KEBAHAGIAAN

890 Words
Pagi yang cukup dingin, membuat Andine enggan rasanya bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya hampir saja terbenam oleh selimut tebal yang sudah tersedia di hotel tersebut. Beda dengan Ardhan, yang sedari pagi tadi sudah membersihkan tubuh terlebih dahulu. Sekarang, bibirnya membuat satu lengkungan ketika pujaan hatinya itu belum juga terbangun dari mimpinya. Padahal, Ardhan ingin menunjukkan tempat yang pastinya dia akan menyukainya. Ardhan mendekati Andine, ia menarik selimut Andine,"Sayang, bangun dong kan udah pagi," rayu Ardhan, tangannya membelai manja rambut Andine. Bukannya bangun, yang di dapat malah tepisan dari Andine,"Aku masih ngantuk," gerutu Andine kesal, pasalnya tidurnya terganggu. Ardhan menyeringai,"Oh yaudah, kalau kamu masih mau tidur aku mau pergi minum cokelat panas sama bule di sini." Mata Andine langsung melotot, dengan segera ia terbangun seraya berkacak pinggang,"Kamu berani selingkuh dari aku?" Pupil mata Andine membesar. Ardhan malah tertawa,"Segitu takut kehilangannya kamu sama aku?" Alis Ardhan bertautan dengan maksud menggoda Andine. "Siapa yang takut kehilangan, bule mana coba yang mau sama kamu selain aku?" Andine menjulurkan lidahnya dengan maksud meledek. "Banyak, perlu aku buktiin? Lagian aku kan tampan miripan kayak Manu Rios," balas Ardhan tak mau kalah telak. Andine akhirnya merasa kalah, ia melipatkan kedua tangannya di atas d**a,"Terserah." Laki-laki di hadapan Andine langsung menghembuskan napasnya berat, Ardhan tersenyum. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Andine,"Sekarang, kamu mandi karena aku mau ajakkin kamu ke suatu tempat yang bakal bikin kamu seneng!" "Kemana?" Alis Andine terangkat satu karena penasaran. Ardhan tampak berpikir sejenak,"Kemana ya? Ke hatimu boleh kali ya?" Goda Ardhan kembali. Andine langsung memanyunkan bibirnya,"Ih Ardhan apaan sih," gerutu Andine. Ardhan terkekeh,"Nanti kamu tau sendiri, sekarang silahkan mandi. Sesudah mandi kamu makan roti sama kopi yang sudah aku pesan, aku letakkin di atas meja. Aku tunggu yah." Ardhan pergi meninggalkan Andine yang sudah membentuk tangannya menjadi hormat,"Siap pak bosskuh!" Ardhan tertawa sembari melangkah menjauh, dengan langkah cepat Andine langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhhya. Ardhan sedang duduk menunggu Andine dengan ponselnya. Untuk menunggu Andine bersiap-siap, Ardhan yakin akan membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa saja satu jam atau mungkin lebih, kebiasaan cewek itu berlama-lamaan di kamar mandi, entah apa yang di lakukan, luluran dulu kali. Ardhan iseng-iseng membuka i********:-nya, sudah lama ia tidak membuka akun sosial medianya satu itu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan Andine. Ardhan sedikit kaget ketika melihat postingan Ranti yang sedang berada di Italia. Aku merindukanmu sang berandal sekolah. Ardhan membaca caption i********: Ranti dengan sedikit risih, siapa yang Ranti maksud? Tidak mungkin ia mengatakan Rendi, bahkan Ranti dan Rendi tidak pernah dekat. Berandal sekolah-kan cuma Ardhan dan Rendi yang cukup terkenal dan tampan. Ardhan tidak menyentuh gambar love di postingan Ranti, ia tidak mau terjebak oleh kisah masa lalunya kembali. "Aku siap!" Suara Andine membuat Ardhan kaget, dengan cepat Ardhan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana miliknya. Andine sedikit kebingungan dengan sikap Ardhan yang gugup,"Kamu kenapa?" Tanya Andine. Ardhan hanya menggeleng,"Aku cuma takut." Andine mengerutkan dahinya,"Takut? Takut kenapa emang?" "Takut kamu di ambil orang lain karena kamu terlalu cantik," gombal Ardhan pada Andine. Andine memutar bola matanya malas,"Mulai deh ah." Ardhan langsung menggenggan tangan Andine, laki-laki tersebut mengajak Andine menunu luar hotel. "Ini sepeda siapa?" Tanya Andine saat mereka sudah berada di luar. Ardhan sudah menaikki sepeda, berwarna hitam bercampur warna silver, seperti sepeda tua tapi tumpuannya sangat kuat, sepeda tersebut di dekor sangat unik, Ardhan sudah duduk di atasnya dengan mantap, di belakang sepeda sudah ada tempat duduk untuk Andine naikki, karena sepeda tersebut memang untuk dua orang. "Aku nyewa buat kita, ayo naik." Andine akhirnya menuruti dan naik di sana, sebelum Ardhan nengayuh sepeda ia memegang kedua tangan Andine lalu melingkarkannya di pinggang,"Pegang yang erat, atau aku bakalan hilang." Andine langsung mencubit pinggang Ardhan,"Ihh ayo buruan, kebanyakan gombal ih." Ardhan mengangguk lalu mengayuh sepedanya, Andine memeluk Ardhan erat, ia menyandarkan kepalanya di punggung Ardhan, Ardhan hanya mengukir senyumannya. "Din, kam tau gak apa yang lebih sulit daripada teori fisika?" Andine mendekatkan kepalanya untuk lebih dekat dengan Ardhan,"Matematika?" Ardhan terkekeh,"Bukan." "Terus apa?" "Memecahkan rumus yang bisa membuat kamu bahagia." Andine tertawa keras,"Hahaha receh tau gak." "Receh gini kamu juga ketawa." "Habisnya lucu." "Tapi aku seneng kamu ketawa, berarti aku udah bisa buat kamu bahagia, walau hanya hitungan detik," gombal Ardhan kembali. Andine mengangguk,"Tapi tertawa bukan berarti bahagia kan?" "Jadi kamu gak bahagia?" "Bahagia kok, pake banget malah, apalagi kalau sama kamu." Ardhan mengangguk, suasana Italia memang sangat ramai kala itu, banyak bule-bule sepanjang jalan yang tengah asik berfoto. Sesekali Ardhan dan Andine tertawa ketika memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Apalagi melihat seorang cowok yang maunya di suruh pacarnya sendiri untuk memotret gambar pacarnya, bahkan sampai berkali-kaki jepretan, dan seorang cewek gak akan puas dengan satu poto jepretan saja, jika adanyang puas dengan sekali poto berarti itu mitos. Apalagi ketika mereka melihat ada laki-laki yang jatuh dari sepeda, karena matanya asik melihat bule seksi di depannya. "Sayang, kamu tau gak bedanya sedih sama kecewa itu apa?" Andine mengangguk,"Sedih itu awalannya S kalau kecewa awalannya K." "Ternyata longor kamu gak hilang juga ya Din." Andine langsung mencibir tidak setuju,"Aku gak gitu." "Iya iya enggak." "Terus bedanya apa? Coba jelasin." Ardhan berpikir sejenak,"Kalau sedih mata yang menangis, kalau kecewa hati yang menjerit." Andine mengangguk,"Jangan pernah buat aku kecewa ya? Karena kecewa itu adalah pasal yang lebih berat daripada mematahkan hati, sebab kecewa bisa langsung mematikan sang pemilik hati." Ardhan mengangguk mantap,"Aku janji gak akan bikin kamu kecewa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD