri dari tempat itu baru kita bisa mengejarnya lagi. Kita jelas tidak bisa menyerang mereka disana. Wren menandatangani perjanjian bebas pertikaian di Whitehaven.”
“Kenapa kita tidak bisa menyerang langsung ke Whitehaven seperti yang dilakukan Cenobia?”
“Lupakah kau kalau itu satu-satunya tempat netral di bumi? Tidak ada makhluk yang boleh melakukan tindakan kekerasan apapun disana. Dan sayangnya aku termasuk dalam perjanjian itu! Cenobia bisa melakukannya karena dia tidak terlibat perjanjian itu. Tidak pernah terlibat.”
Lily mengangguk cepat. “Aku hanya berharap kalau kau pengecualian, mengingat siapa kau.”
“Seandainya saja aku tidak ikut kembali ke London...”
“Kau bukan malaikat yang bisa melihat masa depan.”tegur Lily.
Aku hanya diam mendengar teguran itu. Aku tahu kalau aku bukan malaikat, hanya saja entah kenapa sejak bertemu dan berhubungan dengan Amelia segala kemampuanku semakin menumpul. Aku tidak bisa membuat keputusan dengan cepat seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan. Dan itulah yang membuatku kesal saat ini. Bagaimana bisa wanita itu mempengaruhiku sejauh ini! Demi neraka aku tidak akan membiarkan pengaruhnya lebih dari ini. Setelah semua misi ini selesai, aku akan kembali ke sss. Disana jauh lebih tenang daripada semua tempat di dunia ini.
“Aleandro?”panggil Lily lagi setelah beberapa lama, tepat beberapa saat sebelum kami memasuki Cheltenham.
“Apa?”
“Aku tahu siapa yang bisa membawa kita langsung ke Whitehaven, atau ke tempat terdekat.”
Aku menatap Lily tajam sebelum berhasil menebak apa isi pikiran wanita itu. “TIDAK! Aku tidak akan meminta tolong apapun pada malaikat itu. Tidak sekarang atau sampai kapanpun!”
“Bukan kau yang memintanya, tapi aku.”
“Tidak peduli siapa yang memintanya, aku tidak akan menerima bantuannya!”
“Demi Tuhan! Singkirkan egomu! Itu bisa membuat misi ini cepat selesai!”
“Tidak Lily! Tidak!”bentakku kuat.
“Aku membencimu, Aleandro.”bisik Lily kesal, sangat kesal kalau didengar dari nada bicaranya.
“Aku tidak pernah memintamu manyukaiku.”
Dan saat itulah sesuatu muncul dalam kepalaku. “Lorenz bisakah kau melakukan perpindahan tempat?”tanyaku cepat.
“Kalau yang kau maksud adalah teleportasi, aku hanya bisa melakukannya ke tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Dan tempat yang kalian sebut sejak tadi ini, aku tidak tahu. Hanya werewolf tingkat tinggi yang bisa mendatangi semua tempat di dunia ini tanpa harus mengunjungi tempat itu lebih dulu.”sahut were itu datar.
“Sial!”geramku. “Apa tidak ada tempat yang kau datangi di sekitar Whitehaven?”
“Aku bahkan tidak tahu dimana Whitehaven itu.”balasnya lagi. “Tapi aku rasa aku bisa membawa kalian ke Nottingham. Apa itu membantu?”tanya Lorenz kemudian.
“Lumayan. Tapi ada satu masalah kalau kita berteleportasi.”ucapku kemudian setelah menyadari apa lanjutan dari bantuan itu.
“Apalagi yang jadi masalah, Aleandro? Aku mulai berpikir kalau segala hal adalah masalah untukmu.”tanya Lily semakin kesal.
“Kita akan berpindah tanpa mobil. Sesampainya di Nottingham, kita harus berlari. Apa kau bisa, Lily?”
Lily terlihat diam sejenak sebelum menggeleng. “Aku tidak pernah mencoba berlari seperti kalian para vampir. Tapi aku bisa terbang.”
“Aku juga. Tapi bocah ini tidak bisa. Tidak ada anjing yang bisa terbang. Lebih aman kalau kita berlari.”
“Aku bisa membawa Lily dalam wujud serigala.”sela Lorenz cepat seolah ingin meralat ucapanku tentang spesiesnya.
“Dan membiarkan manusia melihatnya?”tanyaku cepat.
“Jadi sebenarnya apa maumu, Aleandro?”
Aku diam. Apa yang kuinginkan? Yang kuinginkan hanyalah menyelesaikan ini sendirian! Aku tidak terbiasa membawa orang lain dalam setiap misiku. Satu-satunya yang menjadi partnerku adalah Wren, dan sejak hubungan kami hancur, aku tidak memiliki partnert lain selama hampir satu milenia. Ini semua sangat aneh!
“Kalau ada kendaraan setibanya kita di Nottingham, aku akan sangat manyukai ide ini.”
Tiba-tiba Lily mengeluarkan sebuah benda elektronik dari dashboard mobil. Aku mengenalinya sebagai iPad. Wren memang vampir pecinta teknologi manusia. “Ini peta Inggris, Lorenz. Ini Whitehaven, dan ini tempat-tempat lain disekitarnya. Apa kau tidak pernah ke tempat yang lebih dekat?”tanya Lily sambil menunjukkan tampilan Wrenar yang kini sudah berubah menjadi peta Inggris Raya itu.
Lorenz terlihat mengamati benda itu sejenak sebelum mengangguk yakin. “Aku pernah sebulan berada di Middlesbourgh. Tapi kalau dilihat dari peta ini, tempat itu masih cukup jauh.”gumamnya pelan.
“Tidak lebih jauh daripada Nottingham.”sahut Lily cepat. “Beri aku waktu beberapa menit, aku akan memastikan ada kendaraan yang akan menunggu kita di sana.”sambung Lily kemudian, membuatku curiga apa yang akan dilakukannya.
Aku sangat menyadari kalau Lily menelpon Eliza karena dia menyebut-nyebut nama wanita itu beberapa kali. Selain nama Eliza ada nama lain yang menggangguku. Tapi aku tidak tahu kenapa. Nama itu Javas. Rasanya aku pernah mendengar nama itu, tapi tidak tahu dimana. Setelah beberapa menit berbicara di telpon dengan Eliza, wanita yang duduk di sebelahku ini akhirnya mengakhiri pembicaraannya dengan nada puas sebelum menatapku. “Kita akan punya kendaraan di Middlesbourgh.”ujarnya yakin.
“Apa kau meminta tolong pada malaikat? Karena kalau iya aku lebih memilih memperlambat menyelesaikan tugas ini, Lily.”
“Kau dengar sendiri kalau aku bicara dengan Eliza. Sejak kapan Eliza menjadi malaikat? Setidaknya aku tahu kalau sampai saat ini Navaro masih mempertahankan Eliza sebagai manusia.”balas wanita itu cepat.
Aku sama sekali tidak merespon ucapan Lily. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan dan segera keluar, bergabung bersama kedua orang lainnya sebelum L membawa kami berteleportasi ke Middlesbourgh. Dan sekali lagi aku tidak manyukai sensasi itu. Entah kenapa para werewolf diberkati kekuatan melakukan perpindahan ruang dan waktu sementara kami kaum vampir tidak memiliki kekuatan itu. Yah, setidaknya mereka tidak bisa terbang.
Begitu aku membuka mata, aku yakin kalau kami sudah berpindah tempat. Dan tempat ini benar-benar kota Middlesbourgh, bisa kulihat dari papan nama jalan tempat kami tiba. Dan di seberang jalan sudah menunggu makhluk yang membuatku ingin mencekik Lily saat itu juga. Seorang malaikat sedang menunggu kami diseberang jalan dengan sebuah mobil 4WD. Aku mengetahuinya karena malaikat itu tidak mau bersusah payah menyembunyikan kekuatannya. Sial memang, tapi kekuatan malaikat tidak membahayakan bagi manusia, kecuali saat mereka dalam wujud asli. “Ingatkan aku kalau kau adalah pasangan Wren, Lily Russell, karena saat ini aku benar-benar ingin mencekikmu.”geramku sambil berjalan mendahului yang lain menyeberang jalan menuju tempat malaikat itu menunggu.
“Aku tidak tahu kemana kalian akan pergi, tapi aku rasa mengingat Eliza meminta menyediakan mobil secepat yang kubisa, hanya mobil ini yang bisa kudapatkan. Tidak ada renovasi apapun, benar-benar mobil biasa.”ujar malaikat itu datar, yang sepertinya tahu dengan pasti kalau mobil-mobil yang biasa klan Libra gunakan sudah dimodifikasi sedemikian rupa.
Lily yang ada di belakangku menjawab dengan riang. “Tidak masalah, Javas. Terima kasih atas bantuanmu. Dan sampaikan pada Eliza aku menyayanginya.”ujar Lily cepat.
Dan dalam waktu beberapa menit kami sudah mengendarai mobil itu, bergabung dengan lalu lintas yang menuju luar Middlesbourgh. “Kenapa kau terlihat kesal, Aleandro? Apa ada yang salah lagi?”tanya Lorenz polos, membuatku semakin ingin mencekik Lily karenanya.
“Javas adalah malaikat, Lorenz. Mungkin karena kau belum pernah bertemu dengan malaikat jadi kau tidak bisa membedakannya. Mereka suka sekali menyamar menjadi manusia, dan hanya sedikit sekali orang yang bisa menebak siapa mereka sebenarnya. Dan sejak kita berteleport tadi, Aleandro sudah ingin membunuhku karena mau tidak mau dia harus mengakui kalau malaikat terkadang bisa berbuat apa saja yang tidak bisa dilakukan para vampir.”bisik Lily cukup kuat untuk dapat kudengar.
Aku bisa melihat wajah terkejut Lorenz melalui kaca. Sebenarnya aku tidak yakin apakah itu ekspresi terkejutnya atau kagum. “Aku tidak merasakan kekuatannya. Kau berteman dengan malaikat?”tanya L cepat.
“Tidak secara langsung. Wren-lah yang berteman dengan malaikat.”sahut Lily ringan seakan Navaro hanyalah malaikat tingkat rendah.
“Sekarang aku mengerti kenapa Wren cukup ditakuti oleh kaumku.”gumam Lorenz pelan.
“Kau akan lebih mengerti kalau kau punya keberanian melakukan apa yang dilarangnya.”ucapku cepat. “Tapi mengingat kau bahkan tidak bisa merasakan kekuatan makhluk itu saat dia tidak menyembunyikannya, membuatku yakin kalau kau bisa dihabisi oleh Wren tanpa membuatnya bergerak sedikitpun.”
Lorenz menatapku melalui kaca. “Aku masih harus menemukan saudaraku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Aku malah berharap kalau ini seperti yang aku pikirkan. Entah kenapa aku pikir rasanya akan damai untuk hidupku kalau wanita ini bukan pasangan Wren.”
Lily terkekeh pelan. “Kau tidak membenciku sejauh itu, Aleandro. Kalau memang kau membenciku, kau sudah mencekikku sejak tadi.”ucap Lily penuh percaya diri.
Dan sialnya dia benar. Aku tidak bisa membencinya sejauh itu. Mau tidak mau aku harus menyadari kalau secara tidak langsung dia-lah yang membuatku bisa berbaikan dengan Wren walaupun aku benci mengakuinya. “Sebagai darah campuran kau benar-benar mengesalkan. Kau mewarisi terlalu banyak sifat ayahmu yang b******k itu.”gerutuku kesal tanpa peduli kalau aku baru saja menghina seorang The Fallen Angel terkuat sepanjang sejarah.
Beberapa menit kemudian, aku bisa membaca pikiran-pikiran itu. Pikiran werewolf yang berada beberapa mil dari tempatku. Dengan sengaja aku menambah kecepatan menembus gelapnya malam.
“Ada werewolf disekitar sini.”gumam Lorenz yang semakin meyakinkanku akan keberadaan para were itu.
“Aku tahu. Kita akan mengikutinya.”ujarku cepat.
Bau dan pikiran yang kurasakan semakin kuat. Semakin aku mengikuti jejak itu, semakin aku sadar kalau makin lama kami meninggalkan jalan utama dan mulai menembus jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil. “Sial. Kita harus turun dari sini.”ujarku setelah menyadari kalau jalan itu sudah tidak bisa lagi di lalui oleh mobil.
“Baiklah. Aku akan terbang dan kalian menyisir di darat. Itu lebih efisien bukan?”tanya Lily santai seakan dia sudah menunggu perburuan ini.
Aku menatap Lily baik-baik. “Berhati-hatilah. Kita tidak tahu selain werewolf makhluk apalagi yang ada didaerah ini, dan aku tidak ingin karena menyelamatkanmu kita malah kehilangan mereka.”ucapku pelan.
“Tenang saja, Aleandro. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”ujarnya ringan.
Dan tanpa menunggu apapun lagi, aku dan L langsung berlari memasuki pedalaman hutan yang terbentang di depan kami sementara Lily mengawasi dari udara. Beruntunglah wanita itu karena malam sudah larut, sayapnya yang berwarna hitam membaur dengan warna langit. Tidak akan ada yang menyadari sosoknya di udara selama tidak ada orang kurang kerjaan yang menyinari langit.
---
“Kenapa tidak seorangpun dari kita yang berpikir kalau Lazaro bisa saja berteleport langsung ke Whitehaven?”tanya Lily saat kami selesai membantai sekawanan werewolf dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil.
“Tanyakan padanya.”gumamku sambil terus menyetir.
“Kalau ada yang tidak bisa dilakukan Lazaro itu adalah perpindahan ruang dan waktu, Lily. Tidak semua werewolf bisa melakukannya. Itu salah satu alasan kenapa Lazaro sampai melakukan ini semua. Dia sebenarnya bukan menginginkan sekelompok werewolf kuat, bukan itu yang dia inginkan. Semua kejadian ini hanya percobaan. Saat muncul werewolf yang makin lama semakin bisa menahan efek darah vampir itu, maka Lazaro berniat untuk menyuntikkan darah itu ke tubuhnya sendiri. Dia-lah yang menginginkan kekuatan itu, Lily.”jelas Lorenz tenang.
“Astaga! Aku tidak pernah mengira ada yang begitu putus asanya menginginkan kekuatan seperti dia.”bisik Lily tidak percaya. “Kekuatan bukan segalanya di dunia ini.”
“Bukan kalau kau hanya hidup beberapa tahun. Tapi kalau kau hidup lebih dari seratus tahun, maka kekuatan adalah segalanya yang dibutuhkan. Hanya saja aku tetap membenci kenyataan dia menggunakan darah kami dan menggabungkannya dengan darah kotor mereka.”ujarku pelan.
*Amelia POV*
Wren menepati janjinya. Dia tidak melakukan apapun saat aku dijemput oleh Zeroun. Dia hanya menempatkan Chale, salah satu Dream Hunter yang baru bergabung dengan klan Libra tapi tidak memiliki darah Wren, di sekitar apartemenku bersama dengan kepala laboratoriumnya, Venom. Seperti janji kami sebelumnya, Zeroun menjemputku tepat setelah matahari terbenam. Ada beberapa vampir lain bersamanya.
“Aku tidak percaya Wren membiarkanmu pergi begitu saja. Mengingat apa yang dilakukan pasangannya saat kami mencarimu, aku berpikir akan mendapatkan sedikit pertunjukan serangan dari pemimpin Libra itu.”
“Wren menghormati pilihanku. Lagipula aku bukan anggota klan siapapun. Ingat itu, Zeroun.”
Pria manis itu terkekeh pelan. “Mengingat ada darah masterku dalam tubuhmu rasanya aneh mendengarmu mengatakan itu, Ms. Williams.”bisiknya.
Aku tidak merespon ucapannya. Pikiranku terlalu sibuk membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat aku bertemu kembali dengan vampir tampan yang mengubah hidupku itu. Sudah 30 tahun berlalu sejak kejadian itu tapi fisikku sama sekali tidak menunjukkan kalau sesungguhnya aku sudah berusia 45 tahun. Semua ini karena pengaruh darahnya, dan juga darah Wren. Aku manusia, tapi tidak sepenuhnya manusia. Wren sudah memastikan itu. Dalam jangka waktu tertentu aku akan diperiksa untuk melihat komponen darahku. Menurut Wren, rasa dan segala unsur di dalamnya sama dengan darah manusia pada umumnya. Sama sekali tidak ditemukan virus darah vampir di dalam tubuhku. Tapi aku tahu, Wren juga tahu, kalau virus itu tetap ada.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”tanyaku pada Zeroun saat kami dalam perjalanan menuju bandara. Vampir itu sama sekali tidak mengatakan kemana kami akan pergi sebenarnya, dia hanya bilang kalau perjalanan kami akan membutuhkan waktu cukup lama.
“Silakan saja. Sepanjang yang kutahu, kau bukan orang yang suka meminta izin.”ujarnya ringan.
“Seperti apa Conrad sebenarnya?”tanyaku cepat.
Zeroun menyipitkan matanya menyeledikiku, membaca pikiranku. Dia akan kecewa kalau mengharapkan ada hal lain yang kupikirkan. 20 tahun hidup dikelilingi vampir master dalam klan Libra membuatku belajar banyak untuk membentengi pikiranku, dan memberikan hal-hal sepele pada pengintip pikiran seperti mereka. “Apa yang kau ingat tentang master?”tanya vampir itu balik.
“Tidak banyak yang bisa kuingat kalau pertemuan itu berlangsung kurang dari satu jam. Dan aku terlalu shock dengan apa yang terjadi.”
Zeroun bersikap seolah menghela napas panjang. “Master selalu mengawasimu. Dan kau bahkan hanya mengingat sedikit sekali tentangnya.”
“Setidaknya aku masih mengingat wajahnya. Aku tidak tahu apa alasannya membiarkanku tetap hidup, karena itu aku harus tahu seperti apa dia sebenarnya? Apa masih ada yang sepertiku di suatu tempat di dunia ini?”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Ms. Williams. Tapi aku yakinkan kau kalau hanya kau satu-satunya yang masih bertahan dari kegilaan setelah menerima darah master. Dan alasan kenapa dia melakukannya, tanyakanlah pada master karena aku juga menanyakan hal yang sama pada diriku.”
“Sepertinya Conrad jarang melakukan hal yang tidak biasa.”
“Kau adalah satu-satunya hal yang tidak biasa sepanjang ingatanku. Master tidak pernah menerima segala hal yang setengah-setengah.”ujar vampir itu tanpa sadar mengungkapkan sesuatu.
Kang Conrad tidak menerima apapun yang setengah-setengah. Baginya hanya ada ya atau tidak, hitam atau putih. Sepertinya pembicaraan yang ingin kulakukan dengan Conrad ini akan berlangsung lama dan berat kalau dia memang seperti apa yang Zeroun katakan. Malah mungkin Aleandro benar. Dia tidak akan membiarkanku pergi lagi.
“Katakan padaku, Ms. Williams. Kenapa kau yang keluargamu dibunuh oleh vampir, bekerja sebagai vampire hunter dibawah kekuasaan vampir? Kenapa kau tidak seperti hunter lainnya yang sangat membenci vampir tanpa membedakan kami?”tanya Zeroun pada suatu saat sebelum kami tiba di bandara.
“Kalau kau ingat, aku pernah mengatakan kalau aku adalah orang bebas. Aku tidak berada dibawah kekuasaan siapapun.”ujarku mengingatkannya.
Zeroun menyunggingkan senyum mengejek. “Anggap saja aku lupa.”ucapnya pelan.
“Kenapa Conrad memberikan darahnya pada para werewolf itu?”
Hening. Aku tahu kalau aku sudah mengajukan pertanyaan yang bisa memancing sesuatu yang kelam. “Kali ini anggap saja aku tidak mendengar pertanyaanmu, dan kau belum menjawab pertanyaanku.”ujarnya dingin.
“Anggap saja aku tidak mendengarnya juga.”sahutku cepat dan kemudian cukup lama kami terdiam. “Aku hanya penasaran. Vampir dan werewolf bukan sahabat. Aku yakin itu. Jadi semakin aneh rasanya kalau vampir tua seperti Conrad memberikan darahnya pada satu-satunya musuh alaminya.”ujarku lagi, sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan dinginnya suasana di dalam mobil.
“Kau harus belajar untuk menahan lidahmu, Ms. Williams.”geram Zeroun.
“Ah aku tahu. Kau mengatakan kalau kau adalah tangan kanan Kang Conrad, tapi pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak kau ketahui tentangnya, bukan? Kau tidak tahu kenapa dia membiarkanku hidup. Kau juga tidak tahu kenapa selama ini dia hanya mengawasiku. Kau tidak tahu kenapa mastermu memberikan darahnya pada satu-satunya makhluk yang kalian hindari sepanjang masa. Kau tidak tahu.”ucapku cepat.
Aku sama sekali tidak menyadari gerakan Zeroun. Sesaat aku yakin kalau dia masih duduk di tempatnya, tapi sedetik kemudian jemarinya sudah melingkari leherku, siap untuk mematahkan leherku. “Diamlah atau aku yang membuatmu diam.”bisiknya santai, tapi aku tahu kalau dia memang berniat melakukannya kalau dilihat dari beratnya udara disekitarku akibat kekuatannya.
“Sepertinya kau lupa kalau aku ada orang yang diinginkan Conrad. Dia pasti tidak akan senang kalau aku terluka atau tiba dengan kepala terpisah dari tubuhku.”ujarku ringan.
Sepertinya ucapanku berhasil membuatnya sadar dan kembali ke tempatnya. “Nikmatilah waktumu, Ms. Williams. Kau hanya bisa menikmatinya selama master belum bosan denganmu. Dan setelah kebosanan itu menghampirinya seperti biasa, aku berjanji kalau aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu bahkan sebelum kau sempat berpikir apapun.”bisik Zeroun dingin.
“Ah, sepertinya aku belum mengatakannya padamu. Aku setuju pergi denganmu hanya untuk bicara dengan vampir yang kau sebut master itu. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali ke tempatku. Aku tidak pernah berniat menghabiskan waktu lama bersama vampir b******k seperti kalian yang meneror kota hanya untuk mendapatkanku.”
“Dan sepertinya aku juga belum mengatakannya padamu, Ms. Williams. Apa yang sudah masuk dalam kediaman master, tidak pernah keluar dalam keadaan utuh. Master tidak suka berbagi.”
Baiklah. Ini peringatan kedua. Apakah pilihanku ini salah? Apa aku benar-benar salah dengan memutuskan pergi sendirian tanpa ditemani siapapun seperti ini? Apakah seharusnya aku berkeras minta ditemani oleh Aleandro? Apakah peringatan terakhir Aleandro benar?
Aleandro.
Vampir tampan, sensual, dan pemarah.
Kalau saja dia bisa mengendalikan emosinya sedikit lebih baik, aku mungkin akan memohon agar dia menemaniku. Entah apa yang dipikirkan vampir itu. Terkadang aku merasa kalau aku bahkan bisa menyentuh jiwanya, tapi terkadang aku merasa kalau dia adalah perwujudan dari segala bentuk makhluk tanpa jiwa. Aku tidak pernah tahu yang mana Aleandro yang sebenarnya. Vampir yang selalu bersikap lembut tapi penuh nafsu atau vampir pemarah dengan segala ucapan menyakitkan yang tidak pernah memikirkan siapapun? Yang mana Aleandro yang sebenarnya? Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan yang ketiga. Aku tidak ingin memikirkan kalau dia hanya memanfaatkanku selama ini untuk kebutuhan seksualnya. Sakit rasanya memikirkan kemungkinan yang terakhir itu.
“Ayo turun.”ujar Zeroun memecah lamunanku.
Aku bergerak keluar dari mobil. Ini bukan bandara, melainkan landasan pribadi yang disewakan. Sebuah pesawat jet pribadi menunggu kami tidak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya Conrad cukup memiliki selera manusia seperti Wren setelah melihat apa yang akan membawaku menemui Conrad.
“Kemana kita akan pergi?”tanyaku sambil mengikuti langkah Zeroun menuju pesawat.
“Diam dan lihat saja.”jawabnya datar.
Sepertinya 20 tahun hidup bersama vampir membuatku tetap tidak bisa menebak sifat asli predator alam itu. Kalau aku sudah cukup pusing dengan menebak sisi diri Aleandro yang asli, maka aku jelas tidak bisa menebak sifat Zeroun. Kemarin dia bersikap sangat sopan dan ramah. Sore ini dia bersikap Layaknya sahabat, dan sekarang dia bersikap Layaknya seorang musuh. Apa semua vampir memang tidak punya sifat yang pasti? Apa mereka bahkan lebih labil daripada ras homo sapiens?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dengan cepat aku meraih ponselku dan menelpon seseorang sebelum kembali memutuskan sambungan bahkan sebelum nada sambung pertama terdengar. Tidak. Aku tidak bisa menghubungi Wren. Zeroun akan tahu kalau aku menghubungi Wren dan dia pasti tidak akan suka mengingat dia saja merahasiakan kemana kami pergi.pikirku cepat. Dan akupun memutuskan untuk menelpon Lily. Tapi bahkan setelah nada sambung terakhir terdengar, Lily tidak juga menjawab telponku. Dua kali aku mencoba menelpon Lily sebelum pasrah kalau wanita itu mungkin sedang sibuk. Dengan enggan aku menekan sebuah nama dan berharap dia akan menjawab panggilanku.