"Rena?"
Gadis yang di sebut itu langsung menitikkan air matanya, ia belajar dari kesalahan yang membuatnya tersiksa, dari kecerobohan yang membuatnya menjauh, dan dari jarak yang membuatnya semakin merindu.
"Ma ... maaf," Rena memanglingkan wajahnya, Andine yang melihat kedua orang tersebut dari kejauhan hanya melihat dengan rasa sedikit kesal.
Bagaimana tidak? Tidak ada perempuan yang akan baik-baik saja jika melihat suaminya malah peduli dengan mantannya sendiri.
Ardhan membantu Rena untuk berdiri, lalu ia mengajak Rena berjalam mendekati Andine.
"Ren, ini istri aku namanya Andine Felya," perkenal Ardhan, Rena tersenyum getir.
Andine mengulurkan tangannya dengan suka cita, lalu Rena membalas uluran tangan Andine.
Andine dapat memastikan bahwa Rena sekarang sangat terpukul dan sedih,"Ren? Kamu lagi ada masalah?"
Rena mengembangkan senyumnya,"Gak."
Andine mengangguk,"Oh iya, kalau aku boleh tau kamu di sini ngapain?"
"Aku dulu pas kelas satu SMA pindah ke London, makanya aku sama Ardhan putus, karena mama aku gak ngerestuin hubungan kami, dan Ardhan juga ada pacar lain, kamu tau sendirikan kalau Ardhan itu playboy?" Jelas Rena yang mendapatkan gelak tawa dari Andine, dan Ardhan hanya mengerucutkan bibirnya.
"Sekarang udah gak Ren," bantah Ardhan.
"Kamu kerja di sini Ren?" Ardhan meninpali.
"Gak, ini punya papa aku dan aku cuma bantu ngurusin doang," jelas Rena.
"Tapi besok aku bakal balik lagi ke London, karena ada urusan yang harus aku selesaikan," jelas Rena kembali.
Ardhan dan Andine mengangguk,"Sama dong, kami juga mau ke London, gimana kalau kita barengan?" Tawar Andine dengan senang hati, Rena langsung menggeleng dan menolak.
"Aku sendiri aja," Rena melebarkan senyumnya, bukan karena Rena ingin membohongi perasaannya tentang cinta yang tidak pernah padam selama ini, tapi ini tentang bagaimana Rena harus menjaga jarak dengan suami orang lain.
"Masih ada banyak tamu, aku permisi dulu yah," Rena langsung berlari menjauh dan menghilang dari pandangan Ardhan dan Andine.
Ardhan hanya tersenyum kecil, ia jadi menyesal pernah menyakiti Rena.
Andine menatap raut wajah Ardhan,"Dan kamu masih cinta sama dia?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Andine, membuat Ardhan langsung menggeleng dengan cepat, tangannya beraksi untuk mencubit kedua pipi Andine gemas.
"Bagaimana aku bisa jatuh cinta lagi? Kalau sepenuhnya hati aku ada di kamu?" Goda Ardhan.
Andine langsung mengerutkan dahinya, lalu memukul d**a bidang Ardhan sekuat mungkin, tapi Ardhan malah tertawa.
"Din, udah deh. Pukulan kamu itu gak berasa, badan kek kertas gitu aja pake sok-sokan mukul," ledek Ardhan pada Andine.
Kesal Andine semakin bertambah, ia memasang wajah merah padamnya,"Mau pulang!"
Ia berjalan meninggalkan Ardhan, Ardhan langsung menyusul lalu menggendong Andine tanpa izin,"Ardhan malu ih, ngapain!"
Ardhan tidak peduli, ia berjalan keluar seraya menggendong Andine, sehinggga semua tamu melihat mereka dengan tatapan aneh dan ada juga yang iri.
"Udah bahagia ya Dan?" Lirih Rena pada Ardhan.
Sesampainya di depan restoran tersebut Ardhan langsung mengambil alih sepedanya kembali.
Andine naik dengan sedikit rasa penasarannya, ia bingung ada apa antara Ardhan dan Rena. Ia tau memang Ardhan dulunya seorang player tapi, tatapan Rena dan Ardhan itu beda. Ardhan seolah-olah pernah memiliki cinta dan mereka punya masa lalu yang spesial.
Ingin rasanya Andine bertanya pada laki-laki itu, tapi ia urungkan sebab wajah Ardhan telah berubah menjadi unmood.
Flasback on
Siang itu Ardhan tengah melemparkan bola basketnya asalan di belakang sekolah, saat itu ia masih menduduki kelas satu SMA, David dan Raffa hanya menatap Ardhan dengan tatapan kasihan.
Seragam Ardhan sudah di basahi oleh keringatnya sendiri, setelah merasa dirinya benar-benar telah lelah ia kembali menyenderkannya di tembok sekolah seusai membuang asal bola basketnya.
"Dan?" Seorang gadis yang tak kalah tinggi darinya, badannya body goals, rambutnya ombre merah, bibirnya merah merona itu mendekati Ardhan seraya menyeret kopernya, gadis dengan celana jeans dan baju kaos putih itu menatap nanar pada Ardhan.
Ardhan hanya berdiri seraya menundukkan kepalanya, ia menatap sepatu ketsnya.
Namanya Rena, dia bukan hujan yang bisa menyembunyikan kesedihan, tapi ia adalah puncak dari Ardhan agar ia bisa berhenti menangis, ia bukan tetesan air langit tapi ia tetesan kerinduan yang akan Ardhan ingat di sepanjang jarak perpisahan, dia adalah Rena gadis kedua yang awalnya Ardhan anggap cuma cinta bercandaan tapi malah terjebak dalam sebuah perasaan.
Rena memeluk Ardhan erat, sangat erat dan dalam. Rena, sudah Ardhan anggap sebagai adiknya sendiri. Ia memang sempat pacaran dengan Ardhan, sebab saat itu Ardhan adalah laki-laki yang suka mengklaim sembarangan anak orang.
"Gue pamit," lirih Rena.
Tes!
Air mata Ardhan jatuh begitu saja, ia baru saja menemui tempat bersandar setelah kehilangan Anjara, tapi belum lagi Ardhan menghilangkan Anjara sepenuhnya kini Rena yang akan pergi darinya.
Ardhan tidak bisa berkata apa-apa, bibirnya terkunci.
Rena tersenyum manis, namun dapat di lihat bahwa desakkan air mata itu terus berjatuhan, kedua tangannya mengarah pipi Ardhan untuk menghapus air mata laki-laki tersebut.
"Cinta kamu bukan aku, aku cuma persinggahan, aku cuma bahan percobaan untuk kamu move on. Rena yakin kok Dan, Ardhan bisa nemuin seseorang yang lebih baik."
Ardhan menggeleng,"Apa tuhan menciptakan pertemuan hanya untuk mengucapkan 'selamat tinggal' pada akhirnya?" Ia tersenyum miring.
"Dan?" Rena menggelengkan kepalanya.
Tangan Rena menggenggam kedua tangan Ardhan, Rena tau Anjara cinta Ardhan. Sekuat apapun Rena membuat Ardhan mencintainya, itu tidak akan bisa. Karena Rena hanyalah sahabat sekaligus teman curhat Ardhan.
"Rena yakin, suatu saat kalau kita bejodoh tuhan pasti bakal pertemukan kita lagi."
Belum sempat lagi Ardhan meninggalkan kata-kata perpisahannya, Rena telah berjalan terlebih dahulu untuk meninggalkan Ardhan. Ardhan hanya bisa mematung dengan goresan yang menyesakkan.
Flashback off.