BROKEN

847 Words
Kepercayaan itu penting dalam sebuah hubungan, kenapa? Karena unsur cinta bisa terwujud karena adanya, rasa sayang dan percaya. Jika suatu hubungan di dasari oleh sebuah ke bohongan, maka pondasinya tidak akan begitu kuat. Andine sekarang sedang berada duduk di pinggir laut, ia menatap langit kelam yang terbentang luas bersamaan bintang yang bertaburan. Sesekali ia menyeka air matanya. Andine mengulum bibirnya menahan rasa sakit yang menyekat hatinya, tapi Andine tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Kenapa? Kenapa harus patah sekarang? Kenapa aku gak bisa bertindak? Kenapa aku bisanya cuma diam? Kenapa aku cuma bisa kayak orang bego setelah melihat itu semua? Apa ini yang dia bilang cinta? Katakan padaku jika ada yang lebih menyakitkan daripada ini. Katakan padaku istri mana yang rela jika ini terjadi? Katakan padaku jika ada gadis yang tidak akan sedih di perlakukan seperti ini? Andine menekuk lututnya, lalu ia membenamkan wajahnya, ia menumpahkan air matanya di sana. Ardhan langsung membulatkan matanya ketika ia tidak melihat siapapun di penginapan, berulang kali ia menelpon Andine tapi gadis tersebut tidak mengangkatnya. Andine tau ponselnya tiada berhenti berdering, tapi ia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut. Ardhan mengusap wajahnya kasar, lalu ia duduk di sofa memilih untuk menunggui Andine pulang, Ardhan yakin Andine pasti tidak akan jauh dari penginapan. Akhirnya, Andine memilih untuk kembali ke penginapan, sudut matanya melihat Ardhan yang sudah tertidur di sofa akibat menungguinya. Bukannya menghampiri Ardhan, Andine malah langsung mengambil kopernya. Mendengar suara bising Ardhan menjadi terbangun. Laki-laki itu mengusap matanya seraya mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. "Sayang, aku nungguin kamu pulang dari tadi," Ardhan mendekat ke arah gadis tersebut. Mata Ardhan menyipit seketika,"Kamu kenapa nangis? Kamu tau gak aku khawatir sama kamu, kamu dari mana aja? Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau mau kemana-mana?" Andine mengelak dan ia malah berjalan untuk mendahului Ardhan, spontan tangan Ardhan memberhentikan langkah Andine. "Din? Aku salah apa? Kamu mau ke mana? Besok kita pergi ke London Din. Ini udah malam banget, Din please dengerin aku." Ardhan langsung menarik tubuh Andine ke dalam pelukannya, Andine langsung mendorong tubuh Ardhan. "Gue mau ke Indonesia," jawab Andine. Ardhan terpelangak,"Gue? Din?" Andine tersenyum getir,"Apa ada seorang suami yang tega ninggalin istrinya demi cewek lain?" Ardhan mematung di tempat, lalu laki-laki itu menggeleng,"Aku punya alasan untuk itu." Andine menggeleng cepat,"Apapun alasan kamu, yang kamu lakuin itu gak bener. Sejak awal pertemuan kamu dan Rena aku mulai merasakan kalau kamu berubah, baru tadi pagi kamu bilang kalau gak bakal ada yang lain selain aku Dan, tapi?" Andine menarik napasnya yang sedikit sesak,"Tatap mata aku," pinta Andine, tangannya memegang kedua pipi Ardhan,"Apa di mata kamu ada cinta buat aku? Apa aku cuma pelarian sesaat di saat kamu lelah sama yang lain? Apa aku cuma gadis yang kebetulan jadi tempat yang akan kamu singgahi?" Ardhan menggelengkan kepalanya mantap, ia sangat menyayangi Andine, Andine tidak tau apa yang Ardhan lakukan. Semuanya demi Andine. Ada sebuah rahasia besar yang Andine tidak tau dan Ardhan tidak mau Andine tau. Jelas, ini semua demi kebaikan Andine. "Kamu mau tau sebesar apa cinta aku sama kamu?" Tanya Ardhan tegas. Andine hanya menelan ludahnya susah payah,"Kalau tuhan kasih aku pilihan, aku mau nyawa aku di kasih sama kamu agar kamu bisa nikmatin dunia lebih lama walau itu tanpa aku." Andine terduduk lemas, Ardhan masih berdiri. "Gak ada hal yang bisa kamu cemburuin Din, karena pilihan aku cuma tetap satu, satu-satunya huruf yang istimewa untuk aku cuma A, bukan R apalagi D, bukan Rena apalagi Davin," jelas Ardhan kembali. Kemudian ia memaparkan senyum selebar mungkin, Ardhan berjongkok tepat di depan Andine, jemarinya terulur untuk menghapus air mata gadis tersebut,"Jangan sekarang nangisnya, terlalu berharga Din." Pagi ini mentari menyinar terik Ardhan dan Andine menyeret koper mereka, dan berjalan berdampingan saat sudah sampai di bandara, kacamata hitam bertengger di mata mereka. Tak begitu lama untuk melakukan chek-in Ardhan dan Andine akhirnya sudah duduk mantap di bangku pesawat. Andine duduk di pinggir jendela, sedangkan Ardhan duduk di sampingnya. Silahkan memakai sabuk pengaman karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Tangan Ardhan tergerak untuk memasang sabuk pengaman Andine terlebih dahulu, barulah dirinya. "Dan?" Ardhan berdeham seraya menoleh pada gadisnya,"Soal malam tadi?" Ardhan mengarahkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Andine lembut,"Percaya sama aku, gak ada satupun cewek yang bisa gantiin posisi kamu. Terkadang rasa rindu itu wajar tapi gak semua rasa rindu itu di bawa bersamaan dengan rasa suka," jelas Ardhan. Andine mengerti,"Rasa cemburu juga gak bisa di sembuyiin sekalipun penjelasan selalu berusaha buat dia mengerti," balas Andine. Ardhan langsung mengelurkan pulpen yang berada di sakunya, lalu ia melukiskan huruf A setengah jadi pada telapak tangan Andine, sesudah itu ia melukiskan juga di telapak tangannya. "A awalan abjad yang gak pernah mengenal akhir," keduanya-pun mulai tertawa. "Jika London terakhir dari segalanya, ucapin satu permintaan yang bakal kamu pengen banget," pinta Ardhan penuh penasaran. Mendengarkan perkataan Ardhan, Andine seketika menjadi sedikit cemas,"Kamu kok bilang gitu?" Kata Andine. "Jawab aja udah," sanggah Ardhan memaksa untuk Andine menjawabnya. "Aku mau kamu tepatin janji kamu buat nikmatin salju pertama bareng aku," goda Andine. Tangan Ardhan mencubit kedua pipi gadisnya itu gemas,"Andine kok lucu sih Ardhan jadi gemas." Wajah Andine seketika berubah menjadi merah padam,"Sakit Ardhan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD