Ardhan tengah berdiri di pinggir jendela, menatap nuansa luar yang gelap karena malam telah tiba.
Andine tengah membereskan pakaian yang akan mereka bawa besok.
Jujur, Andine merasakan perubahan pada Ardhan semenjak kejadian tadi siang. Ardhan lebih banyak memilih diam, padahal Ardhan adalah orang heboh yang tidak pernah bisa diam.
Andine merasa sedikit sesak pada dirinya, bagaimana bisa seorang suami berubah hanya karena pertemuan dengan gadis lain.
Andine tau, Rena mungkin pernah jadi wanita berharga untuk Ardhan. Tapi, seorang istri tetaplah yang paling berharga untuk suami.
Mata Ardhan menatap sendu pada langit kelam yang terbentang luas, Ardhan memejamkan matanya. Berusaha untuk melupakan kenangan pahit tersebut, tapi tetap saja ia tidak bisa.
Kenyataannya adalah, melupakan kenangan tidak segampang kita mengingatnya.
Setelah membereskan pakaian, Andine akhirnya memutuskan untuk mendekati laki-laki tersebut.
"Dan?"
Ardhan menoleh, lalu ia memaparkan senyum seadanya, tipis dan bahkan hampir tidak terlihat.
Andine langsung menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Ardhan,"Gak panas."
Andine menarik napas-nya dalam,"Aku gak pernah minta sama kamu buat ceritain semua masa lalu kamu, aku gak akan paksa kamu juga buat cerita. Mungkin itu privasi buat kamu dan aku cuma orang asing yang baru mau masuk dalam kehidupan kamu."
Mata Ardhan terbelalak ketika mendengar apa yang Andine katakan baru saja, sontak Ardhan menghadap ke arah Andine dengan senyum lebarnya.
"Din?" Tangannya meraih kedua tangan Andine erat.
"Semua orang punya masa lalu, dan gak semua masa lalu itu berarti aku sangat menginginkannya buat di masa depan, terkadang ada masa lalu yang bakal kita seselin nantinya karena kesalahan kita dahulunya," Ardhan mencoba untuk menjelaskan.
Tapi, Ardhan tidak tau bagaimana rasanya di bakar api cemburu, wanita mana yang tidak merasakan sakit pada hatinya saat suaminya sendiri bahkan tampak mrmikirkan gadis lain?
Andine menunduk dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, Ardhan langsung merengkuh tubuh gadis tersebut dalam pelukkannya. Ia mengusap pelan pucuk kepala Andine, lalu menempelkan dagu-nya dia tas kepala Andine.
"Sayang bukan berarti cinta, Din."
Andine mengangguk, lalu Andine melepaskan pelukkan Ardhan,"Kamu boleh cerita kalau kamu udah tenang," Andine tersenyum manis. Kemudian ia berjalan untuk tidur duluan.
Maaf jika sikapku menyakitimu
Aku tidak pernah menginginkan rasa ini.
Tapi, aku tidak bisa lari dari bayang-bayangnya Din.
dia pernah ada dan pernah berharga, jadi rasa sayang itu wajar adanya. Maaf jika aku bukan laki-laki baik untukmu. Maaf jika aku mengecewakanmu Din. Aku cinta kamu tapi ... aku
Ardhan langsung menghentikan perkataannya, ia menyusul Andine yang sudah berada di atas tempat tidur. Tangannya menarik selimut tersebut lalu membenamkannya pada tubuh Andine hingga batas leher.
Kemudian Ardhan mencium dahi Andine lembut,"Night dear."
Sudah itu Ardhan langsung menyambar jaket kulit hitamnya, ia pergi meninggalkan Andine yang sebenarnya belum sepenuhnya tidur.
Ardhan berjalan dengan langkah panjangnya, ia menoleh ke kanan kiri seolah-olah takut akan ada yang mengikutinya.
Andine mengikuti Ardhan dari belakang, ia penasaran atas apa yang akan Ardhan lakukan, biasanya Ardhan juga akan pamit kepadanya jika mau kemana saja.
Andine hampir saja tidak percaya saat Ardhan memasuki restoran yang mereka hampiri siang tadi, sesampainya di sana Andine memasang matanya jeli, Ardhan sudah memeluk erat gadis yang mereka temui tadi siang, dia Rena.
Tak terasa buliran air mata menetes pada kedua pipi Andine.
Andine tersenyum getir,"Jadi ini?"
Andine akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Rena memberikan Ardhan secangkir coklat panas, Ardhan meminumnya dengan hati-hati, lalu irisnya menatap pada Rena.
"Ardhan, lo ngapain sih kesini?" Dumel Rena pada laki-laki tersebut.
Ardhan menarik napasnya kasar,"Ren, kita udah bertahun-tahun gak ketemu, apa lo gak rindu sama gue?" Celetuk Ardhan penuh sesal.
Rena bersikap salah tingkah,"Bu ... bukan gitu, gue kangen banget Dan. Tapi, lo udah punya istri Dan, istri lo sendiri di sana. Mending lo balik habis ini," usir Rena pada Ardhan.
Ardhan menggeleng,"Kenapa? Kenapa kalau gue udah punya istri? Gue gak boleh kangen sama lo? Gue kangen masa lalu kita bukan hubungan kita," jelas Ardhan dan Rena mematung di tempat.
"Gimana?" Tanya Ardhan pada Rena.
Rena mengernyit bingung,"Apa yang gimana?"
Ardhan tersenyum sinis,"Udah nikah?" Tanya Ardhan spontan.
Mendengarkan pertanyaan dari Ardhan membuat Rena tertawa keras,"Nikah? Ya belumlah Dan. Lagian ya, gue udah nunggu seseorang bertahun-tahun. Ya walau, harus sia-sia," ia tertawa hambar.
Ardhan ikut tertawa,"Ren, gak usah nungguin orang yang gak pasti buat lo, mending lo cari yang pasti hahaha. Istri dua gak papa kan yak?" Goda Ardhan seraya mengedipkan mata, alhasil itu membuat Rena menjitak kepala Ardhan.
"Wey canda," decak Ardhan seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Rena mencibir, ia bahagia Ardhan menghampirinya, tapi ia tidak mau menjadi pengganggu hubungan Ardhan dan Andine,"Dan?"
Ardhan mengangkat kedua alisnya,"Ya?"
Rena mengulum bibirnya sejenak,"Lo sayang sama Andine benerankan?"
Ardhan terdiam membisu,"Buat apa gue nikahin kalau gak cinta? Ren, dia wanita yang udah gue perjuangin selama ini. Gue sayang sama dia pake banget dan gak bakal ada orang yang bisa gantiin posisi dia," jelas Ardhan sejelas mungkin.
Rena tertegun,"Beruntung ya dia," Rena tersenyum samar.
Ardhan menggeleng,"Gue yang beruntung bisa dapetin cewek sebaik dia, gue datang ke sini buat melepas rindu Ren bukan buat bahas tentang keluarga gue."
Rena mengangguk,"Dulu gue pernah bilang kalau kita berjodoh kita pasti bakal ketemu lagi, tapi sekarang gue malah gak yakin akan hal itu."
Ardhan lagi-lagi tertawa,"Lucu dah kalau bahas masa lalu, lo ngapa sih manggil lo-gue? Biasanyakan kita pake panggilan Ardhan-Rena."
Rena tersenyum lebar akhirnya,"Iya Ardhan, Rena khilaf."
Tawa mereka seketika pecah, malam itu mereka habiskan berdua. Hanya untuk sekedar cerita masa lalu yang gak akan pernah habisnya.