Venice, 29 maret.
Ardhan menggeret kopernya dan koper Andine, sedangkan Andine sudah berjalan dengan lenggoknya di sebelah Ardhan, mata Andine tak berhentinya menatap ke arah jalanan, gadis dengan sepatu sneakers putih, dan rambutnya yang ia urai.
Walau usianya sudah menginjak umur 20-an tapi Andine tetap saja masih tampak muda dan cantik, Andine menatap kota Venice dengan matanya yang berbinar-binar, bagaimana tidak? Dari lama ia mengidam-ngidamkan kota ini, ia ingin sekali pergi ke Venice dengan orang ia sayang.
Ardhan menekuk lututnya, ia melepas dua koper yang ia bawa,"Ah capek juga ternyata, isi koper kamu apa sih? Berat banget kek bawak baton," keluh Ardhan, Andine malah tertawa keras mendengar celotehan Ardhan.
Ardhan langsung mengernyit akan respon yang Andine berikan,"lah? Malah ketawa."
Andine menjulurkan lidahnya pada Ardhan, Ardhan semakin merasa gemas melihat tingkah Andine,"Wah nantengin yah, aku gelitikin yah," Ardhan langsung memeluk Andine dari belakang, lalu Andine langsung terlonjak dan meronta, tapi bibirnya tak berhenti membuat lengkungan.
"Woi kalau mau onoh onoh jangan di sini njir," Raffa menaikkan kaca mata hitamnya, laki-laki yang dulunya menjadi teman kenakalan remaja Ardhan.
Raffa yang dulunya hitam, dekil, mujur hidup itu berubah dratis menjadi laki-laki tampan. Andine berlarian kecil untuk mendekati Raffa.
"Yah gue di tinggal," desis Ardhan.
Raffa mendekati Ardhan dan membantu Ardhan untuk menggeret satu kopernya.
"Dari sini kita mau naik apa?" Tanya Andine, tangannya memelintir tas kecil yang ia pegang dari tadi.
Ardhan tersenyum sedikit,"Naik pesawat," jawab Ardhan.
Andine memasang wajah cemburut,"Yah masa naik pesawat lagi," gerutu gadis tersebut, sehingga Raffa dan David langsung tertawa keras.
"Mana ada Din, kamu mau aja di bohongin sama suami sendiri, kita lewat jalur air dan kita bakalan naik Gondola!"
"Semacam kapal pesiar yah?" Tanya Andine kebingungan.
Ardhan dan Raffa menggelengkan kepala mereka, tanpaknya Andine belum mengerti juga,"Banyak-banyak baca tentang dunia deh Din, daripada baca cerita ples-ples," sahut Raffa yang mendapatkan jitakkan dari Ardhan.
"Istri aku yang kamu bilangin itu," protes Ardhan dengan lotottan matanya, Raffa menyengir kecil,"Heheh maaf dah ah, tau yang udah nikah."
"Oh iya, aku beli tiket bentar, kalian tunggu di sini."
Andine duduk di pinggir yang terdapat batu besar di sana yang bisa di duduki, sedangkan Ardhan berjongkok di hadapan Andine.
Tangan Ardhan meraih tangan Andine, lalu laki-laki tersebut tersenyum lebar dengan harapan-harapan yang ia bawa agar bisa membahagiakan Andine.
"Apa aku bisa jadi laki-laki hebat di hidup kamu?"
Setelah mendengarkan pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Ardhan, mata Andine langsung berkaca-kaca.
Ardhan langsung khawatir, ia takut kata-katanya ada yang menyakiti Andine,"Kamu kenapa nangis?"
Nyatanya, Ardhan adalah kebenaran dalam cintanya,"Aku bahagia banget," jemari Ardhan menyeka buliran air hangat yang sukses jatuh dari pelupuk mata Andine.
"Aku gak tau apakah ada meteran yang bisa mengukur seberapa bahagia aku saat ini," senyum Andine merekah.
Ardhan baru saja hendak memotong pembicaraan Andine tapi Andine dengan cepat langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ardhan,"Gak harus merasa kamu harus kasih semua yang terbaik kamu miliki buat aku, dengan hal sederhana sama kamu aja aku udah bahagia."
Andine menarik napasnya panjang dengan senyumnya yang kian melebar,"Bahagia aku itu kamu."
"Kalau aku gak ada?" Tanya Ardhan spontan.
"Aku bakalan ikut gak ada sama kamu."
Ardhan menyengir kecil mendengarkan perkataan istrinya, Ardhan berdiri di ikuti juga dengan Andine, laki-laki tersebut langsung memeluk erat tubuh Andine, Andine dapat mencium bau mint Ardhan lebih dekat lagi.
"a***y baru sebentar juga di tinggal, udah mesraan aja," celetuk Raffa yang sudah kembali dengan tiket di tangannya.
"Kalian naik berdua aja, aku ada urusan mendadak, oh iya aku udah catat nama hotelnya di sana dan dia juga bakal nganterin ke sana," jelas Raffa.
Akhirnya Ardhan dan Andine mengangguk mengerti, Ardhan menepuk pundak Raffaa pelan,"Semoga cepet selesei dan cepet nikah, hahaha!"
Raffa memasang wajah kesalnya,"Belum siap nikah, aku mau masih merawani diri," selepas itu Raffa tertawa dan berjalan menjauh, ia mengacungkan jempolnya pada Ardhan.
Andine dan Ardhan kini sudah berada di atas gondola.
Senja makin lama makin menguning, bertanda hari sudah petang. Andine menyandarkan kepalanya di pundak Ardhan, dan tangan Ardhan menggenggam erat tangan Andine.
"Da dove vieni?" (Kalian dari mana?) Tanya seseorang yang mengendalikan Gondola tersebut.
"Vengo dall'Indonesia." (Saya dari indonesia)
"Piacere di conoscerti ragazzi, la tua bellissima moglie."(Senang bertemu dengan kalian, istrimu cantik)
Andine tersenyum manis pada wanita paruh baya tersebut,"grazie." (Terimakasih)
Tak lama kemudian mereka sampai, Ardhan dan Andine berjalan menuju hotel mereka, karena kendaraan di sana juga hanya memakai fasilitas kapal dan melalui jalur air, tak jauh dari jalur air terdapat hotel, di sanalah Ardhan dan Andine akan menikmati masa honeymon mereka di Italia.

"sei il signor Ardhan e la signora Andine?" (Apakah anda tuan Ardhan dan nyonya Andine?)
Ardhan dan Andine baru saja hendak masuk kedalam hotel tersebut, namun langkah mereka berdua terhenti, pada seorang laki-laki yang sepertinya pegawai di hotel tersebut.
Ardhan mengernyit,"si il mio, perché?" (Ya saya sendiri, kenapa?)
Pegawai tersebut sedikit membungkuk,"oh, i migliori saluti, ti mostrerò dov'è la tua stanza."(Oh salam kenal, akan saya tunjukkan di mana kamar anda)
Akhirnya Ardhan dan Andine mengikuti langkah pegawai di hotel tersebut, tak lama kemudian ponsel milik Ardhan berbunyi, yang membuat ia harus mengangkatnya.
Dan, udah sampe? Aku udah kasih tau mereka buat nganterin kamu sama Andine ke kamar kalian langsung.
Udah, ini lagi mau otw kamar, ganggu aja ah.
Ah kamu mah udah di bantuin juga, betewe aku lagi on the way London, kapan nyusul?
Wanjer kamu ngedeluanin kami ya? Napa kamu gak kasih tau kami? Oh iya makasih buat persiapan semuanya.
Iyeee sama-sama, happy honeymon ya! Jagain tu istri baik-baik, aku pesan kembar.
Ardhan hanya menggelengkan kepalanya dan langsung mematikan ponsel miliknya, ketika mereka sampai ke kamar yang sudah di pesan oleh Raffa.